Salafy Garut

Ilmu-Amal-Dakwah-Sabar

sekali lagi tentang was-was.. camkan ya..

DO ‘A KETIKA WAS-WAS

Majalah Asy Syariah Edisi 035

Tanya:

Apa doa yang bisa dipanjatkan agar terlepas dari was-was setan?

Jawab:

Samahatusy Syaykh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baaz rohimahulloh menjawab:

“Seseorang dapat berdoa dengan doa yang ALLOH Sub haanahu wa Ta ‘ala mudahkan baginya, seperti ia mengatakan:

اللَّهُمَّ أَعِذْنِي مِنَ الشَّيْطَانِ، اللَّهُمَّ أَجِرْنِي مِنَ الشَّيْطَانِ، اللَّهُمَّ احْفَظْنِي مِنَ الشَّيْطَانِ، اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ ،اللَّهُمَّ احْفَظْنِي مِنْ مَكَائِدِ عَدُوِّكَ الشَّيْطَانِ

“Ya ALLOH, lindungilah aku dari setan. Ya ALLOH, jagalah aku dari setan. Ya ALLOH, tolonglah aku untuk mengingat-Mu (berdzikir kepada-Mu), untuk bersyukur kepada-Mu dan membaguskan ibadah kepada-Mu. Ya ALLOH, jagalah aku dari tipu daya musuh-Mu (yaitu) setan.”

Hendaklah ia memperbanyak dzikir kepada ALLOH Sub haanahu wa Ta ‘ala, banyak membaca Al Qur-an dan berta ’awwudz kepada ALLOH Sub haanahu wa Ta ‘ala ketika mendapatkan was-was, sekalipun ia sedang mengerjakan sholat.

Bila gangguan was-was itu mendominasinya dalam sholat, hendaklah ia meludah (meniup dengan sedikit ludah) ke kiri tiga kali dan berta ’awwudz dari gangguan setan sebanyak tiga kali.

Ketika ’Utsman bin Abil ’Ash Ats Tsaqofi Rodhiyallohu ‘Anhu mengeluh kepada Rosululloh Shollallohu ‘alayhi wa sallam tentang was-was yang didapatkannya di dalam sholat, beliau shollallohu ‘alayhi wa sallam memerintahkannya untuk meludah ke kiri tiga kali dan berta ’awwudz kepada ALLOH Ta ‘ala dari gangguan setan dalam keadaan ia mengerjakan sholat.

‘Utsman pun melakukan saran Rosululloh Shollallohu ‘alauhi wa sallam tersebut. ALLOH Sub haanahu wa Ta ‘ala pun menghilangkan gangguan yang didapatkannya.

Kesimpulannya, bila seorang mu’ min dan mu’ minah diuji dengan was-was,

▪Hendaknya bersungguh-sungguh meminta kesembuhan dan keselamatan kepada ALLOH Sub haanahu wa Ta ‘ala dari gangguan tersebut.

▪Ia banyak berta ’awwudz kepada ALLOH Sub haanahu wa Ta ‘ala dari setan, berupaya menepis perasaan was-was tersebut, tidak mempedulikan serta menurutinya, baik di dalam maupun di luar sholatnya.

▪Bila berwudhu, ia melakukannya dengan mantap dan tidak mengulang-ulangi wudhunya.

▪Bila sedang sholat ia mantap mengerjakannya dan tidak mengulang-ulangi sholatnya.

▪Bila bertakbir (takbirotul ihrom) ia mengerjakannya dengan mantap dan tidak mengulangi takbirnya.

Semuanya dalam rangka menyelisihi bisikan musuh ALLOH Sub haanahu wa Ta ‘ala serta dalam rangka menyalakan permusuhan terhadapnya.

Demikianlah yang wajib dilakukan seorang mu’ min, agar ia menjadi musuh bagi setan, memeranginya, menepisnya, dan tidak tunduk kepadanya. Bila setan membisikkan kepada anda bahwa anda belum berwudhu dan belum sholat (dengan tujuan menyusupkan was-was hingga anda mengulang-ulangi wudhu dan sholat karena merasa belum mengerjakannya dengan benar, -pent.), padahal anda tahu anda telah berwudhu, anda lihat sisa-sisa air pada tangan anda dan anda tahu anda telah mengerjakan sholat, maka janganlah menaati musuh ALLOH itu. Yakinlah anda telah sholat. Yakinlah anda telah berwudhu sebelumnya. Jangan anda ulang-ulangi wudhu dan sholat anda serta berta ’awwudzlah kepada ALLOH Sub haanahu wa Ta ‘ala  dari musuh-Nya.

Wajib bagi seorang mukmin untuk kuat dalam melawan ‘musuh ALLOH Sub haanahu wa Ta ‘ala’ (setan) hingga musuh itu tidak bisa/mampu mengalahkan dan mengganggunya.

Karena ketika setan dapat menguasai dan mengalahkan seseorang, ia akan menjadikan orang itu seperti orang gila yang dipermainkannya. Wajib bagi mu’ min dan mu’ minah untuk berhati-hati dari musuh ALLOH Sub haanahu wa Ta ‘ala , ber-ta ’awwudz kepada ALLOH Sub haanahu wa Ta ‘ala dari kejelekan dan tipu dayanya.

Hendaklah si mu’ min itu kuat dalam melawan setan serta bersabar dalam menangkal gangguan tersebut (tidak mudah menyerah), sehingga ia tidak menuruti setan untuk mengulangi sholatnya, wudhunya, takbirnya, atau yang lainnya.

Demikian pula bila setan mengatakan kepada anda, “Pakaianmu itu najis”, “Tempat ini najis”, “Di dalam kamar mandi ada najis”, “Tanah yang anda pijak ada najisnya”, atau “Tempat shalatmu ada ini dan itu”…

❗ Jangan anda turuti ucapan tersebut, tapi dustakanlah si musuh ALLOH Sub haanahu wa Ta ‘ala itu. Berlindunglah kepada ALLOH Sub haanahu wa Ta ‘ala dari kejelekannya.

Tetaplah anda sholat di tempat yang biasanya, pakailah alas yang biasa anda gunakan, di atas tanah yang biasa anda pijak selama anda tahu tempat itu bersih/suci. Kecuali anda melihat dengan mata kepala anda ada najis yang anda injak dalam keadaan basah barulah cuci kaki anda. Ketahuilah hukum asal sesuatu itu adalah berada di atas thoharoh/kesucian, sehingga jangan menuruti musuh ALLOH Sub haanahu wa Ta ‘ala dalam suatu perkara pun kecuali pada diri anda ada keyakinan yang anda lihat dan saksikan dengan mata kepala anda. Itu semua agar musuh ALLOH Sub haanahu wa Ta ‘ala tidak menguasai anda. Kita mohon keselamatan kepada ALLOH Sub haanahu wa Ta ‘ala dari semuanya.” (Fatawa Nurun ‘Alad Darbi, hal. 77-78)

📇 http://asysyariah.com/was-was-dari-syaithan/

Iklan

Februari 23, 2017 - Posted by | fiqh, WhatsApp

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: