Salafy Garut

Ilmu-Amal-Dakwah-Sabar

Hukum Pakaian Yang Terkena Najis

Assalamualaikum,

Ustadz bagaimana hukumnya pakaian yang kena cipratan air kencing sampai basah kemudian dibiarkan kering sendiri dengan dijemur dan tidak dibasuh air, apakah pakaian tersebut menjadi suci setelah kering atau tetap najis?

syukron

Mubarok
Alamat: Semarang
Email: mubaroxxx@plasa.com

Wa’alaikum salam
Najis dapat disucikan dengan air atau yang lainnya. Benda yang terkena najis bisa dikatakan suci lagi bila zat najisnya telah hilang, baik dengan air atau dengan matahari atau yang lainnya. Untuk mengetahui hilang atau tidaknya najis tersebut dilihat dengan ada atau tidak adanya sifat-sifat najis yang mencakup bau, rasa dan warnanya. Apabila ini semua telah hilang dari baju atau yang lainnya maka telah suci. Jadi pakaian yang saudara tanyakan tersebut dapat dihukumi suci bila telah hilang semua sifat-sifat kencing tersebut.

Wabillahi at-taufiq
Wassalam

sumber : http://ustadzkholid.com/fiqih/hukum-pakaian-kena-najis/

About these ads

Januari 29, 2009 - Posted by | fiqh

33 Komentar »

  1. asalamualaikum wr wb.
    terimakasih usstadz atas fatwanya.
    namun perlu diperjelas mengenai kata2 : oleh air dan lainnya.
    apa yang dimaksud dengan “yang lainnya” ? karena kalau tidak dibahas tuntas akan fatal akibatnya, dan akan banyak penafsirannya.
    kemudian apakah matahari bisa mensucikan ? apa dalilnya?
    perlu diketahui juga, bahwa najis ada yang hukumnya hukmiah dan ada yang ainiyah… keduanya tidak bisa disamakan.
    terimakasih. wasalam

    admin :
    wa’alaikumussalam warohmatullohi wa barokatuh
    bismillah akhi tulisan itu ana ambil dari situs ustad yang bermanfaat yaitu ustad kholid.Allohu’alam akh untuk jawaban lengkapnya mungkin antum kurang puas dengan jawaban ana dan antum bisa langsung bertanya kepada ustad kholid (karena ana bukan ustad). tapi sekedar untuk menambahkan ana pernah membaca buku fiqh sunnah wanita terbitan 3 pilar (yang pernah dibedah oleh ustad dzajuli di kebon kacang jakarata).disitu diterangkan tentang najis yang sudah hilang sifat-sifatnya (baunya, rasa dan warnanya ) maka najis itu menjadi suci keadaannya seperti contohnya (maaf) kotoran manusia yang ada ditanah kemudian terkena matahari dan lain sebagainya sehingga sudah berbaur dengan tanah dan sifat dasar najisnya sudah hilang maka itu sudah menjadi suci. kemudian dibuku itupun diterangkan hadis tentang Nabi sholallohu’alaihi wa sallam yang menyuruh menyiram bekas kencing orang badui yang kencing di masjid (HR. Bukhori&Muslim) bahwa itu dilakukan nabi agar bekas kencingnya cepat hilang walaupun jika di diamkan menjadi kering dan bekas najisnya sudah tidak ada dan sifat2 dasar najisnya sudah tidak ada maka itu sudah menjadi suci.

    Wallohua’lam

    Komentar oleh akh fillah | Februari 5, 2009 | Balas

  2. assalamualaikum..

    sebagai tambahan info, bagaimana jika qiyas menyamakan pakaian dengan tanah itu tidak tepat?

    Sebagaimana kita tahu, tanah itu sendiri memang merupakan zat yang berfungsi sebagai media thaharah. Kita mengetahui bahwa najis yang mengenai sandal, media penyucinya adalah tanah (dengan digosokkan ke tanah). Dan tayammum pun dilakukan dengan media tanah.

    Nash nash dalam hal ini jelas.

    Namun jika pakaian cukup dikeringkan dari, sebut saja bekas percikan air kencing hingga hilang sifat2nya, saya khawatir hal ini akan menyebabkan orang2 akan meremehkan hukum percikan air kencing. Sebagaimana telah disebutkan dalam hadits yang kurang lebih bunyina “Berhati-hatilah dengan air kencing”.

    Saya yang fakir ini memang sedang mengkaji dalil2 masalah thaharah, dan melihat ada indikasi kearah sucinya sesuatu benda yang terkena najis jika sifat2 najisnya sudah hilang seluruhnya.

    Namun lubang permasalahan pada qiyas ini terdapat pada 2 hal diatas.

    1. Tanah memang sudah merupakan media thaharah yang qath’i. Sehingga secara logis, ia dapat mensucikan dirinya sendiri.

    2. Ancaman mengenai orang2 yang meremehkan percikan air kencing. Jika bekas percikan air kencing dapat semudah itu menjadi suci, konsekuensinya adalah menjadi tidak relevannya ancaman berdasarkan hadits “Sesungguhnya siksa kubur banyak disebabkan oleh air kencing”.

    Semoga dapat menjadi masukan untuk kita semua.

    Wabillahi taufiq.

    Komentar oleh abiesuman | Agustus 19, 2009 | Balas

  3. tambahan juga bahwa untuk mensucikan dari najis/istinja maka tidak harus dengan air. tapi dengan tisu/ batu / kain pun bisa.cb baca bulugul marom. masalah ada sisa dikit yg susah maka insya Allah itu di maafkan.asal jgan sengaja jorok/ terlalu over bermudah-mudahan!!ingatlah hadis tentang penyebab azab kubur

    Komentar oleh Diqra al Garuti | September 1, 2009 | Balas

  4. assalamu alaikum.
    masalah najis yang antum jelaskan menarik buat saya.
    saya sendiri mengalami sendiri hal tersebut yakni apabila telah buang air kecil dan setelah melakukan istibra biasanya jika saya shalat anatara yakin atau tidak (ragu) ada yang keluar satu atau dua tetes mungkin. saya pernah menanyakan hal tersebut kapeda salah satu ikhwan kenalan saya dan jawabannya jika tidak yakin maka tidak perlu membatalkan shalat dan jika yakin maka wajib membatalkan shalat dan wudhu ulang, kemudian membersihkan kemaluan dengan air dan mepercikkan air ke celana yang terkena..
    jawaban ini masih saya pegang sampai sekarang, tapi sering timbul keraguan dalam diri saya apakh benar ada yang keluar apa tidak.. jadi saya mohon penjelasnnya apabila saya dalam keadaan ragu apakah saya harus membatalkan shalat saya. terus terang sangat lah berat bagi saya karna untuk membedakan 1-2 tetes air kencing misalnya dengan air yan telah membasahi celana setelah mebesihkan kemaluan setelah buang air kecil, bagaimana menurut antum akan masalah ini?
    selamat idul fitri 1430H..

    Komentar oleh arif | September 19, 2009 | Balas

  5. Jazakallah akh Arif.semoga jawaban ana bisa menjadi obat untuk antum dengan izin Allah.sehingga ana dapat menambah pahala.dan maaf jika jawaban saya ini terlalu vulgar karena setau saya kalau masalah fiqh kita tidak vulgar/sesuai dengan kenyataannya maka ditakutkan yang membaca menjadi rancu sehingga tidak dapat memahami duduk permasalahnnya.
    bismillah
    masalah 1-2 tetes air kencing memang kadang itu membuat kita ragu.
    ana jg dulu punya penyakit ragu2 seperti itu.
    tapi yang dibilang oleh teman antum itu betul bahwa selama kita ragu maka kita kembalikan ke hukum asal berdasarkan hadis “tinggalkanlah apa-apa yang meragukanmu kepada apa-apa yang tidak meragukan kamu”
    jadi kalau ada sesuatu ‘bertabrakan’ antara ragu-ragu dengan yang yakin maka = keragu-raguan tidak dapat mengalahkan keyakinan..
    contoh seperti ini jika ana beli tahu dengan uang 1000 dapat 10 dan ana sudah bayar..ketika ditengah makan ana lupa apakah sudah makan 9 atau 10 maka dalam hal ini ana kembali ke hukum asal yaitu 9 karena yang 9 ana yakin sedang yang 10 ana ragu-ragu walaupun kenyataannya ana makan 10.tapi dalam kaidah fiqh ana tetap benar dan tidak berdosa.
    demikian juga dengan permasalahn yang lain-lainnya.
    kalau misalkan ada seseorang yang ragu apa dia kencing atau tidak..maka kembalinya ke hukum asal bahwa dia asalnya tidak kencing dan ana yakin antum pun hanya sekedar praduga saja tanpa melihat keluar atau tidaknya kencing tersebut kan..(seperti penyakit keragu-raguan ana dulu :) )
    oleh karena itu hukum di fiqhnya bahwa antum tetap suci dan pakaian antum tidak najis.
    dan perlu menjadi catatan juga disini bahwa (berdasarkan pengalaman ana) ternyata akh bahwa yang kita kira keluar 1-2 tetes itu sebenarnya itu adalah air sisa cebokan kita yang mengalir sehingga kita kira itu adalah kencing yang keluar sendiri. kalau tidak percaya coba antum selesai kencing antum cebok terus antum handukan sehingga kering.maka ana yakin ‘penyakit ragu-ragu’ itu tidak terasa lagi karena air cebokannya sudah dikeringkan.dan kalau antum terus-terusan seperti itu niscaya penyakit ragu-ragu itu akan hilang dengan sendirinya dan antum sudah tau duduk permasalahannya bahwa ternyata itu hanya sisa air cebokan yang mengalir..
    Alhamdulillah ana pun sekarang sadar bahwa itu hanya ragu-ragu saja sehingga kalau ana selesai kencing ana sudah tidak merasa was-was lagi.
    dan jangan lupa antum berdoa kepada Allah agar dihilangkan penyakit ragu-ragunya tersebut.
    tetapi ingat akh ana juga tidak memungkiri bahwa ada sebagian orang memang punya penyakit kencing terus..selesai kencing keluar lagi keluar lagi maka kalau untuk urusan “penyakit yang beneran” ini ana nasihatkan supaya tanya ke dokter saja dan tentunya hukum fiqhnya pun berbeda dengan orang yang terkena penyakit was-was..
    demikian akh ana berdoa semoga bermanfaat buat antum dan semua kaum muslimin yang lainnya..
    jazakallah
    mungkin ada tambahan/ kritik / saran dari teman-teman yang lain sehingga bisa membangun dan membuka cakrawala???
    ana tunggu
    Barokallohfik

    Komentar oleh Diqra al Garuti | September 25, 2009 | Balas

    • assalamu ‘alaikum..

      untuk menghilangkan keraguan yang sama.. saya sudah coba untuk mempraktekan dengan meng-handuk-an kemaluan dengan tisue setelah cebokan.. alhamdulillah lumayan berhasil..

      tp kadang, ketika saya men-handuk-an kemaluan.. itu ada keluar 1-2 tetes air.. apakah ini sisa kencing atau bisa di anggap sisa air cebokan?? haruskah saya cebok lagi??

      mohon penjelasannya.. terima kasih

      wassalam

      Komentar oleh iin | November 4, 2009 | Balas

    • bagaimana dengan mempercikan ke celena itu, seumpama celana kita kenak tetesan dari air kencing kita ??
      ataukah kita harus mencuci celana tersebut??

      Komentar oleh afdol alwarist | Agustus 12, 2012 | Balas

    • seingat saya ada hadis untuk ini deh, tapi lupa apa. intinya, keragu2an ketika mau shalat, misalnya kadang kita merasa keluar setetes kencing atau sedikit kentut, keragu2an itu berasal dari bisikan syetan yang dengan harapan shalat kita gak tenang. ketika demikian, kalau memang gak ada tanda2 najis itu (misalnya pesing atau bau kentut), maka itu murni bisikan setan dan kitanya terus melanjutkan shalat.
      correct me if im wrong :)
      admin
      وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رضي الله عنه – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – – إِذَا وَجَدَ أَحَدُكُمْ فِي بَطْنِهِ شَيْئًا, فَأَشْكَلَ عَلَيْهِ: أَخَرَجَ مِنْهُ شَيْءٌ, أَمْ لَا? فَلَا يَخْرُجَنَّ مِنْ اَلْمَسْجِدِ حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا, أَوْ يَجِدَ رِيحًا – أَخْرَجَهُ مُسْلِم

      Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian mendapati ada terasa sesuatu di perutnya, lalu ia ragu-ragu apakah keluar sesuatu ataukah tidak, maka janganlah ia keluar dari masjid hingga ia mendengar suara atau mendapati bau.” Diriwayatkan oleh Muslim. (HR. Muslim no. 362).

      Dalam shahih Bukhari-Muslim disebutkan hadits dari ‘Abdullah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu bahwasanya ia pernah mengadukan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai seseorang yang biasa merasakan sesuatu dalam shalatnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda,

      لاَ يَنْصَرِفْ حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا أَوْ يَجِدَ رِيحًا

      “Janganlah berpaling hingga ia mendengar suara atau mendapati bau.” (HR. Bukhari no. 177 dan Muslim no. 361).

      Komentar oleh ufa | November 9, 2013 | Balas

  6. Ass.wr.wb, agar air kencing kita keluar sepenuhnya disarankan kencing dalam posisi berjongkok, lalu berdiri dan diulangi berjongkok lagi, karena perut kita akan tertekan dan air kencing yang masih tersisa akan keluar semua (Insya Allah). Setelah itu baru berbilas/cebok.
    Kalau tidak salah Rasulullah mengajarkan kencing dalam posisi berjongkok, benar tidak ustad? kalau ada hadistnya diposting ustad….Jazakallah

    Komentar oleh Pras | November 5, 2009 | Balas

  7. bismillah
    @akh iin
    kalo ragu-ragu maka kembali ke hukum awal seperti sudah saya jelaskan di sebelumnya. dan coba antum usahakan hilangkan keragu2an tersebut seperti cona cuek selama 2 minggu insya Allah nanti juga akan hilang sendiri perasaan seperti itu.. (Islam itu mudah)
    @ Pras
    memang ada riwayat mengatakan bahwa Nabi pernah kencing sambil berdiri dan tidak sambil berdiri (dari Aisyah) dan Allohu A’lam kalau memang dari kedokteran memang seperti itu memang tidak jadi masalah tapi itu mungkin untuk sebagian orang sedangkan saya pribadi kadang lebih terasa lancar berdiri..dan untuk kencing berdiri atau duduk mungkin dilihat manfaat dan mudhorotnya jika ditakutkan mungkin akan menyiprat ke yang lain maka mungkin bisa duduk dan insya Allah itu kembali ke kasus orang perorang walhamdulillah..
    tapi untuk kalau sampai ada pengulangan berdiri lalu jongkok lagi maka ini Allohu A’lam termasuk bid’ah seperti halnya bid’ah kaum sufi yang mengatakan selesai kencing maka naik tangga atau berdehem (dengan mengucapkan ehem ehem) Allah yang menciptakan kita dan untuk urusan thoharoh atau kesucian maka ini harus mengikuti hukum dari Allah yang diturunkan lewat Nabi Muhammad..bahkan ada hadits yang dhoif selesai kencing diurut dahulu kemaluannya.. dan setau saya ini termasuk bid’ah hilangkanlah kemragu2an tersebut.
    Islam adalah agama yang mudah barang siapa mempersulit suatu ajaran islam maka akan dikalahkan (dipersulit) dengan kesulitan tersebut (baca shohih Bukhori afwan ana tidak hapal di hadis nomor berapa di buku ana) mungkin untuk lebih jelasnya pernah dibahas oleh ustad Abdul Bar di http://www.problemamuslim.wordpress.com di bagian hadis-hadis dhoif dalam bulughul marom (tentang masalah bersuci) (klik tags fiqh kalau tidak salah) pokonya carilah…
    ana juga berncana akan membahas hal itu juga (tentang adab dalam buang air) untuk bisa diposting Bi’idznillah agar bisa bermanfaat untuk kaum muslimim yang lain yang kasusnya sama dengan ana dahulu..tapi maaf akhir2 ini ana sibuk sehingga butuh waktu (doakan agar sempat yahh)
    Wa’alaikumussalam Wa rohmatullohi wa barokatuh
    Barokallohu Fiikumaa

    Komentar oleh Diqra al Garuti | November 9, 2009 | Balas

  8. assalamualaikum ustad, bagaimana hukum benda suci yang terkena benda najis?

    admin
    wa’alaikumussalam
    afwan akh lama menjawabnya
    tergantung akh.kalau sedikit insya Allah dimaafkan.seperti air di gayung ukuran sedang misalkan terkena air seni kita namun hanya setetes sehingga tidak menyebabkan berubah dari sifat asalnya maka hal ini tidak berbahaya (secara hukum fiqh) shg masih bisa dipakai berwudhu dan status airnya msih suci mensucikan.sedangkan jika airnya 1 gayung tersiram air seni yang misalkan sebanyak 5 gayung sehingga berubah dari sifat asalnya seperti warna bau dan rasa maka jelas ini menjadi air yang najis dan tidak bisa dipakai bersucin.Allohu ta’ala A’lam
    coba antum baca subulussalam jilid 1 dan taudhihul ahkam jilid 1 insya Allah disana ada pembahasannya.dan alhamdulillah kitab tsb sudah di terjemahkan

    Komentar oleh deni | Juli 23, 2010 | Balas

  9. assalamualaikum ustad, bagaimana hukum benda suci yang terkena benda yang terkena najis tetapi sudah kering?? saya strreees memikirkan hal tersebut pak ustad ????

    admin :
    wa’alaikumussalam
    Islam agama yang mudah akh,hilangkan keragu2an antum. (afwan sebaiknya jangan panggil saya “pak ustadz” karena saya hanya penuntut ilmu.
    akh kalau bisa dijabarkan kasusnya seperti apa.tapi yang jelas jika najisnya sudah tidak ada lagi (dan ini tidak perlu pakai air,dengan kering sendiri pun bisa)maka insya Allah sudah tidak ada masalah.apalagi misalkan hanya terkena benda yang terkena najis dan itu sudah kering dan kena benda yang 1 lagi.sehingga jika yang kering tadi misalkan sifat najis nya sudah hilang maka insya Allah tidak ada masalah kena benda yang suci.
    tp ana mohon tolong jelaskan kasusnya, penjelasan diatas hanya gambaran umum saja.untuk lebih jelasnya coba baca rincian2 yang saya sudah jabarkan diatas
    Jazakallah

    Komentar oleh deni | Juli 23, 2010 | Balas

  10. Mf mau tny,jika air najis mengenai kasur kapuk,lalu kering. Jika ada air suci tertumpang ke kasur itu dari bagian yg suci smpai trkena bagian yg najis td. Apakah bagian yg suci td jd najis?trima ksh

    Komentar oleh Abdul | Januari 5, 2011 | Balas

  11. alhamdulilah sekali aku dapat membaca,,,sebab selama ini aku merasakan sebuah keragu-raguan yg luar biasa….
    terima kasih…………
    waiyyak jangan lupa doakan saya dan seluruh kaum muslimin

    Komentar oleh ahmad saiful | Maret 31, 2011 | Balas

  12. assalamualaikum……
    saya mau tanya, air madzi itukan najis,tapi ketika air madzi itu terkena kain yang berbahan jean setelah saya lihat ternyata seperti gk ada madzinya,,apakah pakean itu tetap suci?
    terima kasih…

    admin
    kalau memang sudah kering sama sekali dan bekas -bekasnya sudah hilang maka insya Allah itu yang disebut ulama istihalah..zat najis yang berubah sendirinya menjadi suci
    Allohu A’lam

    Komentar oleh ahmad saiful | Maret 31, 2011 | Balas

  13. pak saya mau tanya,,,bagaimana hukum kalau kita cuek terhadap najis, padahal kita tau kalau itu najis,,namun niat cuek kita itu untuk mengusir ragu-ragu..sebab saya pernah cuek seperti ini dan hasilnya saya menjadi tenang dalam sholat?

    admin
    pada asalnya kalau cuek tidak boleh karena merupakan bentuk peremehan terhadap syariat..Sebaiknya maksud Bapak bukan cuek tetapi adalah menghilangkan keragu raguan dan tidak memperdulikan keragu-raguan
    camkan ucapan Nabi = tinggalkan yang meragukan kepada yang tidak meragukan..asal hukum segala sesuatu suci sampai bapak tahu benar2 ada najis.kalau bapak ragu – ragu maka itu adalah tetap suci karena hukum asalnya suci.
    sering2lah meminta perlindungan kepada Allah dari sikap ragu-ragu
    dan dari kasus Bapak sepertinya Bapak hanya ragu2 saja buktinya bapak menuliskan “menjadi tenang dalam sholat” Allohu A’lam

    Komentar oleh ahmad saiful | Maret 31, 2011 | Balas

  14. terikasih atas jwbanya pak ustad yg sblumnya,,
    saya mau tanya lg..apakah ketika pipis atau keluar madzi terus kita belum membasuhnya dengan air pd kemaluanya tp langsung melaksanakan mandi wajib apakah itu hkumnya syah?

    Komentar oleh ahmad saiful | April 3, 2011 | Balas

  15. najis yang kering dengan sendiri di lantai rumah hingga hilang bau warna dan rasa.. adakah lantai itu sudah dikira suci?

    admin
    ya..baca uraian di atas

    Komentar oleh anonymous | April 27, 2011 | Balas

  16. Assalamualaikum..,
    saya mw tanya,apakah semua najis yang sudah kering hukumnya suci kembali.mohon jwbn dari ustadz,soalnya saya belum begitu faham tentang masalah najis.Wassalamualaikum wr.wb.
    admin
    wa’alaikumussalam coba baca http://diqra.wordpress.com/2011/03/14/zat-najis-berubah-menjadi-suci/
    agama islam mudah akh.jika antum timbul keraguan.hilangkan keraguan tersebut. afwan jangan panggil ana ustadz ya..BarokAllah filk

    Komentar oleh Indra | Juli 7, 2011 | Balas

  17. Assalamu’alaikum.,..
    Saya masih ragu tentang masalah najis yang sudah kering apakah sudah hilang atau belum siftat2 najis itu.yang saya ingin tanyakan apakah sudah hilang sifat2 najis itu bila najisnya sudah kering.mohon pnjelasnya,trmksh wassalamu’alaikum..,wr.wb.

    Komentar oleh Indra | Juli 8, 2011 | Balas

  18. assalamualaikum
    akh mau nanya, hamapir sama dengan yang diatas pertanyaanya cuma ingin diperjelas, saya buang air kecil setelah saya dehem, ditunggu hinggga semuanya keluar, dibersihkan lebih dari 3 kali, stelah selesai, saya merasa ada ynag keluar, setelah saya cek saya lihat ada yang keluar dari kemauan tetapi sedikit, bagaimana hukum air itu, bagaiaman celana yg saya pakai, saya sering ganti pakaian bahkan mandi, maaf jawabanya difokus karena saya lihat air keluar dari kamaluan cuma sedikit nempel saja.

    admin
    coba baca yang ini http://diqra.wordpress.com/2012/01/02/terapi-dari-rasulullah-shallallahualaihi-wasalam-bagi-orang-yang-terkena-penyakit-was-was-percikan-kencing/
    banyak lah berdoa
    ana rasa kalau antum sampai mandi itu termasuk was-was yang berlebihan
    kalau hanya sedikit yang keluar dari kemaluan bagaimana antum bisa tahu itu air kencing?jangan2 itu hanya air bekas cebok antum. dan masalah berdehem tinggalkan saja. Barokallahfiyk

    Komentar oleh afwanku | Januari 29, 2012 | Balas

    • assalamualaikum…
      maaf saya tanya kpd yg mnulis soal…”sudah brapa lama pnajenengan sperti itu?”

      Komentar oleh kayla | April 10, 2012 | Balas

  19. assalamualaikum…ustadz saya mau tanya…
    kalo baju yg dipakai terkena air kencing trus terkena angin,lama-kelamaan sudah kering,ttp msh ada baunya apa baju itu sudah suci/tdk najis lagi,apa juga boleh digunakan untuk sholat?,syukron,

    Komentar oleh kholifah | April 10, 2012 | Balas

  20. assalamualaikum
    saya mau tanya,
    apakah air yang tidak 2 kulah bisa di pakai untuk mensucikan celana yang terkena air kencing…
    karena saya tinggal di kos…
    jadi air sering habis di pakai bersama…
    dan saya menderita penyakit air kencing keluar sendiri setelah kencing
    mohon jalan keluarnya……

    admin
    air yang tidak 2 kulah dapat mensucikan kencing.selama air tersebut masih dalam bentuk air suci, walaupun air tersebut terkena 1 atau 2 tetes air kencing (asal air kencing tersebut tidak mendominasi)

    Komentar oleh aulia rahmatillah | April 21, 2012 | Balas

    • wah terima kasih pak Ustazd ilmunya sangat membantu sekali

      syukron

      admin
      jangan lupa doakan ana akh

      Komentar oleh slamet | Juli 15, 2012 | Balas

  21. Sewaktu saya pergi bekerja tubuh saya terkena kotoran,disana banyak orang2 yg memelihara anjing, apakah itu kotoran anjing atau tidak saya tidak tahu, apakah saya harus membasuh (7x dan salah satunya dengan air bercampur tanah) atau tidak,trimakash
    admin
    asal hukum sesuatu adalah suci..kalau antum ragu itu kotoran atau bukan maka jatuhnya tetap suci alias bukan kotoran/ (maaf) tahi mungkin hanya tanah..teruskan saja beraktifitas. ingat akh yang kotor belum tentu najis dan yang najis sudah tentu kotor..
    perlu antum fahami bahwa ana jawab pertanyaan antum karena antum menggunakan kata “kotoran” ya bukan menggunakan kata (mohon maaf) “tahi”. mungkin jawaban ana akan bersambung insya Allah untuk meringankan antum namun ana tidak berani sebutkan disini karena ana lupa dan tidak membawa bukunya.doakan saja agar diberi kemudahan & tanyakan kepada yang lebih ahli. Allahu A’lam

    Komentar oleh Hanafi | Juli 24, 2012 | Balas

  22. ketika hendak salat sy ragu-ragu keluar kencing beberapa tetes sehingga sulit dibedakan tp jauh dilubuk hati sy meyakini bahwa sy tidak kencing hanya was-was kemudian sy melanjutkan salat tetapi ketika salat sy merasa ada yg kepaha sy tp biasa sy srng merasa begitu padahal ngg da yg merembes, trus sy takut mukenah sy terkena air rembesan itu tp sy memilih menghindari keraguan itu tp kdng sy was-was ternyata yg keluar benar kencing bagaimana hukum tangan sy yg terkena mukenah yg saya ragu bahwa dia dirembesi air kencing apakah tangan sy ternajis atau tidak?(bau,warna,rasa tidak menunjukan adanya najis)krn setelah itu sy menyentuh banyajk benda? apakah benda yang sy sentuh ternajisi(sy menyentuh benda krn yakin tidak mukenah sy tidak najis) sy takut kl sholat sy tidak sah selamanya krn hal ini krn banyak benda yg sentuh yg rasa ternajisi krn sentuhan tangan..tlng dibantu krn sy pusing memikirkan ini

    admin
    bismillah jika anda merasa seperti itu.keadaan anda insya Allah tetap suci karena anda hanya ragu2.ingat ragu2 tidak bisa mengalahkan keyakinan.
    yang ragu= anda keluar kencing dan yang yakin =anda belum kencing sehingga status hukum asalnya anda tidak kencing.terus lah beraktivitas dan mintalah pertolongan kepada Allah agar anda terbiasa menghilangkan perasaan was-was anda.insya Allah was-was anda tidaK berbahaya. janganlah membuat setan senang dengan anda dikarenakan perasaan was-was anda
    Allahu A’lam

    Komentar oleh tri | September 6, 2012 | Balas

  23. Assamualaikum..
    saya mau bertanya
    pakaian/benda yg tekena najis setelah itu pakaian/benda itu kering sendiri dengan membiarkan nya
    apakh itu kembali suci
    lalu bila telah kering, lalu kena benda yang basah baimana hukumnya?
    terima kasih

    Komentar oleh Muhammad azhari | November 30, 2012 | Balas

  24. Assalamualaikum, maaf saya ingin bertanya, saya juga mengalami hal seperti ini dan mengganggu saya, saya sering was was saat setelah kencing dan mandi, yang ingin saya tanyakan saya saat ini was was dengan lantai ataupun jalan raya, ketika ada benda terjatuh dari jalan raya atau lantai dan diambil saya takut benda tersebut menjadi najis dam menyebar ke benda2 lain saat saya menyentuh benda lainya, bagaimana penyembuhanya mas, mohon bantuanya , terimakasih
    admin
    pada asalanya hukum benda adalah suci seperti lantai , jalanan dan alas kaki,hilangkan saja keraguan saudara..dan banyak berdoa..berusahalah untuk tidak mengingat2,silahkan baca kembali keterangan saya yang telah lewat dan tulisan lain yang ada di blog ini.Barokallah fik

    Komentar oleh hamba Allah | April 30, 2013 | Balas

  25. BIsmillah,
    saya juga merasakan kadang air seni keluar sendiri saat sholat. namun sekarang saya sudah dapat mengatasinya (InsyAllah).

    Buat laki-laki. caranya adalah saat sudah selesai kencing pastikan air seni sudah memang tidak keluar lagi, lalu si Mr.P dibuat berdiri, atau paling tidak suhunya bertambah (hangat), (tapi pastikan jangan berlebihan sampai terasa (maaf) nikmat, dosa !).
    jika sudah seperti itu usahakan dipijat agar sisa kencingnya keluar. baru disiram lalu dikeringkan dengan tisu atau kain yang bersih. insyAllah tidak keluar lagi :)
    admin
    Allahu A’lam setahu saya ada yang mengatakan bahwa memijat hal tsb adalah bid’ah/ tidak perlu dilakukan karena hadisnya lemah

    Komentar oleh Hamba Allah | Juni 27, 2013 | Balas

  26. Assalamu’alaikum,
    Apakah hukum percikan air bekas membersihkan najis? (dalam hal ini membersihkan percikan kencing di kamar mandi)

    admin
    wa’alaikumussalam
    jika masih terlihat najisnya/ lebih banyak najisnya maka najis,jangan dikenai/ siram sampai bersih

    Komentar oleh Ria | Agustus 29, 2013 | Balas

  27. ya semuany pnjlsn telah lngkp. trs saya mau tny misalny seorang wanita sedang haid dan tembus kemudian sudah dikucek dg air ttpi tdk menggunakan sabun. sudah agak hilang warnany. kemudian dia duduk dikursi dan saya tau bahwa dia tmbs. trs hukumny buat saya yg mengetahui itu bgmn? apakah itu buat saya najis?

    Komentar oleh utruja | September 11, 2013 | Balas

  28. assalamualaikum ustad, ane masih bingung dengan masalah najis.
    Jadi gini, tadi ane mandi, terus handuk ane jatuh di wc (tapi ane ragu itu jatuh menyentuh lantai atau tidak) tapi yang ane yakin gak menyentuh lantai wc.
    yang ingin ane tanyakan najiskah handuk yang jatuh ke wc? sedangkan kita gatau apakah lantai wc tersebut terdapat najis atau tidak. Apakah cipratan air kencing juga merupakan najis?
    Yang kedua, jika kita merasa mengeluarkan air kencing dan ketika di cek benar, dan otomatis celana dalam yang ane gunakan juga terkena najis, lalu apakah celana pendek dan sarung yang ane gunakan juga ikut terkena najis?
    sekian, syukron. wasalamualaikum wr wb.
    admin
    wa’alaikumussalam
    1. kalau anta anduknya yakin/ ragu ga nyentuh wc ya berarti hukumnya tidak nyentuh, karena asal hukumnya kan ga nyentuh jadi anduknya tetap suci
    cipratan kencing = air kencing berarti najis
    anduk jatuh ke wc diliat apakah wcnya bersh dari najis apa tidak (baunya, warnanya)
    2. celana dalamnya terkena najis, sedang celana pendek dan sarungnya dilihat saja basah atau tidak, kalau kering jangan di yakini basah.. dan kalau basah harus diyakini basah karena kencing bukan basah karena air lain..

    Komentar oleh Reza Reinanda | Oktober 24, 2013 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: