Salafy Garut

Ilmu-Amal-Dakwah-Sabar

Menikahi Wanita Dibawah Umur, Kenapa Tidak?

Segala puji bagi Allah semata, sholawat dan salam semoga selalu tercurah kepada nabi Muhammad, keluarga, para sahabat, dan ummatnya hingga akhir zaman.

Amma ba’du;

Sebaik-baiknya Kalam adalah Kalamullah dan sebaik-baiknya petunjuk adalah petunjuk Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jeleknya perkara adalah perkara baru dalam agama (muhdats), karena setiap yang muhdats adalah bid’ah, setiap yang bid’ah adalah sesat dan setiap yang sesat tempatnya di Neraka.

Tsumma amma ba’du;

Dalam suatu media massa diterangkan bahwa menikah dengan wanita di bawah umur adalah sesuatu yang terlarang. Berkata ketua MUI: “Perempuan atau pria boleh kawin kalau sudah akil baliq. Artinya biologis mengizinkan”. Hal senada juga diungkapkan oleh Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak.
Benarkah menikahi wanita di bawah umur tidak boleh? Dan bagaimanakah syari’at ini (baca: Islam) memandang tentang hukum menikahi wanita di bawah umur? Semoga risalah ini dapat membuka wacana kita dalam menyikapinya dan sebaik-baiknya petunjuk adalah petunjuk Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.
Baca selebihnya »

November 27, 2008 Ditulis oleh Diqra al Garuti | dasar islam | | No Comments Yet

Jangan Gampang Memvonis Mati Syahid ! (tanggapan pasca eksekusi mati Amrozy cs- semoga Alloh mengampuninya-)

Eksekusi ‘Syahid’?

Pelaksanaan eksekusi pada hari Ahad dini hari tanggal 9 November 2008 M atas tiga aktor bom Bali I, Imam Samudra, Amrozi dan Mukhlas, mengundang perhatian banyak kalangan dari seluruh lapisan masyarakat, bukan hanya nasional bahkan internasional. Hal inilah yang mengundang mereka berkomentar, baik atas pelaksanaan eksekusi tersebut maupun atas kematian mereka dengan eksekusi itu, kontroversipun terjadi, sebagian pihak menyanjung mereka, sebagian pihak membenarkan hukuman eksekusi tersebut, sementara yang lain menentangnya. Kontroversi semacam ini terjadi karena masing-masing menilai dari sudut pandang yang berbeda, sehingga wajar saja kalau mereka berselisih pendapat, karena dasar berpendapatnya saja berbeda.

Sayang, tak sedikit dari umat Islam dengan status sosial yang berbeda-beda, turut pula ramai-ramai ikut andil berkomentar dalam peristiwa ini. Mereka tidak memandangnya dari sudut pandang ajaran Islam yang murni, bahkan cenderung menggunakan perasaan, apakah dengan perasaan kasihan, atau sebaliknya semata-mata dengan perasaan benci dan marah, sehingga muncullah hasil yang berbeda karena berlandaskan perasaan yang berbeda. Sebagian lagi membubui penilaiannya dengan pengetahuan tentang ajaran Islam yang minim dan yang sudah tercampur dengan gaya berpikirnya para korban eksekusi, sehingga tak segan-segan memastikan mereka sebagai syahid, pahlawan, pasti senang di surga, di sorga dibawa oleh burung hijau, disambut para bidadari dan pujian-pujian semacam itu.

Tak pelak lagi, kejadian-kejadian paska pelaksanaan sampai pada penguburan-pun dikait-kaitan dengan vonis ‘kebahagiaan’ di atas, ada yang bilang bahwa jenazahnya wangi, mukanya tersenyum, cuaca mendadak menjadi mendung, disambut burung belibis hitam – yang diartikan bidadari menjelang penguburan pertanda jenazah mereka diterima Allah – dan hal-hal semacam itu. Bahkan lebih parah, sebelum pelaksanaan eksekusi pun sudah dikomentari bahwa mereka bakal dapat bidadari. Subhanallah…

Sekilas saya membaca komentar-komentar semacam itu, membuat saya terpanggil untuk menulis makalah ini, tak lain tujuannya adalah untuk berupaya meluruskan cara berpikir kaum muslimin sehingga tidak bermudah-mudahan untuk mengeluarkan vonis positif atau negatif, terlebih dalam urusan semacam ini yang lebih sarat dengan urusan ghaib, urusan akhirat yang hanya di sisi Allah Ta’ala sajalah pengetahuannya.
Baca selebihnya »

November 27, 2008 Ditulis oleh Diqra al Garuti | bantahan, dasar islam, manhaj | | No Comments Yet