Salafy Garut

Ilmu-Amal-Dakwah-Sabar

Bab Ruqyah dan Tamimah (jimat) Pasal *HUKUM MEMINTA DIRUQYAH DAN MERUQYAH*

​✨✨ *KAJIAN TAUHID*✨✨

📚 Bab Ruqyah dan Tamimah (jimat)

📌Pasal *HUKUM MEMINTA DIRUQYAH DAN MERUQYAH*

📖Para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini, meskipun ruqyah termasuk dalam bab dan bagian dalam pengobatan, namun, minta diruqyah terdapat penjelasan khusus dalam riwayat 70 Ribu orang yang sudah kita bahas pada pertemuan lalu. 

➡Dua pendapat yang populer dalam masalah ini.

1⃣. Meminta ruyqyah *Merusak Tawakkal*

✍🏻Ini pendapat imam Ahmad, Imam Nawawi, Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qoyyim dan lainnya.

🍃Dalilnya hadis 70 ribu orang dan riwayat

Nabi Bersabda “Barang siapa yang meminta diobati dengan teknik sundutan api (kayy) dan meminta ruqyah maka ia telah terlepas dari sikap tawakkal (HR. Ahmad, Tirmidzi, Mustadrak Al Hakim dishahihkan Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ 1/435)

📌Karena 70 Ribu orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab menunjukkan kesempurnaan tawakkal mereka sehingga mereka tidak minta diruqyah, di kayy, dan tathoyyur (merasa bernasib sial karena melihat burung, merasa merasa sial ketika mau safar melihat ayat Al-Qur’an yang berbicara tentang azab dll).

2⃣. Ruqyah tidak merusak tawakkal

✍🏻Ini pendapat Imam Thabari, Ibnu Abdi Al Bar dll.

➡a. Dua imam besar ini menggunakan dalil umum, yaitu secara umum diperbolehkan berobat dan ruqyah bagian dari berobat yang dianjurkan, dan Nabi menganjurkan untuk berobat.

➡b. Hadis-hadis yang menceritakan banyak orang yang meminta ruqyah kepada Rosulullah. Jibril pula pernah meruqyah beliau. Rasulullah pernah meruqyah dirinya sendiri dan meruqyah sahabat-sahabatnya. Rasulullah merestui para sahabat yang meruqyah kepala suku yang terkena sengatan binatang berbisa. Seandainya meruqyah itu dapat merusak tawakkal maka tentu saja ini juga dapat merusak tawakkal Nabi itu sendiri dan tawakkal sahabat-sahabat beliau.

➡c. Meruqyah dengan Asmaul husma (Nama-nama Allah yang indah) adalah bentuk tawakkal yang paling tinggi. Karena peruqyah hanya berharap kepada Allah, memohon kepada-Nya, meminta berkah kepada Allah dengan nama-nama yang indah itu untuk menyembuhkan orang sakit atau orang yang terkena kesulitan, seandainya hal ini merusak tawakal maka seluruh doa dan zikir akan merusak tawakal pula, tentu tidak ada seorang pun berani mengatakan demikian.

💪🏻Adapun pendapat yang rajih (paling kuat) insya Allah pendapat pertama, karena riwayatnya sangat tegas. 

🌱Syaikh Utsaimin berkata, “Ruqyah bagi peruqyah adalah sunnah, karena didalamnya mengandung kebaikan untuk orang lain. Mubah bagi orang yang diruqyah. Namun yang lebih afdhal tidak meminta diruqyah, karena hadis yang menyebutkan 70.000 orang masuk surga tanpa hisab dan azab, diantara mereka orang yang tidak meminta diruqyah.”

‼Namun bila kita memberikan info kepada orang yang bisa meruqyah, agar ia meruqyah orang yang sakit, maka hal ini *tidak mengapa*. Siapa yang merasa dirinya mampu untuk memberikan manfaat kepada saudara seiman dalam hal ruqyah dan ia tahu bahwa orang yang sedang sakit itu membutuhkan ruqyah maka tidak mengapa ia menyampaikan informasi kepada ahli ruqyah agar peruqyah dapat meruqyah saudaranya. Dan orang yang sedang sakit itu tidak terkena riwayat “meminta diruqyah” (karena dia ditawari ruqyah dan dia menyetujuinya) bisa bedakan ya hal ini❓❓ Dalil hal ini :

➡ dikisahkan dalam hadis Abu Hurairoh, ia berkata, Nabi melihat aku sedang sakit dirumahku, Lalu dia berkata kepada Abu Hurairah, *”Maukah kamu aku meruqyah dirimu seperti Jibril meruqyah diriku?”* ” *Baik, wahai Rasulullah , aku bersedia.*” Lalu Rosulullah membaca ‘Dengan menyebut nama Allah aku meruqyah dirimu, Allahlah yang menyembuhkan dirimu dari segala penyakit, dan dari dari kejahatan wanita tukang sihir yang meniup pada buhul-buhul dan dari kejahatan para pendengki apabila ia mendengki.” Rasulullah membacanya tiga kali (HR. Sunan Ibnu Majah, Ahmad, Nasa’i, Thabrani)

➡ Anas bin Malik Radhiallohu’anhu berkata :

*”Maukah engkau aku ruqyah seperti ruqyah rasulullah?”*

Hadis ini menunjukkan siapa yang memiliki kemampuan untuk ruqyah maka hendaklah ia meruqyah.

➡Dalam Hadis Jabir bin Abdullah ia berkata :

“Seseorang disengat kalajengking saat itu kami sedang duduk-duduk bersama Rosulullah. Lalu ada seorang laki-laki yang bertanya kepada Rosulullah, *”Apakah aku buleh meruqyahnya?”* Rosulullah menjawab, *”Siapa diantara kalian dapat memberikan manfaat kepada saudaranya maka hendaklah ia melakukannya.”* (HR. Muslim)

‼Bahkan si peruqyah telah bersedekah karena telah meruqyah dan telah melakukan kebaikan, Ibnul Qoyyim berkata bahwa Ibnu Taimiyyah juga berkata, “Peruqyah telah bersedekah dan melakukan kebajikan, diperbolehkan untuk meruqyah, selama tidak mengandung kesyirikan. Siapa yang mampu memberikan manfaat kepada saudaranya maka hendaklah ia melakukannya. Ini menunjukkan bahwa ruqyah itu bermanfaat dan merupakan kebaikan. Tentu saja ini dianjurkan oleh Allah dan Rosul-Nya. Peruqyah telah melakukan kebaikan dan orang yang meminta diruqyah berharap mendapatkan kebaikan dari peruqyah.”

✍🏻Saya banyak mengambli pembahasan ruqyah ini dari buku Sembuh Dengan Ruqyah Karya Husain Al-Mubarak, MA

✨Allahu A’lam✨

Desember 8, 2016 - Posted by | dasar islam, KAJIAN TAUHID, WhatsApp

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: