Salafy Garut

Ilmu-Amal-Dakwah-Sabar

MANHAJ AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH TERHADAP PENGUASA

Assalamu’alaikum warohmatullohi wa barokatuh.

Risalah ini kupersembahkan untuk saudara-saudara muslimku yang saat ini berniat baik ingin menegakkan kebenaran dan keadilan dengan semangat yang tinggi dan niat yang ikhlas karena Allah namun tidak disadari bahwa dia ternyata jalannya tidak sesuai dengan yang diinginkan Allah dan Rosulnya Sholallahu ‘alaihi wa sallam. Terkhususkan bagi saudaraku yang suka berdemo-demo, suka berhadapan gontrok-gontrokkan bertarung dengan penguasa, suka menyegel tempat orang-orang melakukan bisnis ekonomi, suka memberikan fatwa haram terhadap suatu produk dengan mengikuti (yang katanya) ulama tapi yang Suu (jahat), padahal Allah dan rosulnya ‘Alaihi Shollatu wassalam tidak mengharamkan produk tersebut (mana yang ingin dipilih??), dan juga untuk ornag-orang yang suka merusak/ melakukan bom bunuh diri dengan dalil amar ma’ruf Nahi Mungkar/ Jihad. Terimalah nasihatku wahai saudara-saudaraku dari saudara muslimmu As Salafiyyun Ahlussunnah wal Jama’ah/ At Taifah Al Manshuroh yang ingin selalu menegakkan Qur’an dan Sunnah sesuai pemahaman Salafushsholih (shahabat Nabi), yang mana kita tidak boleh memahami/menafsirkan Qur’an dan Sunnah sesuai Ra’yu kita apalagi hawa nafsu kita, itulah yang menjadikan mereka tersesat atau keluar dari garis Ahlussunnah wal Jama’ah.

Mungkinkah kita ingin menegakkan Khilafah Islamiyyah/ ingin menghentikan kejahatan namun jalannya tidak sesuai dengan Qur’an dan Sunnah/ Bid’ah?? Renungkanlah yaa Akhi Fiddiin. Awas paham Khowarij menjangkiti harokah Islamiyyah. Jangan kita minder dengan bacaan Quran mereka dengan banyaknya sholat mereka dengan banyaknya puasa mereka jika ternyata manhajnya adalah manhaj Khowarij yang mana Sabda Nabi Khowarij itu adalah Anjing-anjing neraka walaupun banyaknya ibadah mereka. Semoga tulisan ini bermanfaat. Dari yang mengaharapkan Wajah Allah. –Ibn Shidar As salafi-

Sebaik-baik perkataan adalah Kalamulloh (Al-Qur’an)(dan Al Qur’an bukan makhluk tapi firman Allah salah satu sifat dari sifat-sifat Allah) dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Sholallohu ‘alaihi wa sallam seburuk-buruk perkara adalah yang baru (dalam urusan ibadah) dan setiap perkara yang baru dalam ibadah adalah Bid’ah dan setiap Bid’ah adalah sesat dan setiap sesat tempatnya di neraka.

Bab I. Tentang Penguasa

Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam kalam-Nya nan suci:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيْعًا وَلاَ تَفَرَّقُوا
“Dan berpegang-teguhlah kalian semua dengan tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai-berai.” (Ali ‘Imran: 103)
Al-Imam Al-Qurthubi berkata: “Allah Subhanahu wa Ta’ala mewajibkan kepada kita agar berpegang teguh dengan Kitab-Nya (Al-Qur`an) dan Sunnah Nabi-Nya, serta merujuk kepada keduanya di saat terjadi perselisihan. Sebagaimana Dia (juga) memerintahkan kepada kita agar bersatu di atas Al-Qur`an dan As-Sunnah baik secara keyakinan atau pun amalan…” (Tafsir Al-Qurthubi, 4/105)

Para pembaca yang mulia, bila anda telah siap untuk merujuk kepada Al-Qur`an dan As-Sunnah maka simaklah bimbingan dari Al-Qur`an dan As-Sunnah berikut ini:
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَا أَيَّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا أَطِيْعُوا اللهَ وَأَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَأُوْلِي اْلأَمْرِ مِنْكُمْ
“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan Rasul-Nya, dan Ulil Amri diantara kalian.” (An-Nisa`: 59)

Al-Imam An-Nawawi berkata: “Yang dimaksud dengan Ulil Amri adalah orang-orang yang Allah Subhanahu wa Ta’ala wajibkan untuk ditaati dari kalangan para penguasa dan pemimpin umat. Inilah pendapat mayoritas ulama terdahulu dan sekarang dari kalangan ahli tafsir dan fiqih serta yang lainnya.”(Syarh Shahih Muslim, juz 12, hal. 222)
Adapun baginda Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau seringkali mengingatkan umatnya seputar permasalahan ini. Diantaranya dalam hadits-hadits beliau berikut ini:
1. Shahabat ‘Adi bin Hatim radhiallahu ‘anhu berkata:
يَا رَسُوْلَ اللهِ! لاَ نَسْأَلُكَ عَنْ طَاعَةِ مَنِ اتَّقَى، وَلَكِنْ مَنْ فَعَلَ وَفَعَلَ- فَذَكَرَ الشَّرَّ- فَقَالَ: اتَّقُوا اللهَ وَاسْمَعُوا وَأَطِيْعُوا
“Wahai Rasulullah, kami tidak bertanya kepadamu tentang ketaatan (terhadap penguasa) yang bertakwa. Yang kami tanyakan adalah ketaatan terhadap penguasa yang berbuat demikian dan demikian (ia sebutkan kejelekan-kejelekannya).” Maka Rasulullah bersabda: “Bertakwalah kalian kepada Allah, dengarlah dan taatilah (penguasa tersebut).” (HR. Ibnu Abi ‘Ashim dalam Kitab As-Sunnah, dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Zhilalul Jannah Fitakhrijis Sunnah, 2/494, no. 1064)
2. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
يَكُوْنُ بَعْدِيْ أَئِمَّةٌ، لاَيَهْتَدُوْنَ بِهُدَايَ، وَلاَ يَسْتَنُّوْنَ بِسُنَّتِيْ، وَسَيَقُوْمُ فِيْهِمْ رِجَالٌ، قُلُوْبُهُمْ قُلُوْبُ الشَّيَاطِيْنِ فِيْ جُثْمَانِ إِنْسٍ. قَالَ (حُذَيْفَةُ): قُلْتُ: كَيْفَ أَصْنَعُ يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنْ أَدْرَكْتُ ذَلِكَ؟ قَالَ: تَسْمَعُ وَتُطِيْعُ لِلأَمِيْرِ، وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ وَأُخِذَ مَالُكَ، فَاسْمَعْ وَأَطِعْ!
“Akan ada sepeninggalku nanti para imam/penguasa yang mereka itu tidak berpegang dengan petunjukku dan tidak mengikuti cara/jalanku. Dan akan ada diantara para penguasa tersebut orang-orang yang berhati setan namun berbadan manusia.” Hudzaifah berkata: “Apa yang kuperbuat bila aku mendapatinya?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Hendaknya engkau mendengar dan menaati penguasa tersebut walaupun punggungmu dicambuk dan hartamu dirampas olehnya, maka dengarkanlah (perintahnya) dan taatilah (dia).” (HR. Muslim dari shahabat Hudzaifah bin Al-Yaman, 3/1476, no. 1847)
3. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
شِرَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِيْنَ تُبْغِضُوْنَهُمْ وَيُبْغِضُوْنَكُمْ وَتَلْعَنُوْنَهُمْ وَيَلْعَنُوْنَكُمْ. قِيْلَ: يَا رَسُوْلَ اللهُ! أَفَلاَ نُنَابِذُهُمْ بِالسَّيْفِ؟ فَقَالَ: لاَ، مَا أَقَامُوا فِيْكُمُ الصَّلاَةَ، وَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْ وُلاَتِكُمْ شَيْئًا تَكْرَهُوْنَهُ فَاكْرَهُوا عَمَلَهُ وَلاَ تَنْزِعُوا يَدًا مِنْ طَاعَةٍ
“Seburuk-buruk penguasa kalian adalah yang kalian benci dan mereka pun membenci kalian, kalian mencaci mereka dan mereka pun mencaci kalian.” Lalu dikatakan kepada Rasulullah: “Wahai Rasulullah, bolehkah kami memerangi mereka dengan pedang (memberontak)?” Beliau bersabda: “Jangan, selama mereka masih mendirikan shalat di tengah-tengah kalian. Dan jika kalian melihat mereka mengerjakan perbuatan yang tidak kalian sukai, maka bencilah perbuatannya dan jangan mencabut/meninggalkan ketaatan (darinya).” (HR. Muslim, dari shahabat ‘Auf bin Malik, 3/1481, no. 1855)
Para ulama kita pun demikian adanya. Mereka (dengan latar belakang daerah, pengalaman dan generasi yang berbeda-beda) telah menyampaikan arahan dan bimbingannya yang amat berharga seputar permasalahan ini, sebagaimana berikut:
Shahabat Aliq bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu berkata: “Urusan kaum muslimin tidaklah stabil tanpa adanya penguasa, yang baik atau yang jahat sekalipun.” Orang-orang berkata: “Wahai Amirul Mukminin, kalau penguasa yang baik kami bisa menerimanya, lalu bagaimana dengan yang jahat?” Ali bin Abi Thalib berkata: “Sesungguhnya (walaupun) penguasa itu jahat namun Allah Subhanahu wa Ta’ala tetap memerankannya sebagai pengawas keamanan di jalan-jalan dan pemimpin dalam jihad…” (Syu’abul Iman, karya Al-Imam Al-Baihaqi juz 13, hal.187, dinukil dari kitab Mu’amalatul Hukkam, karya Asy-Syaikh Abdus Salam bin Barjas hal. 57)
q Al-Imam Ibnu Abil ‘Iz Al-Hanafi berkata: “Adapun kewajiban menaati mereka (penguasa) tetaplah berlaku walaupun mereka berbuat jahat. Karena tidak menaati mereka dalam hal yang ma’ruf akan mengakibatkan kerusakan yang jauh lebih besar dari apa yang ada selama ini. Dan di dalam kesabaran terhadap kejahatan mereka itu terdapat ampunan dari dosa-dosa serta (mendatangkan) pahala yang berlipat.” (Syarh Al-’Aqidah Ath-Thahawiyah hal. 368)
Al-Imam Al-Barbahari berkata:
q “Ketahuilah bahwa kejahatan penguasa tidaklah menghapuskan kewajiban (menaati mereka, -pen.) yang Allah Subhanahu wa Ta’ala wajibkan melalui lisan Nabi-Nya. Kejahatannya akan kembali kepada diri

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ أَطَاعَنِي فَقَدْ أَطَاعَ اللهَ، وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ عَصَىاللهَ، وَمَنْ أَطَاعَ أَمِيْرِي فَقَدْ أَطَاعَنِي، وَمَنْ عَصَى أَمِيْرِي فَقَدْ عَصَانِي
“Barangsiapa menaatiku berarti telah menaati Allah. Barangsiapa menentangku berarti telah menentang Allah. Barangsiapa menaati pemimpin (umat)ku berarti telah menaatiku, dan barangsiapa menentang pemimpin (umat)ku berarti telah menentangku.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim, dari shahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)


وَلاَ تَكُوْنُوا كَالَّذِيْنَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُوْلَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيْمٌ
“Dan janganlah kalian seperti orang-orang yang berpecah-belah dan berselisih setelah keterangan datang kepada mereka, dan bagi mereka adzab yang pedih.” (Ali ‘Imran: 105)

Bab II. Muamalah Dengan Penguasa

Barangsiapa melihat sebuah perkara yang membuat ia benci pada pemimpinnya, maka hendaknya dia bersabar dan janganlah ia membangkang kepada pemimpinnya. Sebab barangsiapa melepaskan diri dari jamaah, lalu mati, maka ia mati secara jahiliah. (HR. Bukhari dan Muslim)

Abdullah Ibnu Abbas berkata, “Pemimpin adalah ujian bagi kalian. Apabila mereka bersikap adil, maka dia mendapatkan pahala dan kamu harus bersyukur. Dan apabila dia zhalim, maka dia mendapatkan siksa dan kamu harus bersabar.”

Imam Nawawi berkata, “Barangsiapa yang mendiamkan kemungkaran seorang pemimpin, tidaklah dia berdosa, kecuali (jika) dia menunjukkan sikap rela, setuju atau mengikuti kemungkaran itu.”

Bab III. Menasehati Penguasa

Dari Ibnu Hakam meriwayatkan, bahwa Nabi bersabda, “Barangsiapa yang ingin menasehati pemimpin, maka jangan melakukannya secara terang-terangan. Akan tetapi, dia ambil tangannya (penguasa tersebut) dan berduaan dengannya. Kalau dia menerima nasihat, itu yang diharapkan. Dan bila tidak menerimanya, maka sesungguhnya dia telah menunaikan kewajiban nasihat kepadanya.” (HR Imam Ahmad, 3/403; Ibnu Abi ‘Ashim, 2/251 dengan sanad shohih). Dan Allah pasti Maha Adil melakukan perhitungan terhadap hamba-hambanya jadi penguasa harus memikirkan ini pula.

Ketika terjadi fitnah pada zaman Utsman, sebagian orng berkata kepada Usamah bin Zaid: “Kenapa anda tidak tidak menegur Utsman?” Beliau berkata, “Kalian beranggapan bahwa saya tidak menegurnya , kecuali kalau saya perdengarkan pada kalian? Sungguh saya telah menegurnya diantara saya dan dia (secara diam-diam) dengan tanpa membuka perkara (fitnah), yang saya tidak ingin menjadi orang yang pertama kali membukanya”.

Imam Ibnu Hajar berkata, bahwa Usamah telah menasehati Utsman dengan cara yang sangat bijaksana dan beretika tanpa menimbulkan fitnah dan keresahan.

Imam Syafi’i berkata, “ Barangsiapa yang menasehati temannya dengan rahasia, maka ia telah menasehati dan menghiasinya. Dan barangsiapa yang menasehatinya dengan terang-terangan, maka ia telah mempermalukan dan merusaknya.”

Imam Fudhail bin Iyadh berkata, “Orang mukmin menasehati dengan cara rahasia, dan orang jahat menasehati dengan cara melecehkan dan memaki-maki.”

Syaikh bin Baz berkata. “Menasehati para pemimpin dengan cara yang terang-terangan melalui melalui mimbar-mimbar atau tempat2 umum, bukan (merupakan) cara atau manhaj Salaf . Sebab, hal itu akan mengakibatkan keresahan dan menjatuhkan martabat para pemimpin. Akan tetapi, (cara) manhaj Salaf dalam menasehati pemimpin yaitu dengan mendatanginya, mengirim surat atau menyuruh salah seorang ulama yang dikenal untuk menyampaikan nasehat tersebut.”

Bekal-bekal menasehati penguasa

1. Ikhlas dalam memberi nasehati.

Nabi Muhammad bersabda kepada Abdullah bin Amr : “ Wahai, Abdulloh bin Amr. Jika engkau berperang dengan sabar dan ikhlas, maka Allah akan membangkitkanmu sebagai orang yang sabar dan ikhlas. Dan jika engkau berperang karena riya, maka Allah akan membangkitkanmu sebagai orang yang riya dan orang yang ingin dipuji”. (HR. Abu Dawud)

2. Menjauhi segala macam ambisi pribadi.

Seperti contoh ulama salaf kita Sufyan Ats Atsauri yang sering menolak pemberian penguasa karena khawatir pemberian tersebut menghalanginya untuk mengingkari kemungkaran.

3. Mendahulukan sikap kejujuran dan kebenaran.

Jihad yang paling utama adalah menyampaikan kebenaran kepada pemimpin yang zhalim (HR. Abu Dawud)

4. Berdoa kepada Allah dengan doa-doa yang mastur. Seperti doa yang diajarkan oleh Ibnu Abbas.

Bab IV. Contoh Perlakuan Salaf Kita Terhadap Penguasa

Anas bin Malik Radliyallahu ‘anhu mengatakan: Para pembesar shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam melarang kami dengan mengatakan:
لاَ تَسُبُّوا أُمَرَاءَكُمْ، وَلاَ تَغِشُّوْهُمْ وَلاَ تُبْغَضُوْهُمْ وَاتَّقُوا اللهَ وَاصْبِرُوْا، فَإِنَّ اْلأَمْرَ قَرِيْبٌ
“Janganlah kalian mencela pemimpin-pemimpin kalian, janganlah mengkhianati mereka dan janganlah membenci mereka. Bertakwalah kalian kepada Allah dan bersabarlah, karena sesungguhnya perkara itu dekat.” (HR. Ibnu Abi ‘Ashim no. 1015 dalam Kitabus Sunnah, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam Zhilalul Jannah fi Takhrijis Sunnah)

Para pendahulu kita yang sholih sering mendoakan kebaikan terhadap mereka. Karena baiknya mereka bisa membuat baik keadaan kita (dengan izin Allah). Karena itulah as-salafush shalih seperti Al-Fudhail bin ‘Iyadh, Ahmad bin Hambal dan selain keduanya menyatakan: “Seandainya kami memiliki doa yang mustajab niscaya doa tersebut akan kami tujukan untuk penguasa.” (As-Siyasah Asy-Syar‘iyyah, hal. 129-130)
Abu ‘Utsman Ash-Shabuni rahimahullah berkata: “Ashabul hadits memandang shalat Jum’at, shalat dua ied dan shalat-shalat lainnya dilakukan di belakang setiap imam/pimpinan muslim yang baik ataupun yang fajir/jahat. Mereka memandang untuk mendoakan taufik dan kebaikan untuk penguasa serta tidak boleh memberontak, sekalipun para pimpinan tersebut telah menyimpang dari keadilan dengan berbuat kejahatan, kelaliman dan kesewenang-wenangan.” (‘Aqidatus Salaf Ashabil Hadits, hal. 106)

Itulah gambaran/dalil-dalil tentang penguasa. Oleh sebab itu jika kita disuruh mengerjakan sesuatu maka kita tanyakanlah kepada orang itu “mana dalilnya?? Jika itu hadis apakah derajatnya Shohih, Dhoif atau Maudhu??” “apakah para shahabat Nabi Ridwanullohu ‘alaihi Ajmaiin Melakukan itu?? Karena jika itu baik pasti mereka telah mengamalkan hal tersebut. Lau Kaana Khoiron Lasabaquuna ilaihi….”. Tapi jika tidak pernah maka katakanlah “Perbuatan ibadah itu adalah Bid’ah! Sedikit melakukan Sunnah lebih baik daripada banyak melakukan Bid’ah. Demi Allah amalan kita akan tertolak jika kita melakukan amalan ibadah sesuatu (walaupun itu baik menurut pikiran kita) tapi tanpa petunjuk Nabi”.

Oleh karena itu Ikhwan Fid diin buanglah jauh-jauh bid’ah-bid’ah demonstrasi yang merusak dan membikin takut masyarakat. Hindari pulalah prinsip memecah belah tongkat kesatuan umat muslim/ berontak-memberontak untuk menurunkan penguasa muslim yang masih melakukan sholat baik dengan kudeta berdarah ataupun dengan demokrasi yang tidak sesuai islam. Karena petunjuk Islam ini sudah sempurna. Tidak mungkin kita dapat menghidupkan islam melalui cara-cara yang tidak Islami seperti liberalisme, komunisme, dan demokrasi. Dan sejarah telah membuktikan itu mereka yang terjun dalam bid’ah tersebut tidak ada satu daulah pun yang sudah mereka wujudkan bahkan mereka semakin tenggelam dalam bid’ah-bid’ah tersebut coba lihat contoh di Aljazair, Afghanistan, Irak, Indonesia, HAMASnya Palestina yang akhir-akhir ini sangat menyedihkan dimana mereka-mereka akhirnya saling perang saudara padahal Israel terus memburu mereka hanya karena mereka ingin menjadi yang berkuasa dll. Mengapa mereka tidak memprioritaskan dakwah mereka kepada orang-orang dekat mereka yang masih memilki keyakinan syirik?? (bahkan Syirik besar yang dapat mengeluarkan pelakunya dari Islam) Seperti yang meminta kepada Kuburan-kuburan orang sholih, yang percaya jimat-jimat, yang percaya dukun-dukun, yang membangun masjid di Kuburan, yang melakukan Bid’ah-bid’ah, yang menyembelih kurban untuk selain Allah dll (Oleh karena itu Ikhwan! Prioritaskanlah dakwahmu kepada Tauhid yang benar2 Shohih karena inti dakwah Nabi adalah Tauhid bukan kekuasaan. Jadi tauhid adalah landasan prioritas utama bukan yang lain2 ). Dan juga janganlah kita memberikan kecintaan/ loyalitas kita terhadap orang yang aqidahnya jelek seperti wahdatul wujud, mencaci maki shahabat Nabi, berpikiran jabariyah, mengkafirkan umat muslim dll walaupun orang itu oleh banyak orang katanya digelari “as-syahid”.

Bab V Dalil-dalil yang tegas tentang bid’ahnya demonstrasi kepada pemerintah muslim

Imam Asy-Syaukani yang berkata: “Bagi orang-orang yang hendak menasehati Imam (pemimpin) dalam beberapa masalah –lantaran pemimpin itu telah berbuat salah-, seharusnya ia tidak menempatkan kata-kata yang jelek di depan khalayak ramai. Tetapi sebagaimana dalam hadits di atas, bahwa seorang tadi mengambil tangan imam dan berbicara empat mata dengannya, kemudian menasehatinya tanpa merendahkan penguasa Allah. Kami telah menyebutkan pada awal kita As-Sair: Bahwasanya tidak boleh memberontak terhadap pemimpin walaupun kedhalimannya sampai puncak kedhaliman apapun, selama mereka menegakkan shalat dan tidak terlihat kekufuran yang nyata dari mereka. Hadits-hadits dalam masalah ini mutawatir. Akan tetapi wajib atas makmur (rakyat) mentaati imam (pemimpin) dalam ketaatan kepada Allah dan tidak mentaatinya dalam maksiat kepada Allah. Karena sesungguhnya tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (As-Sailul Jarar 4/556)

Bedakanlah kelakuan sahabat & kelakuan Khawarij pada kisah dibawah ini. Mana yang ingin kita contoh??

Imam Tirmidzi membawakan sanadnya sampai ke Ziyad bin Kusaib Al-Adawi. Beliau berkata: Aku di samping Abu Bakrah, berada di bawah mimbar Ibnu Amir. Sementara itu Ibnu Amir tengah berkhutbah dengan mengenakan pakaian tipis. Maka Abu Bilal (Mirdas bin Udayah, seorang Khawarij. Lihat Tahdzibul Kamal oleh Imam Al-Mizzi 7/399.) berkata, “Lihatlah pemimpin kita, dia memakai pakaian orang fasik.” Lantas Abu Bakrah berkata, “Diam kamu! Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Barangsiapa yang menghina (merendahkan) penguasa yang ditunjuk Allah di muka bumi, maka Allah akan menghinakannya.'” (Sunan At-Tirmidzi no. 2224).

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan tata cara menasehati seorang pemimpin sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Asy-Syaukani, sampai pada perkataannya: “…sesungguhnya menyelisihi pemimpin dalam perkara yang bukan prinsip dalam agama dengan terang-terangan dan mengingkarinya di perkumpulan-perkumpulan masjid, selebaran-selebaran, tempat-tempat kajian dan sebagainya, itu semua sama sekali bukan tata cara menasehati. Oleh karena itu, jangan engkau tertipu dengan orang yang melakukannya, walaupun timbul dari niat yang baik. Hal itu menyelisihi cara salafus shalih yang harus diikuti. Semoga Allah memberi hidayah padamu.” (Maqasidul Islam hal. 395)

Manhaj Khawarij ini menjadi salah satu sebab jeleknya sifat orang-orang khawarij. Sebagaimana dalam riwayat Said bin Jahm, beliau berkata: Aku datang kepada Abdullah bin Abu Aufa, beliau matanya buta, maka aku mengucapkan salam.

Beliau bertanya kepadaku: “Siapa engkau?” “Said bin Jahman,” jawabku. Beliau bertanya: “Kenapa ayahmu?” Aku katakan: “Al-Azariqah (Satu aliran dari aliran-aliran Khawarij.) telah membunuhnya.” Beliau berkata: “Semoga Allah melaknat Al-Azariqah, semoga Allah melaknat Al-Azariqah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan bahwa mereka anjing-anjing neraka.” Aku bertanya: “(Yang dilaknat sebagai anjing-anjing neraka) Al-Azariqah saja atau Khawarij semuanya?” Beliau menjawab: “Ya, Khawarij semuanya.” Aku katakan: “Tetapi sesungguhnya pemerintah (telah) berbuat kedhaliman kepada rakyatnya.” Maka beliau mengambil tanganku dan memegangnya dengan sangat kuat, kemudian berkata: “Celaka engkau wahai Ibnu Jahman, wajib atasmu berpegang dengan sawadul a’dham, wajib atasmu untuk berpegang dengan sawadul a’dham. Jika kau ingin pemerintah mau mendengar nasehatmu, maka datangilah dan kabarkan apa yang engkau ketahui. Itu kalau dia menerima, kalau tidak, tinggalkan! Sesungguhnya engkau tidak lebih tahu darinya.” (HR. Ahmad dalam musnadnya 4/383)

Demonstrasi Termasuk tasyabuh dengan kafir & Ikhtilat antara Ikhwan dan Akhwat.

“Aku diutus dengan pedang dekat sebelum hari kiamat sampai hingga hanya Allah-lah yang disembah, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan Allah menjadikan rezekiku di bawah naungan tombak, dijadikan kerendahan dan kekerdilan atas orang yang menyelisihi pemerintah. Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk kaum mereka.”Bahkan dalam islam yang pertama kali mengadakan demonstrasi adalah Ibnu Saba’ seorang Yahudi yang pura-pura masuk Islam yang fitnahnya menyebabkan terbunuhnya Khalifah Rosyid Utsman bin Affan.

Adapun tentang iriwayat bahwa setelah masuk Islamnya Umar radliyallahu ‘anhu kaum muslimin keluar karena perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada dua shaf (barisan) dalam rangka menampakkan kekuatan. Dalam satu barisan terdapat Hamzah radliyallahu ‘anhu, sedang barisan yang lain ada Umar bin Al-Khattab radliyallahu ‘anhu beserta kaum muslimin.” Maka kita perlu tahu bahwa riwayat tersebut bahwa pusat (poros) sanad hadits ini atas Ishaq bin Abdullah bin Abi Farwah, dia mungkarul hadits.” Mungkinkah kita bersandar kepada hadis yang tidak Shohih?? Sedangkan hadis yang shohih melarang kita Demonstrasi mencaci pemimpin muslim!?.

Adapun jika mereka bersandar pada hadis Salman al Farisi yang menggugat Umar bin Khattab karena kelebihan kain ghanimah selimut dari Yaman maka ketahuilah saudaraku bahwa Dr. Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali dalam terjemah bukunya “Sayyid Quthb Cela Shahabat Nabi?” halaman 102 dikatakan bahwa riwayat tersebut adalah BOHONG karena tidak mungkin Shahabat yang mulia mempunyai sifat seperti orang tidak beragama dan tidak bernegara. Dan mana mungkin Umar dalam pembagian harta seperti orang sosialis yang menyamakan semua bagian?? Renungkanlah dalam2 Ikhwan Fiddiin janganlah kita termakan hawa nafsu kita. Dan janganlah kita mempunyai sifat Hizbiyyah (mengukur kebenaran hanya dengan fanatisme buta kelompoknya walaupun dalil sudah ditegakkan.. yang akhirnya menghancurkan Islam dari dalam dengan bid’ah2 Hizbiyyah) Jadi manakah hadis yang menunjukkan kita boleh berdemonstrasi???.

Semoga menjadi renungan. Harap kritikan yang bernmanfaat agar kita saling menasehati. Dan bukalah hati dan pikiran dalam-dalam dan sejernih-jernihnya Semoga Allah memberi petunjuk kepada kita semua. Jazakallah

Silahkan disebarkan (untuk jihad dengan ilmu) karena jihad terbesar adalah jihad Ilmu. Barangsiapa yang menyebarkan Sunnah maka dia mendapat pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala orang yang mengikuti. Barangsiapa yang menyebarkan Bid’ah/ Maksiat maka dia menanngung dosa orang2 yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa orang tersebus (Na’udzubillah).

Terimalah Nasihat ini dari lubuk hati yang terdalam. Agama adalah Nasehat.Wassalamu’alaikum Warohmatullohi wa Barokatuh.

Info Kajian Ahlussunnah wal Jam’ah daerah Garut: (pengisi Insya Allah ustad dari Bandung)

Insya Allah Ba’da Zhuhur tiap minggu pertama dan ketiga di Cibatu (untuk informasi Hubungi Dokter Eka Cibatu)

Insya Allah Jam 8 tiap minggu pertama dan ketiga di Masjid Al-Hikmah Leuwi Daun belakang RM.Adi Rasa. (hubungi ana) membahas Aqidah Ahlussunnah dan Sifat Sholat Nabi

Maraji/ sumber:

1. Sayyid Quthb Cela Shahabat Nabi?, Karya Dr. Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali. Terbitan Darul Falah

2. Majalah As Sunnah Edisi 12/Tahun VII/1424H/20004M

3. situs. http://www.salafy.or.id

Agustus 31, 2007 - Posted by | manhaj

6 Komentar »

  1. Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh,

    afwan sebelumnya ana udah nanya sama antum tentang kajian di garut di comment artikel antum yang lain…, ternyata disini ada informasinya, yang di leuwi daun tiap hari ahad ya…? ana bisa hubungi antum lewat apa…?

    Komentar oleh an.gg.un | November 20, 2007 | Balas

  2. akh antm bs hbngi ana via hp 081317611225

    akh antm mggu ni k garut tdk?
    insya Allah kita mggu ni tgl 2Desember akan mngadakan kajian akbar membahas aliran sesat
    kalo bisa antum ikut aja..

    kl di leuwi daun insya Allah tiap ahad ke 1 dan ke 4 pagi2 di masjid alhikmah.
    kalo di Cibatu insya Allah tiap ahad ke 2 dan ke 3.antum lgsg ke rmh dktr eka (saja dkt pasar cibatu) sebelum sholat zuhur cos kjian dimulai bada zuhur.
    kita dsn sdg mmulai mrintis dakwah salaf.ajak teman2 yg lain

    Komentar oleh Diqra al Garuti | November 26, 2007 | Balas

  3. HADITS
    «خِيَارُ أَئِمَّتِكُمْ الَّذِيْنَ تُحِبُّوْنَهُمْ وَيُحِبُّوْنَكُمْ وَتُصَلُّوْنَ عَلَيْهِمْ وَيُصَلُّوْنَ عَلَيْكُمْ وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمْ الَّذِيْنَ تُبْغِضُوْنَهُمْ وَيُبْغِضُوْنَكُمْ وَتَلْعَنُوْنَهُمْ وَيَلْعَنُوْنَكُمْ قَالُوْا قُلْنَا يَا رَسُولَ اللهِ أَفَلاَ نُنَابِذُهُمْ عِنْدَ ذَلِكَ قَالَ لاَ مَا أَقَامُوْا فِيْكُمْ الصَّلاَةَ أَلاَ مَنْ وَلِيَ عَلَيْهِ وَالٍ فَرَآهُ يَأْتِي شَيْئًا مِنْ مَعْصِيَةِ اللهِ فَلْيَكْرَهْ مَا يَأْتِي مِنْ مَعْصِيَةِ اللهِ وَلاَ يَنْزِعَنَّ يَدًا مِنْ طَاعَةٍ»
    Sebaik-baik imam (pemimpin) kalian adalah yang kalian cintai dan mereka mencintai kalian serta yang kalian doakan dan mereka juga mendoakan kalian. Seburuk-buruk imam (pemimpin) kalian adalah yang kalian benci dan mereka membenci kalian serta yang kalian laknat dan mereka juga melaknat kalian. Mereka berkata, “Kami berkata, ‘Wahai Rasulullah, apakah tidak kita perangi saja mereka pada saat demikian?’ Rasul menjawab, ‘Tidak, selama mereka masih menegakkan shalat di tengah-tengah kalian. Ingatlah, siapa yang diperintah oleh seorang wali, lalu ia melihat wali itu melakukan sesuatu kemaksiatan kepada Allah, maka hendaknya ia membenci kemaksiatan itu dan janganlah ia melepaskan tangan dari ketaatan.” (HR Muslim, Ahmad dan ad-Darimi).
    Imam Muslim (Shahîh Muslim bâb Khiyâr al-Aimmah wa Syirâruhum) mengeluarkan hadis ini dari beberapa sanad: dari Ishaq bin Ibrahim al-Hanzhaliy, dari Isa bin Yunus, dari al-Awza’i, dari Yazid bin Yazid bin Jabir, dari Ruzaiq bin Hayyan; dari Dawud bin Rusyaid, dari al-Walid bin Muslim, dari Abdurrahman bin Yazid bin Jabir, dari Ruzaiq bin Hayyan Maula bani Fazarah; dari Ishaq bin Musa al-Anshari, dari Walid bin Muslim, dari Ibn Jabir, dari Ruzaiq Maula Bani Fazarah. Ruzaiq meriwayatkannya dari Muslim bin Qarazhah, dari Auf bin Malik al-Asyja’i. Imam Muslim juga berkata, “Muawiyah bin Shalih meriwayatkan hadis ini dari Rabiah bin Yazid, dari Muslim bin Qarazhah, dari Auf bin Malik al-Asyja’i.
    Imam Ahmad (Musnad bâb Hadîts ‘Awf ibn Malik al-Asyja’i) mengeluarkan hadis ini dari Ali bin Ishaq, dari Abdullah, dari Abdurrahman bin Yazid bin Jabir, dari Ruzaiq Maula Bani Fazarah, dari Muslim bin Qarazhah, dari Auf bin Malik al-Asyja’i. Adapun ad-Darimi mengeluarkannya dalam bâb fî ath-thâ’ah wa luzûm al-jamâ’ah (tentang ketaatan dan keharusan jamaah) dari Hakam bin al-Mubarak, dari al-Walid bin Muslim, dari Abdurrahman bin Yazid bin Jabir, dari Ruzaiq bin Hayyan Maula Bani Fazarah, dari Muslim bin Qarazhah, dari Auf bin Malik al-Asyja’i.
    Hadis ini juga diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam Mu‘jam al-Kabîr, Abu ‘Awanah dalam Musnad Abu ‘Awânah, al-Ajuri dalam Asy-Syarî’ah, dan lainnya. Semuanya bersumber dari penuturan Auf bin Malik al-Asyja’i.

    Makna Hadis
    Al-Mawardi berkata, “Ini benar. Sungguh, seorang imam, jika memiliki kebaikan, ia mencintai dan dicintai oleh rakyat. Sebaliknya, jika buruk (jahat), ia membenci dan dibenci oleh rakyat. Pokok hal itu bahwa rasa takut kepada Allah akan mendorong untuk taat kepada-Nya dalam memperlakukan makhluk-Nya. Ketaatan kepada Allah akan mendorong untuk mencintai makhluk-Nya. Oleh karena itu, kecintaan itu merupakan bukti atas kebaikan imam. Sebaliknya, kebencian rakyat kepada imam adalah bukti keburukannya serta minimnya perhatian imam kepada rakyat.”
    Asy-Syaukani di dalam Nayl al-Awthâr menjelaskan, hadis ini merupakan dalil disyariatkannya mencintai imam dan mendoakan mereka. Imam yang mencintai dan dicintai rakyat, mendoakan dan didoakan oleh rakyat merupakan imam yang paling baik. Sebaliknya, imam yang membenci dan dibenci rakyat, mencaci dan dicaci oleh rakyat, termasuk imam yang paling buruk. Hal itu karena jika imam berlaku adil di tengah rakyat, berkata baik kepada rakyat, maka rakyat akan menaati, mematuhi dan memujinya. Ketika seorang imam, keadilan dan kebaikan perkataannya menyebabkan kecintaan, ketaatan dan pujian rakyat kepadanya, ia termasuk imam yang paling baik. Sebaliknya, tatkala kezaliman dan caciannya kepada rakyat menyebabkan rakyat menyalahinya dan berkata buruk tentang dia, maka dia termasuk seburuk-buruk imam.
    Hadis ini menegaskan wajibnya menaati imam hingga meskipun imam itu melakukan kemaksiatan. Ketaatan itu selama bukan dalam rangka bermaksiat kepada Allah. Dalam kondisi imam melakukan kemaksiatan itu, Rasul memerintahkan agar kita membenci kemaksiatannya itu. Beliau tetap melarang kita melepaskan tangan dari ketaatan, tentu diiringi dengan aktivitas amar makruf nahi mungkar kepada imam, yang disyariatkan dalam nas yang lain.
    Manthûq hadis ini juga menjelaskan tidak bolehnya memerangi imam dan mencabut kekuasaannya selama ia masih menegakkan shalat di tengah kaum Muslim. Adapun mafhûm-nya menyatakan bolehnya memerangi imam jika sudah tidak menegakkan shalat di tengah kaum muslim. Frasa mâ aqâmû fîkum ash-shalâh (selama dia masih menegakkan shalat di tengah kalian) maksudnya bukan selama imam masih menjalankan shalat. Frasa tersebut merupakan majaz (kiasan) menggunakan uslûb: ithlâq al-juz’i wa irâdah al-kulli (menyebutkan sebagian, sedangkan yang dimaksud adalah keseluruhan). Maksud frasa itu adalah, selama masih menegakkan Islam, yakni selama masih menerapkan hukum-hukum Islam. Sebab, dalam Islam, wali yang wewenangnya tidak mencakup masalah finansial disebut wâliy ash-shalâh, sedangkan yang mencakup masalah finansial disebut wâliy ash-shadaqah.
    Makna ini sejalan dengan hadis Ubadah bin Shamit yang menjelaskan wajibnya memerangi imam dan mencabut kekuasaannya jika sudah tampak kufr[an] bawâh[an] (kekufuran yang nyata)—dalam riwayat lain kufr[an] sharâh[an] (kekufuran secara terang-terangan); misalnya jika imam menerapkan hukum kufur seraya meyakini kelayakannya dan ketidaklayakan hukum Islam. Itu sama artinya dengan tidak lagi menegakkan shalat di tengah-tengah kaum Muslim.
    Wa mâ tawfîqî illâ billâh. [Yahya Abdurrahman]

    Komentar oleh SU'UD | Desember 29, 2007 | Balas

  4. diqra.wordpress.com’s done it once more! Incredible post!

    Komentar oleh Earle Mathis | Mei 29, 2010 | Balas

  5. Sejarah Disyariatkannya Puasa ‘Asyura

    Tag: muharram, puasa asyura, puasa asyuro, sejarah

    Disusun oleh Muhammad Abduh Tuasikal, ST (29 Dzulhijjah 1429 H)

    Ternyata puasa Asyura tidak disyariatkan seperti sekarang ini begitu saja, namun ada beberapa tahapan. Sebelumnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam cuma berpuasa sendiri dan tidak mengajak umatnya. Lalu berikutnya nabi memerintahkan pada umatnya untuk melaksanakan puasa ‘Asyura. Setelah Ramadhan diwajibkan, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memerintahkan lagi, cuma menganjurkan saja. Dan terakhir Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertekad untuk menambah puasa pada hari ke-9 Muharram, namun tidak kesampaian karena keburu meninggal dunia. Berikut penjelasan selengkapnya. Semoga bermanfaat.

    Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam Melakukan Puasa ’Asyura di Makkah

    Dari ’Aisyah radhiyallahu ’anha, beliau berkata,
    كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ تَصُومُهُ قُرَيْشٌ فِى الْجَاهِلِيَّةِ ، وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَصُومُهُ ، فَلَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ صَامَهُ ، وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ ، فَلَمَّا فُرِضَ رَمَضَانُ تَرَكَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ ، فَمَنْ شَاءَ صَامَهُ ، وَمَنْ شَاءَ تَرَكَهُ
    ”Di zaman jahiliyah dahulu, orang Quraisy biasa melakukan puasa ’Asyura. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam juga melakukan puasa tersebut. Tatkala tiba di Madinah, beliau shallallahu ’alaihi wa sallam melakukan puasa tersebut dan memerintahkan manusia untuk melakukannya. Namun tatkala puasa Ramadhan diwajibkan, beliau meninggalkan puasa ’Asyura. (Lalu beliau mengatakan:) Barangsiapa yang mau, silakan berpuasa. Barangsiapa yang mau, silakan meninggalkannya (tidak berpuasa).” (HR. Bukhari no. 2002 dan Muslim no. 1125)

    Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam Melakukan Puasa ’Asyura di Madinah

    Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhuma, beliau berkata,
    أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَدِمَ الْمَدِينَةَ فَوَجَدَ الْيَهُودَ صِيَامًا يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَا هَذَا الْيَوْمُ الَّذِى تَصُومُونَهُ ». فَقَالُوا هَذَا يَوْمٌ عَظِيمٌ أَنْجَى اللَّهُ فِيهِ مُوسَى وَقَوْمَهُ وَغَرَّقَ فِرْعَوْنَ وَقَوْمَهُ فَصَامَهُ مُوسَى شُكْرًا فَنَحْنُ نَصُومُهُ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « فَنَحْنُ أَحَقُّ وَأَوْلَى بِمُوسَى مِنْكُمْ ». فَصَامَهُ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ.
    Ketika Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam tiba di Madinah, beliau mendapati orang-orang Yahudi melakukan puasa ’Asyura. Kemudian Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bertanya, ”Hari yang kalian bepuasa ini adalah hari apa?” Orang-orang Yahudi tersebut menjawab, ”Ini adalah hari yang sangat mulia. Ini adalah hari di mana Allah menyelamatkan Musa dan kaumnya. Ketika itu pula Fir’aun dan kaumnya ditenggelamkan. Musa berpuasa pada hari ini dalam rangka bersyukur, maka kami pun mengikuti beliau berpuasa pada hari ini”. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam lantas berkata, ”Kita seharusnya lebih berhak dan lebih utama mengikuti Musa daripada kalian.”. Lalu setelah itu Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam memerintahkan kaum muslimin untuk berpuasa. (HR. Muslim no. 1130)

    Apakah ini berarti Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam meniru-niru Yahudi? Tidak sama sekali.

    An Nawawi rahimahullah mengatakan, ”Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam biasa melakukan puasa ’Asyura di Makkah sebagaimana dilakukan pula oleh orang-orang Quraisy. Kemudian Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam tiba di Madinah dan menemukan orang Yahudi melakukan puasa ini, lalu beliau shallallahu ’alaihi wa sallam pun ikut melakukannya. Namun beliau shallallahu ’alaihi wa sallam melakukan puasa ini berdasarkan wahyu, berita mutawatir (dari jalur yang sangat banyak), atau dari ijtihad beliau, dan bukan semata-mata berita salah seorang dari mereka, orang Yahudi. Wallahu a’lam.” (Syarh Muslim, 4/119)

    Ketika Diwajibkannya Puasa Ramadhan

    Ketika diwajibkannya puasa Ramadhan, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam mengatakan bahwa siapa yang ingin berpuasa, silakan dan siapa yang tidak ingin berpuasa, silakan. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh ’Aisyah radhiyallahu ’anha di atas dan Ibnu ’Umar berikut ini.

    Abdullah bin ’Umar radhiyallahu ’anhuma mengatakan,
    أَنَّ أَهْلَ الْجَاهِلِيَّةِ كَانُوا يَصُومُونَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- صَامَهُ وَالْمُسْلِمُونَ قَبْلَ أَنْ يُفْتَرَضَ رَمَضَانُ فَلَمَّا افْتُرِضَ رَمَضَانُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّ عَاشُورَاءَ يَوْمٌ مِنْ أَيَّامِ اللَّهِ فَمَنْ شَاءَ صَامَهُ وَمَنْ شَاءَ تَرَكَهُ ».
    ”Sesungguhnya orang-orang Jahiliyah biasa melakukan puasa pada hari ’Asyura. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam pun melakukan puasa tersebut sebelum diwajibkannya puasa Ramadhan, begitu pula kaum muslimin saat itu. Tatkala Ramadhan diwajibkan, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam mengatakan: Sesungguhnya hari Asyura adalah hari di antara hari-hari Allah. Barangsiapa yang ingin berpuasa, silakan berpuasa. Barangsiapa meninggalkannya juga silakan.” (HR. Muslim no. 1126)

    Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam Bertekad Menambah Puasa pada Hari Kesembilan Muharram

    Di akhir umurnya, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bertekad untuk menambah puasa pada hari kesembilan Muharram untuk menyelisihi Ahlu Kitab.

    Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhuma berkata ketika Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam melakukan puasa hari ’Asyura dan memerintahkan kaum muslimin untuk melakukannya, kemudian pada saat itu ada yang berkata,
    يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى.
    ”Wahai Rasulullah, hari ini adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nashara.”
    Lantas beliau shallallahu ’alaihi wa sallam mengatakan,
    « فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ – إِنْ شَاءَ اللَّهُ – صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ »
    ”Apabila tiba tahun depan –insya Allah (jika Allah menghendaki)- kita akan berpuasa pula pada hari kesembilan.”
    Ibnu Abbas mengatakan,
    فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّىَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-.
    ”Belum sampai tahun depan, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam sudah keburu meninggal dunia.” (HR. Muslim no. 1134)

    Jadi ringkasnya, sebagaimana yang dimaksudkan oleh Ibnu Rojab bahwa puasa ’Asyura yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ada empat keadaan:
    Pertama; beliau shallallahu ’alaihi wa sallam berpuasa di Makkah, namun beliau tidak memerintahkan kaum muslimin untuk berpuasa.
    Kedua; Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam tiba di Madinah, kemudian beliau shallallahu ’alaihi wa sallam melihat Ahlu Kitab berpuasa dan mengagungkan hari tersebut. Lalu Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ingin sama dengan mereka dalam perkara yang tidak diperintahkan baginya. Kemudian beliau shallallahu ’alaihi wa sallam memerintahkan kaum muslimin untuk melakukan puasa pada hari Asyura tersebut.
    Ketiga; ketika diwajibkannya puasa Ramadhan, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam mengatakan bahwa siapa yang ingin berpuasa, silakan dan siapa yang tidak ingin berpuasa, silakan.
    Keempat; Di akhir umurnya, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bertekad untuk menambah puasa pada hari kesembilan Muharram untuk menyelisihi ahlu kitab.

    Rujukan: Latho’if Ma’arif, Ibnu Rojab Al Hambali, hal. 53, Asy Syamilah

    Jazakallah atas infonya
    tapi afwan akh komentar antum yang sebelumnya kayanya banyak kemakan omongan syiah..bukannya ana ga mau mengkoreksi..namun banyak kegiatan yang harus ana kerjakan..coba antum baca tulisan ana disini dulu tentang husain rodhiAllohu’anhu bisa diliat di tag pemurnian sejarah juga kok..
    semoga Allah menunjuki kita..

    Komentar oleh abu | Desember 19, 2010 | Balas

  6. alhamdulilah bermanfaat artikelnya..syukron wa jazakallahu khoiron

    afwan pisan …untuk membantu maisyah ikhwan ana bermaksud untuk membuka barber shop di bandung dan di jakarta..bila ada ikhwan punya skill/keahlian memotong rambut bisa segera hub ana di 0818206609 andy hatur nuhun maaf menganggu kekhusuan antum dalam membaca blog ini..

    Komentar oleh andy | Januari 12, 2011 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: