Salafy Garut

Ilmu-Amal-Dakwah-Sabar

KEADILAN ALLAH TA’ALA DAN KEMURAHAN-NYA

Bismillah walhamdulillah beberapa waktu yang lalu ada sebuah pertanyaan dari saudara yang mulia yang karena beberapa alasan saya tidak bisa menjawabnya, diantaranya adalah karena kesibukan saya. Alhamdulillah malam ini (semoga Allah membantu saya) akan saya bahas. Dan bagi ikhwan-ikhwan yang ingin menyumbangkan pemikirannya maka tafadhdhol, kritik dan saran kami tunggu, semoga Allah memberkati kalian dan mengampuni dosa-dosa kita di akhir hayat.

Pertanyaan tersebut adalah (kalau saya tidak salah ingat) jika Allah lah yang menciptakan makhluk mengapa Allah juga  yang menghukum makhluk tersebut. Apakah Allah sudah tau dimana makhluk itu berada nanti di surga atau di neraka sebelum makhluk itu diciptakan?lalu apa manfaat beriman dalam hal tersebut?lalu dimanakah keadilan Allah?apakah Allah ridha dengan perpecahan dan kekafiran hambanya?

Jawaban dari pertanyaan tersebut mungkin akan panjang..namun disini saya akan berusaha untuk meringkas mungkin jawaban dari pertanyaan tersebut

Pada intinya jawaban dari pertanyaan tersebut tercakup dalam suatu pasal rukun islam yang enam yaitu beriman kepada qodho dan qodar.  Maka perhatikanlah kaidah-kaidah dibawah ini dengan cermat dan benar sehingga diharapkan setelah kita mengetahui dasarnya maka kita dengan mudah pun dapat mengetahui cabang-cabangnya.

–          Pertama-tama ahlussunnah wal jamaah meyakini dengan keyakinan yang kuat bahwa Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Oleh karena itu Allah disifati mempunyai sifat ILMU dimana ilmu Allah itu berbeda dengan ilmu Makhluk. Ilmu Allah bersifat sempurna.  Allah berilmu tanpa didahului sifat bodoh sebelumnya, berbeda dengan makhluk yang mempunyai sifat ketidak tahuan (atau bodoh) sebelumnya. Dan ilmu Allah pun tidak juga ditimpa kelupaan, oleh sebab itulah ketika Fir’aun berkata kepada Musa :” Maka bagaimanakah keadaan umat-umat terdahulu?” Musa pun menjawab ,” Pengetahuan tentang itu ada disisi Tuhanku, didalam sebuah kitab. Tuhanku tidak akan salah dan tidak (pula) lupa. “ (QS. Thaahaa : 52) sedangkan ilmu manusia terkungkung dalam dua sifat tadi (bodoh sebelumnya dan dapat tertimpa kelupaan), dalilnya adalah “ dan Allah mengeluarkan kamu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun” (QS. An-Nahl:78).

Kemudian Ilmu Allah pun mencakup segala sesuatu (“Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu (QS. Al Ahzab:40) baik umum ataupun yang terperinci bahkan sangat terperinci sebagaimana mengetahui daun yang gugur (“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz) (QS. Al-An’aam:59)” dan banyak lagi dalil yang lainnya

Oleh karena itu maka Allah pun lebih berhak mengetahui nasib suatu makhluk apakah dia di neraka atau disurga tempat berakhirnya nanti.

–          Kita (Ahlussunnah wal Jama’ah) pun meyakini bahwa kita beriman pula dengan “PENULISAN (KITABAH)”

Segala sesuatu yang ada, maupun yang akan tidak ada lagi setelah tadinya ada, seluruhnya telah tertulis didalam kitab Allah lima puluh ribu tahun sebelum Dia menciptakan qalam (pena). Dia berfirman kepadanya : “tulislah!”, ia pun bertanya “Ya Tuhanku, dan apa yang aku akan tuliskan?, Allah pun menjawab : “Tulislah apa saja yang akan terjadi!” maka, berlakulah pada saat itu apa saja yang akan terjadi sampai hari Qiamat tiba. Maka apa saja yang seharusnya akan menimpa seseorang, maka iapun tidak akan luput darinya, begitu pula sebaliknya apa saja yang luput darinya, maka tidak akan menimpanya. Dalilnya adalah “Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi?; bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah. (QS. Al-Hajj:70). Sedangkan dari hadis adalah hadis yang diriwatkan oleh Bukhari dan Muslim : Dari Abu ‘Abdirrahman Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anh, dia berkata : bahwa Rasulullah telah bersabda, “Sesungguhnya tiap-tiap kalian dikumpulkan penciptaannya dalam rahim ibunya selama 40 hari berupa nutfah, kemudian menjadi ‘Alaqoh (segumpal darah) selama itu juga lalu menjadi Mudhghoh (segumpal daging) selama itu juga, kemudian diutuslah Malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya lalu diperintahkan untuk menuliskan 4 kata : Rizki, Ajal, Amal dan Celaka/bahagianya” (lihat hadis ini pula dalam kitab hadis arbain Imam Nawawi Hadis nomor 4).

–          Ahlussunnah pun meyakini bahwa seseorang masuk surga karena rahmat dari Allah dan masuk neraka karena keadilan Allah. (lihat kitab Aqidah Thohawiyah yang di beri catatan oleh Syaikh Albani).

–          Ahlussunnah pun meyakini bahwa Allah memiliki Masyiah, Iradah dan Mahabbah (kaidah ini wajib dipahami sebelum masuk inti pembahasan)

Allah berfirman :

dan Allah berbuat apa yang Dia kehendaki (QS. Ibrahim :27)

Akan tetapi Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya. (QS. Al-Baqarah : 253).

Apakah yang dimaksud dengan Masyi’ah, Iradah, dan Mahabbah?

Pertama : Apakah masyiah dan iradah itu sama saja atau keduanya bebeda?

Jawabannya : bahwa keduanya berbeda.

Kedua : apakah iradah dan mahabbah itu sama saja, yaitu bahwa apabila Allah mencintai sesuatu berarti Ia juga menghendakinya, dan apabila ia menghendaki sesuatu berarti Ia mencintainya?

Jawabannya : Keduanya berbeda.

Disana terdapat tiga hal yang masing-masing berdiri sendiri, dan tidak memiliki satu makna, yaitu masyiah, iradah dan mahabbah. Masyiah berkaitan dengan hal-hal yang bersifat kauniyah (kejadian)(takdir yang pasti terjadi). Sama saja apakah kejadian itu dicintai Allah ataukah dibenci, artinya bahwasanya Allah terkadang menghendaki sesuatu, padahal Dia tidak mencintainya, juga terkadang Dia menghendaki sesuatu dan Dia mencintai sesuatu itu.

Kita melihat kemaksiatan-kemaksiatan yang ada, bahwa hal itu terjadi dengan sebab kehendak Allah, namun Dia tidak menyukainya. Demikian juga kerusakan di muka bumi dan kekafiran-kekafiran yang terjadi, semua itu terjadi dengan kehendak-Nya, namun Dia tidak menyukainya. Maka Masyiah itu berarti berkaitan dengan kejadian-kejadian, dimana Allah itu berkehendak atas kejadiannya sesuatu yang Dia cintai dan yang tidak dicintai-Nya.

Sedangkan mahabbah,(kecintaan) ini berkaitan dengan perkara-perkara syar’iyyah –yaitu yang berkaitan dengan syariat-, hal ini tidak terjadi melainkan sesuatu yang dicintai-Nya. Maka, kemaksiatan-kemaksiatan tidak dicintai Allah, sedangkan ketaatan-ketaatan itulah yang dicintai Allah, baik terjadi ataupun tidak.

Adapun iradah, maka ia memiliki dua sisi pandang, di satu sisi ia bermakna masyiah dan di sisi lain bermakna mahabbah. Apabila ia bermakna mahabbah maka dikatakan bahwa ia adalah IRADAH SYAR’IYAH –yaitu keinginan pensyariatan- maka ia memiliki makna mahabbah, dan apabila ia bermakna masyiah maka ia dikatakan iradah kauniyah – yaitu kehendak atas kejadian-kejadian alam-.

Ketika iradah itu berupa iradah syar’iyah (mahabbah) maka hal itu tidak memastikan terjadinya apa yang diinginkan. Allah berfirman : Dan Allah hendak menerima taubatmu (QS. An-Nisa:27)

Maka dalam ayat ini Allah berkehendak dengan iradah syar’iyah yang bermakna mahabbah (kecintaan). Sebab kalau ia bermakna masyiah maka akan terjadilah penerimaan taubat dari seluruh manusia, sedangkan kita melihat bahwa sebagian manusia ada yang bertaubat dan ada pula yang tidak bertaubat.

Sedangkan apabia dia itu iradah kauniyah (masyiah),  maka iradah ini memastikan terjadinya apa yang dikehendaki. Maka apabila Allah menghendaki sesuatu itu terjadi, terjadilah ia dan memang harus terjadi. Dan iradah yang bermakna masyiah ini terjadi pada sesuatu yang dicintai dan yang tidak Dia cintai namun apabila Allah berkehendak dengan kehendak dalam makna ini maka pasti terjadi dan harus demikian.

Allah berfirman :

Akan tetapi Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya. (QS. Al-Baqoroh : 253)

Dan Allah berbuat apa yang Dia kehendaki (QS. Ibrahim :27)

Sekiranya Allah hendak menyesatkan kamu (qs. Huud :34) dalam ayat ini sesungguhnya berkehendak menyesatkan kamu, dan bukan bermakna suka menyesatkan kamu, sebab Allah tidak suka menyesatkan hamba-hamba-Nya. (lihat ulang definisi mahabbah)

–          Allah membenci kekafiran meskipun Dia Menghendakinya (dan ini merupakan salah satu inti pembahasan)

Apabila Allah membenci kekafiran, lalu bagaiman Dia menghendakinya, padahal tidak ada seseorang pun yang dapat memaksaNya. Jawabannya adalah : bahwa sesuatu yang dikehendaki itu ada dua macam.

Pertama : sesuatu dikehendaki karena dzatnya, dan dia adalah sesuatu yang dicintai. Maka sesuatu yang dicintai itu dikehendaki oleh siapa saja yang menghendakinya karena dzatnya seperti keimanan, keimana itu dikehendaki Allah secara syar’i maupun Kauni (takdir), sebab ia merupakan sesuatu yang dikehendaki karena dzatnya.

Kedua : sesuatu yang dikehendaki oleh sebab yang lain, artinya bahwa Allah menetapkannya bukan karena Dia mencintainya, namun karena pengaruh yang diakibatkan itulah –yang berupa kemaslahatan-kemaslahatan- yang dikehendaki, maka dari sisi ini berarti ia mengandung sebuah hikmah, dan tidak ada paksaan didalamnya.

Contohnya adalah bahwa kekafiran itu dibenci Allah akan tetapi Allah menetapkan atas para hamba. Sebab bila tidak ada kekafiran maka tidak ada bedanya mana yang mukmin mana yang kafir, dan yang mukmin pun tidak bisa menjadi pusat pujian padanya, sebab jadinya seluruh  manusia itu mukmin. Demikian pula jika tidak ada kekafiran maka tidak ada pula jihad, sebab kepada siapa orang mukmin akan berjihad?, kalaulah tidak ada kekafiran seorang mukmin pun tidak akan mengetahui kebesaran nikmat Islam yang telah Allah anugerahkan kepadanya, kalaulah tidak ada kekafiran dan manusia semuanya muslim, maka Islam itu tidak ada keutamaannya dan tidak nampak keutamaan itu padanya, kalaulah tidak ada kekafiran maka penciptaan neraka itu sia-sia belaka. Dan sesungguhnya Allah telah menunjukkan hal itu dalam firmannya :

Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. Kalimat Tuhanmu (keputusan-Nya) telah ditetapkan: sesungguhnya Aku akan memenuhi neraka Jahannam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya. (QS. Huud : 118-119)

Maka jelaslah, bahwa sesuatu yang dikehendaki secara Kauni (takdir yang pasti terjadi), yang ia merupakan sesuatu yang dibenci Allah, adalah sesuatu yang dikehendaki karena sesuatu yang lainnya.

Ada suatu contoh yang bagus dalam masalah ini yaitu seseorang yang memiliki anak laki-laki yang ia cintai dengan kecintaan yang sangat, kalau ditimpa percika bara api, maka hal itu pasti sama seperti apa yang menimpa ayahnya, disebabkan rasa cintanya terhadap sang anak, lalu ayahnya pun membawanya ke beberapa dokter, maka berkatalah salah seorang dokter itu : “ini harus dilakukan sundutan padanya dengan sepotong paku yang membara,” maka berkatalah sang ayah bahwa dilakukan pula padanya. Sedangkan sundutan ini bagi anaknya tidak disukai oleh sang ayah oleh sebab dzatnya, namun sang ayah menyukai sundutan itu oleh sebab pengaruh pada anaknya. Disini anda dapatkan seorang ayah, dia mau dengan ketulusan dan kelapangan dada untuk untuk melakukan sundutan pada anaknya dengan paku yang dipanaskan. Pada hal seandainya jatuh percikan api pada diri si anak maka sungguh hal itu akan menimpa pula pada hati sang ayah.

Maka dari sini diketahui bahwasanya sesuatu yang dibenci, terkadang dilakukan juga, bukan karena dzatnya namun karena sesuatu yang lain yang ditibulkannya. Demikian pula kekafiran, kemaksiatan dan kerusakan, hal itu pun dikehendaki oleh Allah sebab hal itu mengandung kemaslahatan-kemaslahatan, maka ia pun dikehendaki karena sesuatu yang lainnya bukan karena dzatnya.

— Faidah

Bagaiman jika ada yang bertanya kepadamu mengenai sikap seorang muslim jika mendapati seseorang yang bersalah/ suatu kekafiran, apakah dia wajib ridho dengan hal tersebut dikarenakan itu sudah merupakan takdir Allah?

Jawaban : maka masalah ini diperinci dan dijadikan dua sisi pandang, yang pertama ditinjau dari bahwa Allah telah menetapkannya dan telah mengadakannya. Maka dari sisi ini ia merupakan Allah yang bersifat kauni yang wajib bagi kita untuk ridha dengannya dan kita tidak mengatakan mengapa Allah menjadikan pezina itu berzina dan menjadikan pencuri itu mencuri? Maka tidak, tidak ada hak bagi kita untuk menentang ketentuan Allah seperti ini.

Adapun yang kedua, dari sisi bahwa hal itu merupakan perbuatan seorang hamba yang berbuat maksiat, maka dari sisi ini kita tidak ridha padanya. Oleh sebab itulah kita tegakkan hukuman atasnya sesuai dengan firman Allah :

Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus dali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman. (QS. An-Nuur : 2)

Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Al-Maaidah: 38)

Dan adalah sesuatu yang sudah dimaklumi, bahwa penderaan kedua pezina dan potong tangan kedua pencuri tersebut dalam ayat diatas adalah merupakan bukti ketidak ridhaan kita. Dan seandainya atas dasar keridhaan, tidak akan kita timpakan hukuman itu bagi mereka, sebab kita sudah merasa ridha.

Begitu pula dalam masalah yang lainnya, tariklah kasus tersebut kedalam faidah ini, dan kaidah kaidah sebelumnya seperti halnya kekafiran seseorang dan perpecahan didalam tubuh umat islam sendiri.

Allohu Ta’ala A’lam

Untuk pembahasan lebih luas lagi silahkan baca  buku Tarbiyah Imaniyah Jibril terbitan Dar El Hujjah karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin. Dimana penulis mengambil banyak faidah dari buku ini ketika menulis pembahasan ini

Selesai 3-7-2011 pukul 00.08 Ranai-Natuna (sebelum pengeditan lebih lanjut)

walhamdulillah

Juli 4, 2011 - Posted by | dasar islam, manhaj, rileks sejenak

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: