Salafy Garut

Ilmu-Amal-Dakwah-Sabar

Terapi Dari Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasalam Bagi Orang Yang Terkena Penyakit Was-Was Percikan Kencing

Terapi Dari Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasalam Bagi Orang Yang Terkena Penyakit Was-Was Percikan Kencing

 

 

وقال المروزى : وضأت أبا عبدالله بالعسكر فسترته من الناس لئلا يقولوا إنه لايحسن الوضوء لقلة صبه الماء وكان أحمد يتوضأ فلا يكاد يبل الثرى

Al-Marwazi berkata, “Aku membantu Abu Abdillah (Imam Ahmad) berwudhu saat bersama orang banyak, tetapi aku menutupinya dari orang-orang agar mereka tidak mengatakan, ‘la tidak membaikkan wudhunya karena sedikitnya air yang dituangkan.’ Dan jika Imam Ahmad berwudhu, hampir saja (air bekasnya) tidak sampai membasahi tanah.”

Khawarij dan Sesuci

Khawarij dikenal dengan sifat berlebih-lebihan mereka dalam segala hal, diantaranya dalam masalah sesuci. Al-Hafizh Ibn Jauzi rahimahullahu dalam Talbis Iblis hal. 20 (cet Dar Fikr, 1421 H) mengisahkan segolongan Khawarij yang berlebih-lebihan dalam masalah sesuci, namanya Al-Makramiyah. Al-Hafizh berkata,

والمكرمية قالوا ليس لأحد أن يمس أحدا لأنه لا يعرف الطاهر من النجس

“Dan Al-Makramiyah berkata, “Seseorang tidak boleh bersentuhan dengan orang lain, karena tidak diketahui siapa yang suci dan siapa yang najis”.

Ini Khawarij yang terdahulu, adapun kelompok Khawarij zaman sekarang bermacam-macam lagi perilaku mereka dalam menyerupai nenek moyangnya. Ada yang rela mengepel lantai, mencuci sajadah, pakaian dan sarungnya hanya karena terinjak atau digunakan selain kelompoknya, yang tidak diketahui apakah mereka sesuci ‘dengan gaya mereka’ atau tidak. Padahal kalau kebenaran itu sesuai metode mereka, maka seharusnya mereka cuci juga uang-uang dalam dompet-dompet mereka yang bahkan tidak diketahui dari tangan siapa uang itu sebelumnya?!!, ini suatu yang menggelikan.

Syubhat mereka dizaman ini adalah bahwa orang selain kelompoknya itu jahil (bodoh) dalam masalah sesuci. Padahal jika mereka mau membuka kembali kitab-kitab hadits, lalu memahaminya sebagaimana mestinya, niscaya akan diketahui siapa yang lebih bodoh. Akan tetapi, pada kesempatan ini kita tidak akan membahas masalah tersebut lebih dalam lagi, sebab yang akan kita bahas adalah masalah was-was yang sering menimpa mereka tatkala kencing.

Yaitu was-was : apakah tubuh mereka terkena percikan kencing atau tidak?! Sehingga haruslah mereka bersusah payah dengan menghabiskan berliter-liter air untuk membersihkan was-was mereka itu. Tidak diragukan ini berasal dari syetan, dan kaum muslimin diperintahkan agar menjauhkan diri dari hal semacam ini.

Menghilangkan was-was

Ibnu Qayyim dalam Ighatsatul Lahfan (1/143 – cet Dar Al-Ma’rifah, 1395 H, tahqiq Muhammad Hamid Al-Faqi), berkata:

قال الشيخ أبو محمد: ويستحب للإنسان أن ينضج فَرْجَه وسراويله بالماء إذا بال، ليدفع عن نفسه الوسوسة، فمتى وجد بللاً قال: هذا من الماء الذي نضحته، لما روى أبو داود بإسناده عن سفيان بن الحكم الثقفي أوالحكم بن سفيان قال: “كان النبي صلى الله عليه وسلم إذا بال توضأ وينضح”، وفي رواية: “رأيتُ رسول الله صلى الله عليه وسلم بال ثم نضح فرجه”، وكان ابن عمر ينضح فرجه حتى يبل سراويله.وشكا إلى الإمام أحمد بعض أصحابه أنه يجد البلل بعد الوضوء، فأمره أن ينضح فرجه إذا بال، قال: ولا تجعل ذلك من همتك، والهُ عنه. وسئل الحسن أوغيره عن مثل هذا فقال: الهُ عنه؛ فأعاد عليه المسألة، فقال: أتستدره لا أب لك! الهُ عنه)

Syaikh Abu Muhammad (Menurut Syaikh Ali Hasan dalam Mawaridul Aman, yang dimaksud adalah Syaikh Abu Muhammad Al-Maqdisi dalam kitabnya Dzammul Was-was, kitab ini telah dicetak pada tahun 1923 oleh Al-Mathba’atul Arabiyah, Kairo -pen) berkata, “Dianjurkan bagi setiap orang agar memercikkan air pada kelamin dan celananya saat ia kencing. Hal itu untuk menghindarkan was-was daripadanya, sehingga saat ia menemukan tempat basah (dari kainnya) ia akan berkata, ‘Ini dari air yang saya percikkan’.” Hal ini berdasarkan riwayat Abu Dawud ((1/43 no. 166, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud (1/34) -pen), melalui sanad-nya dari Suryan bin Al-Hakam Ats-Tsaqafi atau Al-Hakam bin Sufyan ia berkata, “Bahwasanya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam jika buang air kecil beliau berwudhu dan memercikkan air”. Dalam riwayat lain disebutkan, “Aku melihat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam buang air kecil, lalu beliau memercikkan air pada kemaluannya”. Sedangkan Ibnu Umar Radhiyallahu anhu beliau memercikkan air pada kemaluannya sehingga membasahi celananya. Sebagian kawan Imam Ahmad mengadu kepada Imam Ahmad bahwa ia mendapatkan (kainnya) basah setelah wudhu, lalu beliau memerintahkan agar orang itu memercikkan air pada kemaluannya jika ia kencing, seraya berkata, “Dan jangan engkau jadikan hal itu sebagai pusat perhatianmu, lupakanlah hal itu”. Al-Hasan dan lainnya ditanya tentang hal serupa, maka beliau menjawab, “Lupakanlah!” Kemudian masih pula ditanyakan padanya, lalu dia berkata, “Apakah engkau akan menumpahkan air banyak-banyak (untuk membasuh kencingmu)? Celaka kamu! Lupakanlah hal itu!”.

Penulis berkata: Ini contoh kaum salaf, dan sebaik-baiknya salaf yaitu Rasulullah shallallahu’alaihi wasalam. Barangsiapa merasa bahwa apa yang kaum salaf lakukan itu belum cukup, maka celaka lah dia !!.

Ibn Mundzir dalam Al-Ausath berkata,

ذكر استحباب نضح الفرج بعد الوضوء ليدفع به وساوس الشيطان وينزع الشك به

Pembahasan tentang dianjurkannya memerciki kemaluan setelah wudhu agar terhindar dan terlindungi dengannya dari was-was setan dan kebimbangan.

Lalu beliau menyebutkan berbagai hadits dan atsar yang sebagian diantaranya telah disebutkan oleh Ibn Qayyim, dikutip pula perkataan Ibn Abbas, “…seandainya ia menemukan tempat basah (dari kainnya) ia akan berkata, ‘Ini dari air yang saya percikkan’.”

Dan dari Abdullah bin Mughaffal Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

لا يبولن أحدكم فى مستحمه ثم يغتسل فيه ». قال أحمد « ثم يتوضأ فيه فإن عامة الوسواس منه.

“Janganlah salah seorang diantara kamu kencing di tempat mandinya kemudian mandi (berkata Ahmad) atau wudhu di tempat tersebut, karena sesungguhnya umumnya ganguan was-was itu dari situ”.

Hadits riwayat Abu Daud no. 27 –ini lafazhnya, juga oleh Tirmidzi no. 21 dan Nasa’i no. 36, dishahihkan oleh Al-Albani.

Was-was setelah kencing

Ibn Qayyim dalam kitabnya Ighatsatul Lahfan [kutipan dari Mawaridul Aman] menyebutkan contoh-contoh was-was setelah kencing:

“… Dan hal itu ada sepuluh macam: As-Saltu/An-Natru (السلت والنتر), An-Nahnahatu (النحنحة), Al-Masyyu (المشي), Al-Qafzu (القفز), Al-Hablu (الحبل), At-Tafaqqudu (التفقد), Al-Wajuru (الوجور), Al-Hasywu (الحشو), Al-Ishabatu (العصابة), Ad-Darjatu (الدرجة)”.

Adapun السلت yaitu ia menarik (mengurut) kemaluannya dari pangkal hingga ke kepalanya. Memang ada riwayat tentang hal tersebut, tetapi haditsnya gharib dan tidak diterima. Dalam Al-Musnad dan Sunan Ibnu Majah dari Isa bin Yazdad dari ayahnya, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Jika salah seorang dari kamu buang air kecil, maka hendaklah ia menarik (mengurut) kemaluannya sebanyak tiga kali’.” Mereka berkata, “Karena dengan as-saltu dan an-natru (keduanya bermakna menarik/mengurut, dalam hal ini mengurut kemaluan) maka akan bisa dikeluarkan sesuatu yang ditakutkan kembali lagi setelah bersuci.” Mereka juga berkata, “Jika untuk itu memerlukan berjalan beberapa langkah, lalu ia lakukan, maka itu lebih baik.”

Adapun النحنحة (berdehem) dilakukan untuk mengeluarkan (air kencing) yang masih tersisa.

Demikian juga dengan القفز, yang berarti melompat di atas lantai kemudian duduk dengan cepat.

Sedangkan الحبل yaitu bergantung diatas tali hingga tinggi, lalu menukik daripadanya kemudian duduk.

التفقد yaitu memegang kemaluan, lalu melihat ke lubang kencing, apakah masih tersisa sesuatu di dalamnya atau sudah habis

الوجور yaitu memegang kemaluan, lalu membuka lubang kencimg seraya menuangkan air ke dalamnya.

الحشو yaitu orang tersebut membawa sebuah alat untuk memeriksa kedalaman luka yang dibalut dengan kapas (mungkin juga lidi atau sejenisnya yang dianggap aman), lalu lubang kencing itu ditutup dengan kapas tersebut, sebagaimana lubang bisul yang ditutup dengan kapas.

العصابة yaitu membalutnya dengan kain.

الدرجة yaitu naik ke tangga beberapa tingkat, lalu turun daripadanya dengan cepat.

المشي yaitu berjalan beberapa langkah, kemudian mengulangi bersuci lagi.

Syaikh kami (Ibn Taimiyah – pen) berkata, “Semua itu adalah was-was dan bid’ah.” Saya (Ibn Qayyim -pen) kembali bertanya tentang menarik dan mengurut kemaluan (dari pangkal hingga ke kepala kelamin), tetapi beliau tetap tidak menyetujuinya seraya berkata, “Hadits tentang hal tersebut tidak shahih.”

Dan air kencing itu sejenis dengan air susu, jika engkau membiarkannya maka ia diam (tidak mengalir), dan jika engkau peras maka ia akan mengalir. Siapa yang membiasakan melakukannya maka ia akan diuji dengan hal tersebut, padahal orang yang tidak memperhatikannya akan dimaafkan karenanya. Dan seandainya hal ini Sunnah, tentu Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam serta para sahabatnya lebih dahulu melakukannya. Sedangkan seorang Yahudi saja berkata kepada Salman, “Nabimu telah mengajarkan kepada kalian segala sesuatu sampai dalam masalah khira’ah (buang air besar).” Salman menjawab, “Benar!” (Diriwayatkan Muslim). Lalu, adakah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam telah mengajarkan hal-hal di atas kepada kita?.

Islam itu Mudah

Ibn Qayyim menyebutkan pula: Keterlaluannya orang yang senantiasa was-was termasuk tindakan berlebih-lebihan adalah melakukan sesuatu secara ekstrim (melampaui batas) padahal Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang diutus dengan agama yang mudah telah memberi kemudahan di dalamnya.

Di antara kemudahan itu adalah berjalan tanpa alas kaki di jalan-jalan, kemudian shalat tanpa membasuh kakinya terlebih dahulu.

Abdullah bin Mas’ud berkata, “Kami tidak berwudhu karena menginjak sesuatu.”

Dan dari Ali Radhiyallahu Anhu, bahwasanya ia menceburkan dirinya di lumpur hujan, kemudian masuk masjid dan shalat, tanpa membasuh kedua kakinya terlebih dahulu.

Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu ditanya tentang seseorang yang menginjak kotoran manusia, beliau menjawab, “Jika kotoran itu kering maka tidak mengapa, tetapi jika basah maka ia harus membasuh tempat yang mengenainya.”

Abu Asy-Sya’sya’ berkata, “Suatu ketika Ibnu Umar berjalan di Mina dan menginjak kotoran ternak serta darah kering dengan tanpa alas kaki, lalu beliau masuk masjid dan shalat, tanpa membasuh kedua telapak kakinya.”

Ashim Al-Ahwal berkata, “Kami datang kepada Abul Aliyah, kemudian kami meminta air wudhu. Lalu beliau bertanya, ‘Bukankah kalian masih dalam keadaan wudhu?’ Kami menjawab, ‘Benar! Tetapi kami melewati kotoran-kotoran.’ Ia bertanya, ‘Apakah kalian menginjak sesuatu yang basah dan menempel di kaki-kaki kalian?’ Kami menjawab, Tidak!’ Dia berkata, ‘Bagaimana dengan kotoran-kotoran kering yang lebih berat dari ini, yang diterbangkan angin di rambut dan di jenggot kalian?”.

Ibn Qayyim menyebutkan pula: “Sesuatu yang menurut hati orang-orang yang terbiasa was-was tidak baik adalah shalat dengan memakai sandal, padahal ia merupakan Sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam kepada para sahabatnya, beliau melakukan hal yang sama, juga memerintahkannya.

Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu meriwayatkan, bahwasanya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam shalat dengan kedua sandalnya. (Muttafaq Alaih).

Syaddad bin Aus berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Selisihilah orang Yahudi, sesungguhnya mereka tidak shalat dengan memakai khuf dan sandal mereka”.

Imam Ahmad ditanya, “Apakah seseorang shalat dengan memakai kedua sandalnya?” Beliau menjawab, “Ya, demi Allah.”

Sedangkan kita melihat orang-orang yang terbiasa was-was, jika ia shalat jenazah dengan memakai kedua sandalnya, maka ia akan berdiri di atas kedua tumitnya, seakan-akan berdiri di atas bara api, bahkan hingga tidak shalat dengan keduanya”.

Berlebihan menggunakan air

Ibn Qayyim menyebutkan pula: Berlebih-lebihan dalam penggunaan air termasuk di dalamnya berlebih-lebihan dalam penggunaan air wudhu dan mandi.

Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnadnya dengan sanad hasan, demikian seperti dijelaskan dalam Al-Muntaqa An-Nafis dari hadits Abdillah bin Amr, “Bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berlalu di samping Sa’d yang sedang berwudhu, maka beliau bersabda, ‘Jangan berlebih-lebihan (dalam penggunaan air).’ Ia bertanya, ‘Wahai Rasulullah! Apakah berlebih-lebihan dalam (penggunaan) air (juga terlarang)?’ Beliau menjawab, Ya, meskipun engkau berada di sungai yang mengalir’.”

Dan dalam Al-Musnad serta As-Sunan dari hadits Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya, ia berkata, “Seorang Arab Badui datang kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bertanya tentang wudhu. Lalu beliau memperlihatkan padanya tiga kali-tiga kali seraya bersabda, ‘Inilah wudhu (yang sempurna) itu’, maka siapa yang menambah lebih dari ini berarti ia telah melakukan yang buruk, melampaui batas dan aniaya.”

Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnad-nya, dari Jabir ia berkata, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Telah cukup untuk mandi satu sha’ air (-/+ 4 mud) dan untuk wudhu satu mud air (- 2 liter)”.

Dalam Shahih Muslim dari Aisyah Radhiyallahu Anha disebutkan, “Bahwasanya ia mandi bersama Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dari satu bejana yang berisi tiga mud (air) atau dekat dengan itu.”

Abdurrahman bin Atha’ berkata, “Aku mendengar Sa’id bin Musayyib berkata, ‘Saya memiliki rikwah (tempat air dari kulit) atau gelas, yang berisi setengah mud atau semisalnya, aku buang air kecil dan aku berwudhu daripadanya, serta masih aku sisakan sedikit daripadanya’.”

Abdurrahman menambahkan, “Hal itu lalu kuberitahukan kepada Sulaiman bin Yasar, kemudian ia berkata, ‘Ukuran yang sama juga cukup untukku’.”

Abdurrahman juga berkata, “Hal itu kuberitahukan pula kepada Abu Ubaidah bin Muhammad bin Amar bin Yasir, lalu ia berkata, ‘Demikianlah yang kami dengar dari para sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam’.” (Diriwayatkan Al-Atsram dalam Sunannya).

Ibrahim An-Nakha’i berkata, “Mereka (para sahabat) sangat merasa cukup dalam hal air daripada kalian. Dan mereka berpendapat bahwa seperempat mud telah cukup untuk wudhu.” Tetapi ucapan ini terlalu berlebihan, karena seperempat mud tidak sampai satu setengah uqiyah’ Damaskus.

Dalam Shahihain disebutkan, Anas berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berwudhu dengan satu mud, dan mandi dengan satu sha’ hingga dengan lima mud.”

Dan Al-Qasim bin Muhammad bin Abi Bakar Ash-Shiddiq berwudhu dengan sekitar setengah mud atau lebih sedikit dari itu.

Muhammad bin Ijlan berkata,

الفقه في دين الله إسباغ الوضوء وقلة إهراق الماء

“Paham terhadap agama Allah (di antaranya ditandai dengan) menyempurnakan wudhu dan menyedikitkan penumpahan air.”

Imam Ahmad berkata, “Dikatakan, pemahaman seseorang (terhadap agama) dapat dilihat pada kecintaannya kepada air.”

Al-Maimuni berkata, “Aku berwudhu dengan air yang banyak, lalu Imam Ahmad berkata kepadaku, Wahai Abul Hasan! Apakah kamu rela seperti ini?’ Maka aku serta-merta meninggalkan (dari penggunaan air yang banyak).”

Akibat was-was

Ibn Qayyim menyebutkan pula: Abu Daud meriwayatkan dalam Sunan-nya dari hadits Abdillah bin Mughaffal, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Akan ada dalam umatku kaum yang berlebih-lebihan dalam soal bersuci dan berdoa.”

Jika Anda membandingkan hadits diatas dengan firman Allah, “Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (Al-A’raaf: 55).

Dan Anda mengetahui bahwa Allah mencintai hamba yang beribadah kepada-Nya, maka akan muncullah kesimpulan bahwa wudhunya orang yang was-was, tidaklah termasuk ibadah yang diterima Allah Ta’ala, meskipun hal itu telah menggugurkannya dari kewajiban tersebut, dan oleh sebab itu tidaklah akan dibukakan baginya pintu-pintu surga yang delapan karena wudhunya agar ia bisa masuk darimana saja ia suka.

Di antara kejelekan lain dari was-was yaitu orang yang bersangkutan terbebani dengan tanggungan air yang lebih dari keperluannya, jika air itu milik orang lain, seperti air kamar mandi (umum). Ia keluar daripadanya dengan memiliki tanggungan atas apa yang lebih dari keperluannya. Lama-kelamaan hutangnya semakin menumpuk, sehingga membahayakan dirinya di Alam Barzah dan ketika Hari Kiamat. [akhir nukilan dari Mawaridul Aman].

 

sumber = http://rumahku-indah.blogspot.com/2009/02/normal-0-false-false-false-en-us-x-none_19.html

Januari 2, 2012 - Posted by | dasar islam, fiqh

25 Komentar »

  1. Assalamualaikum, maaf saya ingin bertanya, saya juga mengalami hal seperti ini dan mengganggu saya, saya sering was was saat setelah kencing dan mandi, yang ingin saya tanyakan saya saat ini was was dengan lantai ataupun jalan raya, ketika ada benda terjatuh dari jalan raya atau lantai dan diambil saya takut benda tersebut menjadi najis dam menyebar ke benda2 lain saat saya menyentuh benda lainya, bagaimana penyembuhanya mas, mohon bantuanya , terimakasih

    admin
    pada asalanya hukum benda adalah suci seperti lantai , jalanan dan alas kaki,hilangkan saja keraguan saudara..dan banyak berdoa..berusahalah untuk tidak mengingat2,silahkan baca kembali keterangan saya yang telah lewat dan tulisan lain yang ada di blog ini.Barokallah fik

    Komentar oleh hamba Allah | April 30, 2013 | Balas

  2. assalamualikum, saya juga termasuk orang yang was-was terhadap najis anjing, bahkan say sudah dianggap gila oleh ibu saya karna hal ini, apa yang seharusnya saya lakukan, kasus saya seperti ini :

    saya selalu was-was terhadap najis anjing yang melekat pada motor yang tiap hari harus dicuci, motor tersebut dipakai buat jualan ikan oleh ayah saya, jadi suatu hari ayah say ke kampung dan dikampung tu ada anjing, jd pas beliau pulang kerumah saya was-was apakah anjing tu jilat atau tidak, jadi saya samak/sertu motor tu, lepas tu saya was-was ada bagian yang belum di samak/sertu jadi saya bingung apa yang harus saya lakukan, hal ini sugguh membuat saya gila, saya dah berusaha pindah mazhab dr mazhab syafi’i ke mazhab maliki yang meringankan tentang anjing tapi tidak bisa, tolong bantu saya admin…
    admin :
    was-was tidak membahayakan dan motor anda tidak dikatakan dijilat anjing karena anda tidak melihatnya, shingga tetap suci walaupun kelihatan kotor, ingat = kotor tidak berarti najis, setan akan senang dengan sikap was-was anda yang berlebih, lawanlah dia!!

    Komentar oleh andre septiawan | Juni 5, 2013 | Balas

  3. assalamualaikum
    saya mau tanya,apakah najis bisa dianggap hilang jika rasa, bau, dan warnanya telah hilang baik oleh sinar matahari maupun yang lainnya? dan apakah kita diperbolehkan pindah mazhab untuk mencari kemudahan dalam beragama dalam suatu perkara? dan apakah cara terbaik untuk menjauhi was-was tentang najis ?

    atas jawabannya, saya ucapkan terima kasih
    admin
    baca tulisan saya dan jawaban saya atas komentar2 diatas agar pengetahuan anda menyeluruh
    Allohu ta’ala A’lam
    ikutilah mazhab yang sesuai keyakinan anda, jangan sesuai dengan keinginan anda, dan perbekalilah dengan sisi pendalilannya (quran dan sunnah), bukan fanatisme buta

    Komentar oleh andre septiawan | Juni 6, 2013 | Balas

  4. assalamualikum

    Ibn Taymiyah (Majmu’ Fatawa Ibn Taymiyah, Jld 1 ms 475)
    berpendapat sesungguhnya najis yang menghilang dengan apa jua cara termasuk panas matahari, angin, atau hujan, maka hilanglah hukum najis ke atasnya.”

    apakah hadist tersebut juga mencakup anjing?
    admin
    Allahu A’lam saya tidak tahu, tapi hilangkan was-was

    Komentar oleh hamba allah | Juni 7, 2013 | Balas

  5. assalamualaikum ustad
    apakah wajib menjawab salam yang diucapkan melalui tv atau pun radio?

    jika siaran ulang tidak wajib, jika 1 orang sudah menjawab maka yang lainnya sudah tidak wajib lagi

    Komentar oleh hamba Allah | Juni 12, 2013 | Balas

  6. sy punya riwayat penyakit beser, sewaktu2 saya masih sering merasa ada air seni yang kluar sedikit saat saya shalat atau hendak shalat, saya tidak tahu apakah itu sekedar was-was atau memang benar adanya. apa yang harus saya lakukan
    admin
    kalau anda yakin keluar berarti memang keluar namun jika ragu maka anda tetap suci dan teruskan saja sholatnya dan jangan dihiraukan insya Allah penyakit was-was anda bisa sembuh.bantu dengan doa

    Komentar oleh fida | Juli 7, 2013 | Balas

  7. assalamu’alaikum ..ustadz sy tlah membaca artikel diatas namun saya ingin bertnya .. sy kencing dlm posisi jongkok nah sy tlah berdhem smpe 3 x dan lebih lalu stlahnya sy berdiri lalu jongkok dan berdiri lagi brulang bbrpa kali.. sy steelah bersuci nah saya sangat was was sekali bila masih ada yg keluar tetesan air kencing stlah bersuci.. lalu sy ragu2 utk mnggnakan ‘maaf (clna dalam) tkut kluar tetesan.. nah stlh itu sring cek kelamin sy dan perhatikan trnyta msh ada yg keluar sperti rembesan air (ntah air kenxing atau air bersuci).. apkah sy perlu bersuci lg.. saya takut skali mngenai ini
    dan apkah boleh kencing berdiri? mohon ustadz menjawab pertanyaan saya… terima kasih ustadz..

    Komentar oleh abdul haris | Agustus 31, 2013 | Balas

    • wa’alaikumussalam
      antum tidak perlu takalluf (memberatkan diri dengan perbuatan seperti itu), hal tersebut bisa menyebabkan bid’ah!!, dan ana yakin itu hanya was-was..hiraukan saja insya Allah tidak membahayakan ibadah antum dan antum tetap suci tidak perlu berwudhu kembali karena sebab itu,dan berdoalah kepada Allah agar dihilangkan penyakit was-was tersebut
      Kencing sambil berdiri boleh,karena riwayatnya kuat. lihat di situs http://www.abusalma.wordpress.com
      Allohu A’lam

      Komentar oleh Diqra al Garuti | Oktober 12, 2013 | Balas

  8. assalamualaikum. maaf saya ingin bertanya. apabila saya memegang sesuatu fikiran saya selalu mengatakan tangan saya terlekat najis dan saya patut samak benda yang saya pegang dan juga tangan saya. apa patut saya lakukan.? adakah ini hanya perasaan saya atau saya perlu betul betul untuk menyamaknya? dan apakah doa atau cara terbaik untuk menghilangkan penyakit was-was ini? mohon penjelasan.

    Komentar oleh mk | September 25, 2013 | Balas

    • wa’alaikumsalam
      kalau antum tidak tahu najis / tidak berarti itu was-was dan obatnya adalah tidak menghiraukannya..jangan membuang banyak pikiran antum disatu permasalahan tersebut saja..masih banyak amal kebajikan lain yang antum harus ketahui dan amalkan, belajarlah Islam dengan pemahaman salafussoleh yang benar,belajarlah dengan ustad yang berpemahaman salafussoleh, cari di daerah antum. berusahalah dengan usaha yang sungguh sungguh..sepertinya bahasa antum asing di ana,antum berasal darimana?semoga ana bisa carikan tempat belajar..Barokallohfik banyaklah berdoa disertai keikhlasan dihadapan Allah agar terhindar dari penyakit ini.Allohu A’lam

      Komentar oleh Diqra al Garuti | Oktober 12, 2013 | Balas

  9. Pa Ustadz, saya mau izin copy paste ke microsoft word, agar bisa dimanfaatkan, boleh ?
    admin
    silahkan..dan jangan lupakan doakan saya..Barokallahfiyk

    Komentar oleh Fahmi Muhammad | Januari 18, 2014 | Balas

  10. Assalamualaikum wr wb ustad. menyambung pembicaraan dari yg tlah ada seblumnya. Saya juga mengalami was-was yg sama mngenai bersuci dan juga terasa adanya tetesan kencing yg keluar dalam sholat maupun kehidupan sehari-hari. sehingga saya sering mengganti celana dalam ketika hendak sholat. saya juga sering berusaha utk membuang perasaan was-was ini. namun, saya juga pernah membaca artikel bahwa Nabi pernah melintasi suatu kuburan dimana orang tersebut disiksa karena tidak sempurna dalam bersucinya. hal inilah yg membuat saya sangat berhati-hati dalam bersuci hingga mnejadi was-was di dalam diri saya. Bagaimana pendapat Ustad mengenai hal ini. Mohon penjelasannya karena hal ini benar-benar merisaukan saya.
    admin
    jika antum sudah benar dalam bersuci maka was-was antum tidak termasuk dalam hadis orang yang disiksa kubur karena kencingnya.
    justru kalo antum tetap was-was maka antum menyalahi Nabi.. (ini lebih ngeri lagi) bukankah Nabi mengatakan “tinggalkan yang meragukanmu kepada yang tidak meragukanmu..”
    renungi ayat berikut “Dan barangsiapa yang MENENTANG ROSUL sesudah jelas KEBENARAN BAGINYA, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min, Kami biarkan ia LELUASA terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam JAHANNAM, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali” (QS. An Nisaa : 115)
    “Dan tidaklah patut bagi laki-laki dan perempuan yang beriman, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, mereka memiliki pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata” (QS. Al Ahzab : 36)
    berdoalah kepada Allah. SSemoga Allah menunjuki kita. Barokallahfiyk

    Komentar oleh Pengen Tahu | Februari 19, 2014 | Balas

  11. Assalamu’alaiku wr.wb
    ustad ana mau tanya masalah was” tentang kencing biasanya ana kalau habis kencing /mandi selalu ana keringkan pakai handuk setelah kering lalu ana wudu’ setelah itu ana coba lihat kok masih ada sedikit air di ujung kemaluan ana tapi tidak terasa keluarnya yg ana tanyakan itu air kencing / air sesuci tadi dan apkah ana harus bersuci & menunggu sampai kering lalu wudhu’ lagi
    trima kasih
    wassalumu’alaikum wr.wb

    Komentar oleh Imron | April 14, 2014 | Balas

  12. Assalamu ‘alaikum

    Pak ustadz masha allah saya juga termasuk golongan orang2 yg terkena penyakit was2, saya mau bertanya, apakah menghilangkan najis seperti air kencing itu sebagai rukun mandi janabat, ??? Maaf beri saya masukan mengenai hal ini di sertai haditsnya ??

    Komentar oleh Syahril | Juni 30, 2014 | Balas

  13. Assallamualaikum ustadz, saya mau nanya kalau semisal kita pakai celana panjang dan kencing sambil berdiri, dan air precikan kencing tadi mengenai celana walaupun intensitasnya sedikit dan bagaian bawah saja yang terkena, itu solusinya bagaimana, apakah harus mengganti celana atau memrecikan air ke celana dan celana yang terkena precikan tadi pernah saya cium baunya tapi tidak ada bau pesing, mohon pencerahannya ustadz
    soalnya jika mengalami hal seperti itu di kampus kan harus pulang ke rumah kalau mau ganti celana, sedangkan rumah saya jauh
    terima kasih

    Komentar oleh Yuli Nurdiyanto | September 8, 2014 | Balas

    • Bisa dicuci pada bagian yang diyakini terkena najisnya,
      usahakan saat kencing tidak terciprat/ bisa dengan jongkok

      Komentar oleh Diqra al Garuti | Juli 21, 2016 | Balas

  14. AssalamuAlaikum ustad.., Mao bertanya tentang rasa was was karena saya juga orang yang was was dalam najis.., sampek saya bingung dan setres karena perasaan dan fikiran selalu bertentangan kacau melulu. hati bilang suci tp otak bilang najis kadang sebaliknya hati bilang najis fikiran bilang suci.., Begini ustad, saya itu kadang sering keringetan.., dengan begitu seluruh badan saya basah, Contohx tangan misalx, Nah bagaimana hukumx apabila tangan saya yang basah karena keringat itu menyentuh lantai yang najis atau menyenyuh barang apapun itu yang najis walaupun lantai atau barang itu kering….? apakah tangan saya enjadi najis ustad…? Yang kedua saya was was ketika mao solat di tempat yang najis.., sebut saja lantainya najis tetapi lantai itu kering. di atas lantai itu siberi sajadah.., setelah saya ambil wuduk yang jelas kaki saya masih basah lalu kaki saya menginjaklah atau menaiki sajadah tersebut. Nah sajadah tersebut lalu basah juga karena menyerap air kaki saya tadi, maka secara otomatis sajadah yang basah karena menyarap air kaki sisax berwuduk tersebut itu menyentuh lantai.., Nah kasus yang begini hukumnya bagaimana pak ustad.., Apakah sajadah tersebut itu juga najis kerena sajadah yang basah itu menyentuh lantaix yang najis..,??? Mohon penjelasnya ustad soalnya q merasa gelisah dengan rasa was was ini..,

    Komentar oleh Ach Fawaid Zain | Oktober 7, 2014 | Balas

  15. Ass..ustat,saya selalu was2 dan ragu2 terkena najis jilatan anjing bila bertemu anjing dijalan,gmana solusinya?mhon penjelasannya

    Komentar oleh Mayaarrahimah | Desember 13, 2014 | Balas

    • Kalau ga melihat anjingnya menjilat antum ya ga usah difikirkan…
      hilangkan keragu-raguannya..

      Komentar oleh Diqra al Garuti | Juli 21, 2016 | Balas

  16. Assalamu’alaikum pak ustad, salam kenal dari Magelang, artikel ini sangat bermanfaat

    Komentar oleh Muhammad Sudarwanto | April 27, 2016 | Balas

  17. Saya mau bertanya,bagaimana jika kita setelah selesai kencing lalu beristinja,dan kita melihat ke kemaluan (tempat keluarnya urin) terdapat sisa air seperti urin,tapi kita tidak yakin apakah itu urin atau bukan (kita ragu-ragu mengenai hal itu) apakah hukum cairan tersebut serta bagaimana hukumnya jika mengenai celana dalam?

    Komentar oleh EY | Juli 7, 2016 | Balas

    • seperti urinnya bagaimana?jika berwarna urin ya najis jika tidak antum hiraukan saja hilangkan was-was nya

      Komentar oleh Diqra al Garuti | Juli 21, 2016 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: