Salafy Garut

Ilmu-Amal-Dakwah-Sabar

Bagaimana Bertumpunya Tangan Ketika Bangkit Sholat?

Pertanyaan :

Assalamu’alaikum ust,ana ingin tanya tentang menggerak-gerakkan jari telunjuk saat tahiyyat, kapan berhentinya gerakan jari kita itu yakni saat salam pertama atau kedua,mohon dalilnya juga ya ustadz.Kemudian tentang bertumpunya tangan ke lantai saat berdiri perpindahan rokaat yang lebih kuat apakah dengan menggenggam atau dengan melebarkan telapak tangan?ana sdh membaca di kitab sifat sholat nabi karya Syeikh Al.Bani namun ana masih belum jelas.Jazakumulloh khoiron katsiro. (Sugimin | Batam | Pria | Swasta)

Jawaban :

Wa’alaikumus salam warohmatullahi wabarokatuh

Pertanyaan pertama tentang berhentinya gerakan jari telunjuk, kami tidak mendapatkan dalil khusus tentangnya. Kami hanya mendapati penjelasan al-Muhaddits al-Albani rahimahullahu di dalam buku Shifatu Sholâtin Nabî dalam bab Tahrikul Ishba’ fît Tasyahhudi ketika memberikan catatan kaki terhadap hadits : “Terkadang beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam membentuk ibu jari dan jari tengahnya bentuk lingkaran, dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam mengangkat jari (telunjuk)nya dan menggerak-gerakkannya sambil berdo’a.”

Syaikh al-Albani rahimahullâh mengomentari : “Di dalam hadits ini terdapat dalil yang menunjukkan sunnahnya terus menggerak-gerakkan jari ketika berisyarat dengan telunjuk hingga mengucapkan salam, karena sebelum salam terdapat doa. ini adalah pendapat Malik dan lainnya.”

Penjelasan Syaikh al-Albani rahimahullâhu di atas, menunjukkan bahwa menggerak-gerakkan jari telunjuk adalah sampai salam. Sejauh pengetahuan kami, salam yang dimaksud adalah salam pertama, sebab ada riwayat yang menjelaskan bahwa Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa Sallam hanya melakukan satu kali salam sembari mengucapkan “Assalamu’alaykum”. Wallôhu a’lam.

Adapun pertanyaan kedua, mengenai bangkit dari duduk istirahat pada perpindahan rakaat, maka para ulama berbeda pendapat. Hanafiyah dan Hanabilah berpendapat bahwa yang afdhal adalah, bertumpu pada kedua lututnya bukan kedua tangannya kecuali apabila dalam keadaan masyaqqoh (berat/sulit), sedangkan Malikiyah dan Syafi’iyah berpendapat bahwa yang afdhal adalah bertumpu pada kedua telapak tangan tanpa menggenggam. Para ulama fikih dan hadits juga berbeda pendapat tentang hadits ‘ajn (mengepal) ketika bangkit dari sujud. Hadits yang dimaksud adalah :

عن الأزرق بن قيس – رحمه الله – قال : رأيت عبد الله بن عمر وهو يَعْجِنُ في الصلاة ؛ يعتمد على يديه إذا قام فقلت : ما هذا يا أبا عبد الرحمن ؟ قال : ( رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم يعجن في الصلاة يعني : يعتمد

“Dari al-Azraq bin Qoys rahimahullâhu beliau berkata : Aku melihat ‘Abdullah bin ‘Umar sedang mengepal ketika sholat, beliau bertumpu pada kedua tangannya ketika berdiri. Saya bertanya kepada beliau, “apa yang anda lakukan ini wahai Abu ‘Abdirrahman?”. Maka beliau menjawab, “Aku melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam mengepal (ketika bangkit) di dalam sholatnya, yaitu bertumpu (pada kedua tangannya).”

Hadits di atas dishahihkan oleh al-Muhaddits al-Albani rahimahullâhu dalam Silsilah ash-Shahîhah hadits no 2674. Sebagian ulama mendhaifkan hadits di atas, diantaranya adalah Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullâhu dalam buku beliau Lâ Jadîd fî Hukmi ash-Sholâh. Syaikh al-Albani rahimahullâhu lebih merajihkan pendapat mengepal (‘ajn) ketika bangkit berdiri dari sujud dan duduk istirahat. Syaikh al-Albani juga telah membantah mereka yang mendhaifkan hadits ‘ajn ini di dalam kitab Tamâmul Minnah (196-207) dan Syaikh ‘Ali Hasan al-Halabi juga juga menyinggung masalah ini di dalam buku terbaru beliau Su`âlât ‘Alî bin Hasan li Syaikhihi al-Imâm al-Allâmah a-Muhaddits al-Faqîh asy-Syaikh Muhammad Nâshiruddîn al-Albânî Jilid II hal 258-260.

Sekali lagi, ini termasuk masalah khilafiyah ilmiyah yang mu’tabar. Sehingga tidak boleh ada perselisihan dan permusuhan dalam masalah ini. Yang boleh kita lakukan adalah, belajar, menelaah dan membahas permasalahan ini secara ilmiah, dan mendiskusikannya dengan cara yang baik. Wallohu a’lam bish showab

sumber : http://konsultasi.stai-ali.ac.id/?p=103

Mei 8, 2009 - Posted by | fiqh

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: