<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Salafy Garut</title>
	<atom:link href="http://diqra.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://diqra.wordpress.com</link>
	<description>Ilmu-Amal-Dakwah-Sabar</description>
	<lastBuildDate>Tue, 03 Nov 2009 23:44:57 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='diqra.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/830c1d6e40c713b0977ef2eb02b453dc?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Salafy Garut</title>
		<link>http://diqra.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Alhamdulillah telah lahir anak ke dua kami..</title>
		<link>http://diqra.wordpress.com/2009/11/03/alhamdulillah-telah-lahir-anak-ke-dua-kami/</link>
		<comments>http://diqra.wordpress.com/2009/11/03/alhamdulillah-telah-lahir-anak-ke-dua-kami/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Nov 2009 23:44:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Diqra al Garuti</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://diqra.wordpress.com/?p=102</guid>
		<description><![CDATA[Alhamdulillah telah lahir anak ke dua saya -perempuan panjang 51 berat 3,4 semalam 3/11/2009 sekitar pukul 19.50 di Garut semoga menjadi anak yang solehah berguna untuk agama, pembawa estafet bendera tauhid, berbakti kepada kedua orangtuanya dan dimudahkan ilmu dan rezekinya.. Aamin yaa Robbal &#8216;aalamiin
       <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diqra.wordpress.com&blog=1576400&post=102&subd=diqra&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><h3>Alhamdulillah telah lahir anak ke dua saya -perempuan panjang 51 berat 3,4 semalam 3/11/2009 sekitar pukul 19.50 di Garut semoga menjadi anak yang solehah berguna untuk agama, pembawa estafet bendera tauhid, berbakti kepada kedua orangtuanya dan dimudahkan ilmu dan rezekinya.. Aamin yaa Robbal &#8216;aalamiin</h3>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/diqra.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/diqra.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/diqra.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/diqra.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/diqra.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/diqra.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/diqra.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/diqra.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/diqra.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/diqra.wordpress.com/102/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diqra.wordpress.com&blog=1576400&post=102&subd=diqra&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://diqra.wordpress.com/2009/11/03/alhamdulillah-telah-lahir-anak-ke-dua-kami/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/77c221cbba22cc944a67dda6f6918cd0?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Diqra al Garuti</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sikap yang Jelas terkait Fitnah Rafidhah Yaman</title>
		<link>http://diqra.wordpress.com/2009/10/09/sikap-yang-jelas-terkait-fitnah-rafidhah-yaman/</link>
		<comments>http://diqra.wordpress.com/2009/10/09/sikap-yang-jelas-terkait-fitnah-rafidhah-yaman/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Oct 2009 11:33:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Diqra al Garuti</dc:creator>
				<category><![CDATA[bantahan]]></category>
		<category><![CDATA[manhaj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://diqra.wordpress.com/?p=99</guid>
		<description><![CDATA[بسم الله الرحمن الرحيم
Sudah tidak asing lagi bagi sebagian Salafiyyin di Indonesia, bahwa untuk ketujuh kalinya dalam 7 tahun terakhir kaum Khawarij Rafidhah kembali melakukan pemberontakan kepada Pemerintah Negeri Yaman. Dan tentu saja terkait langsung dengan hal tersebut adalah pemberontakan tersebut terjadi di Provinsi Sa&#8217;ada dimana Darul Hadits Dammaj berada.
Sehingga kontak senjata yang terjadi di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diqra.wordpress.com&blog=1576400&post=99&subd=diqra&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div>بسم الله الرحمن الرحيم</p>
<p>Sudah tidak asing lagi bagi sebagian Salafiyyin di Indonesia, bahwa untuk ketujuh kalinya dalam 7 tahun terakhir kaum Khawarij Rafidhah kembali melakukan pemberontakan kepada Pemerintah Negeri Yaman. Dan tentu saja terkait langsung dengan hal tersebut adalah pemberontakan tersebut terjadi di Provinsi Sa&#8217;ada dimana Darul Hadits Dammaj berada.<br />
Sehingga kontak senjata yang terjadi di sekitar Darul Hadits Dammaj antara pemerintah negeri Yaman yang dibantu oleh Kabilah Al-Wadi&#8217;iy (Kabilah Syaikh Muqbil bin Hady Al-Wadi&#8217;iy) <span id="more-99"></span>bergeser menjadi isu bahwa telah terjadi perang antara kaum Sunny dan Rafidhah sebagaimana hal tersebut banyak dinukil di berbagia media massa Yaman maupun luar yaman.<br />
Dan inilah sikap resmi dari Syaikh Yahya bin Ali Al-Hajuury berkaitan makar yang dilakukan Khawarij Rafidhah terhadap Pemerintah negeri Yaman dan Kabilah Al-Wadi&#8217;iy.<br />
Sikap Syaikh Yahya ini disampaikan pada akhir Ramdahan 1430 H. Di dalamnya mengandung :<br />
- Dukungan Salafiyyin terhadap Pemerintah Negeri Yaman<br />
- Sikap Salafiyyin terkhusus di Darul Hadits Dammaj apabila terjadi penyerangan oleh Khawarij Rafidhah<br />
- Nasehat Syaikh Yahya terhadap pemerintah Yaman dan yang selainnya serta kepada salafiyyin di Dammaj dan di luar Dammaj.</p>
<p>Untuk mendownload Sikap resmi Syaikh Yahya tersebut , silahkan <a href="http://www.salafishare.com/id/33ECUZSWC9Z0/fitnahRafidhahFiDammajRe1.wma" target="_blank">Download Disini</a><br />
atau ingin mendengarkan tanpa mendownload , silahkan <a href="http://www.esnips.com/doc/458b62a4-1904-4230-a634-358834e28e23/fitnahRafidhahFiDammajRe1" target="_blank">Klik Disini</a></div>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/diqra.wordpress.com/99/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/diqra.wordpress.com/99/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/diqra.wordpress.com/99/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/diqra.wordpress.com/99/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/diqra.wordpress.com/99/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/diqra.wordpress.com/99/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/diqra.wordpress.com/99/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/diqra.wordpress.com/99/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/diqra.wordpress.com/99/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/diqra.wordpress.com/99/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diqra.wordpress.com&blog=1576400&post=99&subd=diqra&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://diqra.wordpress.com/2009/10/09/sikap-yang-jelas-terkait-fitnah-rafidhah-yaman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/77c221cbba22cc944a67dda6f6918cd0?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Diqra al Garuti</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>POLIGAMI, TAKUT ISTRI?</title>
		<link>http://diqra.wordpress.com/2009/09/29/poligami-takut-istri/</link>
		<comments>http://diqra.wordpress.com/2009/09/29/poligami-takut-istri/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Sep 2009 01:13:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Diqra al Garuti</dc:creator>
				<category><![CDATA[bantahan]]></category>
		<category><![CDATA[dasar islam]]></category>
		<category><![CDATA[fiqh]]></category>
		<category><![CDATA[manhaj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://diqra.wordpress.com/?p=97</guid>
		<description><![CDATA[MAU POLIGAMI, TAPI TAKUT ISTRI?
Syaikh Saleh As-Suhaimi hafizhahullah ditanya dengan pertanyaan berikut:
Apakah boleh saya menikah yang kedua kali tanpa sepengetahuan yang pertama,karena yang pertama tidak ridha?
Syaikh menjawab:
“Mengapa  -hai penakut- mengapa?  
Kebanyakan kita penakut dalam urusan ini,kalian tidak mengabarkan istri melainkan mereka tidak menerima sampai besipun bermain?
(sambil beliau tertawa)
Wahai ikhwan,istri pertama tidak punya hak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diqra.wordpress.com&blog=1576400&post=97&subd=diqra&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong>MAU POLIGAMI, TAPI TAKUT ISTRI?</strong><br />
Syaikh Saleh As-Suhaimi hafizhahullah ditanya dengan pertanyaan berikut:<br />
Apakah boleh saya menikah yang kedua kali tanpa sepengetahuan yang pertama,karena yang pertama tidak ridha?<br />
Syaikh menjawab:<br />
“Mengapa  -hai penakut- mengapa?  <span id="more-97"></span></p>
<p>Kebanyakan kita penakut dalam urusan ini,kalian tidak mengabarkan istri melainkan mereka tidak menerima sampai besipun bermain?<br />
(sambil beliau tertawa)<br />
Wahai ikhwan,istri pertama tidak punya hak untuk mencegah kamu atau menghalangi kamu untuk menikah lagi.tapi engkau yang melihat dirimu,jika engkau seorang lelaki yang merasa punya kemampuan untuk berbuat adil,dan hatimu kuat,engkau bias bersabar dari apa yang engkau dengar dan tidak peduli dengan banyaknya pembicaraan orang,dan bersungguh-sungguh untuk berbuat adil maka lakukan.<br />
Adapun jika ada persangkaan kuat pada dirimu bahwa engkau terlalu condong kepada salah satunya dan engkau berbuat zalim,maka jangan engkau melakukannya.Saya mengira bahwa jika permasalahhannya sampai pada tingkat kamu takut jika engkau mengabarkannya,maka ini hal yang sangat berbahaya.<br />
Iya,hendaknya engkau berlemah lembut kepadanya,dan menyampaikan hal-hal sebagai pendahuluan,yaitu kamu berusaha untuk menenangkan suasana dengannya,dan menyenangkannya dengan sesuatu dari harta,atau kelembutan,menyenangkannya dengan satu pemberian.Kemudian kalau ternyata ditakdirkan bahwa dia tetap tidak menyetujuinya,maka bukan keharusan menunggu persetujuannya,dan hidupkan sunnah ini.<br />
Wanita-wanita kaum mukminin banyak yang duduk di rumah-rumah mereka menjadi perawan tua, di sebagian rumah ada 10 wanita, diantara mereka sudah berumur 40 hingga 50 tahun,dalam keadaan belum menikah. Kita telah ikut-ikutan dengan barat,dan selalu mendengarkan berbagai acara sinetron rendahan,dan semua sinetron itu rendah,yang berusaha mengotori nilai pernikahan,poligami dan seterusnya.Allah Azza wajalla berfirman:<br />
+فانكحوا ما طاب لكم من النساء مثنى وثلاث ورباع&#8221;<br />
“nikahilah wanita yang baik untuk kalian dua,tiga dan empat”.<br />
Allah Ta’ala memulai dengan penyebutan dua.Oleh karenanya,saya mengingat Syaikh kami Bin Baaz rahimahullah –dan Beliau ada pendahulunya dalam hal ini- berkata:<br />
“sesungguhnya hukum asal (pernikahan) adalah berpoligami.Dan boleh tidak berpoligami jika takut tidak mampu berbuat adil saja.”<br />
(dari kaset yang ditranskrip pada salah satu Tanya jawab beliau,yang rekaman ini dari situs : http://sahab.net/forums/showthread.php?t=370605<br />
Diterjemahkan oleh: Abu Karimah Askari bin Jamaal,pada tanggal 18 Sya’ban 1430)</p>
<p>berikut dalam bahasa Arab:</p>
<blockquote><p>السؤال: هل يجوز لي الزواج بالثانية بدون أن تعلم الأولى لأن الأولى لن ترضى؟</p></blockquote>
<blockquote><p>الجواب:</p></blockquote>
<blockquote><p>ليش يا خواف ليش؟ أكثرنا جبناء في هذه المسألة ,لا تخبرون النساء بعدين ما يقبلن حتى الحديد,</p></blockquote>
<blockquote><p>(ثم ضحك الشيخ)</p></blockquote>
<blockquote><p>يا إخوتاه ليس للمرأة الأولى حق في أن تمنعك أو تحول بينك وبين الزواج, ولكن أنت اختبر نفسك إن كنت رجلا تجد في نفسك القدرة على العدل وقلبك قوي وتتحمل ما تسمع وتغض الطرف عن كثير من الكلام وتجتهد أولا في العدل فأقدم.</p></blockquote>
<blockquote><p>وأما إن كان يغلب على ظنك أنك ستميل كل الميل وأنك ستحيف فلا تقدم .أنا أظن إذا وصلت المسألة إلى أنك تخشى إن أخبرتها فالأمر في غاية الخطورة .</p></blockquote>
<blockquote><p>نعم,عليك أن تتلطف معها وتجعل مقدمات يعني تجتهد في تلطيف الجو معها وتراضيها بشيء من المال وبشيء من اللين وبشيء من العطاء ثم لو قدر أنها أصرت أنها لا يمكن أن توافق على ذلك فلست ملزما بموافقتها ,وأحي هذه السنة ,نساء المؤمنين جالسات في البيوت عوانس ,بعض البيوت فيها عشر نسوة منهن من بلغت الأربعين والخمسين ولم تتزوج ونحن قلدنا الغرب وأصبحنا نسمع التمثيليات الهابطة وكل التمثيليات هابطة التي تشوه سمعة الزواج والتعدد وما إلى ذلك.والله عز وجل يقول:</p></blockquote>
<blockquote><p>+فانكحوا ما طاب لكم من النساء مثنى وثلاث ورباع&#8221; بدأ بالتثنية .</p></blockquote>
<blockquote><p>ولذلك أذكر أن شيخنا ابن باز رحمه الله وله سلف في هذا يقول: إن الأصل هو التعدد وعدم التعدد عند الخوف من عدم العدل فقط</p></blockquote>
<p>(شريط مفرغ من شبكة سحاب السلفية غرفة: المنبر الإسلامي)</p>
<p>sumber : http://ibnulqoyyim.com/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=73&amp;Itemid=2</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/diqra.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/diqra.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/diqra.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/diqra.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/diqra.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/diqra.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/diqra.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/diqra.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/diqra.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/diqra.wordpress.com/97/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diqra.wordpress.com&blog=1576400&post=97&subd=diqra&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://diqra.wordpress.com/2009/09/29/poligami-takut-istri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/77c221cbba22cc944a67dda6f6918cd0?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Diqra al Garuti</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>NORDIN N STOP!!!</title>
		<link>http://diqra.wordpress.com/2009/09/25/nordin-n-stop/</link>
		<comments>http://diqra.wordpress.com/2009/09/25/nordin-n-stop/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Sep 2009 01:20:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Diqra al Garuti</dc:creator>
				<category><![CDATA[bantahan]]></category>
		<category><![CDATA[manhaj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://diqra.wordpress.com/?p=94</guid>
		<description><![CDATA[Sebagai seorang muslim yang masih berada diatas fitrahnya yang suci,sudah tentu merasakan kegembiraan ketika mendengarkan berita tentang tewasnya seseorang yang dikenal sebagai salah satu gembong teroris Khawarij dimasa kini,yang gemar melakukan tindakan kejahatan dan menumpahkan darah manusia,tidak terlepas pula tertumpahnya darah-darah kaum muslimin. Namun berbeda halnya dengan seorang yang telah tertanam padanya benih-benih pemikiran khawarij,dia [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diqra.wordpress.com&blog=1576400&post=94&subd=diqra&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><span style="font-family:Tahoma,Verdana,Arial,sans-serif;color:#333333;">Sebagai seorang muslim yang masih berada diatas fitrahnya yang suci,sudah tentu merasakan kegembiraan ketika mendengarkan berita tentang tewasnya seseorang yang dikenal sebagai salah satu gembong teroris Khawarij dimasa kini,yang gemar melakukan tindakan kejahatan dan menumpahkan darah manusia,tidak terlepas pula tertumpahnya darah-darah kaum muslimin. Namun berbeda halnya dengan seorang yang telah tertanam padanya benih-benih pemikiran khawarij,dia tentu akan merasa sedih dengan terbunuhnya salah satu dari tokoh mereka,yang selama ini dianggap “berjihad” dengan cara-caranya.Bahkan tidak sedikit dari mereka yang menggelarinya dengan sebutan “mujahid” atau “mati syahid”.<br />
<span id="more-94"></span><br />
Kaum Muslimin yang kami muliakan,termasuk diantara petunjuk didalam Islam yang diajarkan Rasulullah Shallallahu Alaihi wasallam dan para sahabatnya adalah tidak menampakkan kesedihan dengan tewasnya tokoh-tokoh teroris khawarij. Bagaimana mungkin seseorang bersedih,sementara mereka dengan melakukan tindakan membabi buta tanpa mengikuti koridor syari’at Islam yang telah diajarkan Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam dan para sahabatnya,dan melakukan berbagai tindakan teror yang menyebabkan ketakutan kaum muslimin yang hidup didalam negeri mereka sendiri.Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:<br />
لَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يُرَوِّعَ مُسْلِمًا<br />
“Tidak halal bagi seorang muslim menakut-nakuti seorang muslim lainnya.”<br />
(HR.Abu Dawud (5004),dari beberapa sahabat Nabi )<br />
Oleh karenanya ,Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dengan tegas menyebut mereka kaum khawarij sebagai anjing-anjing neraka.Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:</p>
<p>الْخَوَارِجُ كِلَابُ النَّارِ<br />
“Khawarij adalah anjing-anjing neraka.”<br />
(HR.Ibnu Majah:173,dari Ibnu Abi Aufa radhiallahu anhu)</p>
<p>Demikian pula halnya para sahabat Nabi –semogaAllah meridhai mereka- tidak merasa sedih dengan meninggalnya tokoh-tokoh teroris khawarij,bahkan sebaliknya dengan menampakkan perasaan gembira dan bersyukur atas meninggalnya.Diriwayatkan dari Abu Ghalib berkata: Abu Umamah –radhiallahu anhu- melihat kepala-kepala (kaum khawarij) yang dipajang ditangga masjid Damaskus, lalu Abu Umamah berkata:<br />
كِلَابُ النَّارِ شَرُّ قَتْلَى تَحْتَ أَدِيمِ السَّمَاءِ خَيْرُ قَتْلَى من قَتَلُوهُ</p>
<p>“anjing-anjing neraka, (mereka) seburuk-buruk yang terbunuh dibawah kolong langit,dan sebaik-baik yang terbunuh adalah yang mereka bunuh.”<br />
Lalu Abu Umamah berkata:sekiranya aku tidak mendengar hadits ini (dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wasallam) sekali,dua kali sampai tujuh kali, aku tidak akan memberitakannya kepada kalian.”<br />
(HR.Tirmidzi:3000)</p>
<p>Perhatikanlah hadits ini yang menunjukkan betapa seringnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wasallam memberi peringatan kepada umatnya dari bahaya kaum khawarij ini.</p>
<p>Demikian pula yang dilakukan Ali bin Abi Thalib radhiallahu anhu,sebagaimana yang diriwayatkan oleh Zabban bin Shabirah Al-Hanafi bahwa ia berkata ketika menceritakan keikutsertaannya dalam perang Nahrawan dalam menumpas kaum Khawarij:<br />
“Aku termasuk yang menemukan dzu tsadyah .lalu menyampaikan berita gembira ini kepada Ali radhiallahu anhu,dan aku melihatnya sujud yang menunjukkan kegembiraannya.”<br />
(Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam al-mushannaf: 8424)</p>
<p>Yang dimaksud Dzu tsadyah adalah salah seorang dari kalangan khawarij yang diberitakan oleh Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam ,dzu tsadyah artinya yang memiliki benjolan pada bagian tangannya yang menyerupai payudara,bagian atasnya seperti puting payudara yang memiliki bulu-bulu kecil mirip kumis kucing.<br />
(fathul bari:12/298)</p>
<p>Demikianlah sikap para ulama salaf dalam menyikapi kaum teroris khawarij.Semoga Allah memelihara kita semua dari kejahatan dan makar mereka,dan semoga Allah menyelamatkan kaum muslimin dari berbagai pemikiran dan syubhat mereka yang menyesatkan manusia dari jalan Allah Azza Wajalla.Benarlah ucapan Abul ‘Aliyah rahimahullah:</p>
<p>إن علي لنعمتين ما أدري أيتهما أعظم أن هداني الله للإسلام ولم يجعلني حروريا</p>
<p>“Sesungguhnya aku merasakan dua kenikmatan yang aku tidak mengetahui manakah diantara dua kenikmatan tersebut yang terbesar: ketika Allah memberi hidayah kepadaku untuk memeluk islam, dan tidak menjadikan aku sebagai haruri (khawarij).”<br />
(diriwayatkan Abdurrazzaq dalam Al-Mushannaf:18667)</p>
<p>Ditulis oleh:<br />
Abu Karimah Askari bin Jamal<br />
28 ramadhan 1430 H.<br />
http://ibnulqoyyim.com/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=101&amp;Itemid=2 </span></p>
<p><span style="font-family:Tahoma,Verdana,Arial,sans-serif;color:#333333;">sumber </span>http://www.darussalaf.or.id/stories.php?id=1586</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/diqra.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/diqra.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/diqra.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/diqra.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/diqra.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/diqra.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/diqra.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/diqra.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/diqra.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/diqra.wordpress.com/94/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diqra.wordpress.com&blog=1576400&post=94&subd=diqra&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://diqra.wordpress.com/2009/09/25/nordin-n-stop/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/77c221cbba22cc944a67dda6f6918cd0?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Diqra al Garuti</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mahmud bin Sabaktekin, Pejuang Tauhid Sejati</title>
		<link>http://diqra.wordpress.com/2009/06/15/mahmud-bin-sabaktekin-pejuang-tauhid-sejati/</link>
		<comments>http://diqra.wordpress.com/2009/06/15/mahmud-bin-sabaktekin-pejuang-tauhid-sejati/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Jun 2009 03:39:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Diqra al Garuti</dc:creator>
				<category><![CDATA[dasar islam]]></category>
		<category><![CDATA[pemurnian sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://diqra.wordpress.com/2009/06/15/mahmud-bin-sabaktekin-pejuang-tauhid-sejati/</guid>
		<description><![CDATA[Ikhwati fillah, sebenarnya ada banyak tokoh yang terlewatkan saat kita berbicara tentang Islam di anak benua India. Salah satu dari sekian tokoh tersebut adalah Sultan Mahmud bin Sabaktekin Al Ghaznawi. Beliau termasuk penakluk hebat yang pasukan berkudanya berhasil mencapai India, dan menegakkan panji-panji Islam di sana. Konon luas wilayah yang berhasil ditundukkannya setara dengan jumlah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diqra.wordpress.com&blog=1576400&post=93&subd=diqra&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p dir="ltr">Ikhwati fillah, sebenarnya ada banyak tokoh yang terlewatkan saat kita berbicara tentang Islam di anak benua India. Salah satu dari sekian tokoh tersebut adalah Sultan Mahmud bin Sabaktekin Al Ghaznawi. Beliau termasuk penakluk hebat yang pasukan berkudanya berhasil mencapai India, dan menegakkan panji-panji Islam di sana. Konon luas wilayah yang berhasil ditundukkannya setara dengan jumlah seluruh penaklukkan yang terjadi di masa Amirul Mukminin Umar bin Khatthab ra.</p>
<p dir="ltr">Sederetan gelar disematkan kepadanya oleh Khalifah Abbasiyah kala itu: “Yaminud Daulah… Aminul Millah… Naashirul Haq… Nidhamuddien… dan Kahfud Daulah”. Sungguh, belum pernah sepanjang sejarah ada panglima yang menyandang gelar kehormatan demikian banyak, akan tetapi itulah tokoh kita kali ini, Sultan Mahmud bin Sabaktekin Al Ghaznawy, yang kemudian mendapat tiga gelar tambahan setelahnya, “Muhatthimus Shanam al Akbar” (Penghancur berhala terbesar), “Qaahirul Hind” (Penakluk India) dan “As Sulthan Al Mujahid Al Adhiem” (Sultan Mujahid Agung). Semua itu adalah gelar yang dianugerahkan oleh Khalifah Al Qaadir billaah kepada beliau… lantas siapakah sesungguhnya beliau dan bagaimanakah sepak terjangnya? Marilah kita simak sekarang…<span id="more-93"></span></p>
<p dir="ltr">Ikhwati Fillah, sebelum ini pernah kami singgung bahwa penaklukkan wilayah India diawali oleh sebuah ekspedisi yang dipimpin oleh Muhammad ibnul Qasim Ats Tsaqafi, yang terjadi di zaman Khalifah Al Walid bin Abdil Malik. Ekspedisi tersebut berhasil melaju hingga wilayah utara India dan menaklukkan kota Daibal, bahkan akhirnya mendirikan sebuah mesjid di sana. Ibnul Qasim menempatkan 4000 orang pasukan di sana untuk menjaga wilayah tersebut, dan semenjak itu, jadilah Daibal kota Arab pertama di India.</p>
<p dir="ltr">Setelah penaklukan pertama ini, penaklukan demi penaklukan pun terjadi silih berganti di India, akan tetapi kekuatannya belum sebanding dengan penaklukan yang pertama tadi. Akibatnya, eksistensi kaum muslimin di India melemah, dan selama Dinasti Abbasiyah, mereka hanya berhasil mempertahankan wilayah yang telah dikuasainya dengan sedikit tambahan dengan menggabungkan beberapa daerah sekitarnya. Demikian seterusnya, mereka hanya menguasai daerah antara Kabul, Kashmir dan Maltan, hingga Allah menurunkan pertolongan-Nya lewat tokoh kita kali ini, yang menjadi batu loncatan pertama bagi para penakluk setelahnya.</p>
<p dir="ltr">Ayah beliau adalah Nashiruddien Sabaktekin, pendiri Daulah Al Ghaznawiyah. Ia menjabat sebagai Penguasa Ghaznah –salah satu kota di Afghanistan sekarang- pada tahun 366H/976M. Ia memiliki tekad baja, kemampuan yang langka, dan cita-cita agung; karenanya ia berhasil memperluas kekuasaannya hingga negeri-negeri tetangga.</p>
<p dir="ltr">Beliau mulai melakukan penyerangan terhadap perbatasan India dan menguasai sejumlah benteng di sana, beliau berhasil mendirikan sebuah daulah besar di barat daya Asia. Beliau kemudian wafat pada tahun 387H/997M. Selama memerintah, beliau senantiasa berlaku adil, pemurah, menepati janji dan banyak berjihad.</p>
<p dir="ltr">Setelah mangkatnya sang ayah, baiat diberikan kepada putera sulungnya yang bernama Isma’il. Sayangnya Isma’il tidak bijak dalam mengatur pemerintahan dan bermaksud mencegah Mahmud dari mendapatkan warisan ayahnya. Ketika Ismail menjadi penguasa Ghaznah, ia dipecundangi oleh pasukannya dan mereka berhasil menekannya untuk memberikan sejumlah besar harta hingga habislah harta ayahnya. Maka bangkitlah Amir Mahmud untuk menggulingkan saudaranya, dan setelah berhasil merebut Ghaznah, ia mengangkat dirinya sebagai Sultan Daulah Ghaznawiyah.</p>
<p dir="ltr">Khalifah Abbasiyah menyetujui pengangkatan Mahmud sebagai Sultan di wilayah tersebut, yang mencakup Khurasan, Sindus, India dan Thabaristan. Semenjak Mahmud menjadi Sultan, beliau menonjolkan sunnah dan menumpas kaum Syi’ah Rafidhah dan Mu’tazilah, kemudian memerintah rakyatnya laksana Umar bin Khatthab t. Beliau konon sangat memuliakan para ulama dan menjadikan mereka orang-orang terdekatnya serta senantiasa meminta pendapat mereka.</p>
<p dir="ltr">Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan: “Berhubung kerajaan Mahmud bin Sabaktekin termasuk kerajaan terbaik yang pernah muncul dari orang-orang sebelumnya, maka Islam dan Sunnah pun menjadi agung dalam kerajaannya. Ia memerangi orang-orang musyrik India dan menerapkan berbagai keadilan yang belum pernah dilakukan oleh penguasa sebelumnya. Akibatnya, Sunnah Rasulullah semakin nyata di masanya dan bid’ah-bid’ah pun sirna” (Majmu’ fatawa Ibnu Taimiyyah 4/22).</p>
<p dir="ltr">Selama berkuasa, Sultan Mahmud memerintahkan untuk mendoakan Khalifah Al Qadir billah di Baghdad dalam setiap khutbah Jum’at, maka Khalifah mengirim jubah yang sangat mewah kepadanya, yang belum pernah dikirim oleh seorang khalifah pun kepada bawahannya. Kemudian menyematkan padanya sejumlah gelar: “Yamienud Daulah, Aminul Millah, Naashirul Haq, Nidhamuddien dan Kahfud Daulah”.</p>
<p dir="ltr">Namun demikian, Sultan Mahmud tidak pernah diam, akan tetapi beliau segera menghancurkan Daulah Buwaihiyyah, yang merupakan daulah syi’ah yang jahat. Daulah Buwaihiyyah ini semakin berbahaya dengan berdirinya daulah lain di Mesir yang sefaham dengannya, yaitu Daulah ‘Ubeidiyyah. Akibatnya, Daulah Abbasiyah berada dalam jepitan kakaktua dua musuhnya tersebut. Sultan Mahmud berhasil menghancurkan daulah jahat tadi, dan membersihkan wilayah tersebut dari kebusukan mereka, lalu memasukkan wilayah tersebut dalam kekuasaannya. Beliau juga berhasil menaklukkan Daulah Samaniyah yang telah demikian lemah.</p>
<p dir="ltr">Ibnu Katsir menceritakan: “Pada tahun 408H, Khalifah Al Qadir billah menyuruh para fuqaha’ Mu’tazilah –salah satu firqah/golongan sesat kala itu- supaya bertaubat, maka mereka pun menyatakan ruju’/kembali pada kebenaran dan berlepas diri dari faham/aliran Mu’tazilah, Rafidhah dan faham-faham sesat lainnya. Khalifat mengambil janji dari mereka, bahwa kalau mereka sampai mengingkari janji tersebut, maka kepadanya dijatuhi hukuman berat yang supaya mereka jera. Maka Mahmud pun segera menerapkan perintah Khalifah dan mulai membersihkan seluruh wilayah kekuasaannya dari kaum Mu’tazilah, Syi’ah, Isma’iliyyah, Qaramithah (keduanya merupakan syi’ah pengikut kebatinan yang sangat berbahaya), demikian pula kaum Jahmiyyah (yang mengingkari asma’ul husna dan sifat-sifat Allah) dan firqah-firqah sesat lainnya.</p>
<p dir="ltr">Mahmud bahkan menyalib dedengkot-dedengkot mereka, memenjarakannya, mengusirnya dan memerintahkan agar mereka dilaknat di mimbar-mimbar. Ia berhasil menghalau seluruh kelompok ahli bid’ah dari daerah mereka, dan hal itu menjadi jasa besarnya yang dilestarikan oleh Islam”.</p>
<p dir="ltr">Sultan Mahmud memecat khatib-khatib Syi’ah dan menggantinya dengan yang Sunni. Beliau adalah seorang yang berpendirian tegas dan disegani, hingga tak seorangpun berani menampakkan kemaksiatan seperti minum khamer dan main musik di negaranya. Demikian pula dengan pemikiran-pemikiran mu’tazilah dan syiah, tak pernah lagi muncul ke permukaan.</p>
<p dir="ltr">Beliau terkenal sebagai orang yang demikian mengagungkan para ulama dan memuliakan mereka, hingga para ulama berdatangan dari berbagai wilayah untuk menghadap beliau. Selain menjadi sultan yang adil dan penyantun, beliau juga seorang penakluk hebat yang sangat gemar berjihad. Berbagai ekspedisi militer yang dilakukannya demikian terkenal dalam sejarah, dan di samping itu semua, beliau sangat berjasa dalam perkembangan ilmu sastera dan kebudayaan Islam lainnya.</p>
<p dir="ltr">Perlu kita ketahui, bahwa Mahmud telah memimpin 16 operasi militer di utara India. Ia berhasil menumpas raja-raja mereka satu persatu. Di antaranya ialah operasi militernya melawan Raja India Jai Pal pada tahun 392H/1001M. Jai Pal saat itu merupakan Raja India terbesar secara mutlak, dan penghalang utama tersebarnya dakwah Islam. Kemudian pada tahun 398H/1007M, Mahmud memimpin perang melawan Raja Anand Pal, dan memerangi Raja Nakar Kut pada tahun 400H/1009M, dan memaksanya untuk membayar upeti (jizyah).</p>
<p dir="ltr">Pada tahun 410H/1019M, beliau berperang melawan Raja Rajananda, dan seiring dengan kemenangannya dalam peperangan ini, dakwah Islam semakin merambah ke pelosok India, terutama wilayah Kanjar. Beliau juga berhasil menaklukkan Raja Gujarat yang bernama Baida pada tahun 409H/1018M.</p>
<p dir="ltr">Serangkaian penaklukan yang gilang-gemilang tadi tentunya tak terlepas dari dua faktor utama; pertama tentunya pertolongan Allah, dan kedua: jasa besar pasukan berkuda yang dibentuk oleh Sultan Mahmud, yang jumlah personelnya –menurut riwayat sebagian sejarawan Arab dan Orientalis- mencapai 100 ribu orang. Masing-masing menunggang kuda dan bersenjata lengkap. Demikian pula pasukan bergajah yang menjadi ujung tombak dalam berbagai peperangan kaum muslimin di India. Karenanya, Sultan Mahmud sangat memperhatikan senjata yang satu ini, hingga terkadang beliau rela berdamai dengan beberapa penguasa India dengan imbalan sejumlah Gajah.</p>
<p dir="ltr">Ingatlah <em>ikhwati fillah</em>, keberhasilan suatu peperangan tidak terlepas dari kedua faktor di atas; keimanan kuat yang mengundang turunnya pertolongan Allah, dan didukung dengan persenjataan yang memadai. Oleh karenanya, seorang pemimpin mutlak harus memperhatikan kedua hal di atas. Ia harus memberantas setiap bentuk kemaksiatan, mulai dari syirik hingga maksiat-maksiat lainnya yang dapat menggerogoti keimanan rakyat. Demikian pula dengan kekuatan militer pasukannya, jangan sampai ia tertinggal jauh dalam persenjataan yang dimiliki musuh-musuhnya, sebagaimana yang dialami kaum muslimin akhir-akhir ini. Inilah dua kunci utama keberhasilan Sultan Mahmud dalam setiap operasi militernya.</p>
<p dir="ltr">Demikianlah Sultan Mahmud pindah dari satu peperangan ke peperangan berikutnya dengan membawa kemenangan besar. Hingga suatu ketika beliau menghadapi sebuah perang besar, bahkan yang terbesar sepanjang sejarah kaum muslimin. Peperangan tersebut terkenal dengan nama Somanat… bagaimanakah kisahnya? Begini ceritanya… konon tiap kali Sultan Mahmud berhasil menundukkan suatu daerah di India dan menghancurkan berhalanya, orang-orang musyrik India mengatakan: “Nampaknya berhala-berhala dan negeri ini telah dimurkai oleh Tuhan Somanat, sebab kalaulah ia ridha kepada berhala dan negeri ini, niscaya pastilah ia membinasakan orang-orang yang mengganggu berhala tadi”. Tentu Sultan Mahmud mengacuhkan saja isu tersebut dan tidak menggubrisnya. Akan tetapi isu tersebut semakin santer, seakan-akan menjadi suatu keyakinan bagi orang-orang India tadi. Tak ayal Sultan pun bertanya-tanya tentang Somanat ini, maka dikatakan kepadanya bahwa Somanat adalah tuhan dan berhala terbesar yang disembah orang-orang India. Mereka meyakini bahwa arwah-arwah yang telah berpisah dari jasadnya terkumpul padanya, lalu ia kembalikan ke bentuk lain sekehendaknya, sesuai dengan faham reinkarnasi yang mereka yakini. Mereka juga menganggap bahwa ombak dan pulau-pulau yang ada di sekitar Somanat adalah bentuk dari peribadatan laut kepadanya.</p>
<p dir="ltr">Berhala Somanat terletak sejauh 600 mil dari muara Sungai Gangga, yang terletak di wilayah Gujarat di barat India. Berhala ini dipelihara oleh 1000 orang biksu yang memimpin upacara ritual, ditambah 300 pria yang bertugas mencukur rambut dan jenggot para peziarah, kemudian 300 pria dan 500 wanita yang menyanyi dan berjoget di gerbang masuknya. Adapun Somanat itu sendiri adalah berhala yang dibangun di atas 56 tiang besi yang berlapis timah, ia terbuat dari batu tanpa bentuk yang jelas, namun berupa tiga bulatan dengan dua lengan yang tingginya 5 hasta (3,5m).</p>
<p dir="ltr">Orang-orang musyrik India senantiasa menziarahinya, terutama pada malam gerhana bulan. Mereka mempersembahkan sesajian yang demikian bernilai untuk si berhala, dan memberi para juru kuncinya sejumlah harta.</p>
<p dir="ltr">Tentu fenomena syirik akbar semacam ini tidak bisa dibiarkan… hati seorang mukmin akan tersayat menyaksikannya, apalagi seorang pejuang tauhid seperti Sultan Mahmud bin Sabaktekin. Maka segeralah beliau kerahkan pasukan besar untuk menghancurkan berhala tersebut, dan berangkat pada pertengahan bulan Dzul Qa’idah setelah mengarungi serangkaian peperangan sebelumnya. Dalam peperangan ini, beliau berhasil membunuh 50 ribu orang musyrik India, ini belum termasuk jumlah mereka yang mencampakkan dirinya ke laut. Simaklah kisah selengkapnya yang dituturkan oleh Ibnu Katsir saat mengisahkan tentang peristiwa sejarah tahun 417H, beliau mengatakan:</p>
<p dir="ltr">“Pada tahun itu, sampailah sepucuk surat dari Mahmud bin Sabaktekin yang mengabarkan bahwa dirinya telah masuk ke wilayah India dan berhasil menghancurkan berhala terbesar mereka yang bernama Somanat. Padahal orang-orang India senantiasa berduyun-duyun mengunjunginya seperti kaum muslimin mengunjungi Ka’bah. Mereka menyumbangkan uang yang tak terkira besarnya bagi berhala tersebut… maka Sultan Mahmud beristikharah kepada Allah saat mendengar tentang berhala dan banyaknya pasukan India yang harus dihadapinya dalam rangka menghancurkan berhala tersebut. Beliau sadar bahwa perjalanan yang ditempuhnya demikian sulit dan penuh bahaya, maka Beliau menghimbau pasukannya untuk berangkat hingga terkumpullah 30 ribu orang pasukan pilihan, ditambah lagi sejumlah sukarelawan. Sultan pun menyerahkan nasib mereka kepada Allah hingga mereka tiba di medan perang. Setibanya di lokasi, ternyata ia merupakan kota yang demikian besar, namun dengan cepat beliau berhasil menundukkan kota tersebut dan menewaskan 50 ribu orang musuh, dan menumbangkan berhala itu lalu membakarnya.</p>
<p dir="ltr">Disebutkan bahwa orang-orang India berusaha menebus berhala mereka dengan harta yang tak terhingga agar Sultan Mahmud tidak jadi menghancurkannya. Hingga sebagian komandan beliau ada yang menganjurkan agar Sultan menerima hadiah tersebut dan membiarkan berhala itu. Akan tetapi Sultan menjawab: “Tunggu, aku akan istikharah kepada Allah terlebih dahulu”. Maka keesokan harinya beliau mengatakan kepada mereka: “Aku telah merenungkan masalah ini, maka kulihat bahwa di hari kiamat kelak, aku lebih suka mendengar seruan: “Di manakah Mahmud yang berhasil menghancurkan berhala?”, dari pada: “Di manakah Mahmud yang meninggalkan berhala demi mendapat dunia?”.</p>
<p dir="ltr">Subhanallaah, lihatlah profil seorang pejuang tauhid sejati ini… baginya kemenangan bukan diukur dari besarnya ghanimah yang diperoleh, akan tetapi tercapainya tujuan luhur dari jihad itu sendiri, alias tegaknya tauhid di muka bumi. Ini mengingatkan kita terhadap sikap Rasulullah saat ditawarkan kepadanya empat hal, dengan syarat ia menghentikan dakwah Islamnya. Ditawarkan kepadanya untuk menjadi Raja, menjadi orang terkaya, memiliki isteri paling cantik, atau sembuh dari penyakit jiwa yang dideritanya menurut mereka. Akan tetapi kesemuanya ditolak oleh beliau… sembari berkata kepada Abu Thalib pamannya; “Demi Allah wahai pamanku, andai pun mereka bisa meletakkan matahari di tangan kiriku dan bulan di tangan kananku, agar aku meninggalkan dien ini, niscaya aku takkan meninggalkannya hingga Allah memenangkan agama ini atau aku binasa karenanya”.</p>
<p dir="ltr">Inilah sikap seorang panglima muslim sejati yang mesti jadi teladan… semua penaklukan yang berhasil dilakukannya hanyalah demi tegaknya agama Allah, bukan semata-mata memperluas kekuasaan. Karenanya, Allah menjadikan namanya harum setelah itu.</p>
<p dir="ltr">Setelah membulatkan tekad, Sultan Mahmud pun menghancurkan berhala tersebut dan mendapatkan setumpuk mutiara, intan, emas dan perhiasan lain yang nilainya jauh berlipat ganda melebihi harta yang mereka tawarkan. Dalam berhala tersebut terdapat gudang berisi sejumlah arca dari emas dan perak yang berkalung permata, yang nilainya lebih dari 20 juta Dinar!!</p>
<p dir="ltr">Subhanallaah, sebagian komandan yang semula rela menerima sedikit uang yang akan diberikan oleh kaum musyrikin tadi, setelah melihat betapa banyak harta yang ada di balik berhala tadi, mereka bersyukur memuji Allah, dan membenarkan Sabda Nabi saw yang mengatakan:</p>
<p dir="ltr" align="center">من ترك شيئا لله، عوضه الله خيرا منه</p>
<p dir="ltr" align="center"><em>Barang siapa meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik</em></p>
<p dir="ltr">Sekedar informasi, pasca penghancuran berhala tadi, orang-orang India berupaya membangunnya kembali di kemudian hari, akan tetapi hal tersebut tidak dibiarkan oleh Sultan Muhyiddien Aurangzeb<a href="http://basweidan.wordpress.com/2009/05/21/mahmud-bin-sabaktekin-pejuang-tauhid-sejati/#_ftn1">[1]</a>. Beliau lantas menghancurkannya pada tahun 1706M. Kemudian pemerintah India pada tahun 1947M membangung kembali lokasi tersebut dan masih eksis sampai hari ini!</p>
<p dir="ltr">Demikianlah, Sultan Mahmud senantiasa berjihad tanpa mengenal letih dan lelah hingga suatu ketika beliau terserang sakit perut di akhir hayatnya. Sakitnya makin parah hari demi hari, pun demikian beliau tetap menguatkan dirinya saat bertemu dengan orang-orang. Konon beliau tak mampu untuk berbicara kecuali dalam posisi duduk bersandar akibat sakit yang makin parah, hingga akhirnya beliau wafat di Ghaznah pada hari Kamis, 23 Rabi’ul Akhir 421H dan dimakamkan di sana. Dengan demikian, beliau telah memerintah selama 35 tahun.</p>
<p dir="ltr">Selama periode tersebut, luas wilayah yang berhasil beliau taklukkan adalah setara dengan yang terjadi di masa Umar bin Khatthab t. Panji-panji Islam yang beliau kibarkan telah mencapai pelosok negeri yang sebelumnya tidak pernah terjamah oleh kaum muslimin. Beliau berhasil menegakkan syi’ar-syi’ar Islam di wilayah yang sebelumnya tak pernah terdengar lantunan ayat Al Qur’an dan suara adzan… maka semoga Allah merahmati beliau.</p>
<p dir="ltr">Kisahnya sungguh mengingatkan kita akan sosok seorang penakluk lain dari kalangan sahabat yang mulia, yaitu Khalid bin Walid ra. Beliau yang mengejar maut di setiap tempat persembunyiannya, justeru akhirnya mati di atas pembaringan… dan ini pula lah yang dialami oleh Sultan Mahmud.</p>
<p dir="ltr">Sultan Mahmud telah wafat, akan tetapi nama beliau akan senantiasa harum, terutama di daerah asalnya. Di Afghanistan dan Pakistan biografi beliau masih menjadi buah bibir masyarakat, bahkan di Pakistan, nama beliau menjadi nama salah satu rudal balistik jarak pendek yang dimiliki oleh angkatan bersenjata negeri itu.</p>
<p dir="ltr">Referensi:</p>
<p dir="ltr">1-Al Inba’ fi Tarikhil Khulafa’, oleh Ibnul ‘Imrani.</p>
<p dir="ltr">2-Al Hind fi Dhillis Siyaadah al Islamiyyah, oleh Dr. Ahmad Muhammad Al Juranah.</p>
<p dir="ltr">3-Al Muslimun fil Hind minal Fathil Arabi ilal Isti’maril Britani oleh Nidhamuddien Ahmad Bakhsy Al Harawi.</p>
<p dir="ltr">4-Al Bidayah wan Nihayah, oleh Ibnu Katsir..</p>
<p dir="ltr">5-Tarikh Ibnu Khaldun.</p>
<p dir="ltr">6-Beberapa artikel dari internet.</p>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr">sumber : http://basweidan.wordpress.com/2009/05/21/mahmud-bin-sabaktekin-pejuang-tauhid-sejati/</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/diqra.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/diqra.wordpress.com/93/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/diqra.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/diqra.wordpress.com/93/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/diqra.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/diqra.wordpress.com/93/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/diqra.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/diqra.wordpress.com/93/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/diqra.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/diqra.wordpress.com/93/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diqra.wordpress.com&blog=1576400&post=93&subd=diqra&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://diqra.wordpress.com/2009/06/15/mahmud-bin-sabaktekin-pejuang-tauhid-sejati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/77c221cbba22cc944a67dda6f6918cd0?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Diqra al Garuti</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Gempa Di Madinah, Sebuah Peringatan</title>
		<link>http://diqra.wordpress.com/2009/06/04/gempa-di-madinah-sebuah-peringatan/</link>
		<comments>http://diqra.wordpress.com/2009/06/04/gempa-di-madinah-sebuah-peringatan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Jun 2009 01:05:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Diqra al Garuti</dc:creator>
				<category><![CDATA[dasar islam]]></category>
		<category><![CDATA[tazkiyatun nufus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://diqra.wordpress.com/?p=90</guid>
		<description><![CDATA[Belum lama telah terjadi gempa di Propinsi Madinah, tepatnya di &#8216;Aisy, kurang lebih 200 km arah barat daya Kota Madinah. Kekuatan gempa sampai 4,15 Skala Richter. Kemah-kemah pengungsian sudah disiapkan di sekitar kota tersebut.
Barangkali kebanyakan dari kita akan bertanya-tanya, gejala alam apa yang terjadi disana? Kenapa bisa terjadi gempa? Apa ada pergeseran lempengan bumi dll?
Pertanyaan-pertanyaan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diqra.wordpress.com&blog=1576400&post=90&subd=diqra&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Belum lama telah terjadi gempa di Propinsi Madinah, tepatnya di &#8216;Aisy, kurang lebih 200 km arah barat daya Kota Madinah. Kekuatan gempa sampai 4,15 Skala Richter. Kemah-kemah pengungsian sudah disiapkan di sekitar kota tersebut.<br />
Barangkali kebanyakan dari kita akan bertanya-tanya, gejala alam apa yang terjadi disana? Kenapa bisa terjadi gempa? Apa ada pergeseran lempengan bumi dll?<br />
Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah sering terlontar ketika mendengar gempa di suatu tempat, tanpa menyadari hikmah di balik itu semua.<br />
<span><br />
Meski tidak menelan korban jiwa dan materi yang berarti, kejadian ini patut menjadi bahan renungan. Apalagi gempanya terasa sampai ke kota Madinah, sebagaimana dirasakan oleh sebagian ikhwah.<span id="more-90"></span><br />
Ternyata peringatan itu bukan hanya terjadi di luar kota suci sebagaimana persangkaan sebagian kita, merasa atau tidak merasa. Peringatan Allah ta&#8217;ala di berbagai negara termasuk di negara kita sudah berulangkali kali tersiar dan kita dengar, namun sedikit dari kita yang mau mengambil pelajaran dan merubah keadaan. Dan sekarang diantara peringatan itu sampai ke kota suci yang tercinta ini.<br />
Pernah terjadi gempa di Madinah di zaman Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu &#8216;anhu, maka beliau mengatakan:<br />
يا أيها الناس ما أسرع ما أحدثتم، لإن عادت لأخرجن من بين أظهركم<br />
&#8220;Wahai manusia, betapa cepatnya kalian melakukan berbuat dosa, seandainya gempa ini datang lagi maka aku akan keluar dari hadapan kalian (yaitu meninggalkan kota Madinah)&#8221; (Diriwayatkan Nu&#8217;aim bin Hammad di Al-Fitan hal:377, dan Al-Baihaqy dalam As-Sunan Al-Kubra 3/342)<br />
Sebenarnya peringatan ini adalah rahmat Allah atas kita semua, untuk menakut-nakuti manusia, supaya mereka mau kembali kepadaNya, mau memohon ampun kepadaNya, mau meninggalkan dosa-dosa mereka. Allah  berfirman:<br />
(وما نرسل بالآيات إلا تخويفا) الإسراء : 59<br />
&#8220;Tidaklah Kami mengirim tanda-tanda kekuasaan Kami kecuali untuk menakut-nakuti&#8221;<br />
Berkata Qatadah:<br />
وإن الله يخوّف الناس بما شاء من آية لعلهم يعتبرون، أو يذكرون، أو يرجعون، ذُكر لنا أن الكوفة رجفت على عهد ابن مسعود، فقال: يأيها الناس إن ربكم يستعتبكم فأعتبوه.<br />
&#8220;Sesungguhnya Allah menakut-nakuti manusia dengan apa yang Dia kehendaki dari tanda-tanda kekuasaanNya, supaya mereka mengambil pelajaran, atau mengingat Allah, atau kembali kepadaNya, telah diceritakan kepada kami bahwa kota Kufah telah terjadi gempa di zaman Abdullah bin Mas&#8217;ud maka beliau berkata: Wahai manusia sesungguhnya Allah menginginkan kalian untuk kembali maka kembalilah kepadaNya &#8221; (Diriwayatkan oleh Ath-Thabary dalam tafsirnya 17/478)<br />
Berkata Ibnul Qayyim rahimahullah:<br />
أذن الله سبحانه لها في الأحيان بالتنفس فتحدث فيها الزلازل العظام فيحدث من ذلك لعباده الخوف والخشية والإنابة والإقلاع عن معاصيه والتضرع إليه والندم<br />
&#8220;Dan terkadang Allah subhanahu mengizinkan bumi untuk bernafas maka terjadilah gempa bumi yang dasyat, sehingga hamba-hamba Allah ketakutan dan mau kembali kepadaNya, meninggalkan kemaksiatan dan merendahkan diri dihadapanNya&#8221; (Miftah Daris Sa&#8217;adah 1/221)<br />
Hendaklah kita bisa mengambil peringatan ini, mulai dari diri kita, kita ingatkan diri kita dengan bertaubat dari segala dosa dan kita ingatkan keluarga kita, kemudian kita ingatkan orang lain dengan menghidupkan amar ma&#8217;ruf nahi mungkar dan saling menasehati diantara kita.</span></p>
<p><span>sumber : </span>http://tanyajawabagamaislam.blogspot.com/2009/06/gempa-di-madinah-sebuah-peringatan.html</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/diqra.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/diqra.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/diqra.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/diqra.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/diqra.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/diqra.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/diqra.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/diqra.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/diqra.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/diqra.wordpress.com/90/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diqra.wordpress.com&blog=1576400&post=90&subd=diqra&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://diqra.wordpress.com/2009/06/04/gempa-di-madinah-sebuah-peringatan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/77c221cbba22cc944a67dda6f6918cd0?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Diqra al Garuti</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sanggupkah Aku Menjawabnya?</title>
		<link>http://diqra.wordpress.com/2009/06/04/sanggupkah-aku-menjawabnya/</link>
		<comments>http://diqra.wordpress.com/2009/06/04/sanggupkah-aku-menjawabnya/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Jun 2009 00:48:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Diqra al Garuti</dc:creator>
				<category><![CDATA[dasar islam]]></category>
		<category><![CDATA[tazkiyatun nufus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://diqra.wordpress.com/?p=88</guid>
		<description><![CDATA[Penulis: Al-Ustadz Abu Khaulah Zainal Abidin

SUNGGUH saat itu akan datang sebagaimana telah sering aku saksikan ia mendatangi orang lain, teman-temanku, tetanggaku, bahkan orang tua atau kerabatku.
Sungguh, saat itu tak mungkin kuduga sebagaimana juga mereka tak pernah menduga didatangi oleh nya. Sungguh dia akan menjemput aku pergi ke tempat yang tak mampu aku bayangkan, tempat yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diqra.wordpress.com&blog=1576400&post=88&subd=diqra&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div style="text-align:center;">Penulis: Al-Ustadz Abu Khaulah Zainal Abidin</div>
<p><strong><br />
SUNGGUH</strong> saat itu akan datang sebagaimana telah sering aku saksikan ia mendatangi orang lain, teman-temanku, tetanggaku, bahkan orang tua atau kerabatku.</p>
<p>Sungguh, saat itu tak mungkin kuduga sebagaimana juga mereka tak pernah menduga didatangi oleh nya. Sungguh dia akan menjemput aku pergi ke tempat yang tak mampu aku bayangkan, tempat yang tak pernah kembali lagi mereka yang pergi ke sana, tempat yang di sana aku akan dihadapkan dengan pertanyaan.</p>
<p>Sungguh, semua itu benar adanya. Tak ada alasan bagi ku untuk tidak percaya hal itu bakal terjadi, sebagaimana tak ada alasan bagi ku untuk mengingkari adanya Al Khaliq. Juga sebagaimana tak ada alasan bagi ku untuk memungkiri adanya getaran kegelisahan dalam bathinku tatkala aku melakukan perbuatan yang fitrahku mengenalnya sebagai dosa.<br />
<span id="more-88"></span><br />
Hanya saja. Sanggupkah aku menghadapi itu? Saat di mana aku didudukkan di lubang yang gelap, kemudian datanglah kepada ku dua malaikat mengajukan pertanyaan: Siapa Rabb-mu, apa agamamu, dan siapa nabimu?<br />
Sanggupkah aku menjawabnya? &#8230;</p>
<p>Apa yang akan aku katakan, ketika ditanya tentang siapa Rabb-ku? Cukupkah kujawab: Rabb-ku adalah ALLAH? Semudah itukah menghadapi fitnah kubur? Rasanya tidak. Tidak akan semudah itu. Sebagaimana telah tertanamkan dalam jiwaku keyakinan akan adanya Engkau, tertanam pula keyakinan bahwa tidaklah segala sesuatu itu ada dan terjadi dengan sendirinya serta tanpa maksud dan tujuan.</p>
<p>Lantas bolehkah terlintas dalam benakku: “Mustahil aku akan tersesat dan terjatuh ke dalam kekufuran?” Bolehkah terucap lewat lisanku: “Keberhasilan yang aku peroleh adalah semata-mata hasil prestasiku?” Bolehkah aku beranggapan: “Bahwa tanda keridhoan-Mu adalah dengan terjadinya apa yang terjadi atau berlakunya apa yang hendak aku lakukan?”</p>
<p>Sungguh tak mungkin aku mengatakan: “Alangkah kejamnya Engkau, membiarkan seorang bayi lahir dalam keadaan cacat. Alangkah tak adilnya Engkau, membiarkan pelaku maksiat sejahtera bermandikan kesenangan, sedangkan mereka yang tha’at dalam keadaan miskin berlumurkan kesengsaraan.” Sungguh tak mungkin aku mengatakannya. Namun, mengapa sering bathin ini protes manakala aku tertimpa musibah atau doaku tak kunjung terkabul?</p>
<p>Ya, ALLAH. Ternyata tak ada jalan untuk mengenal Mu kecuali melalui diri-Mu. Kalau bukan karena hidayah-Mu, sungguh akan tertanam dalam batinku, terucap dari lisanku, dan terwujud lewat perbuatanku segala yang bertentangan dengan kekuasaan-Mu, bertentangan dengan hak-Mu untuk diibadahi, serta bertentangan dengan kemuliaan nama-nama dan sifat-sifat- Mu. Maka, sudahkah aku mengenal segala kekuasaan-Mu dan mengakui keesaan-Mu dalam hal mencipta, memiliki, dan mengatur alam semesta ini?</p>
<p>Kemudian, apa yang akan aku katakan ketika ditanya tentang apa agamaku? Cukupkah kujawab: Agamaku Islam? Semudah itukah menghadapi fitnah kubur? Rasanya tidak. Tidak akan semudah itu. Sebagaimana telah tertanam di dalam jiwaku keyakinan akan kesempurnaan agama ini, tertanam pula keyakinan bahwa agama ini disampaikan kepada manusia agar mereka memperoleh kemudahan dan kebahagiaan hidup di dunia -sebelum di akhirat kelak tentunya-.</p>
<p>Lantas bolehkah terlintas dalam benakku: “Agama ini tidak realistis, kurang membumi?” Bolehkah terucap lewat lisanku: “Jaman sekarang ini jangankan mencari yang halal, mencari yang haram saja susah?” Bolehkah aku beranggapan: “Semua agama itu baik?”</p>
<p>Sungguh tak mungkin aku mengatakan: “Alangkah enaknya menjadi orang-orang kafir di muka bumi ini, alangkah kunonya agama ini, dan alangkah sempit serta terbatasnya ruang ibadah yang tersedia di sana.” Sungguh tak mungkin aku mengatakannya. Namun mengapa sering bathin ini protes manakala terasa dunia dan segala suguhannya tak memihak kepada ku? Mengapa bathin ini diam saja dan tak sedikitpun tergerak untuk membenci mereka yang menghujat agama ini?</p>
<p>Ya, ALLAH. Kalau bukan karena hidayah-Mu; sungguh akan tertanam di dalam bathinku, terucap dari lisanku, dan terwujud lewat perbuatanku segala yang bertentangan dengan agama yang mulia ini. Bahkan boleh jadi aku tak mengenal agama ini sebagaimana ia diperkenalkan oleh pembawanya. Boleh jadi aku tak mengenal keseluruhan aturan yang ada di dalam nya. Dan boleh jadi aku telah terjatuh ke dalam perbuatan yang telah mengeluarkan aku dari nya.</p>
<p>Kemudian, apa yang akan aku katakan ketika ditanya tentang siapa nabiku? Cukupkah kujawab: Nabiku Muhammad Shallallahu &#8216;Alaihi Wasallam? Semudah itukah fitnah kubur? Rasanya tidak. Tidak akan semudah itu. Sebagaimana telah tertanam keyakinan dalam bathinku tentang kemuliaan akhlaqnya, sifat amanahnya, dan kejujurannya; tertanam pula keyakinan bahwa dialah Shallallahu &#8216;Alaihi Wasallam teladan terbaik bagi umat manusia.</p>
<p>Lantas bolehkah terlintas dalam benakku: “Ada jalan untuk mendekatkan diri kepada ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala selain dari yang telah dicontohkan oleh beliau Shallallahu &#8216;Alaihi Wasallam?” Bolehkah terucap lewat lisanku: “Memelihara jenggot itu jorok, menjilat-jilati jari sehabis makan itu juga jorok, dan poligami itu jahat?” Bolehkah aku beranggapan: “Mengikuti Sunnahnya itu tidak wajib?”</p>
<p>Sungguh tak mungkin aku mengatakan: “Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wasallam lupa menyampaikan ini dan itu. Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wasallam sengaja menyembunyikan risalah atau Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wasallam tidak mengetahui apa yang baik bagi umatnya.” Sungguh tak mungkin aku mengatakannya. Namun mengapa sering bathin ini protes dan merasa berat dengan apa yang telah ia tetapkan dan contohkan? Mengapa akal dan hawa nafsu ini sering merasa lebih tahu -tentang baik dan buruk- ketimbang beliau Shallallahu &#8216;Alaihi Wasallam?</p>
<p>Ya, ALLAH. Kalau bukan karena hidayah-Mu; sungguh akan tertanam di dalam bathinku, terucap dari lisanku, dan terwujud lewat perbuatanku berbagai pengingkaran terhadap kenabian dan kerasulan Muhammad Shallallahu &#8216;Alaihi Wasallam. Boleh jadi itu bermula dari acuh tak acuhnya aku untuk mengenal nama-nama dan nasab beliau Shallallahu &#8216;Alaihi Wasallam dan dari kurang minatnya aku membaca serta mempelajari riwayat hidupnya. Akhirnya butalah aku akan sunnah-sunnahnya dan tak mengertilah aku akan misi risalahnya. Dan jadilah aku orang yang hanya ikut-ikutan menyebut namanya tanpa memahami pertanggungjawabann ya.</p>
<p>Sanggupkah aku menjawabnya? &#8230;</p>
<p>Sungguh, aku akan berhadapan dengan pertanyaan yang jawabnya tak cukup di lisan, tetapi dari dalam keyakinan dan dibuktikan oleh perbuatan. Bukan hasil dari menghafal, tetapi dari beramal. Tak ada yang sanggup menuntun aku untuk menjawabnya kelak kecuali Engkau, Ya ALLAH. Aku tahu itu dan aku yakin, sebagaimana telah Engkau janjikan:</p>
<p>يُثَبِّتُ اللّهُ الَّذِينَ آمَنُواْ بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ</p>
<p>“ALLAH meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat&#8230;” (Ibrahim: 27)</p>
<p>Sumber: Ushuluts Tsalatsah</p>
<p>============ ===</p>
<p>Dikutip dari <a rel="nofollow" href="http://www.mimbarislami.or.id/" target="_blank">www.mimbarislami. or.id</a></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/diqra.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/diqra.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/diqra.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/diqra.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/diqra.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/diqra.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/diqra.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/diqra.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/diqra.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/diqra.wordpress.com/88/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diqra.wordpress.com&blog=1576400&post=88&subd=diqra&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://diqra.wordpress.com/2009/06/04/sanggupkah-aku-menjawabnya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/77c221cbba22cc944a67dda6f6918cd0?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Diqra al Garuti</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hukum PEMILU dan Bagaimana Menyikapinya?</title>
		<link>http://diqra.wordpress.com/2009/05/14/hukum-pemilu-dan-bagaimana-menyikapinya/</link>
		<comments>http://diqra.wordpress.com/2009/05/14/hukum-pemilu-dan-bagaimana-menyikapinya/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 May 2009 02:08:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Diqra al Garuti</dc:creator>
				<category><![CDATA[bantahan]]></category>
		<category><![CDATA[manhaj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://diqra.wordpress.com/?p=86</guid>
		<description><![CDATA[Assalamu ‘alaikum, ustadz.
Alhamdulillah, Allohuma sholi ‘ala muhammad wa ‘ala aliihi wa shohbihi ajma’in.
Ana mau tanya tentang Pemilu, sebenarnya bagaimana kita mensikapinya?
Apa hukumnya?
Jazakallohu khoir.
Wassalamu ‘alaikum.
Abu Abdurrouf
Alamat: Gamping, Sleman, DIY
Email: pamukojo***@yahoo.com

Ustadz Kholid Menjawab:
Untuk menjawab pertanyaan ini dan semisalnya, kami bawakan saja fatwa Syaikh Abdulmalik Ramadhani dalam wawancara beliau dengan al-Akh Abdullah Taslim berikut ini:
Tanya (Abdullah bin Taslim): [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diqra.wordpress.com&blog=1576400&post=86&subd=diqra&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><em>Assalamu ‘alaikum, ustadz.<br />
Alhamdulillah, Allohuma sholi ‘ala muhammad wa ‘ala aliihi wa shohbihi ajma’in.</em><br />
<strong>Ana mau tanya tentang Pemilu, sebenarnya bagaimana kita mensikapinya?<br />
Apa hukumnya?</strong><br />
<em>Jazakallohu khoir.<br />
Wassalamu ‘alaikum.</em></p>
<p style="text-align:right;"><em><strong>Abu Abdurrouf<br />
Alamat: Gamping, Sleman, DIY<br />
Email: pamukojo***@yahoo.com</strong></em></p>
<p style="text-align:left;">
<p><strong>Ustadz Kholid Menjawab:</strong><br />
Untuk menjawab pertanyaan ini dan semisalnya, kami bawakan saja fatwa Syaikh Abdulmalik Ramadhani dalam wawancara beliau dengan al-Akh Abdullah Taslim berikut ini:<br />
<strong>Tanya (Abdullah bin Taslim)</strong>: Sehubungan dengan Pemilu untuk memilih presiden yang sebentar lagi akan diadakan di Indonesia, dimana Majelis Ulama Indonesia mewajibkan masyarakat Indonesia untuk memilih dan mengharamkan golput, bagaimana sikap kaum muslimin dalam menghadapi masalah ini?<br />
<strong><br />
Syaikh Abdul Malik: </strong>Segala puji bagi Allah, serta salawat, salam dan keberkahan semoga senantiasa Allah limpahkan kepada Nabi kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga kepada keluarga dan para sahabatnya, serta orang-orang yang setia mengikuti jalannya, amma ba’du:<br />
Saat ini mayoritas negara-negara Islam menghadapi cobaan (berat) dalam memilih pemimpin (kepala negara) mereka melalui cara pemilihan umum, yang ini merupakan (penerapan) sistem demokrasi yang sudah dikenal. Padahal terdapat perbedaan yang sangat jauh antara sistem demokrasi dan (syariat) Islam (dalam memilih pemimpin), yang ini dijelaskan oleh banyak ulama (ahlus sunnah wal jama’ah). Untuk penjelasan masalah ini, saudara-saudaraku (sesama ahlus sunnah) bisa merujuk kepada sebuah kitab ringkas yang ditulis oleh seorang ulama besar dan mulia, yaitu kitab <em>“al-’Adlu fil Islaam wa laisa fi dimokratiyyah al maz’uumah”</em> (Keadilan yang hakiki ada pada syariat Islam dan bukan pada sistem demokrasi yang dielu-elukan), tulisan guru kami syaikh Abdul Muhsin bin Hamd al-’Abbaad al-Badr –<em>semoga Allah menjaga beliau dan memanjangkan umur beliau dalam ketaatan kepada-Nya –.</em><br />
<em>‘Ala kulli hal</em>, pemilihan umum dalam sistem demokrasi telah diketahui, yaitu dilakukan dengan cara seorang muslim atau kafir memilih seseorang atau beberapa orang tertentu (sebagai calon presiden). Semua perempuan dan laki-laki juga ikut memilih, tanpa mempertimbangkan/membedakan orang yang banyak berbuat maksiat atau orang shaleh yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.<span id="more-86"></span><br />
Semua ini (jelas) merupakan pelanggaran terhadap (syariat) Islam. Sesungguhnya para sahabat yang membai’at (memilih) Abu Bakr ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu (sebagai khalifah/pemimpin kaum muslimin sepeninggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) di saqiifah (ruangan besar beratap tempat pertemuan) milik (suku) Bani Saa’idah, tidak ada seorang perempuan pun yang ikut serta dalam pemilihan tersebut. Karena urusan siyasah (politik) tidak sesuai dengan tabiat (fitrah) kaum perempuan, sehingga mereka tidak boleh ikut berkecimpung di dalamnya. Dan ini termasuk pelanggaran (syariat Islam), padahal Allah Ta’ala berfirman:</p>
<p align="right"><span style="font-family:times,times new roman,serif;font-size:large;">وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالْأُنْثَى</span></p>
<p><em>“Dan laki-laki tidaklah seperti perempuan.” (Qs. Ali ‘Imraan: 36)</em><br />
Maka bagaimana kalian (wahai para penganut sistem demorasi) menyamakan antara laki-laki dan perempuan, padahal Allah yang menciptakan dua jenis manusia ini membedakan antara keduanya?! Allah Ta’ala berfirman:</p>
<p align="right"><span style="font-family:times,times new roman,serif;font-size:large;">وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ مَا كَانَ لَهُمُ الْخِيَرَة</span></p>
<p>ُ<br />
<em>“Dan Rabbmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya, sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka.” (Qs. al-Qashash: 68)</em><br />
Di sisi lain Allah Ta’ala berfirman:</p>
<p align="right"><span style="font-family:times,times new roman,serif;font-size:large;">أَفَنَجْعَلُ الْمُسْلِمِينَ كَالْمُجْرِمِينَ مَا لَكُمْ كَيْفَ تَحْكُمُونَ</span></p>
<p><em>“Maka apakah patut Kami menjadikan orang-orang Islam itu sama dengan orang-orang yang berdosa (orang kafir). Mengapa kamu (berbuat demikian); bagaimanakah kamu mengambil keputusan?” (Qs. al-Qalam: 35 &#8211; 36)</em><br />
Sementara kalian (wahai para penganut sistem demokrasi) menyamakan antara orang muslim dan orang kafir?! Maka ini tidak mungkin untuk…(kalimat yang kurang jelas). Masalah ini (butuh) penjelasan yang panjang lebar.<br />
Akan tetapi (bersamaan dengan itu), sebagian dari para ulama zaman sekarang berpendapat bolehnya ikut serta dalam pemilihan umum dalam rangka untuk memperkecil kerusakan (dalam keadaan terpaksa). Meskipun mereka mengatakan bahwa (hukum) asal (ikut dalam pemilihan umum) adalah tidak boleh (haram). Mereka mengatakan: Kalau seandainya semua orang diharuskan ikut serta dalam pemilu, maka apakah anda ikut memilih atau tidak? Mereka berkata: anda ikut memilih dan pilihlah orang yang paling sedikit keburukannya di antara mereka (para kandidat yang ada). Karena umumnya mereka yang akan dipilih adalah orang-orang yang memasukkkan (mencalonkan) diri mereka dalam pemilihan tersebut. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda kepada Abdurrahman bin Samurah radhiallahu ‘anhu:<br />
“Janganlah engkau (berambisi) mencari kepemimpinan, karena sesungguhnya hal itu adalah kehinaan dan penyesalan pada hari kiamat nanti.” (Gabungan dua hadits shahih riwayat imam al-Bukhari (no. 6248) dan Muslim (no. 1652), dan riwayat Muslim (no. 1825))<br />
Maka orang yang terpilih dalam pemilu adalah orang yang (berambisi) mencari kepemimpinan, padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang (berambisi) mencari kepemimpinan maka dia akan diserahkan kepada dirinya sendiri (tidak ditolong oleh Allah dalam menjalankan kepemimpinannya).” (HR. at-Tirmidzi, Ibnu Majah dan lain-lain, dinyatakan lemah oleh syaikh al-Albani dalam “adh-Dha’iifah” (no. 1154). Lafazh hadits yang shahih Riwayat al-Bukhari dan Muslim: “Jika engkau menjadi pemimpin karena (berambisi) mencarinya maka engkau akan diserahkan kepadanya (tidak akan ditolong oleh Allah).”<br />
Allah akan meninggalkannya (tidak menolongnya), dan barangsiapa yang diserahkan kepada dirinya sendiri maka berarti dia telah diserahkan kepada kelemahan, ketidakmampuan dan kesia-siaan, sebagaimana yang dinyatakan oleh salah seorang ulama salaf – semoga Allah meridhai mereka–.<br />
<em> ‘Ala kulli hal</em>, mereka berpendapat seperti ini dalam rangka menghindari atau memperkecil kerusakan (yang lebih besar). Ini kalau keadaannya memaksa kita terjeremus ke dalam dua keburukan (jika kita tidak memilih). Adapun jika ada dua orang calon (pemimpin yang baik), maka kita memilih yang paling berhak di antara keduanya.<br />
Akan tetapi jika seseorang tidak mengatahui siapa yang lebih baik (agamanya) di antara para kandidat yang ada, maka bagaimana mungkin kita mewajibkan dia untuk memilih, padahal dia sendiri mengatakan: aku tidak mengetahui siapa yang paling baik (agamanya) di antara mereka. Karena Allah Ta’ala berfirman:</p>
<p align="right"><span style="font-family:times,times new roman,serif;font-size:large;">وَلا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْؤُولاً</span></p>
<p><em>“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggunganjawabnya.” (Qs. al-Israa’: 36</em>)<br />
Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang menipu/mengkhianati kami maka dia bukan termasuk golongan kami.” (HSR Muslim (no. 101)). Jika anda memilih orang yang anda tidak ketahui keadaannya maka ini adalah penipuan/pengkhianatan.<br />
Demikian pula, jika ada seorang yang tidak merasa puas dengan kondisi pemilu (tidak memandang bolehnya ikut serta dalam pemilu) secara mutlak, baik dalam keadaan terpaksa maupun tidak, maka bagaimana mungkin kita mewajibkan dia melakukan sesuatu yang tidak diwajibkan oleh Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam?!<br />
Maka ‘ala kulli hal, kita meyakini bahwa Allah Ta’ala Dialah yang memilih untuk umat ini pemimpin-pemimpin mereka. Kalau umat ini baik maka Allah akan memilih untuk mereka pemimpin-pemimpin yang baik pula, (sabaliknya) kalau mereka buruk maka Allah akan memilih untuk mereka pemimpin-pemimpin yang buruk pula. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala:</p>
<p align="right"><span style="font-family:times,times new roman,serif;font-size:large;">وَكَذَلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضاً بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ</span></p>
<p>“<em>Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang yang zhalim itu menjadi pemimpin bagi sebagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan.” (Qs. al-An’aam: 129)</em><br />
Maka orang yang zhalim akan menjadi pemimpin bagi masyarakat yang zhalim, demikianlah keadaannya.<br />
Kalau demikian, upayakanlah untuk menghilangkan kezhaliman dari umat ini, dengan mendidik mereka mengamalkan ajaran Islam (yang benar), agar Allah memberikan untuk kalian pemimpin yang kalian idam-idamkan, yaitu seorang pemimpin yang shaleh. Karena Allah Ta’ala berfirman:</p>
<p align="right"><span style="font-family:times,times new roman,serif;font-size:large;">إِنَّ اللَّهَ لا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِم</span></p>
<p>ْ<br />
<em>“Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” </em>(Dalam ayat ini) Allah tidak mengatakan “…sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada pemimpin-pemimpin mereka”, akan tetapi (yang Allah katakan): “…sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”<br />
Aku telah menulis sebuah kitab tentang masalah ini, yang sebenarnya kitab ini khusus untuk para juru dakwah, yang mengajak (manusia) ke jalan Allah Ta’ala, yang aku beri judul “Kamaa takuunuu yuwallaa ‘alaikum” (sebagaimana keadaanmu maka begitupulalah keadaan orang yang menjadi pemimpinmu). Aku jelaskan dalam kitab ini bahwa watak para penguasa selalu berasal dari watak masyarakatnya, maka jika masyarakatnya (berwatak) baik penguasanya pun akan (berwatak) baik, dan sebaliknya.<br />
Maka orang-orang yang menyangka bahwa (yang terpenting dalam) masalah ini adalah bersegera untuk merebut kekuasaan, sungguh mereka telah melakukan kesalahan yang fatal dalam hal ini, dan mereka tidak mungkin mencapai hasil apapun (dengan cara-cara seperti ini). Allah Ta’ala ketika melihat kerusakan pada Bani Israil disebabkan (perbuatan) Fir’aun, maka Allah membinasakan Fir’aun dan memberikan kepada Bani Israil apa yang mereka inginkan, dengan Allah menjadikan Nabi Musa ‘alaihissalam sebagai pemimpin mereka. (Akan tetapi) bersamaan dengan itu, kondisi (akhlak dan perbuatan) mereka tidak menjadi baik, sebagaimana yang Allah kisahkan dalam al-Qur’an. Mereka tidak menjadi baik meskipun pemimpin mereka adalah kaliimullah (orang yang langsung berbicara dengan Allah Ta’ala), yaitu Nabi Musa ‘alaihissalam, sebagaimana yang sudah kita ketahui. Bahkan sewaktu Allah berfirman (menghukum) sebagian dari Bani Israil:</p>
<p align="right"><span style="font-family:times,times new roman,serif;font-size:large;">كُونُوا قِرَدَةً خَاسِئِين</span></p>
<p>َ<br />
<em>“Jadilah kamu kera yang hina.” (Qs. al-Baqarah: 65)</em><br />
Kejadian ini bukanlah di zaman kekuasaan Fir’aun. Akan tetapi hukuman Allah ini (menimpa) sebagian mereka (karena mereka melanggar perintah Allah) ketika mereka di bawah kepemimpinan Nabi Musa ‘alaihissalam dan para Nabi Bani Israil ‘alaihimussalam sepeninggal Nabi Musa ‘alaihissalam, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sesungguhnya Bani Israil selalu dipimpin oleh para Nabi ‘alaihimussalam, setiap seorang Nabi wafat maka akan digantikan oleh Nabi berikutnya.” (HSR al-Bukhari dan Muslim)<br />
Dan hanya Allah-lah yang mampu memberikan taufik (kepada manusia).</p>
<p align="right"><span style="font-family:times,times new roman,serif;font-size:large;">وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين</span></p>
<p>Madinah Nabawiyyah, 15 Rabi’ul awal 1430 H / 11 Maret 2009 M<br />
***</p>
<p>sumber :http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/tentang-pemilu/</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/diqra.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/diqra.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/diqra.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/diqra.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/diqra.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/diqra.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/diqra.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/diqra.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/diqra.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/diqra.wordpress.com/86/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diqra.wordpress.com&blog=1576400&post=86&subd=diqra&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://diqra.wordpress.com/2009/05/14/hukum-pemilu-dan-bagaimana-menyikapinya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/77c221cbba22cc944a67dda6f6918cd0?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Diqra al Garuti</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bagaimana Bertumpunya Tangan Ketika Bangkit Sholat?</title>
		<link>http://diqra.wordpress.com/2009/05/08/bagaimana-bertumpunya-tangan-ketika-bangkit-sholat/</link>
		<comments>http://diqra.wordpress.com/2009/05/08/bagaimana-bertumpunya-tangan-ketika-bangkit-sholat/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 08 May 2009 02:18:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Diqra al Garuti</dc:creator>
				<category><![CDATA[fiqh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://diqra.wordpress.com/?p=82</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan :
Assalamu’alaikum ust,ana ingin tanya tentang menggerak-gerakkan jari telunjuk saat tahiyyat, kapan berhentinya gerakan jari kita itu yakni saat salam pertama atau kedua,mohon dalilnya juga ya ustadz.Kemudian tentang bertumpunya tangan ke lantai saat berdiri perpindahan rokaat yang lebih kuat apakah dengan menggenggam atau dengan melebarkan telapak tangan?ana sdh membaca di kitab sifat sholat nabi karya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diqra.wordpress.com&blog=1576400&post=82&subd=diqra&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong>Pertanyaan :</strong></p>
<p>Assalamu’alaikum ust,ana ingin tanya tentang menggerak-gerakkan jari telunjuk saat tahiyyat, kapan berhentinya gerakan jari kita itu yakni saat salam pertama atau kedua,mohon dalilnya juga ya ustadz.Kemudian tentang bertumpunya tangan ke lantai saat berdiri perpindahan rokaat yang lebih kuat apakah dengan menggenggam atau dengan melebarkan telapak tangan?ana sdh membaca di kitab sifat sholat nabi karya Syeikh Al.Bani namun ana masih belum jelas.Jazakumulloh khoiron katsiro. (Sugimin | Batam | Pria | Swasta)</p>
<p><span id="more-82"></span></p>
<p><strong>Jawaban :</strong></p>
<p>Wa’alaikumus salam warohmatullahi wabarokatuh</p>
<p>Pertanyaan pertama tentang berhentinya gerakan jari telunjuk, kami tidak mendapatkan dalil khusus tentangnya. Kami hanya mendapati penjelasan al-Muhaddits al-Albani <em>rahimahullahu</em> di dalam buku <em>Shifatu Sholâtin Nabî</em> dalam bab <em>Tahrikul Ishba’ fît Tasyahhudi</em> ketika memberikan catatan kaki terhadap hadits : “Terkadang beliau <em>Shallallahu ‘alaihi wa Sallam</em> membentuk ibu jari dan jari tengahnya bentuk lingkaran, dan Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi wa Sallam</em> mengangkat jari (telunjuk)nya dan menggerak-gerakkannya sambil berdo’a.”</p>
<p>Syaikh al-Albani <em>rahimahullâh</em> mengomentari : “Di dalam hadits ini terdapat dalil yang menunjukkan sunnahnya terus menggerak-gerakkan jari ketika berisyarat dengan telunjuk hingga mengucapkan salam, karena sebelum salam terdapat doa. ini adalah pendapat Malik dan lainnya.”</p>
<p>Penjelasan Syaikh al-Albani <em>rahimahullâhu</em> di atas, menunjukkan bahwa menggerak-gerakkan jari telunjuk adalah sampai salam. Sejauh pengetahuan kami, salam yang dimaksud adalah salam pertama, sebab ada riwayat yang menjelaskan bahwa Rasulullâh <em>Shallallahu ‘alaihi wa Sallam</em> hanya melakukan satu kali salam sembari mengucapkan “Assalamu’alaykum”. Wallôhu a’lam.</p>
<p>Adapun pertanyaan kedua, mengenai bangkit dari duduk istirahat pada perpindahan rakaat, maka para ulama berbeda pendapat. Hanafiyah dan Hanabilah berpendapat bahwa yang <em>afdhal</em> adalah, bertumpu pada kedua lututnya bukan kedua tangannya kecuali apabila dalam keadaan <em>masyaqqoh</em> (berat/sulit), sedangkan Malikiyah dan Syafi’iyah berpendapat bahwa yang <em>afdhal</em> adalah bertumpu pada kedua telapak tangan tanpa menggenggam. Para ulama fikih dan hadits juga berbeda pendapat tentang hadits <em>‘ajn</em> (mengepal) ketika bangkit dari sujud. Hadits yang dimaksud adalah :</p>
<p dir="rtl">عن الأزرق بن قيس – رحمه الله – قال : رأيت عبد الله بن عمر وهو يَعْجِنُ في الصلاة ؛ يعتمد على يديه إذا قام فقلت : ما هذا يا أبا عبد الرحمن ؟ قال : ( رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم يعجن في الصلاة يعني : يعتمد</p>
<p>“Dari al-Azraq bin Qoys <em>rahimahullâhu</em> beliau berkata : Aku melihat ‘Abdullah bin ‘Umar sedang mengepal ketika sholat, beliau bertumpu pada kedua tangannya ketika berdiri. Saya bertanya kepada beliau, “apa yang anda lakukan ini wahai Abu ‘Abdirrahman?”. Maka beliau menjawab, “Aku melihat Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa Sallam</em> mengepal (ketika bangkit) di dalam sholatnya, yaitu bertumpu (pada kedua tangannya).”</p>
<p>Hadits di atas dishahihkan oleh al-Muhaddits al-Albani <em>rahimahullâhu</em> dalam <em>Silsilah ash-Shahîhah</em> hadits no 2674. Sebagian ulama mendhaifkan hadits di atas, diantaranya adalah Syaikh Bakr Abu Zaid <em>rahimahullâhu</em> dalam buku beliau <em>Lâ Jadîd fî Hukmi ash-Sholâh</em>. Syaikh al-Albani <em>rahimahullâhu</em> lebih merajihkan pendapat mengepal (<em>‘ajn</em>) ketika bangkit berdiri dari sujud dan duduk istirahat. Syaikh al-Albani juga telah membantah mereka yang mendhaifkan hadits <em>‘ajn</em> ini di dalam kitab <em>Tamâmul Minnah </em>(196-207) dan Syaikh ‘Ali Hasan al-Halabi juga juga menyinggung masalah ini di dalam buku terbaru beliau <em>Su`âlât ‘Alî bin Hasan li Syaikhihi al-Imâm al-Allâmah a-Muhaddits al-Faqîh asy-Syaikh Muhammad Nâshiruddîn al-Albân</em><em>î</em> Jilid II hal 258-260.</p>
<p>Sekali lagi, ini termasuk masalah <em>khilafiyah ilmiyah</em> yang <em>mu’tabar</em>. Sehingga tidak boleh ada perselisihan dan permusuhan dalam masalah ini. Yang boleh kita lakukan adalah, belajar, menelaah dan membahas permasalahan ini secara ilmiah, dan mendiskusikannya dengan cara yang baik. Wallohu a’lam bish showab</p>
<p>sumber : http://konsultasi.stai-ali.ac.id/?p=103</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/diqra.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/diqra.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/diqra.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/diqra.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/diqra.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/diqra.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/diqra.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/diqra.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/diqra.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/diqra.wordpress.com/82/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diqra.wordpress.com&blog=1576400&post=82&subd=diqra&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://diqra.wordpress.com/2009/05/08/bagaimana-bertumpunya-tangan-ketika-bangkit-sholat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/77c221cbba22cc944a67dda6f6918cd0?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Diqra al Garuti</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Apakah Paha Adalah Aurat?</title>
		<link>http://diqra.wordpress.com/2009/05/08/apakah-paha-adalah-aurat/</link>
		<comments>http://diqra.wordpress.com/2009/05/08/apakah-paha-adalah-aurat/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 08 May 2009 02:14:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Diqra al Garuti</dc:creator>
				<category><![CDATA[fiqh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://diqra.wordpress.com/?p=80</guid>
		<description><![CDATA[by Abu Muawiah

Apakah Paha Adalah Aurat?
Aisyah -radhiallahu anha- berkata, ”Rasulullah r pernah bersandar di rumahnya dalam keadaan kedua pahanya tersingkap. Lalu Abu Bakar meminta izin untuk masuk dan beliau mengizinkannya dalam keadaan beliau tetap pada keadaan seperti itu. Kemudian Umar meminta izin untuk masuk dan beliau mengizinkannya dalam keadaan beliau tetap pada keadaan seperti itu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diqra.wordpress.com&blog=1576400&post=80&subd=diqra&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>by Abu Muawiah</p>
<div class="entry">
<p style="text-align:center;"><strong>Apakah Paha Adalah Aurat?</strong></p>
<p>Aisyah -radhiallahu anha- berkata, <em>”Rasulullah r pernah bersandar di rumahnya dalam keadaan kedua pahanya tersingkap. Lalu Abu Bakar meminta izin untuk masuk dan beliau mengizinkannya dalam keadaan beliau tetap pada keadaan seperti itu. Kemudian Umar meminta izin untuk masuk dan beliau mengizinkannya dalam keadaan beliau tetap pada keadaan seperti itu lalu beliau berbincang-bincang dengannya. Kemudian Utsman meminta izin untuk masuk, maka Nabi r langsung duduk dan merapikan pakaian beliau, lalu dia masuk dan berbincang-bincang dengan beliau.” Setelah Utsman keluar, Aisyah berkata kepadanya, ”Abu Bakar masuk menemuimu akan tetapi engkau tidak duduk, kemudian Utsman masuk menemuimu tapi engkau langsung duduk dan merapikan pakaianmu?” maka beliau bersabda, ”Tidakkah saya merasa malu kepada orang yang para malaikat malu kepadanya?”<br />
</em><span id="more-80"></span><br />
Ini adalah hadits yang shahih. Diriwayatkan oleh Ath-Thahawi dalam Musykil Al-Atsar (2/283) dia berkata: Yusuf bin Yazid menceritakan kepada kami (dia berkata): Hajjaj bin Ibrahim menceritakan kepada kami (dia berkata): Ismail bin Ja’far menceritakan kepada kami dari Muhammad bin Harmalah dari Atha` bin Yasar, Sulaiman bin Yasar dan Abu Salamah bin Abdirrahman darinya.<br />
Ini adalah sanad yang shahih, semua perawinya adalah tsiqah lagi mulia.<br />
Hadits di atas jelas menunjukkan bahwa paha bukanlah termasuk aurat yang haram dinampakkan, karena Nabi r dalam keadaan sengaja menyingkapnya di hadapan orang-orang. Seandainya dia adalah aurat yang haram dinampakkan niscaya beliau tidak akan menyingkapnya.</p>
<p>Hadits ini juga diriwayatkan oleh Muslim dalam kitabnya Ash-Shahih (7/116-117), Al-Baihaqi (2/230-231) dan juga Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad (88) dari beberapa jalan dari Ismail bin Ja’far dan seterusnya dengan lafazh yang semakna, dan di dalamnya disebutkan,<em> ”Dalam keadaan beliau menyingkap paha atau kedua betisnya,” </em>demikian disebutkan dengan bentuk ragu-ragu.<br />
Yang benar menurut saya adalah riwayat Ath-Thahawi yang tidak ada bentuk keraguan di dalamnya. Hal ini dengan beberapa alasan:<br />
Pertama: Keragu-raguan bukanlah ilmu, maka dia tidak bisa dipertentangkan dengan apa yang dipastikan oleh rawi yang tsiqah.<br />
Kedua dan ketiga: Hadits ini mempunyai jalan lain dan beberapa pendukung dari riwayat Ath-Thahawi:<br />
Adapun jalan lain, maka Ahmad berkata (6/62): Marwan menceritakan kepada kami dia berkata: Ubaidullah bin Sayyar mengabarkan kepada kami dia berkata: Saya mendengar Aisyah bintu Thalhah bercerita dari Aisyah Ummul Mukminin (dia berkata), <em>”Sesungguhnya Rasulullah r pernah duduk-duduk dalam keadaan menyingkap kedua paha beliau, lalu Abu Bakar meminta izin masuk dan beliau mengizinkannya …,” </em>sampai akhir hadits dengan lafazh yang semakna dengannya.<br />
Ini adalah sanad yang semua perawinya tsiqah dan perawi Imam Enam kecuali Ubaidullah bin Sayyar. Al-Husaini berkata, ”Majhul,” sebagaimana dalam At-Ta’jil.</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Adapun pendukungnya, maka ada tiga hadits:</span><br />
<strong>Pertama: </strong>Dari Hafshah bintu Umar t dia berkata,<em> ”Suatu hari Rasulullah r duduk-duduk dalam keadaan menjepitkan kain bajunya di antara kedua pahanya. Lalu Abu Bakar datang dan meminta izin masuk lalu beliau mengizinkannya …,” </em>sampai akhir hadits.<br />
Diriwayatkan oleh Ahmad (6/288), Ath-Thahawi dalam Syarh Al-Ma’ani (1/273-274) dan Al-Musykil (2/293) dan Al-Baihaqi (2/231) dari jalan Ibnu Juraij dia berkata: Abu Khalid mengabarkan kepadaku dari Abdullah bin Abi Said Al-Madini dia berkata: Hafshah menceritakan kepadaku.<br />
Kemudian Ahmad dan Al-Baihaqi meriwayatkannya dari jalan Syaiban dari Abu Al-Ya’fur dari Abdullah bin Abi Said Al-Muzani dan seterusnya.<br />
Al-Bukhari juga meriwayatkannya dalam At-Tarikh dari kedua jalan di atas dari Abdullah ini.<br />
Semua perawinya tsiqah kecuali Abdullah bin Abi Said. Al-Husaini berkata, ”Tidak diketahui siapa dia.” Al-Hafizh berkata dalam At-Ta’jil -setelah menyebutkan hadits ini dengan kedua jalan di atas darinya-, ”Dari sini bisa disempulkan bahwa ada dua rawi yang meriwayatkan dari Abdullah bin Abi Said, dia bukanlah rawi yang dikritik dan juga tidak membawakan matan (redaksi hadits, pent.) yang mungkar, maka dia berada di atas kaidah rawi-rawi yang tsiqah menurut Ibnu Hibban, akan tetapi saya tidak menemukan namanya tersebut dalam manuskrip yang ada di tanganku,” maksudnya: Manuskrip kitab Ats-Tsiqat karya Ibnu Hibban.<br />
Kesimpulannya: Ini adalah sanad yang tidak mengapa dijadikan sebagai pendukung. Al-Hafizh tidak mengomentarinya dalam Al-Fath, tatkala dia berkata -setelah membawakan hadits Aisyah ini dari riwayat Muslim-, ”Hadits ini dalam riwayat Ahmad dengan lafazh, <em>”Dalam keadaan menyingkap kedua paha beliau,” </em>tanpa ada lafazh ragu-ragu. Ahmad juga meriwayatkan hadits yang semisalnya dari Hafshah, dan diriwayatkan pula oleh Ath-Thahawi dan Al-Baihaqi.”<br />
Gurunya (Al-Hafizh) -yang bernama Al-Haitsami- berkata dalam Al-Majma’ (9/82), ”Diriwayatkan oleh Ahmad, Ath-Thabarani dalam Al-Kabir dan Al-Ausath serta Abu Ya’la dengan lafazh yang sangat ringkas, dan sanadnya hasan.”<br />
<strong>Kedua: </strong>Dari Anas bin Malik t dia berkata, <em>”Rasulullah r pernah memasuki salah satu kebun dari kebun-kebun milik Al-Anshar dan ternyata di dalamnya ada sebuah sumur, maka beliau duduk di tepinya sambil menjulurkan kedua kaki beliau dalam keadaan sebagian paha beliau tersingkap, dan beliau memerintahkan saya agar duduk di pintu kebun. Tidak lama berselang, Abu Bakar datang, lalu saya memberitahu beliau maka beliau bersabda, ”Izinkan dia masuk dan beri kabar gembira berupa surga untuknya …,” </em>sampai akhir hadits dengan lafazh yang semakna.<br />
Diriwayatkan oleh Ath-Thahawi dalam Al-Musykil (2/284) dia berkata: Fahd bin Sulaiman menceritakan kepada kami (dia berkata): Ahmad bin Abdillah bin Yunus menceritakan kepada kami (dia berkata): Abu Muawiah menceritakan kepada kami (dia berkata): Amr bin Muslim, pemilik Al-Maqshurah menceritakan kepadaku dari Anas. Di akhirnya dia mengatakan, <em>”Tatkala Nabi r melihatnya (Utsman) maka beliau segera menutup pahanya. Mereka bertanya, ”Kenapa wahai Rasulullah! Engkau menutup pahamu ketika Utsman datang?” maka beliau menjawab, ”Sesungguhnya saya betul-betul malu kepada orang yang para malaikat malu kepadanya.”</em><br />
Ini adalah sanad yang semua perawinya tsiqah kecuali Amr bin Muslim ini, Al-Hafizh menyebutkannya dalam Tahdzib At-Tahdzib bahwa yang meriwayatkan darinya adalah Abu Muawiah Adh-Dharir dan Abu Alqamah Al-Farawi, kemudian beliau tidak membawakan adanya kritikan dan pujian padanya.<br />
<strong>Ketiga: </strong>Dari Abu Said Al-Khudri dia berkata, <em>”Rasulullah r berdiri di aswaq dan Bilal ada bersama beliau. Lalu beliau menjulurkan kedua kakinya ke dalam sumur dan menyingkap kedua pahanya. Maka Abu Bakar datang meminta izin lalu beliau bersabda, ”Wahai Bilal, izinkan dia masuk dan berikan kabar gembira berupa surga kepadanya …,” </em>sampai akhir hadits dengan lafazh yang semakna. Di dalamnya disebutkan bahwa Abu Bakar, Umar dan Utsman, setiap dari mereka juga menjulurkan kedua kakinya ke dalam sumur dan menyingkap kedua pahanya.<br />
Diriwayatkan oleh Ath-Thabarani dalam Al-Ausath, dan semua perawinya telah ditsiqahkan sebagaimana di sebutkan dalam Al-Majma’ (2/53). Dia (Al-Haitsami) berkata dalam kitab yang sama pada tempat lainnya (9/57), ”Semua perawinya adalah perawi Ash-Shahih kecuali guru Ath-Thabarani yang bernama Ali bin Said, di adalah rawi yang hasan haditsnya.”<br />
Hadits ini mempunyai pendukung yang keempat dari hadits Ibnu Abbas. Diriwayatkan oleh Ath-Thabarani dan Al-Bazzar, akan tetapi di dalam sanad keduanya ada rawi yang bernama An-Nadhr Abu Umar, dan dia adalah matrukul hadits (ditinggalkan haditsnya) sebagaimana yang Al-Haitsami katakan (9/82).<br />
<strong>Keempat: </strong>Dari Anas dia berkata, <em>”Sesungguhnya Rasulullah r berperang di Khaibar, maka kami mengerjakan shalat subuh di situ ketika masih gelap. Lalu Nabiyullah r menaiki tunggangannya sementara saya dibonceng oleh Abu Thalhah. Maka Nabiyullah r berjalan di lorong-lorong Khaibar dan kedua lututku betul-betul menyentuh paha Nabiyullah r. Kemudian beliau menyingkap sarung ke atas pahanya sampai saya betul-betul melihat putihnya paha Nabiyullah r …,” </em>sampai akhir hadits,<br />
Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari (1/381) -dan Ibnu Hazm darinya (3/210-211)-, Muslim (5/185) (4/145), Al-Baihaqi (2/229-230) dan Ahmad (3/101-102) dari Ismail bin Ulayyah dia berkata: Abdul Aziz bin Shuhaib menceritakan kepada kami darinya. Dan ini adalah lafazh Al-Bukhari.<br />
Yang lainnya mengatakan, ”Tersingkap,” sebagai pengganti dari, ”Beliau menyingkap.”</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Pendapat para ulama dalam masalah ini:</span><br />
Dalam permasalahan ini, yang berpendapat bahwa aurat itu hanya kedua kemaluan adalah Azh-Zhahiriah, ini adalah salah satu riwayat dari Ahmad dan Malik -sebagaimana disebutkan dalam Al-Fath dari An-Nawawi- dan dia (An-Nawawi) menyebutkan pendapat ini dalam Syarh Muslim dari para pengikut Malik. Ini adalah pendapat Abu Said Al-Ishthakhri dari Asy-Syafi’iyah dan yang dipilih oleh As-Suyuthi. Ibnu Hazm berkata (3/216), ”Ini adalah pendapat Ibnu Abi Dzi’b, Sufyan Ats-Tsauri dan Abu Sulaiman, dan inilah yang kami pegang.” Dia juga berkata, ”Ini adalah pendapat mayoritas ulama salaf.”<br />
Kemudian dia meriwayatkan dari Jubair bin Al-Huwairits dia berkata, <em>”Saya melihat Abu Bakar Ash-Shiddiq tengah berdiri di tempat yang tinggi seraya berkata, ”Wahai sekalian manusia, ??? kalian karena sungguh saya pernah melihat paha beliau dalam keadaan tersingkap.”</em><br />
Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Musa bin Anas bin Malik. Lalu dia (Al-Bukhari) menyebutkan kisah perang Yamamah. Lalu dia berkata, ”Anas menjenguk Tsabit bin Qais bin Al-Syammas yang ketika itu menyingkap kedua pahanya, dan dia diselimuti,” -maksudnya: Dengan kain kafan-.<br />
Atha` bin As-Saib berkata, ”Saya masuk menemui Abu Ja’far -dia adalah Muhammad bin Ali bin Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib- sementara dia sedang demam tinggi dan dia menyingkap kedua pahanya …,” lalu dia menyebutkan haditsnya.</p>
<p>Di antara argumen mereka adalah hadits Aisyah dan hadits Anas ini. Pendalilan dari hadits yang pertama sudah jelas, karena di dalamnya disebutkan bahwa Nabi -alaihissalam- sengaja menyingkap kedua pahanya. Adapun hadits Anas, maka sisi pendalilannya juga jelas dari riwayat Al-Bukhari, ”Kemudian beliau menyingkap sarungnya.” Karena diperoleh darinya keterangan bahwa beliau juga melakukan hal itu dengan sengaja. Hanya saja keluar dari pendalilan ini, riwayat yang lainnya, <em>”Dan sarung beliau tersingkap,” </em>karena lahiriahnya menunjukkan bahwa sarung beliau tersingkap dengan sendirinya. Akan tetapi Al-Hafizh berkata (2/382), ”Mungkin bisa berdalil dengannya bahwa paha bukan aurat dari sisi bahwa sarung beliau terus-menerus dalam keadaan seperti itu. Karena walaupun bisa saja terjadinya hal itu (sarung beliau tersingkap, pent.) tanpa kesengajaan, akan tetapi seandainya dia adalah aurat, niscaya tidak hal itu tidak akan berlangsung lama karena beliau r ma’shum dalam hal ini. Seandainya dianggap bahwa hal itu terjadi sebagai penjelasan syariat (akan tidak berdosanya menyingkap aurat, pent.) bagi orang yang tidak sengaja, maka itu mungkin bisa diterima, akan tetapi angapan ini tidak bisa diterima karena kalau memang demikian maka harus bagi beliau r untuk menjelaskan syariat tersebut setelah terjadinya hal itu, sebagaimana yang terjadi pada kisah lupanya beliau dalam shalat (akan tetapi tidak ada penjelasan dari beliau, pent.). Sementara konteks haditsnya dalam riwayat Abu Awanah dan Al-Jauzaqi dari jalan Abdul Warits dari Abdul Aziz, jelas menunjukkan bahwa hal itu berlangsung lama. Lafazhnya, <em>”Maka Rasulullah r berjalan di lorong-lorong Khaibar dan sungguh kedua lututku menyentuh paha Nabiyullah r, dan sungguh saya melihat putihnya kedua paha beliau.” Dia berkata, ”Lahiriah ucapan Anas ini menunjukkan bahwa persentuhan (lututnya dan paha Nabi, pent.) itu tanpa ada kain pembatas, sementara menyentuh aurat tanpa kain pembatas adalah tidak boleh. (1)”</em><br />
Ibnu Hazm berkata (3/211), ”Maka jelaslah bahwa paha bukanlah aurat, karena seandainya dia adalah aurat niscaya Allah -Azza wa Jalla- tidak akan menyingkapkannya dari Rasul-Nya r -yang disucikan lagi ma’shum di antara manusia ketika beliau mendapatkan nubuwah dan risalah- dan niscaya Dia juga tidak akan memperlihatkannya kepada Anas bin Malik dan tidak pula kepada selainnya. Allah Ta’ala telah menjaga beliau dari membuka aurat ketika masa ash-shaba (tidak beragama, pent.) dan sebelum diangkat menjadi Nabi.” Kemudian dia meriwayatkan -dari jalan Muslim- hadits Jabir terdahulu yang di dalamnya disebutkan, ”Maka semenjak itu beliau tidak pernah lagi terlihat dalam keadaan telanjang.”<br />
Abu Hanifah dan Asy-Syafi’i berpendapat bahwa paha adalah aurat. Mereka berdalil dengan hadits,<em> ”Paha adalah aurat,” </em>dan mereka menjawab hadits Aisyah dengan apa yang terdapat dalam riwayat Muslim berupa bentuk keragu-raguan tentang yang tersingkap itu paha ataukah betis. An-Nawawi berkata dalam Al-Majmu’, ”Di dalamnya (hadits Aisyah) tidak ada pendalilan bahwa paha bukanlah aurat, karena diragukan bagian kaki mana yang tersingkap.”<br />
Saya berkata: Kami telah menjelaskan bahwa semua riwayat lain dari kisah ini memastikan bahwa yang tersingkap itu adalah paha, maka wajib untuk mengarahkan riwayat Muslim kepadanya.<br />
Kemudian An-Nawawi berkata, ”Pengikut mazhab kami mengatakan: Seandainya pemastian tersingkapnya paha itu shahih, maka kami akan mentakwilnya bahwa yang dimaksud di situ adalah tersingkapnya sebagian dari pakaian beliau, bukan seluruhnya. Mereka mengatakan: Dan dia juga adalah qadhiah ain (kejadian tersendiri yang tidak bisa dikiaskan kepada selain beliau, pent.) maka pendalilannya tidak bersifat umum dan tidak ada hujjah padanya.”<br />
Saya berkata: Yang menjadi hujjah dalam kisah ini adalah tatkala amalan ini terjadi pada diri Nabi kita r, yang menjadi panutan dan suri tauladan kita pada segala sesuatu kecuali yang diperkecualikan oleh dalil. Berdasarkan firman Allah Ta’ala, <em>”Sungguh telah ada bagi kalian suri tauladan yang baik pada diri Rasulullah.”</em> (QS. Al-Ahzab: 21) Dan semua dalil yang mengkhususkannya untuk Nabi tidaklah shahih, sebagaimana yang akan datang. Maka tetaplah dalil yang mengharuskan untuk mencontoh beliau r pada kejadian ini, bersifat umum dan mencakup seluruh umat beliau, dan dengan ini tercapailah apa yang dimaksudkan.<br />
Adapun mentakwilnya bahwa beliau hanya membuka sebagian pakaiannya, maka sama sekali tidak memberikan manfaat apa-apa. Karena pada takwil ini terkandung penerimaan bahwa beliau menyingkap sebagian pahanya, dan kalau dia memang aurat maka bagaimana bisa beliau menyingkap sebagiannya. Kalau yang An-Nawawi maksudkan dengan ucapannya itu bahwa boleh membuka hanya sebagian aurat saja, maka dia telah menyelisihi mazhabnya tatkala dia berkata (3/166), ”Kalau ada sedikit bagian aurat orang yang sedang shalat tersingkap maka shalatnya tidak syah, baik yang tersingkap itu banyak maupun sedikit, walaupun yang tersingkap itu sedikit sekali. Dan dalam hal ini sama antara lelaki dan wanita …,” sampai akhir ucapannya.<br />
Mereka menjawab hadits Anas bahwa sarung itu tersingkap dengan sendirinya dari paha beliau -alaihissalam- tanpa beliau sengaja, sebagaimana yang ditunjukkan oleh riwayat Muslim, ”Tersingkap.” Akan tetapi hadits ini -dari sisi yang lain- menunjukkan bolehnya menyingkap paha, yaitu terus-menerusnya beliau r membiarkan pahanya tersingkap, sebagaimana yang telah berlalu keterangan dari Al-Hafizh. Demikian pula ucapan Anas,<em> ”Sungguh saya melihat putihnya kedua paha beliau,” </em>ini menunjukkan bahwa di sisi mereka (para sahabat), bukanlah suatu yang haram seseorang memandang paha orang lain, kalau tidak maka tentunya Anas t tidak akan melihatnya. Kalau keadaannya seperti ini maka hadits ini menunjukkan bahwa dia (paha) bukanlah aurat, dan inilah yang ingin disampaikan.<br />
Maka jelaslah dengan penjelasan kami bahwa semua kritikan mereka pada kedua hadits ini -ketika ditelaah- tidak mengenai sasarannya.</p>
<p>Itupun ada beberapa hadits lain yang semakna dengan kedua hadits ini akan tetapi kejelasan pendalilannya terhadap apa yang diinginkan (bahwa paha bukan aurat, pent.) di bawah dari pendalilan keduanya. Di antaranya adalah hadits Abu Al-Aliyah Al-Barra` dia berkata: Abdullah bin Ash-Shamit menepuk pahaku seraya berkata: Saya bertanya kepada Abu Dzar, maka dia menepuk pahaku sebagaimana saya menepuk pahamu, dia berkata: Saya bertanya kepada Rasulullah r sebagaimana kamu bertanya kepada saya, lalu beliau menepuk pahaku sebagaimana saya menepuk pahamu dan beliau bersabda,<em> ”Kerjakanlah shalat pada waktunya. Kalau kamu mendapati shalat bersama mereka maka shalatlah dan jangan kamu mengatakan: Saya tadi sudah shalat makanya saya tidak shalat lagi.”</em><br />
Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad (hal. 139) dan Muslim (2/121) -dan Ibnu Hazm (3/212) darinya- dan dia (Ibnu Hazm) berkata, ”Seandainya paha itu aurat niscaya Rasulullah r sama sekali tidak akan menyentuh paha Abu Dzar dengan tangannya yang suci. Seandainya paha adalah aurat menurut Abu Dzar, niscaya dia tidak akan menepukkan tangannya padanya. Demikian pula Abdullah bin Ash-Shamit dan juga Abu Al-Aliyah. Dan tidak akan ada seorang muslim pun yang akan menghalalkan dirinya menepukkan tangannya ke kemaluan orang lain walaupun ditutupi pakaian, dan tidak pula pada lingkaran dubur orang lain walaupun ditutupi pakaian, dan tidak pula di pada tubuh wanita yang bukan mahramnya walaupun dia memakai pakaian. Sungguh Rasulullah r melarang al-qud minal kis’ah, yaitu memukul kedua buah dzakar dengan telapak kaki dari luar celana, dan beliau bersabda, <em>”Tinggalkanlah perbuatan itu karena itu perbuatan yang busuk.”</em><br />
Di antaranya adalah hadits Zaid bin Tsabit bahwa Rasulullah r membacakan padanya, <em>”Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak ikut berperang) dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah.” </em>(QS. An-Nisa`: 95) Zaid berkata, ”Maka Ibnu Ummi Maktum mendatangi beliau sementara beliau membacakan ayat ini kepadaku. Maka dia berkata, <em>”Wahai Rasulullah, seandainya saya sanggup untuk berjihad niscaya saya pasti akan berjihad -dan dia adalah seorang lelaki buta-. Maka Allah -Tabaraka wa Ta’ala- menurunkan wahyu kepada Rasul-Nya r sedang paha beliau berada di atas pahaku. Maka saya merasa kesakitan sampai saya khawatir pahaku akan patah. Kemudian beliau bangun dan Allah -Azza wa Jalla- telah menurunkan, ” Yang tidak mempunyai ‘uzur.”</em><br />
Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (6/34-35) (8/208-209), An-Nasai (2/54), At-Tirmizi (2/171-172 -cet. Bulaq) -dan dia berkata, ”Hasan shahih,”- dan Ahmad (5/184) dari Saleh bin Kaisan dari Ibnu Syihab dia berkata: Sahl bin Sa’ad menceritakan kepadaku dari Marwan bin Al-Hakam darinya.<br />
Demikian pula diriwayatkan oleh Ath-Thahawi dalam Al-Musykil (2/216) dari Saleh.<br />
Dia didukung oleh Abdurrahman bin Ishaq dalam periwayatannya dari Ibnu Syihab. Ini diriwayatkan oleh An-Nasai dan Ath-Thabari, sebagaimana dalam Al-Fath.<br />
Mereka berdua diselisihi oleh Ma’mar dia berkata: Dari Az-Zuhri dari Qabishah bin Dzuaib dari Yazid bin Tsabit. Ini diriwayatkan oleh Ahmad (5/184).<br />
Mungkin untuk hadits ini, Az-Zuhri mempunyai dua sanad, wallahu a’lam.<br />
Hadits ini mempunyai jalan lain darinya. Diriwayatkan oleh Abu Daud (1/392), Ath-Thahawi (2/217), Al-Hakim (2/81) -dia menshahihkannya dan Adz-Dzahabi menyetujuinya- dan Ahmad (5/190, 191) dari Abdurrahman bin Abi Az-Zinad dari ayahnya dari Kharijah bin Zaid dari Zaid bin Tsabit.<br />
Al-Bukhari meriwayatkan hadits ini secara muallaq pada ’Bab Keterangan Tentang Paha’, sebagaimana dia juga meriwayatkan hadits Anas -yang telah disebutkan- secara muallaq. Dengan itu beliau mengisyaratkan bahwa paha bukanlah aurat. Karenanya Asy-Syaikh Muhammad Anwar Al-Kasymiri berkata dalam Faidhul Bari (2/15), ”Yang nampak dari amalan penulis t adalah bahwa beliau condong kepada mazhab Malik t dan mengarahkan mazhab Al-Hanafiah kepada perbuatan kehati-hatian.”</p>
<p>_________________________<br />
(1) Karenanya As-Suyuthi berkata dalam hasyiahnya terhadap Sunan An-Nasai (2/92) -mengomentari ucapan Anas-, “Ini adalah dalil bagi yang berpendapat bahwa paha bukanlah aurat, dan inilah pendapat yang terpilih.”</p>
<p>[Dikutip dari kitab Ats-Tsamar Al-Mustathab jilid 1 karya Asy-Syaikh Al-Albani -rahimahullah- dengan sedikit perubahan]</p>
<p>sumber :http://al-atsariyyah.com/?p=669</p></div>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/diqra.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/diqra.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/diqra.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/diqra.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/diqra.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/diqra.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/diqra.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/diqra.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/diqra.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/diqra.wordpress.com/80/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diqra.wordpress.com&blog=1576400&post=80&subd=diqra&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://diqra.wordpress.com/2009/05/08/apakah-paha-adalah-aurat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/77c221cbba22cc944a67dda6f6918cd0?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Diqra al Garuti</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>