Salafy Garut

Ilmu-Amal-Dakwah-Sabar

Menyembelih binatang karena Allah, dilarang dilakukan di tempat penyembelihan yang bukan karena Allah (Bagian 1)

✨✨ *KAJIAN TAUHID*✨✨

📚 *Bab XI Menyembelih binatang karena Allah, dilarang dilakukan di tempat penyembelihan yang bukan karena Allah*

➡ Bab ini ada kemiripan dengan bab X sebelumnya yaitu masih terkait dengan ibadah penyembelihan.
🌾 Bab ini menerangkan terkait mewaspadai tasyabuh dan menutup rapat-rapat terhadap sarana menuju kesyirikan yang telah lama terkubur.

💕Dalil pertama yang dibawakan oleh Syaikh Muhammad At-Tamimi Firman Allah Ta’ala
وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مَسْجِدًا ضِرَارًا وَكُفْرًا وَتَفْرِيقًا بَيْنَ الْمُؤْمِنِينَ وَإِرْصَادًا لِمَنْ حَارَبَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ مِنْ قَبْلُ ۚ وَلَيَحْلِفُنَّ إِنْ أَرَدْنَا إِلَّا الْحُسْنَىٰ ۖ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ

Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudharatan (pada orang-orang mukmin), untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang-orang mukmin serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka Sesungguhnya bersumpah: “Kami tidak menghendaki selain kebaikan”. Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya).
لَا تَقُمْ فِيهِ أَبَدًا ۚ لَمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَىٰ مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَنْ تَقُومَ فِيهِ ۚ فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَنْ يَتَطَهَّرُوا ۚ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِينَ

Janganlah kamu bersembahyang dalam mesjid itu selama-lamanya. Sesungguhnya mesjid yang didirikan atas dasar takwa (mesjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu sholat di dalamnya. Di dalamnya mesjid itu ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih.
(QS. At-Taubah : 107-108)

🔓 Faidah ayat ini :

1⃣. Allah menyuruh Rosul-Nya untuk tidak sholat di masjid Dhirar dan kaum muslimin pun mengikutinya.
2⃣. Pensyari’atan penghancuran masjid dhirar, apalagi selain masjid (seperti tempat yang dijadikan ibadah kepada selain Allah dan pemecah belah kesatuan ummat (misal kuburan keramat, sesajen-sesajen, jimat dll.))
3⃣. Bentuk kesesuaian ayat dengan judul bab adalah bahwa tempat-tempat yang disediakan untuk sembelihan kepada selain Allah harus dijauhi ketika menyembelih karena Allah. Seperti halnya masjid ketika disediakan untuk bermaksiat kepada Allah, maka jadilah ia tempat kemurkaan Allah karenanya (walau namanya masjid). Ini adalah qiyas (analogi) yang benar yang diperkuat dengan Hadits Adh-Dhahhak yang akan kita bahas insya Allah pada tulisan selanjutnya.
4⃣. Masjid yang didirikan atas dasar takwa sejak hari pertama adalah lebih patut kamu lakukan shalat di dalamnya adalah Masjid Quba.
5⃣. Allah mencintai orang yang mensucikan diri dari najis. Sehingga jika kita tiap hari buang hajat lalu kita bersuci/cebok dengan benar maka kita mendapat pahala berupa dicintai Allah, berapa kalikah kita dalam setiap hari bersuci? Maha Pemurahnya Allah akan hamba-hambanya dalam meraih pahala. Agama Islam adalah agama yang borong besar-besaran pahala, hampir setiap lini kehidupan kita bisa diisi dengan pahala. Tidak ada di agama lain peraturan yang seperti ini,
❓Ada tidak di peraturan agama lain syariat untuk bersuci dari najis ketika ingin menghadap kepada “tuhannya”??
6⃣. Kisah tentang masjid tersebut sebagaimana dinukil Ibnu Katsir adalah sbb

✍🏻 Penyebab turunnya ayat-ayat ini ialah bahwa sebelum kedatangan Nabi Sholallohu ‘alaihi wasallam. di Madinah terdapat seorang lelaki dari kalangan kabilah Khazraj yang dikenal dengan nama Abu Amir Ar-Rahib. Sejak masa Jahiliah dia telah masuk agama Nasrani dan telah membaca ilmu ahli kitab. Ia melakukan ibadahnya di masa Jahiliah, dan ia mempunyai kedudukan yang sangat terhormat di kalangan kabilah Khazraj.

Ketika Rasulullah  tiba di Madinah untuk berhijrah, lalu orang-orang muslim berkumpul bersamanya, dan kalimah Islam menjadi tinggi serta Allah memenangkannya dalam Perang Badar, maka si terkutuk Abu Amir ini mulai terbakar dan bersikap oposisi serta memusuhi beliau secara terang-terangan. Ia melarikan diri bergabung dengan orang-orang kafir Mekah dari kalangan kaum musyrik Quraisy dan membujuk mereka untuk memerangi Rasulullah.

Maka bergabunglah bersamanya orang-orang dari kalangan Arab Badui yang setuju dengan pendapatnya, lalu mereka datang pada tahun terjadinya Perang Uhud. Maka terjadilah suatu cobaan yang menimpa kaum muslim dalam perang itu. tetapi akibat yang terpuji hanyalah bagi orang-orang yang bertakwa.

Tersebutlah bahwa si laknat Abu Amir ini telah membuat lubang-lubang di antara kedua barisan pasukan, dan secara kebetulan Rasulullah  terjatuh ke dalam salah satunya. Dalam perang itu Rasulullah mengalami luka pada wajahnya, gigi geraham bagian bawah kanannya ada yang rontok, dan kepalanya luka.

Pada permulaan perang, Abu Amir maju menghadapi kaumnya yang tergabung ke dalam barisan orang-orang Ansar, lalu ia berkhotbah kepada mereka, membujuk mereka guna membantunya dan bergabung ke dalam barisannya. Setelah menyelesaikan pidatonya itu, orang-orang mengatakan, “Semoga Allah tidak memberikan ketenangan pada matamu, hai orang fasik, hai musuh Allah.” Mereka melempari dan mencacinya. Akhirnya Abu Amir kembali seraya berkata, “Demi Allah, sesungguhnya kaumku telah tertimpa keburukan sepeninggalku.”

Pada mulanya Rasulullah telah menyerunya untuk menyembah Allah —yaitu sebelum ia melarikan diri—dan membacakan Al-Qur’an kepadanya, tetapi ia tetap tidak mau masuk Islam, dan membangkang. Maka Rasulullah mendoa untuk kecelakaannya, semoga dia mati dalam keadaan jauh dari tempat tinggalnya dan terusir. Maka doa itu menimpanya.

Kejadian itu terjadi ketika kaum muslim selesai dari Perang Uhudnya dan Abu Amir melihat perkara Rasulullah makin bertambah tinggi dan makin muncul. Maka Abu Amir pergi menemui Heraklius—Raja Romawi— untuk meminta pertolongan kepadanya dalam menghadapi Nabi Kaisar Romawi memberikan janji dan harapan kepadanya, lalu ia bermukim di kerajaan Romawi.

Sesudah itu Abu Amir menulis surat kepada segolongan kaumnya dari kalangan Ansar yang tergabung dalam golongan orang-orang munafik lagi masih ragu kepada Islam. Dia menjanjikan dan memberikan harapan kepada mereka, bahwa kelak dia akan datang kepada mereka dengan membawa pasukan Romawi untuk memerangi Rasulullah dan mengalahkannya serta menghentikan kegiatannya. Lalu Abu Amir menganjurkan orang-orangnya untuk membuat suatu benteng yang kelak akan dipakai untuk berlindung bagi orang-orang yang datang kepada mereka dari sisinya guna menunaikan ajaran kitabnya. Tempat itu sekaligus akan menjadi tempat pengintaian baginya kelak di masa depan bila ia datang kepada mereka.

Maka orang-orang Abu Amir mulai membangun sebuah masjid yang letaknya berdekatan dengan Masjid Quba. Mereka membangun dan mengukuhkannya, dan mereka baru selesai dari pembangunan masjidnya di saat Rasulullah hendak pergi ke medan Tabuk. Lalu para pembangunnya datang menghadap Rasulullah dan memohon kepadanya agar sudi melakukan salat di masjid mereka. Tujuan mereka untuk memperoleh bukti melalui salat Nabi di dalamnya, sehingga kedudukan masjid itu diakui dan dikuatkan.

Mereka mengemukakan alasannya, bahwa sesungguhnya mereka membangun masjid ini hanyalah untuk orang-orang yang lemah dari kalangan mereka dan orang-orang yang berhalangan di malam yang sangat dingin. Tetapi Allah memelihara Nabi dari melakukan salat di dalam masjid itu. Nabi menjawab permintaan mereka melalui sabdanya:

“إِنَّا عَلَى سَفَرٍ، وَلَكِنْ إِذَا رَجَعْنَا إِنْ شَاءَ اللَّهُ”

Sesungguhnya kami sedang dalam perjalanan. Tetapi jika kami kembali, insya Allah.

Ketika Nabi kembali ke Madinah dari medan Tabuk, dan jarak antara perjalanan untuk sampai ke Madinah hanya tinggal sehari atau setengah hari lagi, Malaikat Jibril turun dengan membawa berita tentang Masjid Dirar dan niat para pembangunnya yang hendak menyebarkan kekufuran dan memecah belah persatuan umat Islam. Mereka hendak menyaingi masjid kaum muslim —yaitu Masjid Quba— yang sejak semula dibangun dengan landasan takwa.

Maka Rasulullah mengutus orang-orang ke Masjid Dirar itu untuk merobohkannya sebelum beliau tiba di Madinah.
✨Allohu A’lam✨

Iklan

Januari 31, 2017 - Posted by | dasar islam, fiqh, KAJIAN TAUHID, Sembelihan, WhatsApp

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: