Salafy Garut

Ilmu-Amal-Dakwah-Sabar

Sah atau tidak nadzarnya dan beberapa permasalahan lain

โœจโœจ *KAJIAN TAUHID*โœจโœจ
๐Ÿ“š *Bab XII Bernadzar untuk selain Allah adalah syirik*
๐Ÿ”Ž *Sah atau tidak nadzarnya??*
๐Ÿƒ Setelah kita mengetahui jenis nadzar, arah nadzar, maka kita lanjutkan pelajaran kita kepada sah atau tidaknya nadzar.

๐Ÿ–‹ Ditinjuau sah atau tidaknya nadzar seseorang maka terbagi menjadi menjadi lima macam.

1โƒฃ. Nadzar ketaatan kepada Allah dan Ibadah,
Yaitu bernadzar untuk melaksanakan bentuk ketaatan kepada Allah Ta’ala. Maka dia *wajib menunaikan nadzar tersebut, dan jika dia melanggar atau tidak menunaikannya, maka dia wajib membayar kaffarah (denda). Apabila tidak melaksankan nadzarnya maka berdosa*

2โƒฃ. Nadzar Mubah
Yaitu bernadzar untuk melakukan sesuatu yang mubah non ibadah. Dalam hal ini dia boleh memilih antara melaksanakan nadzarnya atau membayar kaffarah. Sebagian ulama melarang untuk menunaikan nadzar tersebut dan dia harus membayar kaffarah.

3โƒฃ. Nadzar makruh.
Yaitu bernadzar untuk melakukan sesuatu yang hukumnya makruh non ibadah. Dalam hal ini sama hukumnya dengan nadzar mubah, dia boleh memilih antara melaksanakan nadzarnya atau membayar kaffarah. Sebagian ulama melarang untuk menunaikan nadzar tersebut dan dia harus membayar kaffarah.

4โƒฃ. Nadzar maksiat.
Yaitu bernadzar untuk melakukan sesuatu kemaksiatan yang bukan kesyirikan. Dalam hal ini maka *hukum nadzarnya sah* akan tetapi dia tidak boleh melaksanakan nadzarnya dan harus membayar kaffarah!!.

5โƒฃ. Nadzar kesyirikan.
Yaitu bernadzar untuk mendekatkan diri kepada selain Allah Ta’ala.
Dalam hal ini maka *hukum nadzarnya tidak sah* dia tidak boleh melaksanakan nadzarnya dan tidak berkewajiban membayar kaffarah!!.
*Akan tetapi dia wajib bertaubat karena telah melakukan syirik akbar!!*
Diriwayatkan
ุนูŽู†ู’ ุนูŽุงุฆูุดูŽุฉูŽ ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ูŽุง
ุนูŽู†ู’ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ู…ูŽู†ู’ ู†ูŽุฐูŽุฑูŽ ุฃูŽู†ู’ ูŠูุทููŠุนูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ููŽู„ู’ูŠูุทูุนู’ู‡ู ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ู†ูŽุฐูŽุฑูŽ ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽุนู’ุตููŠูŽู‡ู ููŽู„ูŽุง ูŠูŽุนู’ุตูู‡ู
dari ‘Aisyah radliallahu ‘anha, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Barangsiapa bernadzar untuk menaati Allah, hendaknya ia menaati-NYA, dan barangsiapa bernadzar untuk bermaksiat kepadaNya, maka janganlah ia perturutkan untuk bermaksiat kepadaNYA.” (HR. Bukhori no 6202)

—————-
๐Ÿ”“Fasal Permasalahan lain terkait Nadzar

๐Ÿ“Œ Jika seseorang melakukan nadzar yang di syariatkan atau tidak disyariatkan namun ia tidak mampu melakukannya, maka ia tidak perlu melakukannya dan wajib membayar kafarah!
– Dalilnya
ุนูŽู†ู’ ุงุจู’ู†ู ุนูŽุจู‘ูŽุงุณู ู‚ูŽุงู„ูŽ
ุจูŽูŠู’ู†ูŽุง ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ูŠูŽุฎู’ุทูุจู ุฅูุฐูŽุง ู‡ููˆูŽ ุจูุฑูŽุฌูู„ู ู‚ูŽุงุฆูู…ู ููŽุณูŽุฃูŽู„ูŽ ุนูŽู†ู’ู‡ู ููŽู‚ูŽุงู„ููˆุง ุฃูŽุจููˆ ุฅูุณู’ุฑูŽุงุฆููŠู„ูŽ ู†ูŽุฐูŽุฑูŽ ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽู‚ููˆู…ูŽ ูˆูŽู„ูŽุง ูŠูŽู‚ู’ุนูุฏูŽ ูˆูŽู„ูŽุง ูŠูŽุณู’ุชูŽุธูู„ู‘ูŽ ูˆูŽู„ูŽุง ูŠูŽุชูŽูƒูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ูˆูŽูŠูŽุตููˆู…ูŽ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ู…ูุฑู’ู‡ู ููŽู„ู’ูŠูŽุชูŽูƒูŽู„ู‘ูŽู…ู’ ูˆูŽู„ู’ูŠูŽุณู’ุชูŽุธูู„ู‘ูŽ ูˆูŽู„ู’ูŠูŽู‚ู’ุนูุฏู’ ูˆูŽู„ู’ูŠูุชูู…ู‘ูŽ ุตูŽูˆู’ู…ูŽู‡ู
dari Ibnu ‘Abbas mengatakan, ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyampaikan khutbah, tiba-tiba ada seseorang yang berdiri terus, beliau pun bertanya tentang perbuatannya, maka para sahabat menjawab; ‘Itu Abu isra’il, telah bernadzar untuk berdiri dan tidak akan duduk, tidak akan berteduh, tidak akan berbicara dan terus berpuasa.’ Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Suruhlah dia untuk bicara, berteduh, duduk, dan menyempurnakan puasanya.” (HR. Bukhori 6704)

– Dalil lainnya
ุนูŽู†ู’ ุฃูŽู†ูŽุณู ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ู
ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ูŽ ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุฑูŽุฃูŽู‰ ุดูŽูŠู’ุฎู‹ุง ูŠูู‡ูŽุงุฏูŽู‰ ุจูŽูŠู’ู†ูŽ ุงุจู’ู†ูŽูŠู’ู‡ู ู‚ูŽุงู„ูŽ ู…ูŽุง ุจูŽุงู„ู ู‡ูŽุฐูŽุง ู‚ูŽุงู„ููˆุง ู†ูŽุฐูŽุฑูŽ ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽู…ู’ุดููŠูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ุนูŽู†ู’ ุชูŽุนู’ุฐููŠุจู ู‡ูŽุฐูŽุง ู†ูŽูู’ุณูŽู‡ู ู„ูŽุบูŽู†ููŠู‘ูŒ ูˆูŽุฃูŽู…ูŽุฑูŽู‡ู ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽุฑู’ูƒูŽุจูŽ
dari Anas radliallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melihat seorang tua renta yang dipapah oleh kedua anaknya, maka Beliau bertanya: “Mengapa orang ini berbuat seperti ini?”. Mereka menjawab: “Dia telah bernadzar untuk berjalan kaki (menuju Makkah) “. Maka Beliau berkata: “Allah tidak membutuhkan orang ini untuk menyiksa dirinya”. Maka Beliau memerintahkan orang itu naik tunggangan. (HR. Bukhori. 1865)

๐Ÿ“ŒJika seseorang bernadzar tidak menentukan bentuk nadzarnya maka kafarahnya adalah kafarah sumpah.
– Dalilnya
ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ูƒูŽูู‘ูŽุงุฑูŽุฉู ุงู„ู†ู‘ูŽุฐู’ุฑู ุฅูุฐูŽุง ู„ูŽู…ู’ ูŠูุณูŽู…ู‘ูŽ ูƒูŽูู‘ูŽุงุฑูŽุฉู ูŠูŽู…ููŠู†ู
ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฃูŽุจููˆ ุนููŠุณูŽู‰ ู‡ูŽุฐูŽุง ุญูŽุฏููŠุซูŒ ุญูŽุณูŽู†ูŒ ุตูŽุญููŠุญูŒ ุบูŽุฑููŠุจูŒ
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kafarah nadzar yang belum ditentukan (bentuknya), maka kafarahnya adalah dengan kafarah yamin (sumpah).” Abu Isa berkata, “Hadits ini derajatnya hasan shahih gharib.” (HR. Tirmidzi no 1528 namun sebagian ulama mendhoifkan hadis ini)

๐Ÿ“ŒAdapun barangsiapa bernadzar lalu mati sebelum menunaikannya, maka yang mengqodho adalah walinya.
– Dalilnya
ุนูŽู†ู’ ุงุจู’ู†ู ุนูŽุจู‘ูŽุงุณู ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ู‚ูŽุงู„ูŽ
ุงุณู’ุชูŽูู’ุชูŽู‰ ุณูŽุนู’ุฏู ุจู’ู†ู ุนูุจูŽุงุฏูŽุฉูŽ ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ูููŠ ู†ูŽุฐู’ุฑู ูƒูŽุงู†ูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุฃูู…ู‘ูู‡ู ุชููˆููู‘ููŠูŽุชู’ ู‚ูŽุจู’ู„ูŽ ุฃูŽู†ู’ ุชูŽู‚ู’ุถููŠูŽู‡ู ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ููŽุงู‚ู’ุถูู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ูŽุง
dari Ibnu Abbas bahwa dia berkata, “Abu Ubaidah pernah meminta fatwa kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengenai nadzar ibunya yang telah meninggal sebelum ditunaikannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tunaikanlah nadzarnya.” (HR. Muslim no 1638)

โœจAllohu A’lamโœจ

๐Ÿ“š Maroji pembahasan nadzar ini
– Fathul Majid
– Mutiara Kitab Tauhid
– Fiqh Sunnah Wanita

Iklan

Maret 23, 2017 - Posted by | dasar islam, fiqh, KAJIAN TAUHID, Nadzar, WhatsApp

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: