<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Salafy Garut</title>
	<atom:link href="http://diqra.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://diqra.wordpress.com</link>
	<description>Ilmu-Amal-Dakwah-Sabar</description>
	<lastBuildDate>Sat, 14 Jan 2012 07:47:01 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='diqra.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Salafy Garut</title>
		<link>http://diqra.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://diqra.wordpress.com/osd.xml" title="Salafy Garut" />
	<atom:link rel='hub' href='http://diqra.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Mut’ah: Begini Cara Berzina Pemeluk Agama Syiah</title>
		<link>http://diqra.wordpress.com/2012/01/14/mutah-begini-cara-berzina-pemeluk-agama-syiah/</link>
		<comments>http://diqra.wordpress.com/2012/01/14/mutah-begini-cara-berzina-pemeluk-agama-syiah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Jan 2012 07:46:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Diqra al Garuti</dc:creator>
				<category><![CDATA[bantahan]]></category>
		<category><![CDATA[manhaj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://diqra.wordpress.com/?p=182</guid>
		<description><![CDATA[Mut’ah: Begini Cara Berzina Pemeluk Agama Syiah Dikutip dari Buku “Bahaya Syi’ah Rofidhoh Bagi Dunia Islam” Selesai ditulis di Darul Hadits Dammaj – 1426H Penulis: Abu Hazim Muhsin Muhammad Bashori -semoga Alloh mengampuni dosa-dosanya- 1. Pengertian Mut’ah &#160; Mut’ah adalah kesepakatan antara seorang laki-laki dengan perempuan yang bukan mahrom untuk bermut’ah (bersetubuh) dalam waktu tertentu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diqra.wordpress.com&amp;blog=1576400&amp;post=182&amp;subd=diqra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Mut’ah: Begini Cara Berzina Pemeluk Agama<a title=" Syiah" href="http://isnad.net/mengenal-agama-syiah-rafidhoh"> Syiah</a></h2>
<p>Dikutip dari Buku “<strong>Bahaya Syi’ah Rofidhoh Bagi Dunia Islam</strong>”<br />
Selesai ditulis di Darul<a title=" Hadits" href="http://isnad.net/info-darul-hadits-dammaj-yaman"> Hadits</a> Dammaj – 1426H<br />
Penulis: <a title="Abu Hazim" href="http://isnad.net/tag/abu-hazim">Abu Hazim</a> Muhsin Muhammad Bashori<br />
-semoga Alloh mengampuni dosa-dosanya-</p>
<p><strong>1. </strong><strong>Pengertian Mut’ah </strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Mut’ah</strong> adalah kesepakatan antara seorang laki-laki dengan perempuan yang bukan mahrom untuk bermut’ah (bersetubuh) dalam waktu tertentu dengan ketentuan-ketentuan dan bayaran tertentu, maka seorang laki-laki bisa bersetubuh serta si wanita harus taat dalam tempat tidur. Tidak diharuskan keduanya ada saksi atau hakim atau wakil atau pengumuman. Dan tidak harus ada orang ketiga yang mengetahui. Serta dimungkinkan pelaksanaan itu terjadi dengan sempurna walaupun dalam keadaan tersembunyi dan tidak ada bagi laki-laki tersebut keharusan untuk memberi nafkah atau pakaian serta tempat tinggal ataupun yang lainnya dari berbagai bentuk pertanggungan jawab namun membayar dengan bayaran tertentu pada  wanita tersebut. Setelah selesai dalam jangka waktu sesuai kesepakatan maka selesailah mut’ahnya.</p>
<p><strong>Bantahan</strong> :<br />
Wahai kaum muslimin apakah ada bedanya dengan zina? Sama sekali tidak ada bedanya, seperti :</p>
<ol>
<li>Tidak harus ada wali.</li>
<li>Tidak harus ada saksi.</li>
<li>Tidak harus ada orang yang mengetahui.</li>
<li>Waktu tertentu.</li>
<li>Tidak ada nafkah.</li>
<li>Jika sudah selesai, maka si wanita ditinggal pergi tanpa menghiraukan apakah hamil atau tidak.</li>
</ol>
<p><strong>2. </strong><strong>Merendahkan Derajat Wanita</strong><strong> </strong></p>
<p><span id="more-182"></span></p>
<p>Sungguh mereka telah menyibukkan mut’ah dengan kesibukan yang luar biasa dan menghinakan kaum wanita. Sehingga mayoritas mereka melampiaskan hawa nafsunya dengan sekenyang-kenyangnya, kalau sudah bosan mereka meninggalkannya, menjadikan perempuan sebagai bahan perdagangan yang tiada henti.</p>
<p>Lihatlah perempuan yang tidak punya suami dan mereka laki-laki maunya tidak punya istri, sehingga bisa ganti-ganti pasangan setiap hari.</p>
<p>Apa akibat yang diderita oleh seorang perempuan kalau sudah tidak “laku lagi” ?</p>
<ol>
<li>Dia hidup sendiri tanpa suami, mencari makan sendiri. Kalau sakitpun harus berobat sendiri. Lain dengan ajaran Islam, seorang suami bisa membantu dia dalam segala sesuatu.</li>
<li>Mayoritas perempuan itu tidak mau melahirkan anak, karena kalau lagi melahirkan anak, harus berhenti dan sibuk dengan anak. Demikian pula tubuhnya tidak senormal kalau tidak punya anak.</li>
<li>Perempuan yang banyak anak akan semakin lemah, baik dalam fisiknya atau syahwatnya. Sementara laki-laki maunya mencari gadis-gadis yang masih muda.</li>
<li>Kalau perempuan sudah tidak punya anak, tidak punya suami. Kalau sudah tua siapa yang akan mengurusinya ?</li>
<li>Orang yang ganti pasangan membikin suramnya wajah seseorang.</li>
<li>Perzinaan membikin murkanya AllohSubhanahu wa ta’ala  baik di dunia ataupun di akhirat.</li>
<li>Negara Iran termasuk negara yang terbesar pengidap penyakit Aids yang mematikan.</li>
<li>Masyarakat akan merasa jijik dengan syariat islam. Mereka katakan ini ada perempuan bercadar kok terkena penyakit Aids, padahal Aids mayoritas disebabkan oleh perzinaan ?, dsb. ( Sebagaimana apa yang terjadi di Indonesia juga )</li>
</ol>
<p><strong>3. </strong><strong>Mut’ah Itu Derajatnya Sederajat Alloh Subhanahu wa ta’ala<br />
</strong></p>
<p><strong>روى في عجالة حسنة ص 17 من يزيد من فعل هذا الأمر الخير (أي المتعة) يرفعهم الله إلى أعلى الدرجات الإلهية … وهم يمرون كالبرق من الصراط ويكون معهم سبعون صفا من الملئكة ويقول الناظرين أهؤلاء من الملئكة المقربين أم من الأنبياء والرسول؟ فتجيب الملئكة: لا  إنهم أولئك الذين طبقواسنة النبي (أي المتعة) وهم ذاهبون إلى الجنة بغير حساب.</strong></p>
<p>Telah diriwayatkan dalam buku <em>‘Ajalah Hasanah</em> hal. 17 “Barangsiapa yang menambah perkara perlakuan yang baik ini (yaitu mut’ah) maka Alloh akan mengangkat derajat mereka kederajat Alloh yang paling tinggi. Mereka melewati <em>shirot</em> seperti Buroq, dan bersama mereka pulalah barisan dari malaikat serta berkatalah orang yang melihatnya : “Apakah mereka itu dari para malaikat yang terdekat atau dari Nabi dan Rosul?” Maka malaikat menjawab : “Tidak, mereka itu yang menerapkan<a title=" sunnah" href="http://isnad.net/ahlussunnah-wal-jamaah"> sunnah</a> Nabi (yaitu mut’ah) mereka pergi ke surga tanpa hisab.”</p>
<p><strong>Bantahan</strong> :</p>
<ol>
<li>Ini jelas palsu dan tidak bersandar dari kitab dan sunnah.</li>
<li>Mereka yang banyak mut’ah sama dengan derajat Alloh? ini batil karena derajatnya tidak akan dicapai oleh para malaikat dan Rosul.</li>
<li>Kaum muslimin hendaknya bertanya kepada orang Rofidloh: “Apakah orang yang mut’ah (zina) dengan banyak wanita, bahkan sebagian dengan ibunya atau bibinya atau yang lain lebih utama dari derajat para Rosul dan malaikat?” Kalau orang Rofidloh menjawab “ya” berarti sungguh rendah agama Syiah Rofidloh hanya dengan perzinahan bisa melebihi Rosul. Padahal Yahudi dan Nasroni serta agama Islam melarang perzinahan, lalu kalian wahai Rofidloh mengikuti agama siapa?</li>
</ol>
<p><strong>4. </strong><strong>Mut’ah 3 Kali Akan Berdesakan Dengan Nabi Di Surga</strong><strong> </strong></p>
<p><strong>قال أبو عبد الله من تمتع مرة أمن سخط الجبار ومن تمتع مرتين حشر مع الأبرار ومن تمتع ثلاث مرات زاحمني في الجنات</strong></p>
<p><strong> (من لايحضره الفقيه3/366)</strong></p>
<p>Telah berkata Abu Abdillah : “Barang siapa yang bermut’ah satu kali maka akan selamat dari kemurkaan Alloh, dan barang siapa bermut’ah dua kali maka akan dibangkitkan (pada hari kiamat) bersama orang yang baik, dan barang siapa yang bermut’ah tiga kali maka akan berdesakan dengan aku di surga.” (Manlayahdluruhul Al faqih  3/366)</p>
<p><strong>Bantahan</strong> :</p>
<ol>
<li>Hadits palsu dengan tidak ada keraguan sedikitpun.</li>
<li>Rofidloh membagi-bagi surga seenaknya sendiri, memangnya surga milik kakeknya Rofidloh Yahudi.</li>
<li>Lalu bagaimana yang bermut’ah sehari 20 kali, apa balasannya?</li>
<li>Atau yang seumur hidupnya digunakan untuk mut’ah, apa balasannya?</li>
</ol>
<p><strong>5. </strong><strong>Mut’ah 4 Kali Derajadnya Menyamai Nabi shallalahu ‘alayhi wa sallam</strong></p>
<p><strong>ورى سعيد فتح الله الكاتني في تفسير منهج الصادقين عن النبي غ قال أنه من تمتع مرة كانت كدرجة الحسن م ، ومن تمتع مرتين فدرجته كدرجة الحسين م ومن تمتع ثلاث مرات كانت درجته كدرجة علي بن أبي طالبت، ومن تمتع أربع مرات فدرجته كدرجتي. (لله ثم للتاريخ 34)</strong></p>
<p>Dan diriwayatkan oleh Sayyid Fathullah Al Katany dalam tafsir manhaj Ash shodiqin dari Nabi shallalahu ‘alayhi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya siapa saja yang bermut’ah satu kali maka derajadnya sebagaimana derajad Husain radhiyAllohu ‘anhuma, barang siapa yang bermut’ah dua kali maka derajadnya sama dengan derajad Hasan radhiyAllohu ‘anhuma dan barang siapa yang bermut’ah tiga kali maka derajadnya sebagaimana derajadnya ‘Ali bin Abi Thalib radhiyAllohu ‘anhu, dan barang siapa yang bermut’ah empat kali derajadnya sebagaimana derajadku (Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wa sallam ). [Lillahi Tsumma Littarikh, hal. 34]</p>
<p><strong>Bantahan</strong> :</p>
<ol>
<li>Hadits palsu yang diletakkan oleh pengikut Yahudi (Rofidloh). Semoga Alloh Subhanahu wa ta’ala menghinakan mereka.</li>
<li>Seluruh sahabat dan tabi’in, tabi’it tabi’in, demikian pula imam yang empat (Imam Malik, Abu Hanifah, Syafi’i, Ahmad bin Hambal) yang mereka lebih tahu tentang agama ini, tidak dinukilkan perkataan yang batil seperti ini.</li>
<li>Lalu bagaimana yang hari ini mut’ah dengan ibunya, besoknya lagi mut’ah dengan anaknya, besoknya lagi mut’ah dengan bibinya? Yahudi dan Nasroni tidak akan melakukan perbuatan yang sejelek ini.</li>
</ol>
<p><strong>6. </strong><strong>Rofidloh Mengatakan Mut’ah Mendapat Pahal</strong><strong>a</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Rofidloh sangat berusaha keras dalam penyebaran mut’ah ini. Sehingga mereka meletakkan hadits palsu dalam upaya pemuasan hawa nafsu mereka. Lihatlah :</p>
<p><strong>قيل لعبد الله : هل للتمتع الثواب قال إن كان يريد بذالك وجه الله لم يكلمها كلمة إلا كتب الله له بها حسنة  فإذا دنا منها غفر الله بذالك ذنبا فإذا غتسل  غفر الله بقدر ما مر من الماء على شعره. (من لاتحضره الفقية 3/366)</strong></p>
<p>Dikatakan kepada Abu Abdillah: “Apakah mut’ah itu ada pahala?” Dia menjawab, kalau dia itu menginginkan wajah Alloh tidaklah mengucap sepatah kata kecuali ditulis oleh Alloh suatu kebajikan. Kalau dia menyetubuhinya maka Alloh mengampuni dosa-dosanya, kalau sudah mandi maka Alloh mengampuni dosa-dosanya sesuai dengan mengalirnya air diatas rambutnya. [Manlayahdlurahul Al faqih 3/366]</p>
<p><strong>Bantahan</strong> :</p>
<ol>
<li>Hadits yang tidak ada sanadnya.</li>
<li>Hadits palsu, tidak ada di buku-buku kaum muslimin kecuali buku Rofidloh, sedangkan Rofidloh bukan muslimin.</li>
<li>Ini merupakan kedustaan atas Rosululloh shallalahu ‘alayhi wa sallam.</li>
</ol>
<p><strong>مَنْ كَذَّبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ. (متفق عليه)</strong></p>
<p><em>“Barang siapa berdusta kepadaku, maka bersegeralah menempati tempat di neraka.”</em> (HR. Zubair /Muttafaqun ‘Alaihi)</p>
<p><strong> </strong> <strong>7. </strong><strong>Rofidloh Menganjurkan Mut’ah (Zina)</strong><strong> </strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Mut’ah dikalangan syi’ah Rofidloh merupakan suatu hal yang sangat besar dalam upaya pendekatan ibadah kepada Alloh subhanahu wa ta’ala. Dan ini merupakan sebab diampuni dosa-dosanya, dan meningkatkan derajat. Mereka mengambil dalil dari firman Alloh subhanahu wa ta’ala, tapi tafsirnya menurut pemahaman mereka :</p>
<p><strong>فَمَا اسْتَمْتَعْتُم بِهِ مِنْهُنَّ فَآتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ فَرِيضَةً</strong></p>
<p><em>Artinya : “Maka istri-istri yang telah kamu nikmati (campuri) diantara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna) sebagai suatu kewajiban.”</em> (An Nisa : 24)</p>
<p>Rofidloh sebagaimana dimaklumi, mengambil dalil yang sesuai dengan hawa nafsunya dan menolak dalil yang menghantam fikiran dan hawa nafsunya.</p>
<p>Wahai Rofidloh, lihatlah dalil yang melarang mut’ah :</p>
<ol>
<li>Hadits Ali bin Abi Tholib radhiyAllohu ‘anhu</li>
</ol>
<p>عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ الله عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ مُتْعَةِ النِّسَاءِ يَوْمَ خَيْبَرَ وَعَنْ أَكْلِ لُحُومِ الْحُمُرِ الْإِنْسِيَّةِ. (متفق عليه)</p>
<p><em>“Dari ‘Ali bin Abi Thalib </em><em>ت</em><em>, bahwasanya Rosululloh </em>shallalahu ‘alayhi wa sallam <em>melarang mut’ah perempuan pada hari Khoibar dan melarang makan keledai piaraan.”</em> ['Ali bin Abi Thalib /Muttafaqun alaih]</p>
<ol>
<li>‘Ali juga mengingkari Ibnu Abbas dalam masalah mut’ah dan Rofidloh menyelisihi ‘Ali bin Abi Thalib.</li>
<li>Rosululloh shallalahu ‘alayhi wa sallam membolehkan nikah mut’ah dalam keadaan perang dan jauh dari istri. Lalu melarangnya sampai hari kiamat. Sebagaimana sabda Nabi shallalahu ‘alayhi wa sallam:</li>
</ol>
<p><strong>عَنْ سَبْرَةَ الْجُهَنِيُّ أَنَّهُ كَانَ مَعَ رَسُولِ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي قَدْ كُنْتُ أَذِنْتُ لَكُمْ فِي الِاسْتِمْتَاعِ مِنْ النِّسَاءِ وَإِنَّ اللهَ قَدْ حَرَّمَ ذَلِكَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ. (مسلم)</strong></p>
<p><em>Dari Saburah Al Juhhany </em><em>radhiyAllohu ‘anhu</em><em>, bahwasanya dia bersama Nabi shallalahu ‘alayhi wa sallam, maka bersabdalah Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam: “Wahai manusia, sesungguhnya dahulu saya telah mengijinkan kalian mut’ah dengan perempuan, dan sesungguhnya Alloh telah mengharamkannya sampai hari kiamat.”</em> [Saburah Al Juhhany/Muslim]</p>
<p>Sedangkan Rofidloh hampir tiap hari nikah mut’ah, bahkan dalam sehari bisa 20 pasangan. Dan satu perempuan bisa dinikmati oleh 20 lelaki dalam sehari semalam.</p>
<p>Telah berkata Imam Al Alusy rahimahulloh: “Siapa saja yang melihat keadaan Rofidloh dalam masalah mut’ah pada zaman ini, tidak butuh untuk menghukumi zinanya mereka dengan bukti. Karena sesungguhnya seorang perempuan berzina dengan dua puluh lelaki dalam sehari semalam. Dan kalian katakan dia sedang mut’ah, dan sungguh telah siap dikalangan mereka bermacam-macam pasar yang disitu berhenti perempuan dan mereka mempunyai orang yang menunjukkan lelaki kepada perempuan, dan perempuan kepada lelaki. Mereka memilih siapa yang mereka suka dan mereka bekerja sama dalam harga perzinaan. Mereka mengambil itu semua kepada laknat Alloh dan kemurkaan-Nya.” [Kasyful Jahalat, nukilan dari Ushul madzhab syi'ah  3/1236, dibawah judul " Al Ibahiyah "]</p>
<p><strong>8. </strong><strong>Khumainy Pimpinan Rofidloh Iran Telah Bermut’ah Dengan Anak Berumur 4/5 Tahu</strong><strong>n</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kaum muslimin kalau melihat sepintas orang ini akan sangat menyukainya, berimamah besar, lebat jenggotnya, memakai jubah, dsb. Tetapi kalau tahu dengan sebenarnya maka orang akan meludahinya dan menganggap anjing lebih mulia darinya. Lihatlah Khumainy :</p>
<ol>
<li>Telah membunuh ribuan kaum muslimin di Iran, sehingga Ahlus sunnah tidak bisa hidup disana sedikitpun. Yang dimaksud Ahlus sunnah ciri-cirinya orang yang mencintai Abu Bakr Ash Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dsb.</li>
<li>Ketika terjadi pembunuhan kaum muslimin oleh tentara Tartar Mongolia pimpinan Holako, yang mencapai kurang lebih dua juta kaum muslimin mati di tangan mereka, maka Khumainy meridloinya dan menganggap ini suatu kehormatan yang sangat besar buat agama Islam. [Lillahi Tsumma Littarikh, hal. 42]</li>
<li>Menyebarkan madzhab Syi’ah Rofidloh ini sampai ke pelosok dunia, Irak, Yaman, Indonesia, bahkan sampai ke Makkah dan Madinah.</li>
<li>Diantara kesesatan khumainy, dia telah mut’ah dengan anak perempuan yang berumur 4/5 tahun. Lihatlah apa yang dikisahkan oleh Doktor Musawy pengawal setia Khumainy. Ketika dia berjalan dengannya, setelah selesai waktu perjalanan kami, perjalanan kami kembali dan kami lewat di Baghdad. Maka Imam khumainy ingin beristirahat di tengah perjalanan tersebut. Maka ia memerintahkan untuk melanjutkan ke daerah Athifiyah, karena disana ada seorang Asli Iran tinggal disana. Yang temannya itu bernama Sayyid shohib, dan antara Khumainy dan Sayyid Shohib ada hubungan yang sangat dekat. Maka Sayyid Shohib itu gembira sekali dengan kedatangan kami. Kami tiba di tempatnya pada waktu dhuhur, maka disuguhkan kepada kami makanan yang betul-betul mewah, ia telepon pada sanak familinya lalu mereka segera datang. Maka penuhlah orang-orang di rumahnya dengan kedatangan kami dan Sayyid Shohib meminta kepada kami untuk bermalam di tempatnya malam tersebut. Maka terdiamlah imam Khumainy setelah waktu isya’, maka mereka menyajikan makan malam, dan waktu itu orang-orang yang datang semuanya mencium tangan imam dan mereka menanyakan segala sesuatu dan imam ini menjawab seluruh pertanyaannya.</li>
</ol>
<p>Dan ketika dekat waktu tidur orang-orang yang hadir sudah mulai pergi kecuali yang punya rumah. Tiba-tiba imam Khumainy melihat anak perempuan berumur 4/5 tahun, tetapi anak ini sangat cantik. Maka imam Khumainy meminta untuk bermut’ah dengan anak perempuan tersebut kepada ayahnya. Maka Sayyid Shohib ini luar biasa gembiranya dan mau menerimanya. Maka bermalamlah imam Khumainy dan anak perempuan tersebut berada pada pangkuannya. Dan kami mendengar tangisan dan jeritan anak tersebut. [Lillahi Tsumma Littarikh, hal. 36]. <em>Innilillahi wa inna ilaihi roji’un.</em></p>
<p><strong> </strong> <strong>9. </strong><strong>Boleh Mut’ah Dengan Perempuan Yang Sangat Keci</strong><strong>l</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sesungguhnya dikatakan kepada Abu Abdillah : Perempuan yang masih kecil apakah boleh bagi laki-laki untuk bermut’ah dengannya? Dia menjawab : “Ya”, kecuali perempuan yang ditipu. Dikatakan kepadanya, batasan yang tidak ditipu? Dia menjawab : “Sepuluh tahun.” [Al Kulainy 5/463]</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>10. </strong><strong>Membolehkan Mut’ah Dengan Anak Yang Masih Dalam Susuan (Buaian)</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>قال الخميني لا بأس بالتمتع بالرضعية ضما وتفخيذا أو يضع ذكره بين فخذيها وتقبيلا. (تحرير الوسيلة 2/241)</strong></p>
<p>Telah berkata Al Khumainy tidak mengapa mut’ah dengan anak yang masih dalam susuan, dengan berpeluk-pelukan atau penyentuhan paha dengan paha, atau meletakkan kemaluan laki-laki tersebut diantara pahanya, atau cium-ciuman. ( Tahrir Al Wasilah  2 / 241 )</p>
<p>Kaum muslimin, siapakah yang ridlo dengan perlakuan seperti yang dilakukan Khumainy, apakah tidak ada perempuan yang bisa digunakan untuk pelampiasan syahwatnya. Sehingga anak yang masih dalam susuan ibunya (dalam buaian) harus menjadi korban.</p>
<p>Oleh karena itu, lihatlah firman Alloh subhanahu wa ta’ala:</p>
<p><strong>وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيراً مِّنَ الْجِنِّ وَالإِنسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لاَّ يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لاَّ يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لاَّ يَسْمَعُونَ بِهَا أُوْلَـئِكَ كَالأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُوْلَـئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ</strong></p>
<p><em>Artinya : “Dan sesungguhnya kami jadikan untuk ini neraka jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat Alloh) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda kekuasaan Alloh) dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Alloh). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang yang lalai.”</em> (Al A’raf 179)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>11. </strong><strong>Mut’ah Dengan Ibu dan Anakny</strong><strong>a</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Telah berkata Doktor Musawi, seorang pengawal setia Ayatullah Khumainy. Telah datang seorang perempuan kepadaku, tentang suatu kejadian yang terjadi pada dirinya, ketika dia mengkhabarkan bahwa salah seorang Sayyid Husain Ash Shadr, bahwasanya dia telah bermut’ah (berzina) dengannya sebelum 10 tahun yang lalu. Lalu dia hamil, ketika sudah jenuh darinya lalu ia menceraikannya. Setelah itu (perempuan) itu dikaruniai anak perempuan dan dia bersumpah bahwa, ia hamil darinya (Sayyid Husain) karena dia (perempuan itu) tidak mut’ah selain dari padanya, setelah anak perempuan ini besar menjadi seorang remaja dan siap untuk menikah, tiba-tiba ibunya mengetahui bahwa anaknya sedang hamil. Maka setelah ditanya tentang sebab hamilnya, akhirnya dia memberitahu bahwa Sayyid tersebut (Sayyid Husain) telah mut’ah dengannya, lalu hamil darinya. Maka ibunya tercengang dan hilang akalnya ketika ia kabarkan bahwa Sayyid itu adalah bapaknya (sendiri). Perempuan ini mengisahkan kejadiannya, bagaimana ia mut’ah dengan ibunya dan besok dengan anak perempuannya?</p>
<p><strong>Bantahan</strong> :</p>
<ol>
<li>Bahkan Rofidloh banyak yang mut’ah dengan ibunya, besok mut’ah dengan anaknya, besoknya lagi sama bibinya, besoknya dengan saudara perempuan, dsb.</li>
<li>Kelakuan seperti ini tidak ada bedanya dengan kelakuan binatang, bahkan binatang lebih mulia. Sebagaimana firman Alloh subhanahu wa ta’ala:</li>
</ol>
<p><strong>أُوْلَـئِكَ كَالأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ</strong></p>
<p><em>Artinya : “Mereka itu seperti binatang, bahkan lebih jelek lagi.”</em> (Al ‘Araf  179)</p>
<ol>
<li>Bahkan agama Yahudi dan Nasroni telah mengharamkan kelakuan seperti ini.</li>
<li>Apakah mereka tidak melihat hadits ini :</li>
</ol>
<p><strong>عَنْ أَبِي أُمَامَةَ قَالَ إِنَّ فَتًى شَابًّا أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ الله ائْذَنْ لِي بِالزِّنَا فَأَقْبَلَ الْقَوْمُ عَلَيْهِ فَزَجَرُوهُ قَالُوا مَهْ مَهْ فَقَالَ ادْنُهْ فَدَنَا مِنْهُ قَرِيبًا قَالَ فَجَلَسَ قَالَ أَتُحِبُّهُ لِأُمِّكَ قَالَ لَا وَالله جَعَلَنِي الله فِدَاءَكَ قَالَ وَلَا النَّاسُ يُحِبُّونَهُ لِأُمَّهَاتِهِمْ قَالَ أَفَتُحِبُّهُ لِابْنَتِكَ قَالَ لَا وَالله يَا رَسُولَ اللَّهِ جَعَلَنِي الله فِدَاءَكَ قَالَ وَلَا النَّاسُ يُحِبُّونَهُ لِبَنَاتِهِمْ قَالَ أَفَتُحِبُّهُ لِأُخْتِكَ قَالَ لَا وَالله جَعَلَنِي الله فِدَاءَكَ قَالَ وَلَا النَّاسُ يُحِبُّونَهُ لِأَخَوَاتِهِمْ قَالَ أَفَتُحِبُّهُ لِعَمَّتِكَ قَالَ لَا وَالله جَعَلَنِي الله فِدَاءَكَ قَالَ وَلَا النَّاسُ يُحِبُّونَهُ لِعَمَّاتِهِمْ قَالَ أَفَتُحِبُّهُ لِخَالَتِكَ قَالَ لَا وَالله جَعَلَنِي الله فِدَاءَكَ قَالَ وَلَا النَّاسُ يُحِبُّونَهُ لِخَالَاتِهِمْ قَالَ فَوَضَعَ يَدَهُ عَلَيْهِ وَقَالَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ ذَنْبَهُ وَطَهِّرْ قَلْبَهُ وَحَصِّنْ فَرْجَهُ فَلَمْ يَكُنْ بَعْدُ ذَلِكَ الْفَتَى يَلْتَفِتُ إِلَى شَيْءٍ. (أحمد)</strong></p>
<p><em>Dari Abu Umamah </em><em>ت</em><em> berkata : Sesungguhnya telah datang seorang pemuda pada Nabi shallalahu ‘alayhi wa sallam seraya berkata : “Wahai Rosululloh, izinkan saya untuk berzina, maka para sahabatnya segera mencelanya “mah-mah” (kalimat cercaan), maka berkatalah Nabi kepadanya : “Sini mendekatlah, maka (pemuda) itu mendekatinya dengan jarak dekat, lalu duduk. Lalu berkatalah (Nabi) : “Apa kamu suka (zina) kepada ibumu ? Dia jawab : Tidak, demi Alloh, Alloh menjadikanku enggan padanya, tidak ada seorangpun kecuali tidak senang menzinai ibunya. Lalu berkata (Nabi </em><em>shallalahu ‘alayhi wa sallam</em><em>) : Apakah kamu suka (zina) dengan anakmu? Dia jawab : Tidak, demi Alloh, wahai Rosululloh, Alloh menjadikanku enggan padanya, tidak ada seorangpun kecuali tidak senang menzinai anaknya. Lalu berkatalah (Nabi) : “Apa kamu suka (zina) dengan saudaramu perempuan?” Dia jawab : “Tidak, demi Alloh, Alloh menjadikanku rasa enggan padanya, tidak ada seorangpun kecuali tidak senang menzinai saudara perempuannya”. Lalu berkata (Nabi </em><em>shallalahu ‘alayhi wa sallam</em><em>) : “Apakah kamu suka (zina) dengan bibimu (saudara bapak)?” Dia jawab : “Tidak, demi Alloh, wahai Rosululloh, Alloh menjadikanku rasa engan padanya, tidak ada seorangpun kecuali tidak senang menzinai bibinya (saudara bapak).” (Nabi) berkata lagi : “Apakah kamu suka (zina) terhadap bibimu (saudara  ibu)?” Dia jawab : “Tidak, demi Alloh, Alloh menjadikanku rasa enggan padanya, dan tidak ada seorangpun kecuali tidak senang menzinai bibinya (saudara ibu). Maka (Nabi </em><em>shallalahu ‘alayhi wa sallam </em><em>) meletakkan tangannya diatas (kepalanya) lalu berdo’a : “Ya Alloh, ampuni dosanya, bersihkan hatinya, dan jagalah kemaluannya”. Maka pemuda itu tidak menoleh lagi kepada sesuatu (zina).”</em> [HR. Abu Umamah/Ahmad]. Al Jami ‘Ashshahih 4 / 127</p>
<p>Tetapi lihatlah Rofidloh, mereka lakukan semua hal tersebut di atas. <em>Wallohul musta’an</em>.</p>
<p><strong>12. </strong><strong>Sebagian Rofidloh Membolehkan<a title=" Homoseksual" href="http://isnad.net/hukum-homoseksual-gay-dan-lesbian"> Homoseksual</a> (Luthi</strong><strong>)</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Telah berkata Doktor Al Musawy, telah berkata Sayyid Syarafuddin : “Saya ingat bahwasanya saya telah membaca riwayat Imam Ja’far bin Shodiq, ketika datang seorang lelaki kepadanya, dia banyak bepergian dan susah mencari perempuan untuk mut’ah di tempat bepergian tersebut. Yaitu sebagaimana dia menolongku, sebagaimana kalian menolongku (<em>Hikayah Mut’ah</em>)”. Maka berkatalah Abu Abdillah : “Kalau kalian bepergian lama, maka hendaknya kalian menikahi laki-laki (homoseksual).”  [Lillahi Tsumma Littarikh, hal. 54 )</p>
<p>Wahai saudaraku kaum muslimin :</p>
<ul>
<li>Perbuatan kaum luthi (<strong>homoseksual</strong>) tidak pernah dilakukan oleh ummat sebelum Luth.</li>
</ul>
<p><strong>وَلُوطاً إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُم بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِّنَ الْعَالَمِينَ</strong></p>
<p><em>Artinya : "Dan ( ingatlah ) ketika Luth berkata kepada kaumnya : Sesungguhnya benar-benar mengerjakan perbuatan yang amat keji yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun dari ummat sebelum kamu." </em>(Al Ankabut : 28)</p>
<p><strong>أئنكم لتأتون الرجال.</strong></p>
<p><em>"Apakah sesungguhnya kamu patut mendatangi laki-laki (homoseksual)."</em></p>
<ul>
<li>Pelaku homoseksual berhak mendapat laknat (kutukan) dari Alloh subhanahu wa ta'ala.</li>
</ul>
<p><strong>عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ م قَالَ : قَالَ رَسُولُ الله غ لَعَنَ الله مَنْ عَمِلَ عَمَلً قَوْمَ لُوطٍ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ. (أحمد 1/317)</strong></p>
<p><em>Dari Ibnu Abbas </em>م<em> berkata, telah bersabda Rosululloh shallalahu 'alayhi wa sallam: "Alloh melaknat orang-orang yang melakukan perbuatan kaum Luth, 3 kali."</em> [Ibnu Abbas/Ahmad 1/317]</p>
<ul>
<li>Ulama sepakat bahwa pelaku homoseksual harus dibunuh.</li>
</ul>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>13. </strong><strong>Rofidloh Katakan Mut’ah Boleh Baginya dan Haram Bagi Ahlus Sunna</strong><strong>h</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Telah berkata Musawy : Suatu hari kami duduk di maktabah bersama Imam, tiba-tiba masuklah dua pemuda yang jelas keduanya telah berselisih dalam suatu masalah. Lalu keduanya sepakat untuk menyampaikan soalnya kepada Imam Khouiy untuk menjawabnya. Maka bertanyalah satu diantara keduanya, “Ya Sayyid” bagaimana pendapatmu tentang mut’ah, halal atau harom. Maka imam ini melihat kepadanya, dikhawatirkan pertanyaan tersebut akan menimbulkan sesuatu, kemudian imam ini bertanya kepadanya, dimana kau tinggal? Dia menjawab, saya tinggal di Mushil dan disini saya tinggal di Najf, baru sekitar dua bulan. Maka imam ini mengatakan : “Kalau begitu, berarti kamu Sunni?” Pemuda ini menjawab : “Ya”. Lalu imam ini mengatakan : “Mut’ah bagi kami halal dan bagimu haram.” [Lillahi Tsumma Littarikh, hal. 37]</p>
<p>Ini adalah kelakuan yang dilakukan oleh Bani Isro’il yang mengharamkan suatu yang halal, atau <strong>menghalalkan sesuatu yang haram.</strong></p>
<p><strong>لَعَنَ اللهُ اليَهُودَ لَمَّا حَرَمَ اللهُ  عَلَيْهِمْ الشَّحُوم فجمَلُوهَا فبَاعُوهَا وَأَكَلُوا ثَمَنَهَا.</strong></p>
<p><em>“Alloh mengutuk Yahudi ketika Alloh haramkan bagi mereka gajih, mereka membagus-bagusinya lalu mereka menjualnya dan memakan harga (gajih) tersebut.”</em>[Abu Huroiroh /Bukhori–Muslim]</p>
<p>Demikian pula, mereka menghalalkan bagi orang tertentu dan mengharamkan bagi yang lainnya. Sebagaimana firman Alloh subhanahu wa ta’ala:</p>
<p><strong>وَقَالُواْ هَـذِهِ أَنْعَامٌ وَحَرْثٌ حِجْرٌ لاَّ يَطْعَمُهَا إِلاَّ مَن نّشَاء بِزَعْمِهِمْ وَأَنْعَامٌ حُرِّمَتْ ظُهُورُهَا وَأَنْعَامٌ لاَّ يَذْكُرُونَ اسْمَ اللّهِ عَلَيْهَا افْتِرَاء عَلَيْهِ سَيَجْزِيهِم بِمَا كَانُواْ يَفْتَرُونَ</strong></p>
<p><strong>وَقَالُواْ مَا فِي بُطُونِ هَـذِهِ الأَنْعَامِ خَالِصَةٌ لِّذُكُورِنَا وَمُحَرَّمٌ عَلَى أَزْوَاجِنَا وَإِن يَكُن مَّيْتَةً فَهُمْ فِيهِ شُرَكَاء سَيَجْزِيهِمْ وَصْفَهُمْ إِنَّهُ حِكِيمٌ عَلِيمٌ</strong></p>
<p><em>“Dan mereka mengatakan”Inilah hewan ternak dan tanaman yang dilarang; tidak boleh memakannya, kecuali orang yang kami kehendaki”, menurut anggapan mereka, dan ada binatang ternak yang diharamkan menungganginya dan ada binatang ternak yang mereka tidak menyebut nama Allah waktu menyembelihnya, semata-mata membuat-buat kedustaan terhadap Allah. kelak Allah akan membalas mereka terhadap apa yang selalu mereka ada-adakan. Dan mereka mengatakan: “Apa yang ada dalam perut binatang ternak ini adalah khusus untuk pria kami dan diharamkan atas wanita kami,” dan jika yang dalam perut itu dilahirkan mati, Maka pria dan wanita sama-sama boleh memakannya. kelak Allah akan membalas mereka terhadap ketetapan mereka. Sesungguhnya Allah Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” </em>(al-An’am : 138-139)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>14. </strong><strong>Membolehkan Setubuh Lewat Duburny</strong><strong>a</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>عن عبد الله بن أبي اليعفور قال سألت أبا عبد الله ؛ عن الرجل يأتي المرأة من دبرها قال لابأس إذا رضيت. (الابستبصار 3/243)</strong></p>
<p>Dari Abdullah bin Abi Ya’fur berkata, saya bertanya kepada Abu Abdillah, tentang seseorang laki yang mendatangi (menyetubuhi) dengan perempuan lewat duburnya. Dia berkata: “Tidak mengapa kalau dia rela.” [Al Ishtibshor  3/243]</p>
<p>Wahai kaum muslimin, menyetubuhi perempuan lewat duburnya termasuk dosa besar yang dilarang oleh agama islam. Sebagaimana firman Alloh subhanahu wa ta’ala:</p>
<p><strong>نِسَآؤُكُمْ حَرْثٌ لَّكُمْ فَأْتُواْ حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ وَقَدِّمُواْ لأَنفُسِكُمْ</strong></p>
<p><em>Artinya : “Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok tanammu itu sebagaimana kamu kehendaki.” </em>(Al Baqoroh : 223), Yaitu di satu lubang ( kemaluan ). ( Lihat tafsir Ibnu Katsir 1 / 365 )</p>
<p>Dan hadits Nabi shallalahu ‘alayhi wa sallam:</p>
<p><strong>عَنْ جَابِرٍ م قَالَ : قَالَ رَسُولُ الله غ اسْتَحْيُوا إِنَّ اللهَ لَا يَسْتَحْيِي مِنَ الْحَقِّ لاَ يَحِلُّ أَنْ يَأْتُوا النِّسَاءَ فِي حَشُوشِهِنَّ. </strong></p>
<p><strong>(قال الألباني في صحيح الترغيب والترهيب (2428) )</strong></p>
<p><em>Dari Jabir </em>م<em> berkata, telah bersabda Rosululloh shallalahu ‘alayhi wa sallam : Malulah kalian, sesungguhnya Alloh tidak malu dalam kebenaran, tidak boleh kalian mendatangi istri-istri kalian di dubur mereka.” </em>[Al Albany dalam Shohih Attarghib wattarhib  (2428)] Hasan lighoirihi.</p>
<p>Dan telah berkata Adz Dzahaby dalam kitabnya Al Kabair, hal. 58 dalam firman Alloh subhanahu wa ta’ala :</p>
<p><strong>نِسَآؤُكُمْ حَرْثٌ لَّكُمْ فَأْتُواْ حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ وَقَدِّمُواْ لأَنفُسِكُمْ</strong></p>
<p><em>Artinya : “Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok tanammu itu sebagaimana kamu kehendaki.” </em>(Al Baqoroh : 223), Yaitu bagaimana kamu kehendaki dari depan dan belakang dalam satu tempat (kemaluan perempuan).</p>
<p>Bahkan Asy <a title="Syaikh Muqbil" href="http://isnad.net/biographi-syaikh-muqbil-bin-hadi-al-wadii">Syaikh Muqbil</a> telah berfatwa dalam durusnya: “Kalau suami tetap nekat untuk mendatangi istrinya di duburnya maka istri itu boleh minta khulu’ karena tidak ada ketaatan kecuali ketaatan kepada Alloh subhanahu wa ta’ala dan Rasulnya.</p>
<p><strong>Dalil-dalil Tentang Larangan Mut’ah ( Zina )</strong></p>
<ul>
<li>Rosululloh shallalahu ‘alayhi wa sallam membolehkan mut’ah dikala perang dan jauh dari istri-istri mereka.</li>
</ul>
<p><strong>عَنْ سَهْلٍ بنْ سَعْدٍ قَالَ : إِنَّمَا رَخَّصَ النَّبِي غ فِي الْمـُتْعَةِ لِعُزْبَةٍ كَانَتْ شَدِيدَة ثُمَّ نَهَى عَنْهَا. (ابن عبد البر)</strong></p>
<p><em>Dari Sahl bin Sa’d berkata, sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam membolehkan mut’ah bagi yang bujang dengan sangat (terpaksa) kemudian beliau melarangnya.” </em>[Sahl bin Sa'd/Ibnu Abdil Bar]</p>
<ul>
<li>Rosululloh  shallalahu ‘alayhi wa sallamtelah melarangnya pada perang Khoibar.</li>
</ul>
<p><strong>عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ مُتْعَةِ النِّسَاءِ يَوْمَ خَيْبَرَ وَعَنْ لُحُومِ الْحُمُرِ الْإِنْسِيَّةِ. (متفق عليه)</strong></p>
<p><em>Dari Ali bin Abi Thalib radhiyAllohu ‘anhu</em><em>, bahwasanya Rosululloh shallallahu ‘alayhi wa sallam melarang mut’ah perempuan pada ( perang ) Khoibar dan daging himar piaraan.”</em> [Ali bin Abi Thalib/Muttafaqun 'alaih]</p>
<ul>
<li>Larangan itu terus berlangsung sampai hari kiamat.</li>
</ul>
<p><strong>عَنْ سَبْرَةَ الْجُهَنِيُّ ت أَنَّهُ كَانَ مَعَ رَسُولِ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي قَدْ كُنْتُ أَذِنْتُ لَكُمْ فِي الِاسْتِمْتَاعِ مِنْ النِّسَاءِ وَإِنَّ الله قَدْ حَرَّمَ ذَلِكَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ. (مسلم)</strong></p>
<p><em>Dari Saburah Al Juhbany </em><em>radhiyAllohu ‘anhu</em><em>, bahwasanya dia bersama Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam. Maka bersabdalah beliau shallallahu ‘alayhi wa sallam: “Wahai manusia, sesungguhnya aku telah membolehkan mut’ah perempuan. Dan sesungguhnya Alloh telah mengharamkannya sampai hari kiamat.”</em> [Saburah Al Juhhany/Muslim]</p>
<ul>
<li>Para sahabat telah mengetahui bahwa mut’ah sudah dilarang. Sebagaimana perkataan Ibnu Umar :</li>
</ul>
<p><strong>عَنْ سَالِمْ بن عَبْدِ الله أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ ابنَ عُمَر م عَنِ الْمـُتْعَةِ. فَقَالَ : حَرَامٌ. (صحيح أبي عوانة</strong>)</p>
<p><em>“Dari Salim bin Abdillah, bahwasanya ada seseorang yang bertanya kepada Ibnu Umar </em>م<em> tentang mut’ah. Maka beliau menjawab haram (dilarang).” </em>[Shohih Abu 'Awanah]</p>
<ul>
<li>Rosululloh shallalahu ‘alayhi wa sallam membolehkan mut’ah hanya tiga hari saja.</li>
</ul>
<p><strong>عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ لَمَّا وَلِيَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ خَطَبَ النَّاسَ فَقَالَ إِنَّ رَسُولَ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَذِنَ لَنَا فِي الْمُتْعَةِ ثَلَاثًا ثُمَّ حَرَّمَهَا. (ابن ماجة)</strong></p>
<p><em>Dari Ibnu Umar </em>م<em> berkata, ketika Umar menjabat kholifah, dia berpidato : “Bahwasanya Rosululloh shallallahu ‘alayhi wa sallam</em><em> membolehkan mut’ah selama 3 hari, lalu ia mengharamkannya.”</em> [Ibnu Umar/Ibnu Majah]</p>
<ul>
<li>Para ulama telah sepakat tentang haramnya mut’ah kecuali Rofidloh.</li>
</ul>
<p><strong>وقال عياض : ثم وقع الإجماع من جميع العلماء على تحرمها إلا رافضة. (فتح الباري 9/87)</strong></p>
<p><em>“Telah berkata ‘Iyadh, kemudian para ulama semuanya telah sepakat tentang haramnya (mut’ah) kecuali Rofidloh.”</em> [Fathul bari  9/87]</p>
<ul>
<li>Ucapan Rofidloh dan fatwa mereka tentang bolehnya mut’ah tidak dianggap.</li>
</ul>
<p><strong>قال ابن المنذر : جاء عن الأوائل الرخصة فيها، ولا أعلم اليوم أحدا يجيزها إلا بعض الرافضة، ولا معنى القول يخالف كتاب الله وسنة رسوله. (فتح الباري  9/87)</strong></p>
<p><em><strong>“Telah berkata Ibnu Al Mund</strong>zir, telah datang di awal (sahabat) tentang bolehnya mut’ah, dan sekarang tidak aku ketahui seorangpun yang membolehkan mut’ah kecuali sebagian Rofidloh. Dan tidak ada arti perselisihannya karena menyelisihi Al Qur’an dan As Sunnah Rosul-Nya.”</em> [Fathul bari  9/87]</p>
<ul>
<li>Bahkan Ahlu Bait sendiri menganggap mut’ah sebagai perzinaan.</li>
</ul>
<p><strong>عن جعفر بن محمد أنه سئل عن المتعة فقال: هي الزنا بعينه. (رواه البيهقي)</strong></p>
<p><em>“Dari Ja’far bin Muhammad, bahwasanya dia ditanya tentang mut’ah. Maka dia menjawab, itu adalah zina dengan sebenarnya.”</em> (Ja’far bin Muhammad /Al Baihaqy)</p>
<p><strong>15. </strong><strong>Rofidloh Membolehkan Untuk Menyewa Kemalua</strong><strong>n</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Telah berkata Doktor Musawy : Sungguh menyayangkan bahwa para Sayyid (pimpinan) di sana, telah berfatwa tentang bolehnya menyewa kemaluan (perempuan). Sehingga di sana banyak orang-orang yang sudah berkeluarga seperti di Irak selatan, Baghdad, pulau Ats Tsaury yang banyak mereka gunakan untuk perbuatan ini. Mereka berlandaskan fatwa para sayyid (pimpinan mereka) seperti As Sistany, Ash Shodr, Asy syirozy, Ath Tholathaby, Al Barujardy, dsb. Banyak dari mereka kalau kedatangan tamu di salah satu diantara mereka, untuk meminjam (menyewa) perempuan. Kalau dia melihat gadis cantik, dan perempuan tersebut tetap dalam sewaanya sampai tamu itu kembali. [Lillahi Tsumma Littarikh, hal. 49]</p>
<p>Sungguh hal ini tidak dilakukan oleh ulama terdahulu sampai sekarang. Sebagaimana kisah Sa’d bin Ubadah :</p>
<p><strong>عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ سَعْدُ بْنُ عُبَادَةَ يَا رَسُولَ الله لَوْ وَجَدْتُ مَعَ أَهْلِي رَجُلًا لَمْ أَمَسَّهُ حَتَّى آتِيَ بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاءَ قَالَ رَسُولُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَعَمْ قَالَ كَلَّا وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ إِنْ كُنْتُ لَأُعَاجِلُهُ بِالسَّيْفِ قَبْلَ ذَلِكَ قَالَ رَسُولُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْمَعُوا إِلَى مَا يَقُولُ سَيِّدُكُمْ إِنَّهُ لَغَيُورٌ وَأَنَا أَغْيَرُ مِنْهُ وَالله أَغْيَرُ مِنِّي. (مسلم</strong>)</p>
<p><em>Dari Abu Huroiroh </em><em>radhiyAllohu ‘anhu</em><em>, telah berkata Sa’d bin Ubadah kepada Rosululloh shallallahu ‘alayhi wa sallam : “Kalau seandainya saya temukan istriku bersama orang laki-laki (zina), saya tidak menyentuhnya sampai aku harus datangkan empat saksi?” Berkatalah Rosululloh </em>غ<em>: “Iya”, lalu berkata (Sa’d) : Demi Alloh yang mengutusmu dengan benar, sungguh aku bersegera untuk memenggal lehernya sebelum itu semua. Maka bersabdalah Rosululloh </em>غ<em>: Dengarkan apa yang dikatakan oleh pimpinanmu, sungguh dia itu cemburu, dan aku lebih cemburu, dan Alloh</em><em> </em><em>lebih cemburu dari aku.”</em> [Abu Huroiroh/Muslim]</p>
<p>Adapun Rofidloh sudah tidak ada kecemburuan sedikitpun, tidak cemburu dengan keluarganya, dengan sanak familinya, bahkan tidak cemburu dengan agamanya, karena mereka itu lebih hina daripada hewan.</p>
<p><strong>16. </strong><strong>Melihat Kemaluan Selain Syi’ah Ibarat Melihat Kemaluan Keledai</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>جاء في الفروع الكافي 2/61  عن عبد الله   قال : النظر إلى عورة من ليس بمسلم مثل نظرك إلى عورة حمارك.</strong></p>
<p>Telah tersebut dalam Furu’ Al Kafi 2/61 dari Abu Abdillah berkata : “Melihat kemaluan seorang yang tidak muslim itu ibarat melihat kemaluan keledaimu.”</p>
<p><strong>Bantahan</strong> :</p>
<ol>
<li>Sudah pembaca ketahui bahwa seluruh kaum muslimin mulai zaman shahabat Nabi غ sampai sekarang mereka semua adalah kafir kecuali orang-orang Rofidloh. Sehingga kemaluan mereka itu tidak ada artinya, boleh dilihat di muka umum, dipajang di dinding atau di tayangkan di koran atau <a title="televisi" href="http://isnad.net/hukum-tv-televisi-dalam-timbangan-syari-islam">televisi</a>. Karena kemaluan mereka ibarat kemaluan keledai.</li>
<li>Bahkan mereka menganggap selain kafir seluruh kaum muslimin adalah anak zina.</li>
<li>Dan mereka menganggap darah dan hartanya halal.</li>
<li>Bahkan mereka semua akan masuk neraka.</li>
</ol>
<p><strong>17. </strong><strong>Seluruh Agama Melarang Perzinaa</strong><strong>n</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<ul>
<li>Yahudi melarang umatnya perzinaan. Sebagaimana hadits Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam:</li>
</ul>
<p><strong>عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ الله عَنْهُمَا قَالَ أُتِيَ رَسُولُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَهُودِيٍّ وَيَهُودِيَّةٍ قَدْ أَحْدَثَا جَمِيعًا فَقَالَ لَهُمْ مَا تَجِدُونَ فِي كِتَابِكُمْ قَالُوا إِنَّ أَحْبَارَنَا أَحْدَثُوا تَحْمِيمَ الْوَجْهِ وَالتَّجْبِيهَ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سَلَامٍ ادْعُهُمْ يَا رَسُولَ الله بِالتَّوْرَاةِ فَأُتِيَ بِهَا فَوَضَعَ أَحَدُهُمْ يَدَهُ عَلَى آيَةِ الرَّجْمِ وَجَعَلَ يَقْرَأُ مَا قَبْلَهَا وَمَا بَعْدَهَا فَقَالَ لَهُ ابْنُ سَلَامٍ ارْفَعْ يَدَكَ فَإِذَا آيَةُ الرَّجْمِ تَحْتَ يَدِهِ فَأَمَرَ بِهِمَا رَسُولُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرُجِمَا. (متفق عليه وهذا لفظ البخاري)</strong></p>
<p><em>Dari Ibnu Umar </em><em>radhiyAllohu ‘anhuma</em><em>, telah didatangkan kepada Rosululloh shallallahu ‘alayhi wa sallam </em><em>laki-laki dan perempuan Yahudi yang telah melakukan perbuatan tercela (zina). Maka berkatalah (Nabi shallalahu ‘alayhi wa sallam) : “Apakah tidak terdapat dalam kitab kalian, mereka menjawab : “Para ulama kami telah membikin wajah keduanya hitam (disiram air panas dicampur dengan abu) dan meletakkan tangannya di lututnya, lalu berkatalah Abdullah bin Sallam : “Wahai Rosululloh, suruh mereka mendatangkan kitab Taurat, maka didatangkanya (Taurat).” Lalu ada seorang yang meletakkan tangannya di atas ayat rajam, lalu ia membaca sebelum dan sesudahnya. Maka berkatalah Abdullah bin Salam : Angkat tanganmu!, tiba-tiba dibawahnya ternyata ayat rajam. Maka Rosululloh shallallahu ‘alayhi wa sallam memerintahkan keduanya untuk dirajam.”</em> [Ibnu Umar/Mutafaqun 'alaihi, dan ini lafadz Bukhori, no. 6814]</p>
<ol>
<li>Seluruh penyembah berhala melarang perzinaan. Telah berkata Al Musawy dalam kitabnya Lillahi Tsumma Littarikh, hal. 48 : Dalam ziyarah kami ke India, dan kami bertemu dengan pimpinan Syi’ah disana seperti Sayyid An Niqowy, dsb. Kami melewati jamaah hindu dan penyembah berhala, dan kami membaca (buku-buku) banyak sekali. Maka tidak kami temukan satu dari agama yang bathil itu yang membolehkan amalan ini (zina) dan membolehkan bagi pengikutnya (untuk zina), lalu bagaimana mungkin agama islam membolehkan amalan jelek (zina). Seperti ini yang menafikan kerendahan suatu akhlak.</li>
<li>Agama Islam jelas melarang perzinaan, baik dalam Al Qur’an ataupun As sunnah yang jumlahnya sangat banyak sekali, diantaranya :</li>
</ol>
<p><strong>وَلاَ تَقْرَبُواْ الزِّنَى إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاء سَبِيلاً</strong></p>
<p><em>Artinya : “Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji, dan suatu jalan yang buruk.”</em> (Al Isra’  : 32)</p>
<p><strong>عَنْ أَبِي هُرَيرَةَ ت عَنْ رَسُولِ الله غ قَالَ : لَا يَزْنِيَ الزَّانِي حَتَّى يَزْنِي وَهُوَ مُؤْمِنٌ. (متفق عليه)</strong></p>
<p><em>Dari Abu Huroiroh </em><em>radhiyAllohu ‘anhu</em><em> dari Rosululloh shallallahu ‘alayhi wa sallam </em><em>bersabda : “Tidak akan berzina seorang pezina ketika dia berzina dalam keadaan ia beriman.”</em> [Abu Huroiroh/Muttafaqun 'alaih]</p>
<p>-selesai-</p>
<p>sumber http://isnad.net/hukum-mutah-kesesatan-syiah</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/diqra.wordpress.com/182/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/diqra.wordpress.com/182/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/diqra.wordpress.com/182/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/diqra.wordpress.com/182/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/diqra.wordpress.com/182/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/diqra.wordpress.com/182/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/diqra.wordpress.com/182/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/diqra.wordpress.com/182/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/diqra.wordpress.com/182/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/diqra.wordpress.com/182/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/diqra.wordpress.com/182/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/diqra.wordpress.com/182/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/diqra.wordpress.com/182/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/diqra.wordpress.com/182/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diqra.wordpress.com&amp;blog=1576400&amp;post=182&amp;subd=diqra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://diqra.wordpress.com/2012/01/14/mutah-begini-cara-berzina-pemeluk-agama-syiah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/77c221cbba22cc944a67dda6f6918cd0?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Diqra al Garuti</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Terapi Dari Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasalam Bagi Orang Yang Terkena Penyakit Was-Was Percikan Kencing</title>
		<link>http://diqra.wordpress.com/2012/01/02/terapi-dari-rasulullah-shallallahualaihi-wasalam-bagi-orang-yang-terkena-penyakit-was-was-percikan-kencing/</link>
		<comments>http://diqra.wordpress.com/2012/01/02/terapi-dari-rasulullah-shallallahualaihi-wasalam-bagi-orang-yang-terkena-penyakit-was-was-percikan-kencing/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Jan 2012 12:23:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Diqra al Garuti</dc:creator>
				<category><![CDATA[dasar islam]]></category>
		<category><![CDATA[fiqh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://diqra.wordpress.com/?p=179</guid>
		<description><![CDATA[Terapi Dari Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasalam Bagi Orang Yang Terkena Penyakit Was-Was Percikan Kencing &#160; &#160; وقال المروزى : وضأت أبا عبدالله بالعسكر فسترته من الناس لئلا يقولوا إنه لايحسن الوضوء لقلة صبه الماء وكان أحمد يتوضأ فلا يكاد يبل الثرى Al-Marwazi berkata, &#8220;Aku membantu Abu Abdillah (Imam Ahmad) berwudhu saat bersama orang banyak, tetapi aku [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diqra.wordpress.com&amp;blog=1576400&amp;post=179&amp;subd=diqra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Terapi Dari Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasalam Bagi Orang Yang Terkena Penyakit Was-Was Percikan Kencing</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p dir="rtl">وقال المروزى : وضأت أبا عبدالله بالعسكر فسترته من الناس لئلا يقولوا إنه لايحسن الوضوء لقلة صبه الماء وكان أحمد يتوضأ فلا يكاد يبل الثرى</p>
<p>Al-Marwazi berkata, &#8220;Aku membantu Abu Abdillah (Imam Ahmad) berwudhu saat bersama orang banyak, tetapi aku menutupinya dari orang-orang agar mereka tidak mengatakan, &#8216;la tidak membaikkan wudhunya karena sedikitnya air yang dituangkan.&#8217; Dan jika Imam Ahmad berwudhu, hampir saja (air bekasnya) tidak sampai membasahi tanah.&#8221;</p>
<p><span id="more-179"></span></p>
<p><strong>Khawarij dan Sesuci</strong></p>
<p>Khawarij dikenal dengan sifat berlebih-lebihan mereka dalam segala hal, diantaranya dalam masalah sesuci. Al-Hafizh Ibn Jauzi rahimahullahu dalam Talbis Iblis hal. 20 (cet Dar Fikr, 1421 H) mengisahkan segolongan Khawarij yang berlebih-lebihan dalam masalah sesuci, namanya Al-Makramiyah. Al-Hafizh berkata,</p>
<p dir="rtl">والمكرمية قالوا ليس لأحد أن يمس أحدا لأنه لا يعرف الطاهر من النجس</p>
<p>“Dan Al-Makramiyah berkata, “Seseorang tidak boleh bersentuhan dengan orang lain, karena tidak diketahui siapa yang suci dan siapa yang najis”.</p>
<p>Ini Khawarij yang terdahulu, adapun kelompok Khawarij zaman sekarang bermacam-macam lagi perilaku mereka dalam menyerupai nenek moyangnya. Ada yang rela mengepel lantai, mencuci sajadah, pakaian dan sarungnya hanya karena terinjak atau digunakan selain kelompoknya, yang tidak diketahui apakah mereka sesuci ‘dengan gaya mereka’ atau tidak. Padahal kalau kebenaran itu sesuai metode mereka, maka seharusnya mereka cuci juga uang-uang dalam dompet-dompet mereka yang bahkan tidak diketahui dari tangan siapa uang itu sebelumnya?!!, ini suatu yang menggelikan.</p>
<p>Syubhat mereka dizaman ini adalah bahwa orang selain kelompoknya itu jahil (bodoh) dalam masalah sesuci. Padahal jika mereka mau membuka kembali kitab-kitab hadits, lalu memahaminya sebagaimana mestinya, niscaya akan diketahui siapa yang lebih bodoh. Akan tetapi, pada kesempatan ini kita tidak akan membahas masalah tersebut lebih dalam lagi, sebab yang akan kita bahas adalah masalah was-was yang sering menimpa mereka tatkala kencing.</p>
<p>Yaitu was-was : apakah tubuh mereka terkena percikan kencing atau tidak?! Sehingga haruslah mereka bersusah payah dengan menghabiskan berliter-liter air untuk membersihkan was-was mereka itu. Tidak diragukan ini berasal dari syetan, dan kaum muslimin diperintahkan agar menjauhkan diri dari hal semacam ini.</p>
<p><strong>Menghilangkan was-was</strong></p>
<p>Ibnu Qayyim dalam Ighatsatul Lahfan (1/143 – cet Dar Al-Ma’rifah, 1395 H, tahqiq Muhammad Hamid Al-Faqi), berkata:</p>
<p dir="rtl">قال الشيخ أبو محمد: ويستحب للإنسان أن ينضج فَرْجَه وسراويله بالماء إذا بال، ليدفع عن نفسه الوسوسة، فمتى وجد بللاً قال: هذا من الماء الذي نضحته، لما روى أبو داود بإسناده عن سفيان بن الحكم الثقفي أوالحكم بن سفيان قال: &#8220;كان النبي صلى الله عليه وسلم إذا بال توضأ وينضح&#8221;، وفي رواية: &#8220;رأيتُ رسول الله صلى الله عليه وسلم بال ثم نضح فرجه&#8221;، وكان ابن عمر ينضح فرجه حتى يبل سراويله.وشكا إلى الإمام أحمد بعض أصحابه أنه يجد البلل بعد الوضوء، فأمره أن ينضح فرجه إذا بال، قال: ولا تجعل ذلك من همتك، والهُ عنه. وسئل الحسن أوغيره عن مثل هذا فقال: الهُ عنه؛ فأعاد عليه المسألة، فقال: أتستدره لا أب لك! الهُ عنه)</p>
<p>Syaikh Abu Muhammad (Menurut Syaikh Ali Hasan dalam Mawaridul Aman, yang dimaksud adalah Syaikh Abu Muhammad Al-Maqdisi dalam kitabnya Dzammul Was-was, kitab ini telah dicetak pada tahun 1923 oleh Al-Mathba&#8217;atul Arabiyah, Kairo -pen) berkata, &#8220;Dianjurkan bagi setiap orang agar memercikkan air pada kelamin dan celananya saat ia kencing. Hal itu untuk menghindarkan was-was daripadanya, sehingga saat ia menemukan tempat basah (dari kainnya) ia akan berkata, &#8216;Ini dari air yang saya percikkan&#8217;.&#8221; Hal ini berdasarkan riwayat Abu Dawud ((1/43 no. 166, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud (1/34) -pen), melalui sanad-nya dari Suryan bin Al-Hakam Ats-Tsaqafi atau Al-Hakam bin Sufyan ia berkata, &#8220;Bahwasanya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam jika buang air kecil beliau berwudhu dan memercikkan air&#8221;. Dalam riwayat lain disebutkan, &#8220;Aku melihat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam buang air kecil, lalu beliau memercikkan air pada kemaluannya&#8221;. Sedangkan Ibnu Umar Radhiyallahu anhu beliau memercikkan air pada kemaluannya sehingga membasahi celananya. Sebagian kawan Imam Ahmad mengadu kepada Imam Ahmad bahwa ia mendapatkan (kainnya) basah setelah wudhu, lalu beliau memerintahkan agar orang itu memercikkan air pada kemaluannya jika ia kencing, seraya berkata, &#8220;Dan jangan engkau jadikan hal itu sebagai pusat perhatianmu, lupakanlah hal itu&#8221;. Al-Hasan dan lainnya ditanya tentang hal serupa, maka beliau menjawab, &#8220;Lupakanlah!&#8221; Kemudian masih pula ditanyakan padanya, lalu dia berkata, &#8220;Apakah engkau akan menumpahkan air banyak-banyak (untuk membasuh kencingmu)? Celaka kamu! Lupakanlah hal itu!&#8221;.</p>
<p>Penulis berkata: Ini contoh kaum salaf, dan sebaik-baiknya salaf yaitu Rasulullah shallallahu’alaihi wasalam. Barangsiapa merasa bahwa apa yang kaum salaf lakukan itu belum cukup, maka celaka lah dia !!.</p>
<p>Ibn Mundzir dalam Al-Ausath berkata,</p>
<p dir="rtl">ذكر استحباب نضح الفرج بعد الوضوء ليدفع به وساوس الشيطان وينزع الشك به</p>
<p>Pembahasan tentang dianjurkannya memerciki kemaluan setelah wudhu agar terhindar dan terlindungi dengannya dari was-was setan dan kebimbangan.</p>
<p>Lalu beliau menyebutkan berbagai hadits dan atsar yang sebagian diantaranya telah disebutkan oleh Ibn Qayyim, dikutip pula perkataan Ibn Abbas, “…seandainya ia menemukan tempat basah (dari kainnya) ia akan berkata, &#8216;Ini dari air yang saya percikkan&#8217;.&#8221;</p>
<p>Dan dari Abdullah bin Mughaffal Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.</p>
<p dir="rtl">لا يبولن أحدكم فى مستحمه ثم يغتسل فيه ». قال أحمد « ثم يتوضأ فيه فإن عامة الوسواس منه.</p>
<p>“Janganlah salah seorang diantara kamu kencing di tempat mandinya kemudian mandi (berkata Ahmad) atau wudhu di tempat tersebut, karena sesungguhnya umumnya ganguan was-was itu dari situ”.</p>
<p>Hadits riwayat Abu Daud no. 27 –ini lafazhnya, juga oleh Tirmidzi no. 21 dan Nasa’i no. 36, dishahihkan oleh Al-Albani.</p>
<p><strong>Was-was setelah kencing</strong></p>
<p>Ibn Qayyim dalam kitabnya Ighatsatul Lahfan [kutipan dari Mawaridul Aman] menyebutkan contoh-contoh was-was setelah kencing:</p>
<p>“… Dan hal itu ada sepuluh macam: <em>As-Saltu/An-Natru </em>(السلت والنتر)<em>, An-Nahnahatu</em> (النحنحة)<em>, Al-Masyyu</em> (المشي)<em>, Al-Qafzu</em> (القفز)<em>, Al-Hablu</em> (الحبل)<em>, At-Tafaqqudu </em>(التفقد)<em>, Al-Wajuru</em> (الوجور)<em>, Al-Hasywu</em> (الحشو)<em>, Al-Ishabatu</em> (العصابة)<em>, Ad-Darjatu</em> (الدرجة)”.</p>
<p>Adapun السلت yaitu ia menarik (mengurut) kemaluannya dari pangkal hingga ke kepalanya. Memang ada riwayat tentang hal tersebut, tetapi haditsnya gharib dan tidak diterima. Dalam Al-Musnad dan Sunan Ibnu Majah dari Isa bin Yazdad dari ayahnya, ia berkata, &#8220;Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, &#8216;Jika salah seorang dari kamu buang air kecil, maka hendaklah ia menarik (mengurut) kemaluannya sebanyak tiga kali&#8217;.&#8221; Mereka berkata, &#8220;Karena dengan <em>as-saltu</em> dan <em>an-natru</em> (keduanya bermakna menarik/mengurut, dalam hal ini mengurut kemaluan) maka akan bisa dikeluarkan sesuatu yang ditakutkan kembali lagi setelah bersuci.&#8221; Mereka juga berkata, &#8220;Jika untuk itu memerlukan berjalan beberapa langkah, lalu ia lakukan, maka itu lebih baik.&#8221;</p>
<p>Adapun النحنحة (berdehem) dilakukan untuk mengeluarkan (air kencing) yang masih tersisa.</p>
<p>Demikian juga dengan القفز, yang berarti melompat di atas lantai kemudian duduk dengan cepat.</p>
<p>Sedangkan الحبل yaitu bergantung diatas tali hingga tinggi, lalu menukik daripadanya kemudian duduk.</p>
<p>التفقد yaitu memegang kemaluan, lalu melihat ke lubang kencing, apakah masih tersisa sesuatu di dalamnya atau sudah habis</p>
<p>الوجور yaitu memegang kemaluan, lalu membuka lubang kencimg seraya menuangkan air ke dalamnya.</p>
<p>الحشو yaitu orang tersebut membawa sebuah alat untuk memeriksa kedalaman luka yang dibalut dengan kapas (mungkin juga lidi atau sejenisnya yang dianggap aman), lalu lubang kencing itu ditutup dengan kapas tersebut, sebagaimana lubang bisul yang ditutup dengan kapas.</p>
<p>العصابة yaitu membalutnya dengan kain.</p>
<p>الدرجة yaitu naik ke tangga beberapa tingkat, lalu turun daripadanya dengan cepat.</p>
<p>المشي yaitu berjalan beberapa langkah, kemudian mengulangi bersuci lagi.</p>
<p>Syaikh kami (Ibn Taimiyah &#8211; pen) berkata, &#8220;Semua itu adalah was-was dan bid&#8217;ah.&#8221; Saya (Ibn Qayyim -pen) kembali bertanya tentang menarik dan mengurut kemaluan (dari pangkal hingga ke kepala kelamin), tetapi beliau tetap tidak menyetujuinya seraya berkata, &#8220;Hadits tentang hal tersebut tidak shahih.&#8221;</p>
<p>Dan air kencing itu sejenis dengan air susu, jika engkau membiarkannya maka ia diam (tidak mengalir), dan jika engkau peras maka ia akan mengalir. <span style="text-decoration:underline;">Siapa yang membiasakan melakukannya maka ia akan diuji dengan hal tersebut</span>, padahal orang yang tidak memperhatikannya akan dimaafkan karenanya. Dan seandainya hal ini Sunnah, tentu Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam serta para sahabatnya lebih dahulu melakukannya. Sedangkan seorang Yahudi saja berkata kepada Salman, &#8220;Nabimu telah mengajarkan kepada kalian segala sesuatu sampai dalam masalah khira&#8217;ah (buang air besar).&#8221; Salman menjawab, &#8220;Benar!&#8221; (Diriwayatkan Muslim). Lalu, adakah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam telah mengajarkan hal-hal di atas kepada kita?.</p>
<p><strong>Islam itu Mudah</strong></p>
<p>Ibn Qayyim menyebutkan pula: Keterlaluannya orang yang senantiasa was-was termasuk tindakan berlebih-lebihan adalah melakukan sesuatu secara ekstrim (melampaui batas) padahal Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang diutus dengan agama yang mudah telah memberi kemudahan di dalamnya.</p>
<p>Di antara kemudahan itu adalah berjalan tanpa alas kaki di jalan-jalan, kemudian shalat tanpa membasuh kakinya terlebih dahulu.</p>
<p>Abdullah bin Mas&#8217;ud berkata, &#8220;Kami tidak berwudhu karena menginjak sesuatu.&#8221;</p>
<p>Dan dari Ali Radhiyallahu Anhu, bahwasanya ia menceburkan dirinya di lumpur hujan, kemudian masuk masjid dan shalat, tanpa membasuh kedua kakinya terlebih dahulu.</p>
<p>Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu ditanya tentang seseorang yang menginjak kotoran manusia, beliau menjawab, &#8220;Jika kotoran itu kering maka tidak mengapa, tetapi jika basah maka ia harus membasuh tempat yang mengenainya.&#8221;</p>
<p>Abu Asy-Sya&#8217;sya&#8217; berkata, &#8220;Suatu ketika Ibnu Umar berjalan di Mina dan menginjak kotoran ternak serta darah kering dengan tanpa alas kaki, lalu beliau masuk masjid dan shalat, tanpa membasuh kedua telapak kakinya.&#8221;</p>
<p>Ashim Al-Ahwal berkata, &#8220;Kami datang kepada Abul Aliyah, kemudian kami meminta air wudhu. Lalu beliau bertanya, &#8216;Bukankah kalian masih dalam keadaan wudhu?&#8217; Kami menjawab, &#8216;Benar! Tetapi kami melewati kotoran-kotoran.&#8217; Ia bertanya, &#8216;Apakah kalian menginjak sesuatu yang basah dan menempel di kaki-kaki kalian?&#8217; Kami menjawab, Tidak!&#8217; Dia berkata, &#8216;Bagaimana dengan kotoran-kotoran kering yang lebih berat dari ini, yang diterbangkan angin di rambut dan di jenggot kalian?&#8221;.</p>
<p>Ibn Qayyim menyebutkan pula: “Sesuatu yang menurut hati orang-orang yang terbiasa was-was tidak baik adalah shalat dengan memakai sandal, padahal ia merupakan Sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam kepada para sahabatnya, beliau melakukan hal yang sama, juga memerintahkannya.</p>
<p>Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu meriwayatkan, bahwasanya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam shalat dengan kedua sandalnya. (Muttafaq Alaih).</p>
<p>Syaddad bin Aus berkata, &#8220;Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, &#8220;Selisihilah orang Yahudi, sesungguhnya mereka tidak shalat dengan memakai khuf dan sandal mereka”.</p>
<p>Imam Ahmad ditanya, &#8220;Apakah seseorang shalat dengan memakai kedua sandalnya?&#8221; Beliau menjawab, &#8220;Ya, demi Allah.&#8221;</p>
<p>Sedangkan kita melihat orang-orang yang terbiasa was-was, jika ia shalat jenazah dengan memakai kedua sandalnya, maka ia akan berdiri di atas kedua tumitnya, seakan-akan berdiri di atas bara api, bahkan hingga tidak shalat dengan keduanya”.</p>
<p><strong>Berlebihan menggunakan air</strong></p>
<p>Ibn Qayyim menyebutkan pula: Berlebih-lebihan dalam penggunaan air termasuk di dalamnya berlebih-lebihan dalam penggunaan air wudhu dan mandi.</p>
<p>Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnadnya dengan sanad hasan, demikian seperti dijelaskan dalam Al-Muntaqa An-Nafis dari hadits Abdillah bin Amr, &#8220;Bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berlalu di samping Sa&#8217;d yang sedang berwudhu, maka beliau bersabda, &#8216;Jangan berlebih-lebihan (dalam penggunaan air).&#8217; Ia bertanya, &#8216;Wahai Rasulullah! Apakah berlebih-lebihan dalam (penggunaan) air (juga terlarang)?&#8217; Beliau menjawab, Ya, meskipun engkau berada di sungai yang mengalir&#8217;.&#8221;</p>
<p>Dan dalam Al-Musnad serta As-Sunan dari hadits Amr bin Syu&#8217;aib dari ayahnya dari kakeknya, ia berkata, &#8220;Seorang Arab Badui datang kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bertanya tentang wudhu. Lalu beliau memperlihatkan padanya tiga kali-tiga kali seraya bersabda, &#8216;Inilah wudhu (yang sempurna) itu&#8217;, maka siapa yang menambah lebih dari ini berarti ia telah melakukan yang buruk, melampaui batas dan aniaya.&#8221;</p>
<p>Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnad-nya, dari Jabir ia berkata, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, &#8220;Telah cukup untuk mandi satu sha&#8217; air (-/+ 4 mud) dan untuk wudhu satu mud air (- 2 liter)”.</p>
<p>Dalam Shahih Muslim dari Aisyah Radhiyallahu Anha disebutkan, &#8220;Bahwasanya ia mandi bersama Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dari satu bejana yang berisi tiga mud (air) atau dekat dengan itu.&#8221;</p>
<p>Abdurrahman bin Atha&#8217; berkata, &#8220;Aku mendengar Sa&#8217;id bin Musayyib berkata, &#8216;Saya memiliki rikwah (tempat air dari kulit) atau gelas, yang berisi setengah mud atau semisalnya, aku buang air kecil dan aku berwudhu daripadanya, serta masih aku sisakan sedikit daripadanya&#8217;.&#8221;</p>
<p>Abdurrahman menambahkan, &#8220;Hal itu lalu kuberitahukan kepada Sulaiman bin Yasar, kemudian ia berkata, &#8216;Ukuran yang sama juga cukup untukku&#8217;.&#8221;</p>
<p>Abdurrahman juga berkata, &#8220;Hal itu kuberitahukan pula kepada Abu Ubaidah bin Muhammad bin Amar bin Yasir, lalu ia berkata, &#8216;Demikianlah yang kami dengar dari para sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam&#8217;.&#8221; (Diriwayatkan Al-Atsram dalam Sunannya).</p>
<p>Ibrahim An-Nakha&#8217;i berkata, &#8220;Mereka (para sahabat) sangat merasa cukup dalam hal air daripada kalian. Dan mereka berpendapat bahwa seperempat mud telah cukup untuk wudhu.&#8221; Tetapi ucapan ini terlalu berlebihan, karena seperempat mud tidak sampai satu setengah uqiyah&#8217; Damaskus.</p>
<p>Dalam Shahihain disebutkan, Anas berkata, &#8220;Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berwudhu dengan satu mud, dan mandi dengan satu sha&#8217; hingga dengan lima mud.&#8221;</p>
<p>Dan Al-Qasim bin Muhammad bin Abi Bakar Ash-Shiddiq berwudhu dengan sekitar setengah mud atau lebih sedikit dari itu.</p>
<p>Muhammad bin Ijlan berkata,</p>
<p dir="rtl">الفقه في دين الله إسباغ الوضوء وقلة إهراق الماء</p>
<p>&#8220;Paham terhadap agama Allah (di antaranya ditandai dengan) menyempurnakan wudhu dan menyedikitkan penumpahan air.&#8221;</p>
<p>Imam Ahmad berkata, &#8220;Dikatakan, pemahaman seseorang (terhadap agama) dapat dilihat pada kecintaannya kepada air.&#8221;</p>
<p>Al-Maimuni berkata, &#8220;Aku berwudhu dengan air yang banyak, lalu Imam Ahmad berkata kepadaku, Wahai Abul Hasan! Apakah kamu rela seperti ini?&#8217; Maka aku serta-merta meninggalkan (dari penggunaan air yang banyak).&#8221;</p>
<p><strong>Akibat was-was</strong></p>
<p>Ibn Qayyim menyebutkan pula: Abu Daud meriwayatkan dalam Sunan-nya dari hadits Abdillah bin Mughaffal, ia berkata, &#8220;Aku mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, &#8220;Akan ada dalam umatku kaum yang berlebih-lebihan dalam soal bersuci dan berdoa.&#8221;</p>
<p>Jika Anda membandingkan hadits diatas dengan firman Allah, &#8220;Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.&#8221; (Al-A&#8217;raaf: 55).</p>
<p>Dan Anda mengetahui bahwa Allah mencintai hamba yang beribadah kepada-Nya, maka akan muncullah kesimpulan bahwa wudhunya orang yang was-was, tidaklah termasuk ibadah yang diterima Allah Ta&#8217;ala, meskipun hal itu telah menggugurkannya dari kewajiban tersebut, dan oleh sebab itu tidaklah akan dibukakan baginya pintu-pintu surga yang delapan karena wudhunya agar ia bisa masuk darimana saja ia suka.</p>
<p>Di antara kejelekan lain dari was-was yaitu orang yang bersangkutan terbebani dengan tanggungan air yang lebih dari keperluannya, jika air itu milik orang lain, seperti air kamar mandi (umum). Ia keluar daripadanya dengan memiliki tanggungan atas apa yang lebih dari keperluannya. Lama-kelamaan hutangnya semakin menumpuk, sehingga membahayakan dirinya di Alam Barzah dan ketika Hari Kiamat. [akhir nukilan dari Mawaridul Aman].</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>sumber = http://rumahku-indah.blogspot.com/2009/02/normal-0-false-false-false-en-us-x-none_19.html</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/diqra.wordpress.com/179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/diqra.wordpress.com/179/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/diqra.wordpress.com/179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/diqra.wordpress.com/179/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/diqra.wordpress.com/179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/diqra.wordpress.com/179/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/diqra.wordpress.com/179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/diqra.wordpress.com/179/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/diqra.wordpress.com/179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/diqra.wordpress.com/179/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/diqra.wordpress.com/179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/diqra.wordpress.com/179/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/diqra.wordpress.com/179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/diqra.wordpress.com/179/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diqra.wordpress.com&amp;blog=1576400&amp;post=179&amp;subd=diqra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://diqra.wordpress.com/2012/01/02/terapi-dari-rasulullah-shallallahualaihi-wasalam-bagi-orang-yang-terkena-penyakit-was-was-percikan-kencing/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/77c221cbba22cc944a67dda6f6918cd0?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Diqra al Garuti</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Nasehat Al-Imam Hasan Al-Bashri Rahimahullah</title>
		<link>http://diqra.wordpress.com/2012/01/02/nasehat-al-imam-hasan-al-bashri-rahimahullah/</link>
		<comments>http://diqra.wordpress.com/2012/01/02/nasehat-al-imam-hasan-al-bashri-rahimahullah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Jan 2012 12:20:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Diqra al Garuti</dc:creator>
				<category><![CDATA[dasar islam]]></category>
		<category><![CDATA[rileks sejenak]]></category>
		<category><![CDATA[tazkiyatun nufus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://diqra.wordpress.com/?p=175</guid>
		<description><![CDATA[Al-Imam Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata : “Wahai manusia, sesungguhnya aku tengah menasihati kalian, dan bukan berarti aku orang yang terbaik di antara kalian, bukan pula orang yang paling shalih di antara kalian. Sungguh, akupun telah banyak melampaui batas terhadap diriku. Aku tidak sanggup mengekangnya dengan sempurna, tidak pula membawanya sesuai dengan kewajiban dalam menaati Rabb-nya. Andaikata seorang muslim [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diqra.wordpress.com&amp;blog=1576400&amp;post=175&amp;subd=diqra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Al-Imam Hasan Al-Bashri <em>rahimahullah </em>berkata :</p>
<p><em><strong>“Wahai manusia, sesungguhnya aku tengah menasihati kalian, dan </strong><strong>bukan berarti aku orang yang terbaik di antara kalian, bukan pula orang yang paling shalih di antara kalian. </strong>Sungguh, akupun telah banyak melampaui batas terhadap diriku. Aku tidak sanggup mengekangnya dengan sempurna, tidak pula membawanya sesuai dengan kewajiban dalam menaati Rabb-nya.</em><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong><em>Andaikata seorang muslim tidak memberi nasihat kepada saudaranya kecuali setelah dirinya menjadi orang yang sempurna, niscaya tidak akan ada para pemberi nasihat.</em></strong><em> Akan menjadi sedikit jumlah orang yang mau memberi peringatan dan tidak akan ada orang-orang yang berdakwah di jalan Allah ‘Azza wa Jalla, tidak ada yang mengajak untuk taat kepada-Nya, tidak pula melarang dari memaksiati-Nya</em><strong><em>.<span id="more-175"></span></em></strong></p>
<p><strong><em>Namun dengan berkumpulnya ulama dan kaum mukminin, sebagian memperingatkan kepada sebagian yang lain, niscaya hati-hati orang-orang yang bertakwa akan hidup dan mendapat peringatan dari kelalaian serta aman dari lupa dan kekhilafan. Maka terus meneruslah berada pada majelis-majelis dzikir (majelis ilmu), semoga Allah ‘Azza wa Jalla mengampuni kalian. Bisa jadi ada satu kata yang terdengar dan kata itu merendahkan diri kita namun sangat bermanfaat bagi kita. Bertaqwalah kalian semua kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan sebenar-benarnya taqwa dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan muslim.”</em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong>Pada suatu hari beliau <em>rahimahullah </em>pergi menemui murid-muridnya dan mereka tengah berkumpul, maka beliau rahimahullah berkata:</p>
<p><strong><em>“Demi Allah ‘Azza wa Jalla, sungguh! </em></strong><em>Andai saja salah seorang dari kalian mendapati salah seorang dari generasi pertama umat ini sebagaimana yang telah aku dapati, serta melihat salah seorang dari Salafus Shalih sebagaimana yang telah aku lihat, niscaya di pagi hari dia dalam keadaan bersedih hati dan pada sore harinya dalam keadaan berduka.</em><strong><em> </em></strong><strong><em>Dia pasti mengetahui bahwa orang yang bersungguh-sungguh dari kalangan kalian hanya serupa dengan orang yang bermain-main di antara mereka. Dan seseorang yang rajin dari kalangan kalian hanya serupa dengan orang yang suka meninggalkan di antara mereka. </em></strong><em>Seandainya aku ridha terhadap diriku sendiri pastilah aku akan memperingatkan kalian dengannya, akan tetapi Allah ‘Azza wa Jalla Maha Tahu bahwa aku tidak senang terhadapnya, oleh karena itu aku membencinya.”</em></p>
<p><em> </em><strong>(Mawai’zh lilImam Al-Hasan Al-Bashri, hal.185-187).</strong></p>
<p>sumber = http://rizkytulus.wordpress.com/2011/06/20/nasehat-al-imam-hasan-al-bashri-rahimahullah/</p>
<p><a href="http://aisha-shofiyya.co.cc/?p=140" rel="nofollow" target="_blank">http://aisha-shofiyya.co.cc/?p=140</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/diqra.wordpress.com/175/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/diqra.wordpress.com/175/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/diqra.wordpress.com/175/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/diqra.wordpress.com/175/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/diqra.wordpress.com/175/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/diqra.wordpress.com/175/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/diqra.wordpress.com/175/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/diqra.wordpress.com/175/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/diqra.wordpress.com/175/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/diqra.wordpress.com/175/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/diqra.wordpress.com/175/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/diqra.wordpress.com/175/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/diqra.wordpress.com/175/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/diqra.wordpress.com/175/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diqra.wordpress.com&amp;blog=1576400&amp;post=175&amp;subd=diqra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://diqra.wordpress.com/2012/01/02/nasehat-al-imam-hasan-al-bashri-rahimahullah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/77c221cbba22cc944a67dda6f6918cd0?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Diqra al Garuti</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jadwal Taklim wilayah Garut (update 05 September 2011)</title>
		<link>http://diqra.wordpress.com/2011/09/05/jadwal-taklim-wilayah-garut-update-05-september-2011/</link>
		<comments>http://diqra.wordpress.com/2011/09/05/jadwal-taklim-wilayah-garut-update-05-september-2011/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Sep 2011 04:39:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Diqra al Garuti</dc:creator>
				<category><![CDATA[dasar islam]]></category>
		<category><![CDATA[Info Kajian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://diqra.wordpress.com/?p=169</guid>
		<description><![CDATA[Jadwal Kajian Salafi di Garut Setiap Hari Ahad (Minggu) Pukul: 08.00 s.d. 11.45 WIB Tempat: Masjid Al-Mubarok (Depan Terminal Bis Garut) Rincian Jadwal Kajian Sesi Pertama Jam: 08.00 s.d. 09.00 Tema: Tarbiyah Kitab: Kitabul Ilmi Pengajar: Al-Ustadz Abu Abdillah Deni Zamjami, S.Pdi (Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Siliwangi Garut) Sesi Kedua Jam: 09.00 s.d. 10.00 [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diqra.wordpress.com&amp;blog=1576400&amp;post=169&amp;subd=diqra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jadwal Kajian Salafi di Garut</p>
<p>Setiap Hari Ahad (Minggu)<br />
Pukul: 08.00 s.d. 11.45 WIB<br />
Tempat: Masjid Al-Mubarok (Depan Terminal Bis Garut)</p>
<p>Rincian Jadwal Kajian<br />
Sesi Pertama<br />
Jam: 08.00 s.d. 09.00<br />
Tema: Tarbiyah<br />
Kitab: Kitabul Ilmi<br />
Pengajar: Al-Ustadz Abu Abdillah Deni Zamjami, S.Pdi<br />
(Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Siliwangi Garut)</p>
<p>Sesi Kedua<br />
Jam: 09.00 s.d. 10.00<br />
Tema: Manhaj<br />
Kitab: Al-Firqotun Najiyah<br />
Pengajar: Al-Ustadz Abu Abdillah Deni Zamjami, S.Pdi<br />
(Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Siliwangi Garut)</p>
<p>Sesi Ketiga<br />
Jam: 10.00 s.d. 11.00<br />
Tema: Tafsir<br />
Kitab: Tafsir As-Sa’di<br />
Pengajar: Al-Ustadz Abu Fawwaz Dani Priyanto, S.Ip<br />
(Pengajar Ma’had Ihya As-Sunnah Tasikmalaya)</p>
<p>Sesi Keempat<br />
Jam: 11.00 s.d. 11.45<br />
Tema: Fiqih<br />
Kitab: Al-Wajiz<br />
Pengajar: Al-Ustadz Abu Fawwaz Dani Priyanto, S.Ip<br />
(Pengajar Ma’had Ihya As-Sunnah Tasikmalaya)</p>
<p>Informasi Kajian Salaf Garut:</p>
<p>Abu Hanafi : 081 323 803 087<br />
Hilman Sanja Saputra : 087 724 534 301</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/diqra.wordpress.com/169/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/diqra.wordpress.com/169/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/diqra.wordpress.com/169/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/diqra.wordpress.com/169/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/diqra.wordpress.com/169/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/diqra.wordpress.com/169/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/diqra.wordpress.com/169/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/diqra.wordpress.com/169/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/diqra.wordpress.com/169/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/diqra.wordpress.com/169/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/diqra.wordpress.com/169/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/diqra.wordpress.com/169/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/diqra.wordpress.com/169/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/diqra.wordpress.com/169/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diqra.wordpress.com&amp;blog=1576400&amp;post=169&amp;subd=diqra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://diqra.wordpress.com/2011/09/05/jadwal-taklim-wilayah-garut-update-05-september-2011/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/77c221cbba22cc944a67dda6f6918cd0?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Diqra al Garuti</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kisah Islamnya seorang Yahudi di tangan Ibnu Hajar</title>
		<link>http://diqra.wordpress.com/2011/08/13/kisah-islamnya-seorang-yahudi-di-tangan-ibnu-hajar/</link>
		<comments>http://diqra.wordpress.com/2011/08/13/kisah-islamnya-seorang-yahudi-di-tangan-ibnu-hajar/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Aug 2011 07:41:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Diqra al Garuti</dc:creator>
				<category><![CDATA[dasar islam]]></category>
		<category><![CDATA[pemurnian sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[rileks sejenak]]></category>
		<category><![CDATA[tazkiyatun nufus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://diqra.wordpress.com/?p=166</guid>
		<description><![CDATA[Sebagian ahli sejarah menceritakan tentang kehidupan al-Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah (penulis kitab Bulughul Maram yang sudah banyak diterjemahkan ke Bahasa Indonesia), beliau adalah seorang hakim di Mesir pada zamannya. Apabila beliau pergi ke tempat aktivitasnya, beliau selalu datang dengan memakai kereta yang di tarik oleh kuda. Suatu hari beliau bertemu dengan seorang Yahudi penjual minyak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diqra.wordpress.com&amp;blog=1576400&amp;post=166&amp;subd=diqra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebagian ahli sejarah menceritakan tentang kehidupan al-Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah (penulis kitab Bulughul Maram yang sudah banyak diterjemahkan ke Bahasa Indonesia), beliau adalah seorang hakim di Mesir pada zamannya. Apabila beliau pergi ke tempat aktivitasnya, beliau selalu datang dengan memakai kereta yang di tarik oleh kuda. Suatu hari beliau bertemu dengan seorang Yahudi penjual minyak di Mesir. Biasanya pakaian penjual minyak itu kotor. :a;u orang Yahudi ini menghentikan kendaraan sang hakim, lalu berkata kepadanya (Imam Ibnu Hajar), sesungguhnya Nabi kalian pernah bersabda :</p>
<p>&#8220;Addunya sijnul mu&#8217;mini wa jannatul kaafiri&#8221; (&#8220;Dunia ini adalah penjara bagi orang mukmin dan Surga bagi orang Kafir&#8221;) HR.Muslim, kitab az-zuhud.<span id="more-166"></span></p>
<p>Engkau adalah seorang hakim agung di Mesir, menunggang kendaraan ini dan berada dalam kenikmatan ini. Sedangkan aku berada dalam derita dan sengsara seperti ini?&#8221;</p>
<p>Ibnu Hajar Rahimahullah berkata, &#8220;Aku dengan keadaanku sekarang berupa kemewahan dan kenikmatan, tetapi dibanding kenikmatan Surga (keadaan ini) ibarat penjara. Sedangkan engkau dengan penderitaanmu sekarang dibandingkan adzab Neraka ibarat Surga.&#8221; Lalu orang Yahudi tadi berkata, &#8220;Aku bersaksi tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalan Rasul Allah.&#8221; Dia pun masuk Islam.</p>
<p>sumber Panduan lengkap Menuntut Ilmu disertai 119 tanya jawab Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin pustaka Ibnu Katsir hal. 55</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/diqra.wordpress.com/166/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/diqra.wordpress.com/166/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/diqra.wordpress.com/166/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/diqra.wordpress.com/166/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/diqra.wordpress.com/166/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/diqra.wordpress.com/166/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/diqra.wordpress.com/166/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/diqra.wordpress.com/166/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/diqra.wordpress.com/166/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/diqra.wordpress.com/166/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/diqra.wordpress.com/166/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/diqra.wordpress.com/166/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/diqra.wordpress.com/166/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/diqra.wordpress.com/166/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diqra.wordpress.com&amp;blog=1576400&amp;post=166&amp;subd=diqra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://diqra.wordpress.com/2011/08/13/kisah-islamnya-seorang-yahudi-di-tangan-ibnu-hajar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/77c221cbba22cc944a67dda6f6918cd0?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Diqra al Garuti</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kisah safarnya Imam Syafi&#8217;i ke Imam Ahmad Rahimahumallah</title>
		<link>http://diqra.wordpress.com/2011/08/13/kisah-safarnya-imam-syafii-ke-imam-ahmad-rahimahumallah/</link>
		<comments>http://diqra.wordpress.com/2011/08/13/kisah-safarnya-imam-syafii-ke-imam-ahmad-rahimahumallah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Aug 2011 07:20:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Diqra al Garuti</dc:creator>
				<category><![CDATA[dasar islam]]></category>
		<category><![CDATA[pemurnian sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[rileks sejenak]]></category>
		<category><![CDATA[tazkiyatun nufus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://diqra.wordpress.com/?p=160</guid>
		<description><![CDATA[Diriwayatkan tentang Imam Syafi&#8217;i bahwa beliau bertamu kepada Imam Ahmad pada suatu malam, lalu makan malam dihidangkan kepadanya, lalu Imam Syafi&#8217;i makan. Kemudian dua orang ini berpisah menuju tempat tidurnya masing-masing. Malam itu Imam Syafi&#8217;i tidak tidur, tetapi dia berfikir untuk mengambil hukum-hukum dari sebuah hadits, yaitu sabda Nabi Sholallahu &#8216;alaihi wasallam : &#8220;Yaa Aba [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diqra.wordpress.com&amp;blog=1576400&amp;post=160&amp;subd=diqra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Diriwayatkan tentang Imam Syafi&#8217;i bahwa beliau bertamu kepada Imam Ahmad pada suatu malam, lalu makan malam dihidangkan kepadanya, lalu Imam Syafi&#8217;i makan. Kemudian dua orang ini berpisah menuju tempat tidurnya masing-masing. Malam itu Imam Syafi&#8217;i tidak tidur, tetapi dia berfikir untuk mengambil hukum-hukum dari sebuah hadits, yaitu sabda Nabi Sholallahu &#8216;alaihi wasallam :</p>
<p>&#8220;Yaa Aba &#8216;Umair maa fa&#8217;ala Annughair? &#8221; (&#8220;wahai Abu &#8216;Umair, apa yang sedang dikerjakan oleh Nughair?&#8221;) (HR. al-Bukhari, kitab al-Adab bab al-Inbisaathu ilan Naas.)<span id="more-160"></span></p>
<p>Abu &#8216;Umair mempunyai seekor burung kecil yang diberi nama Nughair, lalu burung nya mati, maka sedihlah anak ini. Nabi Sholallahu &#8216;alaihi wasallam adalah orang yang senang bercanda dengan anak-anak dan berbicara dengan setiap orang dengan pembicaraan yang layak dengannya. Semalam itu Imam Syafi&#8217;i beristinbath (mengambil hukum) dari hadis ini, dan dikatakan bahwa dari hadis ini beliau bisa mengambil lebih dari seribu faedah, dan barangkali seusai mengambil faedah dari hadis ini beliau melanjutkan memikirkan hadis lainnya, demikianlah seterusnya hingga akhir malam. Ketika adzan Shubuh dikumandangkan , shalatlah Imam Syafi&#8217;i tanpa berwudhu&#8217; lagi lalu kembali kerumahnya. Imam Ahmad sering memuji Imam Syafi&#8217;i di tengah keluarganya, lalu merekapun bertanya. &#8220;Wahai Abu &#8216;Abdillah, bagaimana engkau memuji orang seperti ini yang makan dan minum, tidur tanpa shalat malam dan shalat shubuh tanpa berwudhu&#8217;?&#8221; Lalu hal itu ditanyakan kepada Imam Syafi&#8217;i, maka beliau menjawab, &#8220;Adapun kemarin, saya makan banyak hingga menghabiskan makanan yang ada di wadah karena saya tidak pernah mendapati makanan yang lebih baik dari makanan Imam Ahmad, maka saya ingin memenuhi perut saya dengan makanan seperti ini. Adapun tadi malam saya tidak melakukan shalat malam, karena ilmu itu lebih utama dari shalat malam. Tadi malam saya berfikir tentang hadis ini. Adapun saya tidak berwudhu&#8217; untuk shalat Shubuh karena saya masih mempunyai wudhu&#8217; sejak shalat &#8216;Isya&#8217;.&#8221; Allah tidak suka menyulitkan manusia dengan air wudhu&#8217;.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>sumber = Panduan lengkap Menuntut Ilmu disertai 119 tanya jawab Syaikh Muhammad bin Shalih al-&#8217;Utsaimin pustaka Ibnu Katsir hal 70</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/diqra.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/diqra.wordpress.com/160/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/diqra.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/diqra.wordpress.com/160/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/diqra.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/diqra.wordpress.com/160/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/diqra.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/diqra.wordpress.com/160/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/diqra.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/diqra.wordpress.com/160/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/diqra.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/diqra.wordpress.com/160/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/diqra.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/diqra.wordpress.com/160/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diqra.wordpress.com&amp;blog=1576400&amp;post=160&amp;subd=diqra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://diqra.wordpress.com/2011/08/13/kisah-safarnya-imam-syafii-ke-imam-ahmad-rahimahumallah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/77c221cbba22cc944a67dda6f6918cd0?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Diqra al Garuti</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KEADILAN ALLAH TA&#8217;ALA DAN KEMURAHAN-NYA</title>
		<link>http://diqra.wordpress.com/2011/07/04/keadilan-allah-taala-dan-kemurahannya/</link>
		<comments>http://diqra.wordpress.com/2011/07/04/keadilan-allah-taala-dan-kemurahannya/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Jul 2011 15:29:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Diqra al Garuti</dc:creator>
				<category><![CDATA[dasar islam]]></category>
		<category><![CDATA[manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[rileks sejenak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://diqra.wordpress.com/?p=154</guid>
		<description><![CDATA[Bismillah walhamdulillah beberapa waktu yang lalu ada sebuah pertanyaan dari saudara yang mulia yang karena beberapa alasan saya tidak bisa menjawabnya, diantaranya adalah karena kesibukan saya. Alhamdulillah malam ini (semoga Allah membantu saya) akan saya bahas. Dan bagi ikhwan-ikhwan yang ingin menyumbangkan pemikirannya maka tafadhdhol, kritik dan saran kami tunggu, semoga Allah memberkati kalian dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diqra.wordpress.com&amp;blog=1576400&amp;post=154&amp;subd=diqra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bismillah walhamdulillah beberapa waktu yang lalu ada sebuah pertanyaan dari saudara yang mulia yang karena beberapa alasan saya tidak bisa menjawabnya, diantaranya adalah karena kesibukan saya. Alhamdulillah malam ini (semoga Allah membantu saya) akan saya bahas. Dan bagi ikhwan-ikhwan yang ingin menyumbangkan pemikirannya maka tafadhdhol, kritik dan saran kami tunggu, semoga Allah memberkati kalian dan mengampuni dosa-dosa kita di akhir hayat.</p>
<p>Pertanyaan tersebut adalah (kalau saya tidak salah ingat) jika Allah lah yang menciptakan makhluk mengapa Allah juga  yang menghukum makhluk tersebut. Apakah Allah sudah tau dimana makhluk itu berada nanti di surga atau di neraka sebelum makhluk itu diciptakan?lalu apa manfaat beriman dalam hal tersebut?lalu dimanakah keadilan Allah?apakah Allah ridha dengan perpecahan dan kekafiran hambanya?<span id="more-154"></span></p>
<p>Jawaban dari pertanyaan tersebut mungkin akan panjang..namun disini saya akan berusaha untuk meringkas mungkin jawaban dari pertanyaan tersebut</p>
<p>Pada intinya jawaban dari pertanyaan tersebut tercakup dalam suatu pasal rukun islam yang enam yaitu beriman kepada qodho dan qodar.  Maka perhatikanlah kaidah-kaidah dibawah ini dengan cermat dan benar sehingga diharapkan setelah kita mengetahui dasarnya maka kita dengan mudah pun dapat mengetahui cabang-cabangnya.</p>
<p>-          Pertama-tama ahlussunnah wal jamaah meyakini dengan keyakinan yang kuat bahwa Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Oleh karena itu Allah disifati mempunyai sifat ILMU dimana ilmu Allah itu berbeda dengan ilmu Makhluk. Ilmu Allah bersifat sempurna.  Allah berilmu tanpa didahului sifat bodoh sebelumnya, berbeda dengan makhluk yang mempunyai sifat ketidak tahuan (atau bodoh) sebelumnya. Dan ilmu Allah pun tidak juga ditimpa kelupaan, oleh sebab itulah ketika Fir’aun berkata kepada Musa :” Maka bagaimanakah keadaan umat-umat terdahulu?” Musa pun menjawab ,” Pengetahuan tentang itu ada disisi Tuhanku, didalam sebuah kitab. Tuhanku tidak akan salah dan tidak (pula) lupa. “ (QS. Thaahaa : 52) sedangkan ilmu manusia terkungkung dalam dua sifat tadi (bodoh sebelumnya dan dapat tertimpa kelupaan), dalilnya adalah “ dan Allah mengeluarkan kamu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun” (QS. An-Nahl:78).</p>
<p>Kemudian Ilmu Allah pun mencakup segala sesuatu (“Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu (QS. Al Ahzab:40) baik umum ataupun yang terperinci bahkan sangat terperinci sebagaimana mengetahui daun yang gugur (“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz) (QS. Al-An’aam:59)&#8221; dan banyak lagi dalil yang lainnya</p>
<p>Oleh karena itu maka Allah pun lebih berhak mengetahui nasib suatu makhluk apakah dia di neraka atau disurga tempat berakhirnya nanti.</p>
<p>-          Kita (Ahlussunnah wal Jama’ah) pun meyakini bahwa kita beriman pula dengan “PENULISAN (KITABAH)”</p>
<p>Segala sesuatu yang ada, maupun yang akan tidak ada lagi setelah tadinya ada, seluruhnya telah tertulis didalam kitab Allah lima puluh ribu tahun sebelum Dia menciptakan qalam (pena). Dia berfirman kepadanya : “tulislah!”, ia pun bertanya “Ya Tuhanku, dan apa yang aku akan tuliskan?, Allah pun menjawab : “Tulislah apa saja yang akan terjadi!” maka, berlakulah pada saat itu apa saja yang akan terjadi sampai hari Qiamat tiba. Maka apa saja yang seharusnya akan menimpa seseorang, maka iapun tidak akan luput darinya, begitu pula sebaliknya apa saja yang luput darinya, maka tidak akan menimpanya. Dalilnya adalah “Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi?; bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah. (QS. Al-Hajj:70). Sedangkan dari hadis adalah hadis yang diriwatkan oleh Bukhari dan Muslim :<em> Dari Abu &#8216;Abdirrahman Abdullah bin Mas&#8217;ud radhiallahu &#8216;anh, dia berkata : bahwa Rasulullah telah bersabda, &#8220;Sesungguhnya tiap-tiap kalian dikumpulkan penciptaannya dalam rahim ibunya selama 40 hari berupa nutfah, kemudian menjadi &#8216;Alaqoh (segumpal darah) selama itu juga lalu menjadi Mudhghoh (segumpal daging) selama itu juga, kemudian diutuslah Malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya lalu diperintahkan untuk menuliskan 4 kata : Rizki, Ajal, Amal dan Celaka/bahagianya” </em>(lihat hadis ini pula dalam kitab hadis arbain Imam Nawawi Hadis nomor 4).</p>
<p>-          Ahlussunnah pun meyakini bahwa seseorang masuk surga karena rahmat dari Allah dan masuk neraka karena keadilan Allah. (lihat kitab Aqidah Thohawiyah yang di beri catatan oleh Syaikh Albani).</p>
<p>-          Ahlussunnah pun meyakini bahwa Allah memiliki Masyiah, Iradah dan Mahabbah (kaidah ini wajib dipahami sebelum masuk inti pembahasan)</p>
<p>Allah berfirman :</p>
<p>dan Allah berbuat apa yang Dia kehendaki (QS. Ibrahim :27)</p>
<p>Akan tetapi Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya. (QS. Al-Baqarah : 253).</p>
<p>Apakah yang dimaksud dengan Masyi’ah, Iradah, dan Mahabbah?</p>
<p><strong>Pertama : </strong>Apakah masyiah dan iradah itu sama saja atau keduanya bebeda?</p>
<p><strong>Jawabannya : </strong>bahwa keduanya berbeda.</p>
<p><strong>Kedua : </strong>apakah iradah dan mahabbah itu sama saja, yaitu bahwa apabila Allah mencintai sesuatu berarti Ia juga menghendakinya, dan apabila ia menghendaki sesuatu berarti Ia mencintainya?</p>
<p><strong>Jawabannya : </strong>Keduanya berbeda.</p>
<p>Disana terdapat tiga hal yang masing-masing berdiri sendiri, dan tidak memiliki satu makna, yaitu masyiah, iradah dan mahabbah. Masyiah berkaitan dengan hal-hal yang bersifat <em>kauniyah </em>(kejadian)(takdir yang pasti terjadi). Sama saja apakah kejadian itu dicintai Allah ataukah dibenci, artinya bahwasanya Allah terkadang menghendaki sesuatu, padahal Dia tidak mencintainya, juga terkadang Dia menghendaki sesuatu dan Dia mencintai sesuatu itu.</p>
<p>Kita melihat kemaksiatan-kemaksiatan yang ada, bahwa hal itu terjadi dengan sebab kehendak Allah, namun Dia tidak menyukainya. Demikian juga kerusakan di muka bumi dan kekafiran-kekafiran yang terjadi, semua itu terjadi dengan kehendak-Nya, namun Dia tidak menyukainya. Maka Masyiah itu berarti berkaitan dengan kejadian-kejadian, dimana Allah itu berkehendak atas kejadiannya sesuatu yang Dia cintai dan yang tidak dicintai-Nya.</p>
<p>Sedangkan <em>mahabbah,(kecintaan) </em>ini berkaitan dengan perkara-perkara <em>syar’iyyah –</em>yaitu yang berkaitan dengan syariat-, hal ini tidak terjadi melainkan sesuatu yang dicintai-Nya. Maka, kemaksiatan-kemaksiatan tidak dicintai Allah, sedangkan ketaatan-ketaatan itulah yang dicintai Allah, baik terjadi ataupun tidak.</p>
<p>Adapun <em>iradah, </em>maka ia memiliki dua sisi pandang, di satu sisi ia bermakna <em>masyiah </em>dan di sisi lain bermakna <em>mahabbah.</em> Apabila ia bermakna <em>mahabbah </em>maka dikatakan bahwa ia adalah IRADAH SYAR’IYAH –yaitu keinginan pensyariatan- maka ia memiliki makna <em>mahabbah, </em>dan apabila ia bermakna <em>masyiah </em>maka ia dikatakan <em>iradah kauniyah – </em>yaitu kehendak atas kejadian-kejadian alam-.</p>
<p>Ketika <em>iradah </em>itu berupa <em>iradah syar’iyah (mahabbah) </em>maka hal itu tidak memastikan terjadinya apa yang diinginkan. Allah berfirman : Dan Allah hendak menerima taubatmu (QS. An-Nisa:27)</p>
<p>Maka dalam ayat ini Allah berkehendak dengan iradah syar’iyah yang bermakna mahabbah (kecintaan). Sebab kalau ia bermakna <em>masyiah </em>maka akan terjadilah penerimaan taubat dari seluruh manusia, sedangkan kita melihat bahwa sebagian manusia ada yang bertaubat dan ada pula yang tidak bertaubat.</p>
<p>Sedangkan apabia dia itu <em>iradah kauniyah (masyiah), </em> maka iradah ini memastikan terjadinya apa yang dikehendaki. Maka apabila Allah menghendaki sesuatu itu terjadi, terjadilah ia dan memang harus terjadi. Dan <em>iradah</em> yang bermakna masyiah ini terjadi pada sesuatu yang dicintai dan yang tidak Dia cintai namun apabila Allah berkehendak dengan kehendak dalam makna ini maka pasti terjadi dan harus demikian.</p>
<p>Allah berfirman :</p>
<p>Akan tetapi Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya. (QS. Al-Baqoroh : 253)</p>
<p>Dan Allah berbuat apa yang Dia kehendaki (QS. Ibrahim :27)</p>
<p>Sekiranya Allah hendak menyesatkan kamu (qs. Huud :34) dalam ayat ini sesungguhnya berkehendak menyesatkan kamu, dan bukan bermakna suka menyesatkan kamu, sebab Allah tidak suka menyesatkan hamba-hamba-Nya. (lihat ulang definisi mahabbah)</p>
<p>-          Allah membenci kekafiran meskipun Dia Menghendakinya (dan ini merupakan salah satu inti pembahasan)</p>
<p>Apabila Allah membenci kekafiran, lalu bagaiman Dia menghendakinya, padahal tidak ada seseorang pun yang dapat memaksaNya. Jawabannya adalah : bahwa sesuatu yang dikehendaki itu ada dua macam.</p>
<p>Pertama : sesuatu dikehendaki karena dzatnya, dan dia adalah sesuatu yang dicintai. Maka sesuatu yang dicintai itu dikehendaki oleh siapa saja yang menghendakinya karena dzatnya seperti keimanan, keimana itu dikehendaki Allah secara <em>syar’i </em>maupun Kauni (takdir), sebab ia merupakan sesuatu yang dikehendaki karena dzatnya.</p>
<p>Kedua : sesuatu yang dikehendaki oleh sebab yang lain, artinya bahwa Allah menetapkannya bukan karena Dia mencintainya, namun karena pengaruh yang diakibatkan itulah –yang berupa kemaslahatan-kemaslahatan- yang dikehendaki, maka dari sisi ini berarti ia mengandung sebuah hikmah, dan tidak ada paksaan didalamnya.</p>
<p>Contohnya adalah bahwa kekafiran itu dibenci Allah akan tetapi Allah menetapkan atas para hamba. Sebab bila tidak ada kekafiran maka tidak ada bedanya mana yang mukmin mana yang kafir, dan yang mukmin pun tidak bisa menjadi pusat pujian padanya, sebab jadinya seluruh  manusia itu mukmin. Demikian pula jika tidak ada kekafiran maka tidak ada pula jihad, sebab kepada siapa orang mukmin akan berjihad?, kalaulah tidak ada kekafiran seorang mukmin pun tidak akan mengetahui kebesaran nikmat Islam yang telah Allah anugerahkan kepadanya, kalaulah tidak ada kekafiran dan manusia semuanya muslim, maka Islam itu tidak ada keutamaannya dan tidak nampak keutamaan itu padanya, kalaulah tidak ada kekafiran maka penciptaan neraka itu sia-sia belaka. Dan sesungguhnya Allah telah menunjukkan hal itu dalam firmannya :</p>
<p>Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. Kalimat Tuhanmu (keputusan-Nya) telah ditetapkan: sesungguhnya Aku akan memenuhi neraka Jahannam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya. (QS. Huud : 118-119)</p>
<p>Maka jelaslah, bahwa sesuatu yang dikehendaki secara <em>Kauni (takdir yang pasti terjadi)</em>, yang ia merupakan sesuatu yang dibenci Allah, adalah sesuatu yang dikehendaki karena sesuatu yang lainnya.</p>
<p>Ada suatu contoh yang bagus dalam masalah ini yaitu seseorang yang memiliki anak laki-laki yang ia cintai dengan kecintaan yang sangat, kalau ditimpa percika bara api, maka hal itu pasti sama seperti apa yang menimpa ayahnya, disebabkan rasa cintanya terhadap sang anak, lalu ayahnya pun membawanya ke beberapa dokter, maka berkatalah salah seorang dokter itu : “ini harus dilakukan sundutan padanya dengan sepotong paku yang membara,” maka berkatalah sang ayah bahwa dilakukan pula padanya. Sedangkan sundutan ini bagi anaknya tidak disukai oleh sang ayah oleh sebab dzatnya, namun sang ayah menyukai sundutan itu oleh sebab pengaruh pada anaknya. Disini anda dapatkan seorang ayah, dia mau dengan ketulusan dan kelapangan dada untuk untuk melakukan sundutan pada anaknya dengan paku yang dipanaskan. Pada hal seandainya jatuh percikan api pada diri si anak maka sungguh hal itu akan menimpa pula pada hati sang ayah.</p>
<p>Maka dari sini diketahui bahwasanya sesuatu yang dibenci, terkadang dilakukan juga, bukan karena dzatnya namun karena sesuatu yang lain yang ditibulkannya. Demikian pula kekafiran, kemaksiatan dan kerusakan, hal itu pun dikehendaki oleh Allah sebab hal itu mengandung kemaslahatan-kemaslahatan, maka ia pun dikehendaki karena sesuatu yang lainnya bukan karena dzatnya.</p>
<p><strong>&#8212; Faidah</strong></p>
<p>Bagaiman jika ada yang bertanya kepadamu mengenai sikap seorang muslim jika mendapati seseorang yang bersalah/ suatu kekafiran, apakah dia wajib ridho dengan hal tersebut dikarenakan itu sudah merupakan takdir Allah?</p>
<p><strong>Jawaban</strong> : maka masalah ini diperinci dan dijadikan dua sisi pandang, yang pertama ditinjau dari bahwa Allah telah menetapkannya dan telah mengadakannya. Maka dari sisi ini ia merupakan Allah yang bersifat kauni yang wajib bagi kita untuk ridha dengannya dan kita tidak mengatakan mengapa Allah menjadikan pezina itu berzina dan menjadikan pencuri itu mencuri? Maka tidak, tidak ada hak bagi kita untuk menentang ketentuan Allah seperti ini.</p>
<p>Adapun yang kedua, dari sisi bahwa hal itu merupakan perbuatan seorang hamba yang berbuat maksiat, maka dari sisi ini kita tidak ridha padanya. Oleh sebab itulah kita tegakkan hukuman atasnya sesuai dengan firman Allah :</p>
<p>Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus dali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman. (QS. An-Nuur : 2)</p>
<p>Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Al-Maaidah: 38)</p>
<p>Dan adalah sesuatu yang sudah dimaklumi, bahwa penderaan kedua pezina dan potong tangan kedua pencuri tersebut dalam ayat diatas adalah merupakan bukti ketidak ridhaan kita. Dan seandainya atas dasar keridhaan, tidak akan kita timpakan hukuman itu bagi mereka, sebab kita sudah merasa ridha.</p>
<p>Begitu pula dalam masalah yang lainnya, tariklah kasus tersebut kedalam faidah ini, dan kaidah kaidah sebelumnya seperti halnya kekafiran seseorang dan perpecahan didalam tubuh umat islam sendiri.</p>
<p>Allohu Ta’ala A’lam</p>
<p>Untuk pembahasan lebih luas lagi silahkan baca  buku Tarbiyah Imaniyah Jibril terbitan Dar El Hujjah karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin. Dimana penulis mengambil banyak faidah dari buku ini ketika menulis pembahasan ini</p>
<p>Selesai 3-7-2011 pukul 00.08 Ranai-Natuna (sebelum pengeditan lebih lanjut)</p>
<p>walhamdulillah</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/diqra.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/diqra.wordpress.com/154/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/diqra.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/diqra.wordpress.com/154/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/diqra.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/diqra.wordpress.com/154/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/diqra.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/diqra.wordpress.com/154/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/diqra.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/diqra.wordpress.com/154/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/diqra.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/diqra.wordpress.com/154/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/diqra.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/diqra.wordpress.com/154/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diqra.wordpress.com&amp;blog=1576400&amp;post=154&amp;subd=diqra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://diqra.wordpress.com/2011/07/04/keadilan-allah-taala-dan-kemurahannya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/77c221cbba22cc944a67dda6f6918cd0?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Diqra al Garuti</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jadwal Taklim wilayah Garut (update 23 Juni 2011)</title>
		<link>http://diqra.wordpress.com/2011/06/23/jadwal-taklim-wilayah-garut-update-23-juni-2011/</link>
		<comments>http://diqra.wordpress.com/2011/06/23/jadwal-taklim-wilayah-garut-update-23-juni-2011/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 23 Jun 2011 03:47:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Diqra al Garuti</dc:creator>
				<category><![CDATA[dasar islam]]></category>
		<category><![CDATA[Info Kajian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://diqra.wordpress.com/?p=151</guid>
		<description><![CDATA[Kajian Islam Rutin [ GRATIS ] Untuk Mahasiswa dan Mahasiswi TEMA KAJIAN: 1. Tarbiyyah (Pendidikan Islam) 2. Manhaj (Tata Cara Beragama yang Benar) 3. Tafsir (Memahami Makna Al-Quran) 4. Fiqih (Hukum Islam) WAKTU DAN TEMPAT KAJIAN: Setiap Hari Ahad (Minggu) Waktu: 08.00 s.d. 11.45 WIB Tempat: Masjid Al-Mubarok, Jalan Guntur Sari (Depan Terminal Bus Garut) [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diqra.wordpress.com&amp;blog=1576400&amp;post=151&amp;subd=diqra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kajian Islam Rutin [ GRATIS ]<br />
Untuk Mahasiswa dan Mahasiswi</p>
<p>TEMA KAJIAN:</p>
<p>1. Tarbiyyah (Pendidikan Islam)<br />
2. Manhaj (Tata Cara Beragama yang Benar)<br />
3. Tafsir (Memahami Makna Al-Quran)<br />
4. Fiqih (Hukum Islam)</p>
<p>WAKTU DAN TEMPAT KAJIAN:</p>
<p>Setiap Hari Ahad (Minggu)<br />
Waktu: 08.00 s.d. 11.45 WIB<br />
Tempat: Masjid Al-Mubarok, Jalan Guntur Sari (Depan Terminal Bus Garut)</p>
<p>PENGISI KAJIAN:<span id="more-151"></span></p>
<p>1. Al-Ustadz Abu Abdillah Deni Zamjami<br />
2. Al-Ustadz Abu Fawwaz Dani Priyanto</p>
<p>BAHAN KAJIAN:</p>
<p>Kajian Islam ini Membahas Kitab:<br />
1.Kitabul ‘Ilmi<br />
2. Kitab Al-Firqotun Najiyah<br />
3. Kitab Tafsir As-Sa’di, dan<br />
4. Kitab Al-Wajiz</p>
<p>Keterangan: Tidak diharuskan bisa membaca kitab, bagi yang belum memiliki kitab berbahasa Arab, boleh membawa buku terjemah atau buku catatan.</p>
<p>PENJELASAN KAJIAN:</p>
<p>Sesi pertama (08.00 s.d. 09.00 WIB) membahas tema Tarbiyyah Islamiyyah (Pendidikan Islam), pada sesi ini kita akan membahas Kitabul Ilmi, yaitu tentang bagaimana konsep pendidikan syar’i dalam perspektif agama Islam.</p>
<p>Sesi kedua (09.00 s.d. 10.00 WIB) membahas tema Manhaj (Tata Cara Beragama yang Benar), pada sesi ini kita akan membahas Kitab Al-Firqotun Najiyah, yaitu tentang bagaimana tata cara beragama yang benar, dan sesuai petuntuk Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam. Dari mulai bidang Aqidah (keyakinan), Siyasah (politik), Huquq (hukum pidana), Khilafah (hukum tata negara), dll…</p>
<p>Sesi ketiga (10.00 s.d. 11.00 WIB) membahas tema Tafsir Al-Qur’an, pada sesi ini membahas sebuah kitab tafsir karya Ulama Saudi Arabia, Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah.</p>
<p>Sesi keempat (11.00 s.d. 11.45 WIB) membahas tema Fiqih Islam (hukum Islam), membahas bagaimana tata cara beribadah yang benar sesuai syari’at, dari mulai fiqih thaharah (bersuci), fiqih shalat, fiqih wanita, fiqih nawazil (fiqih kontemporer), dll&#8230;</p>
<p>INFORMASI KAJIAN:</p>
<p>Untuk Ikhwan: 085 353 141 246 Abu Abdillah Ahdan Ramdani<br />
Untuk Akhwat: 083 826 791 118 Ummu Alya Rita Destriati</p>
<p>Join With Us! Facebook Fans Page: “DAKWAH SALAFI GARUT”<br />
<a href="http://www.facebook.com/pages/Dakwah-Salafi-Garut/213445368678169" rel="nofollow" target="_blank">http://www.facebook.com/pages/Dakwah-Salafi-Garut/213445368678169</a></p>
<p>Kunjungi Juga, Website Dakwah Kami:<br />
<a href="http://salafigarut.wordpress.com/" rel="nofollow" target="_blank">http://salafigarut.wordpress.com/</a></p>
<p>Tujuan Dakwah Kami: “Memurnikan Aqidah, Menerbarkan Sunnah, dan Berdakwah di atas Pemahaman Salaful Ummah…”</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/diqra.wordpress.com/151/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/diqra.wordpress.com/151/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/diqra.wordpress.com/151/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/diqra.wordpress.com/151/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/diqra.wordpress.com/151/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/diqra.wordpress.com/151/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/diqra.wordpress.com/151/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/diqra.wordpress.com/151/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/diqra.wordpress.com/151/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/diqra.wordpress.com/151/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/diqra.wordpress.com/151/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/diqra.wordpress.com/151/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/diqra.wordpress.com/151/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/diqra.wordpress.com/151/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diqra.wordpress.com&amp;blog=1576400&amp;post=151&amp;subd=diqra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://diqra.wordpress.com/2011/06/23/jadwal-taklim-wilayah-garut-update-23-juni-2011/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/77c221cbba22cc944a67dda6f6918cd0?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Diqra al Garuti</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kiat-kiat Mengisi Waktu Pagi</title>
		<link>http://diqra.wordpress.com/2011/03/14/kiat-kiat-mengisi-waktu-pagi/</link>
		<comments>http://diqra.wordpress.com/2011/03/14/kiat-kiat-mengisi-waktu-pagi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Mar 2011 01:42:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Diqra al Garuti</dc:creator>
				<category><![CDATA[dasar islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://diqra.wordpress.com/?p=147</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan ini adalah lanjutan dari tulisan-tulisan kami sebelumnya mengenai permasalahan tidur pagi. Setelah kita mengetahui keutamaan waktu pagi, bahaya tidur pagi menurut para ulama, sebab-sebab tidur pagi dan solusinya, dan keutamaan berdagang di pagi hari, saat ini kami akan menyajikan beberapa kiat yang dapat setiap muslim lakukan di waktu pagi. Semua ini bertujuan agar waktu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diqra.wordpress.com&amp;blog=1576400&amp;post=147&amp;subd=diqra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://rumaysho.com/images/stories/terbit_mentari.jpg" alt="kiat di waktu pagi" width="200" height="150" /> Tulisan ini adalah lanjutan dari tulisan-tulisan kami sebelumnya mengenai permasalahan tidur pagi.</p>
<p>Setelah kita mengetahui <a title="Semangat di Pagi Hari yang Penuh Berkah" href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/467-semangat-di-waktu-pagi-yang-penuh-berkah.html" target="_blank">keutamaan waktu pagi</a>, <a title="Kebiasaan Tidur Pagi Ternyata Berbahaya" href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/514-kebiasaan-tidur-pagi-ternyata-berbahaya.html" target="_blank">bahaya tidur pagi menurut para ulama</a>, <a title="Sebab-sebab tidur pagi dan solusinya" href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/522-tidur-pagi-pasti-ada-sebabnya.html" target="_blank">sebab-sebab tidur pagi dan solusinya</a>, dan <a title="Berdagang di pagi hari" href="http://rumaysho.com/hukum-islam/muamalah/1458-berdagang-di-waktu-pagi.html" target="_blank">keutamaan berdagang di pagi hari</a>,  saat ini kami akan menyajikan beberapa kiat yang dapat setiap muslim  lakukan di waktu pagi. Semua ini bertujuan agar waktu pagi tersebut  adalah waktu yang penuh berkah dan bukan waktu yang sia-sia. Hanya  Allah-lah yang memberi taufik.</p>
<p><strong>Kiat Pertama: Membaca Al Qur’an dan memahami maknanya</strong></p>
<p>Saudaraku, isilah waktu pagimu dengan membaca Al Qur’an. Waktu pagi  adalah waktu masih fit seseorang beraktivitas. Maka bagus sekali jika  seseorang memanfaatkannya untuk membaca dan mentadaburi Al Qur&#8217;an.</p>
<p>Ingatlah bahwa Al Qur’an nanti bisa memberi syafa’at bagi kita di  hari yang penuh kesulitan pada hari kiamat kelak. Dari Abu Umamah Al  Bahiliy, (beliau berkata), “Aku mendengar Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p dir="rtl">اقْرَءُوا  الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لأَصْحَابِهِ  اقْرَءُوا الزَّهْرَاوَيْنِ الْبَقَرَةَ وَسُورَةَ آلِ عِمْرَانَ  فَإِنَّهُمَا تَأْتِيَانِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَأَنَّهُمَا غَمَامَتَانِ  أَوْ كَأَنَّهُمَا غَيَايَتَانِ أَوْ كَأَنَّهُمَا فِرْقَانِ مِنْ طَيْرٍ  صَوَافَّ تُحَاجَّانِ عَنْ أَصْحَابِهِمَا اقْرَءُوا سُورَةَ الْبَقَرَةِ  فَإِنَّ أَخْذَهَا بَرَكَةٌ وَتَرْكَهَا حَسْرَةٌ وَلاَ تَسْتَطِيعُهَا  الْبَطَلَةُ</p>
<p>“<em>Bacalah Al Qur’an karena Al Qur’an akan datang pada hari kiamat nanti <strong>sebagai syafi’</strong> (pemberi syafa’at) bagi  yang membacanya</em>. <em>Bacalah  Az Zahrowain (dua surat cahaya) yaitu surat Al Baqarah dan Ali Imran  karena keduanya datang pada hari kiamat nanti seperti dua awan atau  seperti dua cahaya sinar matahari atau seperti dua ekor burung yang  membentangkan sayapnya (bersambung satu dengan yang lainnya), keduanya  akan menjadi pembela bagi yang rajin membaca dua surat tersebut. Bacalah  pula surat Al Baqarah. Mengambil surat tersebut adalah suatu keberkahan  dan meninggalkannya akan mendapat penyesalan. Para tukang sihir tidak  mungkin menghafalnya.</em>” (HR. Muslim no. 1910. Lihat penjelasan hadits ini secara lengkap di <em>At Taisir bi Syarhi Al Jami’ Ash Shogir</em>, Al Munawi, 1/388, Asy Syamilah)<span id="more-147"></span></p>
<p>Lebih baik lagi selain membaca kita dapat memahami makna/tafsirnya  melalui kitab-kitab tafsir seperti tafsir Ibnu Katsir dan tafsir As  Sa&#8217;di yang penuh dengan banyak faedah di dalamnya. Keutamaan memahami  tafsir Al Qur’an dapat dilihat pada hadits berikut ini.</p>
<p>Dari Abu Musa Al Asy’ariy, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda</p>
<p dir="rtl">الْمُؤْمِنُ  الَّذِى يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَعْمَلُ بِهِ كَالأُتْرُجَّةِ ، طَعْمُهَا  طَيِّبٌ وَرِيحُهَا طَيِّبٌ ، وَالْمُؤْمِنُ الَّذِى لاَ يَقْرَأُ  الْقُرْآنَ وَيَعْمَلُ بِهِ كَالتَّمْرَةِ ، طَعْمُهَا طَيِّبٌ وَلاَ رِيحَ  لَهَا ، وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِى يَقْرَأُ الْقُرْآنَ  كَالرَّيْحَانَةِ ، رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ ، وَمَثَلُ  الْمُنَافِقِ الَّذِى لاَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَالْحَنْظَلَةِ ، طَعْمُهَا  مُرٌّ &#8211; أَوْ خَبِيثٌ &#8211; وَرِيحُهَا مُرٌّ</p>
<p><em>“Permisalan orang yang membaca Al Qur’an dan mengamalkannya adalah bagaikan buah <strong>utrujah</strong>,  rasa dan baunya enak. Orang mukmin yang tidak membaca Al Qur’an dan  mengamalkannya adalah bagaikan buah kurma, rasanya enak namun tidak  beraroma. Orang munafik yang membaca Al Qur’an adalah bagaikan <strong>royhanah</strong>, baunya menyenangkan namun rasanya pahit. Dan orang munafik yang tidak membaca Al Qur’an bagaikan <strong>hanzholah</strong>, rasa dan baunya pahit dan tidak enak.” </em>(HR. Bukhari no. 5059)</p>
<p><strong>Kiat Kedua: Mengulang Hafalan Al Qur’an</strong></p>
<p>Bagi yang memiliki hafalan Al Qur’an juga dapat mengisi waktu paginya  dengan mengulangi hafalan karena waktu pagi adalah waktu terbaik untuk  menghafal dibanding dengan waktu siang yang penuh dengan kesibukan. Di  antara keutamaan menghafal Al Qur’an terdapat dalam hadits berikut.</p>
<p>Dari Abdullah bin ‘Amr, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p dir="rtl">يُقَالُ  لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ اقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ  فِى الدُّنْيَا فَإِنَّ مَنْزِلَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَؤُهَا</p>
<p>“<em>Dikatakan kepada orang yang membaca (menghafalkan) Al Qur’an  nanti : ‘Bacalah dan naiklah serta tartillah sebagaimana engkau di dunia  mentartilnya. Karena kedudukanmu adalah pada akhir ayat yang engkau  baca (hafal).</em>” (HR. Abu Daud no. 1464 dan Tirmidzi no. 2914. Syaikh Al Albani dalam <em>As Silsilah Ash Shohihah</em> no. 2240 mengatakan bahwa hadits ini <strong><em>shohih</em></strong>)</p>
<p>Yang dimaksudkan dengan ‘<em>membaca</em>’ dalam hadits ini adalah menghafalkan Al Qur’an. Perhatikanlah perkataan Syaikh Al Albani berikut dalam <em>As Silsilah Ash Shohihah</em> no. 2440.</p>
<p>“Ketahuilah bahwa yang dimaksudkan dengan <em>shohibul qur’an </em> (orang yang membaca Al Qur’an) di sini adalah orang yang menghafalkannya  dari hati sanubari. Sebagaimana hal ini ditafsirkan berdasarkan sabda  beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>yang lain, ‘Suatu kaum akan dipimpin oleh orang yang paling menghafal Kitabullah (Al Qur’an).’</p>
<p>Kedudukan yang bertingkat-tingkat di surga nanti tergantung dari  banyaknya hafalan seseorang di dunia dan bukan tergantung pada banyak  bacaannya saat ini, sebagaimana hal ini banyak disalahpahami banyak  orang. Inilah keutamaan yang nampak bagi seorang yang menghafalkan Al  Qur’an, namun dengan syarat hal ini dilakukan untuk mengharap wajah  Allah semata dan bukan untuk mengharapkan dunia, dirham dan dinar.  Ingatlah, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> telah bersabda,</p>
<p dir="rtl">أَكْثَرَ مُنَافِقِي أُمَّتِي قُرَّاؤُهَا</p>
<p>“<em>Kebanyakan orang munafik di tengah-tengah umatku adalah qurro’uha (yang menghafalkan Al Qur’an dengan niat yang jelek)</em>.” (HR. Ahmad, sanadnya hasan sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth).” [Makna <em>qurro’uha</em> di sini adalah salah satu makna yang disebutkan oleh Al Manawi dalam <em>Faidhul Qodir Syarh Al Jami’ Ash Shogir</em>, 2/102 (Maktabah Syamilah)]</p>
<p>Bagi yang sudah memiliki banyak hafalan, ikatlah hafalan tersebut  dengan banyak mengulanginya. Dari Abdullah bin ‘Umar, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p dir="rtl">إِنَّمَا  مَثَلُ صَاحِبِ الْقُرْآنِ كَمَثَلِ الإِبِلِ الْمُعَقَّلَةِ إِنْ عَاهَدَ  عَلَيْهَا أَمْسَكَهَا وَإِنْ أَطْلَقَهَا ذَهَبَتْ</p>
<p>“<em>Sesungguhnya orang yang menghafalkan Al Qur’an adalah bagaikan  unta yang diikat. Jika diikat, unta itu tidak akan lari. Dan apabila  dibiarkan tanpa diikat, maka dia akan pergi.</em>” (HR. Bukhari no. 5031 dan Muslim no. 789).</p>
<p>Dalam riwayat Muslim yang lain terdapat tambahan,</p>
<p dir="rtl">وَإِذَا قَامَ صَاحِبُ الْقُرْآنِ فَقَرَأَهُ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ ذَكَرَهُ وَإِذَا لَمْ يَقُمْ بِهِ نَسِيَهُ</p>
<p>”<em>Apabila orang yang menghafal Al Qur’an membacanya di waktu malam  dan siang hari, dia akan mengingatnya. Namun jika dia tidak melakukan  demikian, maka dia akan lupa.” </em>(HR. Muslim no. 789)</p>
<p><em>Al Faqih</em> Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin memiliki  kebiasaan menghafal Al Qur’an di pagi hari sehingga bisa menguatkan  hafalannya. Beliau <em>rahimahullah </em>mengatakan,</p>
<p>“Cara yang paling bagus untuk menghafalkan Al Qur’an -menurutku-  adalah jika seseorang pada suatu hari menghafalkan beberapa ayat maka  hendaklah dia mengulanginya pada keesokan paginya.  Ini lebih akan  banyak menolongnya untuk menguasai apa yang telah dia hafalkan di hari  sebelumnya. Ini juga adalah kebiasaan yang biasa saya lakukan dan  menghasilkan hafalan yang bagus.” (<em>Kitabul ‘Ilmi</em>, hal. 105,  Darul Itqon Al Iskandariyah)</p>
<p><strong>Kiat Ketiga: </strong><strong>Membaca Dzikir-dzikir Pagi </strong></p>
<p>Waktu pagi juga bisa diisi dengan membaca dzikir-dzikir pagi. Bacaan  dzikir di waktu pagi secara lebih lengkap dapat dilihat dalam kitab <em>Hisnul Muslim</em> yang disusun oleh Syaikh Sa’id bin Wahf Al Qohthoni.</p>
<p>Di antara dzikir di pagi hari yang mudah untuk kita baca adalah bacaan istigfar.</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p dir="rtl">مَا أَصْبَحْتُ غَدَاةً قَطٌّ إِلاَّ اِسْتَغْفَرْتُ اللهَ مِائَةَ مَرَّةٍ</p>
<p>“<em>Tidaklah aku berada di pagi hari (antara terbit fajar hingga  terbit matahari, pen) kecuali aku telah beristigfar pada Allah sebanyak  100 kali.</em>” (HR. An Nasa’i. Dishohihkan oleh Syaikh Al Albani dalam <em>Silsilah Ash Shohihah </em>no. 1600. Lihat <em>Al Mu’jam Al Awsath lith Thobroniy</em>, 8/432, Asy Syamilah)</p>
<p>Dan bacaan istigfar yang paling sempurna adalah sebagaimana yang terdapat dalam shohih Al Bukhari dari Syaddad bin Aus <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, dari Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, beliau bersabda, “Penghulu istigfar adalah apabila engkau mengucapkan,</p>
<p dir="rtl">اَللَّهُمَّ  أَنْتَ رَبِّيْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا  عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوْذُ  بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ،  وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ  إِلاَّ أَنْتَ</p>
<p><em> “Ya Allah! Engkau adalah Rabbku, tidak ada Tuhan yang berhak  disembah kecuali Engkau. Engkaulah yang menciptakanku. Aku adalah  hamba-Mu. Aku akan setia pada perjanjianku dengan-Mu semampuku. Aku  berlindung kepada-Mu dari kejelekan yang kuperbuat. Aku mengakui  nikmat-Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku, oleh karena itu, ampunilah  aku. Sesungguhnya tiada yang mengampuni dosa kecuali Engkau.” </em>(HR. Bukhari no. 6306)</p>
<p>Faedah dari bacaan ini adalah sebagaimana yang Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>sabdakan dari lanjutan hadits di atas, “<em>Barangsiapa  mengucapkannya pada siang hari dan meyakininya, lalu dia mati pada hari  itu sebelum waktu sore, maka dia termasuk penghuni surga. Dan  barangsiapa mengucapkannya pada malam hari dalam keadaan meyakininya,  lalu dia mati sebelum waktu pagi, maka dia termasuk penghuni surga.</em>”</p>
<p>Bacaan <em>sayyidul istigfar</em> ini meliputi makna taubat dan  terdapat pula hak-hak keimanan. Di dalam bacaan ini juga terkandung  kemurnian ibadah dan kesempurnaan ketundukan serta perasaan sangat butuh  kepada Allah. Sehingga bacaan dzikir ini melebihi bacaan istigfar  lainnya karena keutamaan yang dimilikinya.</p>
<p>Juga bacaan sederhana yang bisa kita baca adalah dengan membaca surat  Al Ikhlas, Al Falaq dan An Naas masing-masing 3x. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda,</p>
<p dir="rtl">« (قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ) وَالْمُعَوِّذَتَيْنِ حِينَ تُمْسِى وَحِينَ تُصْبِحُ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ تَكْفِيكَ مِنْ كُلِّ شَىْءٍ »</p>
<p>“Membaca Qul huwallahu ahad (surat Al Ikhlas) dan <em>Al Muwa’idzatain</em> (surat Al Falaq dan An Naas) ketika sore dan pagi hari sebanyak tiga  kali akan mencukupkanmu dari segala sesuatu).” (HR. Abu Daud no. 5082.  Syaikh Al Albani dalam <em>Shohih wa Dho’if Sunan Abi Daud </em>mengatakan bahwa hadits ini hasan)</p>
<p>–Semoga kita termasuk orang yang selalu merutinkannya di setiap pagi dan sore-</p>
<p><strong>Kiat Keempat: Menuntut ilmu agama</strong></p>
<p>Waktu pagi juga bisa kita isi dengan mempelajari ilmu agama. Hal ini  bisa kita lakukan dengan menghadiri majelis ilmu atau dengan membaca  berbagai kitab para ulama.</p>
<p>Nafi&#8217; telah bertanya kepada Ibnu Umar tentang sabda Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>,</p>
<p dir="rtl">اللَّهُمَّ بَارِكْ لأُمَّتِى فِى بُكُورِهَا</p>
<p>“<em>Ya Allah, berkahilah umatku di waktu paginya</em>.”</p>
<p>Ibnu Umar menjawab, &#8220;<em>Dalam menuntut ilmu dan shaf pertama</em>.&#8221; (Atsar ini diriwayatkan oleh Ibnu &#8216;Abdil Barr dalam <em>Al Jami&#8217; li Akhlaqir Rawi wa Aadabis Sami&#8217;</em>, 1 /150 dan As-Sam&#8217;aany dalam <em>Adabul Imla&#8217; wal Istimla&#8217;</em>, 1/129)</p>
<p>Semoga kita termasuk orang-orang yang mengisi waktu pagi dengan hal-hal yang bermanfaat.</p>
<p>Alhamdulillah, berakhir pula tulisan kami mengenai waktu pagi, yang  kami sajikan dalam lima seri tulisan. Mudah-mudahan buku ini bisa  diterbitkan sehingga bermanfaat luas bagi kaum muslimin.</p>
<p>Semoga Allah selalu memberikan ilmu yang bermanfaat, rizki yang thoyib, dan menjadikan amalan kita diterima di sisi-Nya.</p>
<p><em>Innahu sami’un qoriibum mujibud da’awaat</em>. <em>Alhamdulillahilladzi  bi ni’matihi tatimmush sholihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina  Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.</em></p>
<p><em><br />
</em></p>
<div><em>Selesai disusun di Pondok Sahabat, Pogung Kidul</em></div>
<p dir="rtl"><em>Di pagi hari yang penuh barokah, 19 Rojab 1429 H</em></p>
<div><em> bertepatan dengan 22 Juli 2008</em></div>
<div>Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal</div>
<div>Artikel <a href="http://rumaysho.com/undefined/" target="_blank">www.rumaysho.com</a><a title="Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat" href="http://rumaysho.com/undefined/" target="_blank"><em> </em></a><em><br />
</em></div>
<div></div>
<div><em>sumber = </em>http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2739-kiat-kiat-mengisi-waktu-pagi.html</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/diqra.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/diqra.wordpress.com/147/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/diqra.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/diqra.wordpress.com/147/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/diqra.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/diqra.wordpress.com/147/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/diqra.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/diqra.wordpress.com/147/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/diqra.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/diqra.wordpress.com/147/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/diqra.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/diqra.wordpress.com/147/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/diqra.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/diqra.wordpress.com/147/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diqra.wordpress.com&amp;blog=1576400&amp;post=147&amp;subd=diqra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://diqra.wordpress.com/2011/03/14/kiat-kiat-mengisi-waktu-pagi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/77c221cbba22cc944a67dda6f6918cd0?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Diqra al Garuti</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rumaysho.com/images/stories/terbit_mentari.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">kiat di waktu pagi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kebiasaan Tidur Pagi Ternyata Berbahaya</title>
		<link>http://diqra.wordpress.com/2011/03/14/kebiasaan-tidur-pagi-ternyata-berbahaya/</link>
		<comments>http://diqra.wordpress.com/2011/03/14/kebiasaan-tidur-pagi-ternyata-berbahaya/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Mar 2011 01:41:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Diqra al Garuti</dc:creator>
				<category><![CDATA[dasar islam]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://diqra.wordpress.com/?p=144</guid>
		<description><![CDATA[Kita telah ketahui bersama bahwa waktu pagi adalah waktu yang penuh berkah dan di antara waktu yang kita diperintahkan untuk memanfaatkannya. Akan tetapi, pada kenyataannya kita banyak melihat orang-orang melalaikan waktu yang mulia ini. Waktu yang seharusnya dipergunakan untuk bekerja, melakukan ketaatan dan beribadah, ternyata dipergunakaan untuk tidur dan bermalas-malasan. Saudaraku, ingatlah bahwa orang-orang sholih [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diqra.wordpress.com&amp;blog=1576400&amp;post=144&amp;subd=diqra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://rumaysho.com/images/stories/Pantai_Sadranan.jpg" alt="Waktu Pagi" width="200" height="150" />Kita telah ketahui bersama bahwa waktu pagi adalah <a title="kebiasaan nabi dan para sahabat di pagi hari" href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/467-semangat-di-waktu-pagi-yang-penuh-berkah.html" target="_blank">waktu yang penuh berkah dan di antara waktu yang kita diperintahkan untuk memanfaatkannya</a>.  Akan tetapi, pada kenyataannya kita banyak melihat orang-orang  melalaikan waktu yang mulia ini. Waktu yang seharusnya dipergunakan  untuk bekerja, melakukan ketaatan dan beribadah, ternyata dipergunakaan  untuk tidur dan bermalas-malasan.</p>
<p><strong><em>Saudaraku</em></strong>, ingatlah bahwa orang-orang  sholih terdahulu sangat membenci tidur pagi. Kita dapat melihat ini dari  penuturan Ibnul Qayyim ketika menjelaskan masalah banyak tidur yaitu  bahwa banyak tidur dapat mematikan hati dan membuat badan merasa malas  serta membuang-buang waktu. Beliau  <em>rahimahullah</em> mengatakan,</p>
<p>“Banyak tidur dapat mengakibatkan lalai dan malas-malasan. Banyak  tidur ada yang termasuk dilarang dan ada pula yang dapat menimbulkan  bahaya bagi badan.</p>
<p>Waktu tidur yang paling bermanfaat yaitu :<span id="more-144"></span></p>
<p>[1] tidur ketika sangat butuh,</p>
<p>[2] tidur di awal malam –ini lebih manfaat daripada tidur di akhir malam-,</p>
<p>[3] tidur di pertengahan siang –ini lebih bermanfaat daripada tidur  di waktu pagi dan sore-. Apalagi di waktu pagi dan sore sangat sedikit  sekali manfaatnya bahkan lebih banyak bahaya yang ditimbulkan,  lebih-lebih lagi tidur di waktu ‘Ashar dan awal pagi kecuali jika memang  tidak tidur semalaman.</p>
<p>Menurut para salaf, tidur yang terlarang adalah <strong>tidur ketika selesai shalat shubuh hingga matahari terbit</strong>. Karena pada waktu tersebut adalah waktu untuk menuai <em>ghonimah</em> (pahala yang berlimpah). Mengisi waktu tersebut adalah keutamaan yang  sangat besar, menurut orang-orang sholih. Sehingga apabila mereka  melakukan perjalanan semalam suntuk, mereka tidak mau tidur di waktu  tersebut hingga terbit matahari. Mereka melakukan demikian karena waktu  pagi adalah waktu terbukanya pintu rizki dan datangnya barokah (banyak  kebaikan).” (<em>Madarijus Salikin</em>, 1/459, Maktabah Syamilah)</p>
<p><strong>BAHAYA TIDUR PAGI</strong><strong><a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/514-kebiasaan-tidur-pagi-ternyata-berbahaya.html#_ftn1"><strong> [1]</strong></a></strong></p>
<p>[<strong>Pertama</strong>] Tidak sesuai dengan petunjuk Al Qur&#8217;an dan As Sunnah.</p>
<p>[<strong>Kedua</strong>] Bukan termasuk akhlak dan kebiasaan para  salafush sholih (generasi terbaik umat ini),  bahkan merupakan perbuatan  yang dibenci.</p>
<p>[<strong>Ketiga</strong>] Tidak mendapatkan barokah di dalam waktu dan amalannya.</p>
<p>[<strong>Keempat</strong>] Menyebabkan malas dan tidak bersemangat di sisa harinya.</p>
<p>Maksud dari hal ini dapat dilihat dari perkataan Ibnul Qayyim. Beliau <em>rahimahullah </em>berkata, &#8220;Pagi hari bagi seseorang itu seperti waktu muda dan akhir harinya seperti waktu tuanya.&#8221;  (<em>Miftah Daris Sa&#8217;adah</em>,  2/216). Amalan seseorang di waktu muda berpengaruh terhadap amalannya  di waktu tua. Jadi jika seseorang di awal pagi sudah malas-malasan  dengan sering tidur, maka di sore harinya dia juga akan malas-malasan  pula.</p>
<p>[<strong>Kelima</strong>] Menghambat datangnya rizki.</p>
<p>Ibnul Qayyim berkata,  &#8220;Empat hal yang menghambat datangnya rizki  adalah [1] tidur di waktu pagi,  [2] sedikit sholat,  [3] malas-malasan  dan [4] berkhianat.&#8221; (<em>Zaadul Ma’ad</em>, 4/378)</p>
<p>[<strong>Keenam</strong>] Menyebabkan berbagai penyakit badan, di antaranya adalah melemahkan syahwat. (<em>Zaadul Ma’ad</em>, 4/222)</p>
<p>&nbsp;</p>
<hr />
<p><a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/514-kebiasaan-tidur-pagi-ternyata-berbahaya.html#_ftnref1">[1]</a> Pembahasan berikut disarikan dari tulisan Ustadz Abu Maryam Abdullah  Roy, Lc yang berjudul ‘Tholabul ‘Ilmi di Waktu Pagi’ dan ada sedikit  tambahan dari kami.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>****</p>
<p>Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal</p>
<p>Artikel <a href="http://rumaysho.com/undefined/" target="_blank">www.rumaysho.com</a></p>
<p>sumber = http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/514-kebiasaan-tidur-pagi-ternyata-berbahaya.html</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/diqra.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/diqra.wordpress.com/144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/diqra.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/diqra.wordpress.com/144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/diqra.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/diqra.wordpress.com/144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/diqra.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/diqra.wordpress.com/144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/diqra.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/diqra.wordpress.com/144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/diqra.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/diqra.wordpress.com/144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/diqra.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/diqra.wordpress.com/144/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diqra.wordpress.com&amp;blog=1576400&amp;post=144&amp;subd=diqra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://diqra.wordpress.com/2011/03/14/kebiasaan-tidur-pagi-ternyata-berbahaya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/77c221cbba22cc944a67dda6f6918cd0?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Diqra al Garuti</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rumaysho.com/images/stories/Pantai_Sadranan.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Waktu Pagi</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
