Salafy Garut

Ilmu-Amal-Dakwah-Sabar

Bab Ruqyah dan Tamimah (jimat) mengenal sakit dan keutamaan sakit (muqoddimah)

​✨✨ *KAJIAN TAUHID*✨✨

📚 *Bab Ruqyah dan Tamimah (jimat)*
🌱 *Pasal Tambahan Ruqyah*

📝 *mengenal sakit (muqoddimah)*
➡ Membahas tentang ruqyah tidaklah terlepas dari membahas sebuah musibah/ penyakit, seorang muslim harus bisa mensikapi segala keadaan dalam kehidupannya dengan bijak, penuh prasangka kebaikan kepada Allah atas segala takdirnya. 

✨ Allah berfirman

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
Dan sungguh akan Kami berikan *cobaan* kepadamu, dengan sedikit *ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan.* Dan berikanlah berita *gembira* kepada orang-orang yang *sabar*.

(Al-Baqarah:155)
✨Dari Shuhaib, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
“Sungguh *menakjubkan* keadaan seorang mukmin. *Seluruhnya urusannya itu baik*. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan *kesenangan*, maka ia *bersyukur*. Itu *baik* baginya. Jika mendapatkan *kesusahan*, maka ia *bersabar*. Itu pun *baik* baginya.” (HR. Muslim, no. 2999)
🍃 Jadi pada hakikatnya dalam “permainan” kita di dunia ini jika mendapat kesenangan maka dia bersyukur, dan jika mendapat musibah dia bersabar. Simple bukan??, dan kehidupan itu bagaikan sebuah roda yang berputar terkadang kita senang dan terkadang kita susah, maka “nikmati” dengan bijaklah setiap keadaan tersebut.
🍃 Anda sakit? Jangan bersedih.. teruslah membaca artikel ini..
❤Hadis mengenai keutamaan sakit 💕
➡ *Tanda diampuni dosa-dosanya.* 

Dari Abu Said Al-Khudri dan dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhuma, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda:
مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ
“Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu kelelahan, atau penyakit, atau kehawatiran, atau kesedihan, atau gangguan, bahkan duri yang melukainya melainkan *Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya karenanya*” (HR. Al-Bukhari no. 5642 dan Muslim no. 2573)
➡ Keutamaan sakit demam sehingga terdapat larangan dalam syariat agar kita *tidak mencela demam*. dari Jabir radiyallahu ‘anhu,
أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم دَخَلَ عَلَى أُمِّ السَّائِبِ (أَوْ: أُمِّ الْمُسَيَّبِ)، فَقَالَ: مَا لَكِ يَا أُمَّ السَّائِبِ (أَوْ: يَا أُمَّ الْمُسَيَّبِ) تُزَفْزِفِيْنَ؟ قَالَتْ: اَلْحُمَّى، لاَ بَارَكَ اللهُ فِيْهَا. فَقَالَ: لاَ تَسُبِّي الْحُمَّى، فَإِنَّهَا تُذْهِبُ خَطَايَا بَنِيْ آدَمَ كَمَا يُذْهِبُ الْكِيْرُ خَبَثَ الْحَدِيْدِ.
“Bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menjenguk Ummu as-Saib (atau Ummu al-Musayyib), kemudian beliau bertanya, ‘Apa yang terjadi denganmu wahai Ummu al-Sa’ib (atau wahai Ummu al-Musayyib), kenapa kamu bergetar?’ Dia menjawab, ‘Sakit demam yang tidak ada keberkahan Allah padanya.’ Maka beliau bersabda, ‘ *Janganlah kamu mencela demam, karena ia menghilangkan dosa anak Adam, sebagaimana alat pemanas besi mampu menghilangkan karat’.*“  (HR. Muslim 4/1993, no. 2575)
➡ Bahkan terkena duri pun terdapat kebaikan, beliau shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda,
مَا مِنْ شَيْءٍ يُصِيْبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ نَصَبٍ، وَلاَ حَزَنٍ، وَلاَ وَصَبٍ،
حَتَّى الْهَمُّ يُهِمُّهُ؛ إِلاَّ يُكَفِّرُ اللهُ بِهِ عَنْهُ سِيِّئَاتِهِ
“Tidaklah seorang muslim *tertusuk duri* atau sesuatu hal yang lebih berat dari itu melainkan *diangkat derajatnya dan dihapuskan dosanya karenanya.* (HR. Ahmad, At-Tirmidzi, dan lainnya, dan dinyatakan hasan shahih oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi, 2/565 no. 2399)

➡ “Berbahagia” dan bersabarlah jika anda termasuk orang yang pernah dioperasi

Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda,
يَوَدُّ أَهْلُ الْعَافِيَةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَنَّ جُلُودَهُمْ قُرِضَتْ بِالْمَقَارِيضِ
مِمَّا يَرَوْنَ مِنْ ثَوَابِ أَهْلِ الْبَلاَءِ.
”Manusia pada hari kiamat menginginkan kulitnya dipotong-potong dengan gunting ketika di dunia, karena mereka melihat betapa *besarnya pahala orang-orang yang tertimpa cobaan di dunia*.” (HR. Baihaqi: 6791, lihat ash-Shohihah: 2206.)

➡ Tanda kita *dicintai dan diingini kebaikan oleh Allah*

beliau shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda,
إِذَا أَرَادَ اللهُ بِعَبْدِهِ الْخَيْرَ عَجَّلَ لَهُ الْعُقُوْبَةَ فِي الدُّنْيَا
وَإِذَا أَرَادَ اللهُ بِعَبْدِهِ الشَّرَّ أَمْسَكَ عَنْهُ بِذَنْبِهِ حَتَّى يُوَافِيَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Apabila Allah menginginkan kebaikan bagi seseorang hamba, maka Allah menyegerakan siksaan  baginya di dunia” (HR. At-Tirmidziy no.2396 dari Anas bin Malik, lihat Ash-Shahiihah no.1220)

Dan juga

Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda,
مَا يَزَالُ الْبَلاَءُ بِالْمُؤْمِنِ وَالْمُؤْمِنَةِ فِي جَسَدِهِ وَمَالِهِ وَوَلَدِهِ حَتَّى يَلْقَى اللهَ وَمَا عَلَيْهِ خَطِيْئَةٌ
“Cobaan akan selalu menimpa seorang mukmin dan mukminah, baik pada dirinya, pada anaknya maupun pada hartanya, sehingga ia bertemu dengan Allah tanpa dosa sedikitpun.” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi, dan lainnya, dan dinyatakan hasan shahih oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi, 2/565 no. 2399)

➡ Berprasangka baiklah kepada Allah bahwa anda pasti setelah musibah akan mendapat minimal 2 kebaikan. 

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْراْْْ, إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْراً ً
“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (Alam Nasyrah: 5-6)

🤔Jika penasaran pada point ini, silahkan lihat penjelasan ulama tentang ayat ini dalam tafsir Ibnu Katsir

➡ Sakit adalah ujian keimanan
Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda,
إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ، وَإِنَّ اللهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ،
فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ
“sesungguhnya pahala yang besar didapatkan melalui cobaan yang besar pula. Apabila Allah mencintai seseorang, maka Allah akan memberikan cobaan kepadanya, barangsiapa yang ridho (menerimanya) maka Allah akan meridhoinya dan barangsiapa yang murka (menerimanya) maka Allah murka kepadanya.” (HR. At-Tirmidzi no. 2396, dihasankan oleh Al-Imam Al-Albani  dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi) 

➡➡ Dan masih banyak keutamaan lain lagi diantaranya khusus untuk orang buta, orang yang meninggal karena sakit perut, melahirkan dll.

📌Sehingga sikap seseorang terhadap sakit terbagi kepada 4 yaitu.

1⃣. Marah

Tingkatan yang pertama adalah marah dengan takdir yang Allah berikan. Maka jika dia marah kepada takdir Allah bahkan sampai terucap “takdir kejam”, “Allah kejam” -waliyyadzubillah, maka dikhawatirkan dia akan menjadi kafir karena mencala Allah dan takdir, padahal Allah Maha Rahman dan Rahim.

2⃣. Sabar (sikap minimal seorang muslim)

Tingkatan kedua adalah sabar, sebagaimana ungkapan seorang penyair arab,
الصبر مثل اسمه مر مذاقته لكن عواقبه أحلى من العسل
Sabar itu memang seperti namanya (sebuah nama tumbuhan), yang rasanya pahit

Namun hasil dari kesabaran akan lebih manis dari madu
Bersabar ketika menghadapi cobaan hukumnya *wajib*, dan seseorang yang tidak bersabar ketika itu akan terjerumus dalam *dosa*.

3⃣. Ridha

Tingkatan ketiga lebih tinggi dari tingkatan sebelumnya, yaitu ridha. Ia jadikan ujian dan nikmat yang menimpanya sama saja, yaitu sama-sama bagian dari takdir dan ketetapan Allah, meskipun musibah tersebut membuat hatinya sedih, karena ia adalah seorang yang beriman pada qadha dan qadar.

4⃣. Syukur

Ini adalah tingkatan tertinggi dan yang paling utama dalam menghadapi cobaan. Karena ia bisa bersyukur atas musibah yang menimpanya. Oleh karena itu, ia bisa menjadi hamba Allah yang penuh rasa syukur ketika ia melihat masih banyak orang lain yang lebih berat musibahnya dibandingkan dirinya. Musibah dalam hal dunia lebih ringan dibandingkan musibah dalam hal agama, karena adzab di dunia lebih ringan dibandingkan adzab di akhirat. Dan juga karena dia merenung sehingga yakin ucapan Nabi akan keutamaan sakit sebagaimana hadis-hadis diatas.
✍🏻tulisan ini banyak mengambil faedah dari tulisan ustadzuna Husen Al-Gharuti

 situs http://www.yufid.com , http://www.muslim.or.id dan https://muslimafiyah.com
✨✨Allohu A’lam✨✨

November 9, 2016 - Posted by | dasar islam, KAJIAN TAUHID, WhatsApp

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: