Salafy Garut

Ilmu-Amal-Dakwah-Sabar

Khutbah Jum’at 3 penyakit


Harta halal dan berusaha mendapatkannya merupakan hal yang diatur oleh syari’at

Allah SWT berfirman
{ فَلۡيَنظُرِ ٱلۡإِنسَٰنُ إِلَىٰ طَعَامِهِۦٓ }
[Surat ‘Abasa: 24]
Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya,
Sombong dan angkuh merupakan hal yang dilarang syariat
{ وَلَا تُصَعِّرۡ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمۡشِ فِي ٱلۡأَرۡضِ مَرَحًاۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخۡتَالٖ فَخُورٖ }
[Surat Luqman: 18]
Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.

Banyak kaum muslimin saat ini yang terjangkit 3 penyakit yang berbahya
1. Hedonisme
gaya hidup yang berfokus mencari kesenangan dan kepuasan tanpa batas. 
2. pragmatisme
sifat atau ciri seseorang yang cenderung berfikir praktis, sempit dan instant. Orang yang mempunyai sifat pragmatis ini menginginkan segala sesuatu yang dikerjakan atau yang diharapkan ingin segera tercapai tanpa mau berfikir panjang dan tanpa melalui proses yang lama.
3. materialisme
terlalu mementingkan kenyamanan fisik atau perolehan kekayaan dan harta benda , dibandingkan dengan nilai-nilai spiritual, intelektual, atau budaya.

Dari 3 sumber tadi berefek Menyuburkan pinjol, BNPL (buy now pay later), perincian efek negatif nya sbb
1. Umumnya pinjol dan BNPL bisa masuk dalam riba, yang ini diharamkan Allah sebagaimana firman-Nya,

يَمْحَقُ اللّٰهُ الرِّبٰوا وَيُرْبِى الصَّدَقٰتِ ۗ وَاللّٰهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ اَثِيْمٍ 

“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa”.[Al-Baqarah/2:276]

Dalam hadits yang lain Nabi shallahu ‘alahi wasallam mengancam pelaku riba dengan lebih tegas, beliau bersabda,

الرِّبَا سَبْعُونَ حُوبًا أَيْسَرُهَا أَنْ يَنْكِحَ الرَّجُلُ أُمَّهُ

“Dosa riba memiliki 72 pintu, dan yang paling ringan adalah seperti seseorang berzina dengan ibu kandungnya sendiri.” [Shahih, Silsilah Shahihah no.1871]

2. Efek selanjutnya ketika terlilit Melahirkan bunuh diri kerusakan moral lainnya
Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الَّذِى يَخْنُقُ نَفْسَهُ يَخْنُقُهَا فِى النَّارِ ، وَالَّذِى يَطْعُنُهَا يَطْعُنُهَا فِى النَّارِ

“Barangsiapa yang membunuh dirinya sendiri dengan mencekik lehernya, maka ia akan mencekik lehernya pula di neraka. Barangsiapa yang bunuh diri dengan cara menusuk dirinya dengan benda tajam, maka di neraka dia akan menusuk dirinya pula dengan cara itu.” (HR. Bukhari no. 1365)
3. Efek lainnya bisa muncul Pencurian, pelacuran, judi offline/ online/judol, padahal ini termasuk jalan yang haram, dan dagingnya terancam neraka
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
يَا كَعْبُ بْنِ عُجْرَةُ، إِنَّهُ لاَ يَرْبُوْ لَحْمٌ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ إِلاَّ كَانَتِ النَّارُ أَوْلَى بِهِ
Wahai Ka’ab bin Ujrah, sesungguhnya daging yang tumbuh dari barang haram tidak akan tumbuh kecuali neraka paling berhak untuknya .(Shahih diriwayatkan Imam at-Tirmidzi dalam Sunannya (614I dan Imam ad-Darimi dalam Sunannya (2674)).
Judi sekali masuk sulit keluarnya, karena kalahnya bikin penasaran, menangnya bikin ketagihan, dan faktanya bandar kebanyakan selalu menang banyak, bahkan banyak kesaksian para bandar judol bahwa mereka menipu dan hanya orang bodoh nan serakah sajalah yang main judi..
4. Bahkan bisa jatuh kepada kekufuran , kesyirikan yang Nabi berlindung darinya
{ وَلَقَدۡ أُوحِيَ إِلَيۡكَ وَإِلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكَ لَئِنۡ أَشۡرَكۡتَ لَيَحۡبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ }
[Surat Az-Zumar: 65]

Dan sungguh, telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu, “Sungguh jika engkau menyekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah engkau termasuk orang yang rugi.
Bukankah di tempat yang banyak dilakukan kesyirikan mereka rata-rata meminta harta harta dan harta
Ritual Gunung kemukus, bahkan minta uang ke kuburan yang tidak jelas, yang ini bisa kita lihat di berita, dengan lafaz
Ya Robbana Ya Quddus Sahhilana bil fulus kertas merah yang alus2 bibarokati….

Diantara solusinya.
1. Sadari bahwa hidup qonaah ini menenangkan, jangan menjadi “orang kaya tapi miskin”
Dari Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ

“Sungguh sangat beruntung seorang yang masuk Islam, kemudian mendapatkan rizki yang secukupnya dan Allah menganugrahkan kepadanya sifat qana’ah (merasa cukup dan puas) dengan rezki yang Allah berikan kepadanya”[HR. Muslim].
Imam Syafi’i rahimahullah berkata :

إِذَا مَا كُنْتَ ذَا قَلْبٍ قَنُوْعٍ .. فَأَنْتَ وَمَالِكُ الدُّنْيَا سَوَاءُ

“Jika engkau memiliki hati yang selalu qona’ah, maka sesungguhnya engkau sama seperti raja dunia.”
Rezeki tidak harus berbentuk uang, bahkan bisa lebih berharga dari uang seperti iman Islam, kesehatan, ilmu, pasangan, keturunan dll, berapa banyak orang kaya namun makannya serba pantang sana sini, berpenyakit, dan merasa ketakutan melihat masa depan dll.

2. Jangan suka minta diteror (hutang)
Keadaan ini sebagaimana  hadis dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

لا تُخِيفوا أنفُسَكم بعْدَ أَمْنِها. قالوا: وما ذاكَ يا رسولَ اللهِ؟ قال: الدَّيْنُ

“Jangan kalian membuat takut (meneror) diri kalian sendiri padahal sebelumnya kalian dalam keadaan aman.”
Para sahabat bertanya: “Apakah itu wahai Rasulullah?”
Rasulullah menjawab: “Itulah utang!” (HR. Ahmad, Silsilah Ash Shahihah no. 2420)

3. Berdoa jika mempunyai hutang yang banyak
Dari ‘Ali, ada seorang budak mukatab (yang berjanji pada tuannya ingin memerdekakan diri dengan dengan syarat melunasi pembayaran tertentu) yang mendatanginya, ia berkata, “Aku tidak mampu melunasi untuk memerdekakan diriku.” Ali pun berkata, “Maukah kuberitahukan padamu beberapa kalimat yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkannya padaku yaitu seandainya engkau memiliki utang sepenuh gunung, maka Allah akan memudahkanmu untuk melunasinya. Ucapkanlah doa,

اللَّهُمَّ اكْفِنِى بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنِى بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ

“Allahumak-finii bi halaalika ‘an haroomik, wa agh-niniy bi fadhlika ‘amman siwaak”
[Ya Allah cukupkanlah aku dengan yang halal dan jauhkanlah aku dari yang haram, dan cukupkanlah aku dengan karunia-Mu dari bergantung pada selain-Mu]

(HR. Tirmidzi no. 3563, hasan menurut At Tirmidzi, begitu pula hasan kata Syaikh Al Albani)

Mei 1, 2026 Posted by | dasar islam, khutbah Jum'at, Kultum, Kultum Romadhon, Rubrik Jumat | , , | Tinggalkan komentar

Memuliakan Kedua Orang Tua

Memuliakan Kedua Orang Tua
Merupakan perintah Allah yang terbesar setelah bertauhid
{ وَإِذۡ أَخَذۡنَا مِيثَٰقَ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ لَا تَعۡبُدُونَ إِلَّا ٱللَّهَ وَبِٱلۡوَٰلِدَيۡنِ إِحۡسَانٗا وَذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡيَتَٰمَىٰ وَٱلۡمَسَٰكِينِ وَقُولُواْ لِلنَّاسِ حُسۡنٗا وَأَقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتُواْ ٱلزَّكَوٰةَ ثُمَّ تَوَلَّيۡتُمۡ إِلَّا قَلِيلٗا مِّنكُمۡ وَأَنتُم مُّعۡرِضُونَ }
[Surat Al-Baqarah: 83]
Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil, “Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin. Dan bertuturkatalah yang baik kepada manusia, laksanakanlah salat dan tunaikanlah zakat.” Tetapi kemudian kamu berpaling (mengingkari), kecuali sebagian kecil dari kamu, dan kamu (masih menjadi) pembangkang.
Manfaat Memuliakan Kedua Orang Tua
1. Mengikuti perintah Allah sebagaimana dalam QS. Al Baqarah 83
2. Diantara Pintu untuk masuk surga
Dari Abu Darda Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْوَالِدُ أَوْسَطُ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ فَإِنْ شِئْتَ فَأَضِعْ ذَلِكَ الْبَابَ أَوِ احْفَظْهُ

Orang tua adalah pintu surga paling tengah. Kalian bisa sia-siakan pintu itu, atau kalian bisa menjaganya. (HR. Ahmad 28276, Turmudzi 2022, Ibn Majah 3794, dan dihasankan Syuaib al-Arnauth).

Keterangan Hadis

Dalam Tuhfatul Ahwadzi, Syarh Sunan Turmudzi disebutkan keterangan al-Baidhawi,

وقال القاضي البيضاوي؛ والمعنى أن أحسن ما يتوسل به إلى دخول الجنة ويتوسل به إلى وصول درجتها العالية مطاوعة الوالد ومراعاة جانبه , وقال غيره : إن للجنة أبوابا وأحسنها دخولا أوسطها , وإن سبب دخول ذلك الباب الأوسط هو محافظة حقوق الوالد

Al-Qadhi Baidhawi mengatakan, “Makna hadis, bahwa cara terbaik untuk masuk surga, dan sarana untuk mendapatkan derajat yang tinggi di surga adalah mentaati orang tua dan berusaha mendampinginya. Ada juga ulama yang mengatakan, ‘Di surga ada banyak pintu. Yang paling nnyaman dimasuki adalah yang paling tengah. Dan sebab untuk bisa masuk surga melalui pintu itu adalah menjaga hak orang tua.’ (Tuhfatul Ahwadzi, 6/21).
3. Mendapat ridho Allah (jaminan surga)
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا الْوَالِدِ، وَسُخْطُ الرَّبِّ فِي سُخْطِ الْوَالِدِ

“Darii ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash radhiyallaahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ridha Allah bergantung kepada keridhaan orang tua dan murka Allah bergantung kepada kemurkaan orang tua” Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam Adabul Mufrad (no. 2)
4. Bisa Mendapat doa tulusnya
Nabi ﷺ bersabda,

ثلاث دعوات مستجابات لا شك فيهن : دعوة الوالد على ولده ، ودعوة المسافر ، ودعوة المظلوم.

Ada tiga doa yang pasti terkabul : (1) Doa buruk orangtua kepada anaknya. (2) Doanya musafir. (3) Doanya orang yang terdzolimi. (HR. Tirmidzi, dinilai Hasan oleh Syekh Albani)
Oleh karena itu banyak kita dapati orang yang sukses adalah orang yang hubungannya baik dengan orang tuanya dan juga orang yang tidak sukses biasanya orang yang buruk hubungan dengan kedua orang tuanya.
Bahaya tidak memuliakan mereka/ durhaka
1. Dikatakan celaka
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam:

رَغِمَ أَنْفُهُ ، رَغِمَ أَنْفُهُ ، رَغِمَ أَنْفُهُ ، قَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، مَنْ ؟ قَالَ : مَنْ أَدْرَكَ وَالِدَيْهِ عِنْدَ الْكِبْرِ ، أَوْ أَحَدَهُمَا ، فَدَخَلَ النَّارَ

“”Celaka orang itu, celaka orang itu, celaka orang itu!” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, siapa itu?” Rasulullah menjawab, “Orang yang celaka adalah orang yang mendapati keduanya masih hidup, atau salah satu darinya, tapi dia masuk neraka (karenanya).””
2. Bisa disegerakan hukuman nya
Dari Abu Bakroh, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ ذَنْبٍ أَجْدَرُ أَنْ يُعَجِّلَ اللَّهُ تَعَالَى لِصَاحِبِهِ الْعُقُوبَةَ فِى الدُّنْيَا – مَعَ مَا يَدَّخِرُ لَهُ فِى الآخِرَةِ – مِثْلُ الْبَغْىِ وَقَطِيعَةِ الرَّحِمِ

“Tidak ada dosa yang lebih pantas untuk disegerakan balasannya bagi para pelakunya [di dunia ini] -berikut dosa yang disimpan untuknya [di akhirat]- daripada perbuatan melampaui batas (kezhaliman) dan memutus silaturahmi (dengan orang tua dan kerabat)” (HR. Abu Daud no. 4902, Tirmidzi no. 2511, dan Ibnu Majah no. 4211, shahih)
Kisah yang mengerikan
🔪 *Jika Engkau Harus Menyembelihku, maka Sembelihlah Diriku di Batu Besar Itu!*

📝  Sebagian ulama menyebutkan bahwa dahulu kala ada seorang lelaki yang memiliki seorang ayah tua renta. Orang tua tersebut sudah tidak mampu mengurusi dirinya sendiri. Maka si anak mengurusi dan melayani kebutuhan ayah tersebut. Hingga suatu ketia ia berpikir untuk membunuhnya. Lalu ia pun membawa orang tua itu ke sebuah batu besar. Begitu sampai di batu tersebut, ia meletakkan ayahnya diatas batu tersebut.
“Wahai anakku, apa yang hendak engkau lakukan kepadaku?” Tanya sang ayah.
“Aku ingin menyembelihmu. Sungguh, engkau telah membuatku capek dan menjemukanku.” Jawab di anak.
“Kalau memang engkau hendak menyembelihku maka sembelihlah diriku di batu itu. Karena dahulu – sebelummu- aku telah berbuat durhaka kepada orang tuanku. Akudahulu menyembelihnya di batu tersebut. Maka sekarang ini, engkau boleh melakukan hal yang sama kepadaku.” Kata orang tua itu.

📚 Sumber = kisah orang zalim halaman 186

– Diantara Tatacara memuliakan orang tua
Allah berfirman
{ ۞وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعۡبُدُوٓاْ إِلَّآ إِيَّاهُ وَبِٱلۡوَٰلِدَيۡنِ إِحۡسَٰنًاۚ إِمَّا يَبۡلُغَنَّ عِندَكَ ٱلۡكِبَرَ أَحَدُهُمَآ أَوۡ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَآ أُفّٖ وَلَا تَنۡهَرۡهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوۡلٗا كَرِيمٗا }
[Surat Al-Isra’: 23]
Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.
1. Nurut perintah mereka selama tidak bertentangan dengan syari’at , wabilkhusus orang tua Sholeh yang menyuruh anaknya sholat – belajar agama
2. Tanyakan apa ada yang bisa dibantu dengan wajah senyum
3. Jangan menyakiti perasaan mereka
Mutiara ahli ilmu terkait memuliakan orang tua
1. Muhammad bin Al munkadir berkata ,”suatu malam Umar (yaitu saudaranya) melakukan salat malam sementara aku memijat-mijat kaki ibuku aku tidak ingin kalau malamku kugunakan seperti malam saudaraku”.
2. Muhammad bin sirin apabila berada di rumah ibunya maka beliau sangat kecil sekali berbicaranya sampai-sampai sahabatnya mengira beliau sedang sakit.

Maret 12, 2026 Posted by | anak, birrul walidayn, dasar islam, Keluarga, Kultum, Kultum Romadhon, Romadhon | , , | Tinggalkan komentar

Zakat Membersihkan Diri Dan Harta

Zakat Membersihkan Diri Dan Harta

{ خُذۡ مِنۡ أَمۡوَٰلِهِمۡ صَدَقَةٗ تُطَهِّرُهُمۡ وَتُزَكِّيهِم بِهَا وَصَلِّ عَلَيۡهِمۡۖ إِنَّ صَلَوٰتَكَ سَكَنٞ لَّهُمۡۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ }

[Surat At-Taubah: 103]

Ambillah zakat dari harta mereka, guna membersihkan dan menyucikan*mereka, dan berdo’alah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu (menumbuhkan) ketentraman jiwa bagi mereka. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.

Faidah

– Zakat merupakan rukun Islam

– Berfungsi untuk membersihkan dan menyucikan , baik membersihkan dosa/ harta

– Zakat harus berasal dari harta yang halal karena Allah tidak menerima kecuali dari yang halal, sehingga maksud membersihkan harta di sini yaitu bukan artinya kita boleh mencuri lalu sebagiannya kita infaq kan lalu sisanya menjadi harta yang halal bukan seperti itu maksudnya.

– diantara adab orang yang menerima zakat yaitu mendoakan orang yang telah memberi zakat.

– sebaiknya untuk pemberi zakat/ hadiah / infaq tidak perlu mengungkit-ungkit dan tidak perlu mengharap ucapan terima kasih karena zakat harus ikhlas untuk Allah dan Allah yang nanti akan membalasnya. Karena Allah menyukainya dan berfirman

{ وَيُطۡعِمُونَ ٱلطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِۦ مِسۡكِينٗا وَيَتِيمٗا وَأَسِيرًا }

[Surat Al-Insan: 8]

Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan,

{ إِنَّمَا نُطۡعِمُكُمۡ لِوَجۡهِ ٱللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنكُمۡ جَزَآءٗ وَلَا شُكُورًا }

[Surat Al-Insan: 9]

(Sambil berkata), “Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah karena mengharapkan keridaan Allah, kami tidak mengharap balasan dan terima kasih dari kamu.

– Diantara manfaat lain dari berzakat yaitu zakat menenangkan dan menyenangkan hati kita, ketika kita memberi dan sang penerima maka kedua belah fihak merasa senang, membuat kita bersyukur dan mendapatkan kebahagiaan. Itu di dunia, adapun di akhirat sesungguhnya manusia lebih butuh pahala sedekah dibanding orang fakir yang membutuhkan sedekah, karena mereka (penerima sedekah) akan membawa perbekalan-perbekalan kita menuju akhirat tanpa upah sedikitpun hingga mereka meletakkannya di atas timbangan di hadapan Allah.

– Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.

Boleh kita berinfak sembunyi-sembunyi, karena Dia Maha Mengetahui

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صَدَقَةُ السِّرِّ تُطْفِئُ غَضَبَ الرَّبِّ.

“Sedekah secara sembunyi-sembunyi itu meredamkan KEMURKAAN Rabb (Allah).” (HR. Ath-Thabrani, Silsilah ash-Shahihah, no. 1908.)

– Ancaman yang tidak berzakat

{ ۞يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِنَّ كَثِيرٗا مِّنَ ٱلۡأَحۡبَارِ وَٱلرُّهۡبَانِ لَيَأۡكُلُونَ أَمۡوَٰلَ ٱلنَّاسِ بِٱلۡبَٰطِلِ وَيَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِۗ وَٱلَّذِينَ يَكۡنِزُونَ ٱلذَّهَبَ وَٱلۡفِضَّةَ وَلَا يُنفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ فَبَشِّرۡهُم بِعَذَابٍ أَلِيمٖ }

[Surat At-Taubah: 34]

Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya banyak dari orang-orang alim (Yahudi) dan rahib-rahib (Nasrani) mereka benar-benar memakan harta orang dengan jalan yang batil, dan (mereka) menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak serta tidak menginfakkannya di jalan Allah, maka berikanlah kabar gembira kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) azab yang pedih.

{ يَوۡمَ يُحۡمَىٰ عَلَيۡهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ فَتُكۡوَىٰ بِهَا جِبَاهُهُمۡ وَجُنُوبُهُمۡ وَظُهُورُهُمۡۖ هَٰذَا مَا كَنَزۡتُمۡ لِأَنفُسِكُمۡ فَذُوقُواْ مَا كُنتُمۡ تَكۡنِزُونَ }

[Surat At-Taubah: 35]

(Ingatlah) pada hari ketika emas dan perak dipanaskan dalam neraka Jahannam, lalu dengan itu disetrika dahi, lambung dan punggung mereka (seraya dikatakan) kepada mereka, “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah (akibat dari) apa yang kamu simpan itu.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَن آتاه اللهُ مالًا، فلم يؤَدِّ زكاتَه، مُثِّلَ له ماله شُجاعًا أقرَعَ ، له زبيبتانِ ، يُطوِّقه يومَ القيامة، يأخُذُ بلِهْزِمَتَيهِ- يعني شِدْقَيه، ثم يقول: أنا مالُكَ، أنا كَنْزُك. ثم تلا: وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَبْخَلُونَ بِمَا آتَاهُمُ اللهُ مِنْ فَضْلِهِ هُوَ خَيْرًا لَهُمْ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَهُمْ سَيُطَوَّقُونَ مَا بَخِلُوا بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلِلَّهِ مِيرَاثُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاللهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

“Barangsiapa yang diberikan harta oleh Allah, namun tidak mengeluarkan zakatnya, niscaya pada hari kiamat harta itu akan berubah wujud menjadi seekor ular jantan yang bertanduk dan memiliki dua taring lalu melilit orang itu pada hari kiamat. Lalu ular itu memakannya dengan kedua rahangnya, yaitu dengan mulutnya seraya berkata, ‘Aku inilah hartamu, akulah harta simpananmu”. Kemudian Beliau membaca firman Allah Ta’ala di surat Ali ‘Imran ayat 180 yang artinya,  ” Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (HR. al-Bukhari: 1405)

– Secara umum Syari’at Zakat harta amat mudah , pemotongan hanya 1x dalam setahun (hitungan tahun Hijriyah) itupun kalau sudah sampai nishob, Disalurkan juga bukan untuk Allah, tp untuk saudara2 miskin. dan secara umum jumlah nya tidak banyak , hanya 1:40. Dan jika belum bisa zakat maka bisa dengan sedekah biasa agar harta menjadi berkah.

Maret 8, 2026 Posted by | dasar islam, Kultum, Kultum Romadhon, Romadhon | , , | Tinggalkan komentar

Pentingnya Manajemen Waktu

Pentingnya Manajemen Waktu
Ini merupakan nasehat wabil khusus untuk penceramah sendiri atau saya pribadi dan semoga bermanfaat untuk jemaah yang lainnya.
Terkait dengan agungnya waktu Allah berfirman
{ وَٱلۡعَصۡرِ }
[Surat Al-‘Ashr: 1]
Demi masa.
{ إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَفِي خُسۡرٍ }
[Surat Al-‘Ashr: 2]
Sungguh, manusia berada dalam kerugian,
{ إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ }
[Surat Al-‘Ashr: 3]
kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.

Berkata Imam Syafi’i terkait dengan ayat ini
لَوْ تَدَبَّرَ النَّاسُ هَذِهِ السُّوْرَةَ لَوَسَعَتْهُمْ
”Seandainya setiap manusia merenungkan surat ini, niscaya hal itu akan mencukupi untuk mereka.” [Tafsir Ibnu Katsir 8/499]

Sehingga untuk menjadi orang sukses yang tidak merugi dunia akhirat terdapat 4 tips berdasarkan ayat ini.
1. Ilmu (aamanuu) karena iman harus berlandaskan ilmu.
2. Amal (‘Amilushsholihat) beramal baik disaat masih hidup. Dan amal harus berdasarkan ilmu Al Qur’an dan as Sunnah sebagai landasan ilmu.
3. Dakwah (Wa tawa showbil haq) diatas petunjuk ilmu tadi.
4. Sabar (Wa tawa showbil shobri) terhadap keadaan 3 diatas.

Kesuksesan bisa dilihat dari ahli ilmu agama, ahli kedokteran Islam atau dari para raja yang sholeh yang sebagiannya nanti akan kita bahas kisah dan hikmah nya. Dan mereka semua dengan keutamaan dari Allah bisa sukses karena menjaga waktu mereka, dan inilah pembeda antara kita dan mereka.

Kisah dari kalangan Ulama
Kisah sebagian ulama terkait pelit waktu
Amir bin Abdul Qais rahimahullah melewati orang-orang pemalas dan senang menganggur. Mereka duduk berbincang-bincang tanpa arah, lalu menyapa Amir dengan mengatakan, “Kemarilah, duduklah bersama kami.” Amir menjawab, “Tahanlah matahari agar ia tidak bergerak, baru saya akan bergabung duduk-duduk dan berkelakar bersama kalian.” (Shaidul Khatir).

Ketahuilah dengan Menjaga waktu maka akan berbuah kebaikan menyehatkan badan dan semangat
Ibnu Aqil al-Hanbali mengisahkan perjalanannya menuntut ilmu dan fokus terhadap apa yang ia cita-citakan sehingga ia menjadi seorang ulama yang terpandang. Beliau mengatakan, “Tidak halal bagiku untuk menyia-nyiakan sesaat saja dari umurku, tatkala lisanku telah membaca dan berdiskusi, mataku lelah membaca, maka aku menggunakan pikiranku dalam keadaan beristirahat dan berbaring. Sehingga aku berdiri dalam keadaan ide-ide yang banyak dalam benakku lalu, aku tuangkan ide tersebut dalam tulisan. Aku dapati kesungguhanku dalam belajar lebih kuat saat aku berusia 80 tahun dibanding waktu aku berumur 20 tahun.” (al-Muntadzim fi Tarikhil Umam, juz: 9).
Ibnu Nafis yaitu seorang guru besar kedokteran di zamannya dikisahkan ketika beliau ingin menyusun buku maka beliau siapkan dahulu pena-pena sudah diruncingkan lalu beliau menghadap ke arah dinding. Setelah itu beliau menulis secara spontanitas dari hafalannya. Beliau menulis ibarat air mengalir. Apabila penanya telah tumpul dan tidak nyata tulisannya maka beliau campakkan untuk diganti dengan yang lain agar beliau tidak tersita waktunya hanya untuk sekedar meruncingkan penanya kembali. Dikisahkan beliau pernah masuk ke kamar mandi dan ketika pertengahan mandi beliau beranjak dari ujung kamar mandi tempat melepaskan pakaian lalu beliau meminta dibawakan pena dan kertas lalu beliau langsung menulis makalah soal denyut nadi hingga selesai setelah itu beliau kembali ke kamar mandi dan meneruskan mandinya. (Sumber buku belajar etika dari generasi salaf halaman 169)
Adapun dari kalangan raja besar yang meninggal di bulan Ramadan pada tahun 350 Hijriyah, yaitu kita menemukan sosok Khalifah Abdurrahman an Nasir penguasa Umawiyyah di Andalusia Spanyol, beliau adalah raja terbesar di kawasan Eropa pada abad pertengahan bahkan sampai-sampai Spanyol pada tahun 1963 masehi (walaupun mereka negara Kristen) melakukan perayaan atas 1000 tahun wafatnya beliau karena beliau adalah penguasa Spanyol terbesar sepanjang sejarah (pertanyaan besar buat kita apakah generasi muda kita tau Abdurrahman An Nasir atau lebih kenal artis Korea dan pemain bola??). Saat beliau meninggal dunia, maka di dalam lemarinya mereka menemukan selembar kertas yang ditulisnya dengan tangannya sendiri di mana ia mencatat hari-hari dimana ia merasakan ketenangan tanpa peperangan. Belum menuliskan, “pada hari ini, bulan ini, tahun ini, aku tenang (maksudnya tidak berperang)…” Dan ternyata setelah dihitung jumlah hari tenang itu tidak lebih dari 14 hari saja. (Sumber bangkit dan runtuhnya Andalusia halaman 255.)

Penutup,
Mari bulatkan tekad dibulan Romadhon ini kita berdoa dengan sungguh-sungguh kepada Allah agar bisa optimalkan waktu, dan semoga diluar Romadhon kita akan menjadi manusia yang bisa mengoptimalkan waktu sehingga membuat harum nama pribadi, keluarga, masyarakat, negara, dan agama yang itu adalah modal kita menjadi orang yang beruntung.

Maret 2, 2026 Posted by | dasar islam, Kultum, Kultum Romadhon, Romadhon | , , | Tinggalkan komentar

Puasa Melatih Kesabaran Dan Pengendalian Diri

Puasa Melatih Kesabaran Dan Pengendalian Diri,

Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- mensifati bulan Ramadhan dengan “bulan kesabaran”.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

((صَوْمُ شَهْرِ الصَّبْرِ وَثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ صَوْمُ الدَّهْرِ))

“Puasa bulan kesabaran dan puasa tiga hari di setiap bulan adalah puasa sepanjang tahun”. (HR. Ahmad dan Muslim)

Dalam puasa Ramadhan terkumpul seluruh jenis kesabaran; sabar melaksanakan ketaatan kepada Allah, sabar meninggalkan kemaksiatan kepada-Nya dan sabar dalam menghadapi takdir Allah yang berat (yang dirasakan oleh seorang hamba)
Penjelasannya sebagai berikut :

1. Didalam bulan Ramadhan terdapat ibadah puasa, shalat Taraweh, membaca Alquran, kebaikan, Ihsan, dermawan, memberi makan, dzikir, do’a, taubat, istighfar dan selainnya dari berbagai macam ketaatan-ketaatan, dan (semua) ini membutuhkan kesabaran, agar seseorang bisa melakukannya dalam bentuk yang paling sempurna dan paling utama.
2. Didalam bulan Ramadhan terdapat sikap menahan lisan dari dusta, menipu, sia-sia, mencela, mencerca, teriak, debat, menggunjing, mengadudomba, mencegah anggota tubuh lainnya dari melakukan seluruh kemaksiatan, dan (semua) ini (tertuntut) di bulan Ramadhan maupun di luar bulan Ramadhan. Sedangkan menjauhi kemaksiatan-kemaksiatan ini membutuhkan  kesabaran,sehingga seorang hamba sanggup menjaga dirinya agar tidak terjatuh kedalamnya
3. Didalam bulan Ramadhan terdapat sikap meninggalkan makan ,minum dan  semua yang terkait dengannya, sedangkan nafsunya menginginkannya. Demikian pula menahan diri dari apa yang Allah bolehkan berupa mengikuti syahwat (yang halal) dan kelezatan (yang mubah), seperti bersetubuh dan pendahuluannya, dan (semua) ini jiwa tidaklah bisa meninggalkannya kecuali dengan kesabaran, maka (kesimpulannya) Ramadhan mencakup seluruh jenis kesabaran.
Sehingga pahala puasa Romadhon amat besar, dan Allah yang menghitung nya.
Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallalm bersabda:
كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعمِائَة ضِعْفٍ ، قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ : إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ

“Semua amal Bani Adam akan dilipat gandakan kebaikan sepuluh kali sampai tujuh ratus kali lipat. Allah Azza Wa Jallah berfirman, ‘Kecuali puasa, maka ia untuk-Ku dan Aku yang akan memberikan pahalanya.”

Dan Allah menjanjikan pahala kesabaran dengan ganjaran amat besar / tanpa batas
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” [Az-Zumar/39: 10]
Dengan ganjaran yang demikian besar maka puasa benar-benar melatih kita untuk bersabar.

Adapun terkait pengendalian diri, maka dalam Ramadan kita telah ditempa hal itu, sebagaimana Nabi bersabda
Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الأَكْلِ وَالشَّرَبِ ، إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ ، فَإِنْ سَابَّكَ أَحَدٌ أَوْ جَهُلَ عَلَيْكَ فَلْتَقُلْ : إِنِّي صَائِمٌ ، إِنِّي صَائِمٌ
“Puasa bukanlah hanya menahan makan dan minum saja. Akan tetapi, puasa adalah dengan menahan diri dari perkataan lagwu dan rofats. Apabila ada seseorang yang mencelamu atau berbuat usil padamu, katakanlah padanya, “Aku sedang puasa, aku sedang puasa”.” (HR. Ibnu Majah dan Hakim. Syaikh Al Albani dalam Shohih At Targib wa At Tarhib no. 1082 mengatakan bahwa hadits ini shohih)
Awas Nabi telah mengabarkan banyak yang hanya dapat lapar dan haus saja karena tidak bisa menahan diri dari sikap yang negatif
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالعَطَشُ

“Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR. Ath Thobroniy dalam Al Kabir dan sanadnya tidak mengapa. Syaikh Al Albani dalam Shohih At Targib wa At Tarhib no. 1084 mengatakan bahwa hadits ini shohih ligoirihi –yaitu shohih dilihat dari jalur lainnya).

Jabir bin ‘Abdillah menyampaikan petuah yang sangat bagus :

“Seandainya kamu berpuasa maka hendaknya pendengaranmu, penglihatanmu dan lisanmu turut berpuasa dari dusta dan hal-hal haram serta janganlah kamu menyakiti tetangga. Bersikap tenang dan berwibawalah di hari puasamu. Janganlah kamu jadikan hari puasamu dan hari tidak berpuasamu sama saja.” (Lihat Latho’if Al Ma’arif, 1/168, Asy Syamilah)
Ibnu Rojab mengatakan,

أَهْوَنُ الصِّيَامُ تَرْكُ الشَّرَابِ وَ الطَّعَامِ

“Tingkatan puasa yang paling rendah hanya meninggalkan minum dan makan saja.”

Sabar dan pengendalian diri memiliki kaitan yang kuat, dan dalam fiqh puasa kita telah dilatih untuk melakukan keduanya, dan kita berdoa kepada Allah, semoga diluar Romadhon kita dapat terus melaksanakannya,

Maret 1, 2026 Posted by | dasar islam, Kultum, Kultum Romadhon, Romadhon, tazkiyatun nufus | , , | Tinggalkan komentar

Ramadhan Dan Kepedulian Sosial

Diantara hikmah Ramadhan terhadap Kepedulian Sosial
1. Dengan romadhon melahirkan rasa persamaan di antara sesama kaum Muslimin, bahwa mereka adalah umat yang sama, makan di waktu yang sama dan berpuasa di waktu yang sama pula. Yang kaya merasakan nikmat Allah, sehingga menyayangi yang fakir. Yang kaya dapat merasakan rasa lapar sebagai mana orang fakir
2. Dengan syari’at memberi makan orang yang berpuasa,
Nabi bersabda

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا

“Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.” (HR. Tirmidzi no. 807 -hasan shahih)
maka bertaburan kebaikan di pelosok negeri, di masjid-masjid di mushola banyak orang berlomba kebaikan, melatih sosial,dan ini termasuk keajaiban dunia, tunjukkan 1 waktu dari ajaran-ajaran dunia selain Islam yang mengajarkan hal ini walau 1 hari , kita tidak akan menemukannya, walaupun kata mereka mungkin hari kasih sayang atau hari pesta piala dunia. Bahkan di Madinah manusia bisa berebut manusia di jalan agar berbuka di tempat suguhan dia, dan bisa marah jika orang tersebut diambil oleh orang lain.

3. Dengan syari’at Zakat fitrah dengan beras yang biasa kita makan. Maka mengajarkan kita nilai sosial agar orang lain memakan seperti yang kita makan. Adakah ajaran selain Islam yang seindah ini?
4. Ujung dari hasil akhir yang diharapkan adalah La’allakum tattaqun
melahirkan ketakwaan kepada Allah yang mana ketakwaan tersebut dapat menjaga tindak tanduknya dalam kehidupan, menimbulkan jiwa sosial. Karena pengertian takwa adalah menjalankan perintah dari Allah dan nabinya dan menjauhi yang dilarang-Nya.
Apakah orang yang bertakwa jika melihat tetangganya kesusahan dan dia telah mendengar hadits
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ الْمُؤْمِنُ الَّذِيْ يَشْبَعُ، وَجَارُهُ جَائِعٌ

’Seorang yang beriman tidak akan kekenyangan sedangkan tetangganya dalam keadaan lapar.” (Shahih) Lihat Ash Shahihah (149)
Dan juga sabda Nabi

ياَ أَباَ ذَرٍّ إِذَا طَبِخْتَ مِرْقَةً فَأَكْثِرْ مَاءَ الْمِرْقَةِ، وَتُعَاهِدُ جِيْرَانَكَ، أَوِ اقْسِمْ فِي جِيْرَانِكَ

“Wahai Abu Dzar, apabila engkau membuat suatu masakan, maka perbanyaklah kuahnya. Kemudian undanglah tetanggamu atau engkau dapat membaginya kepada mereka.” [Hadits nomor 114 pada kitab asli]. (Shahih) Lihat Zhilalul Jannah (1052), As Silsilah Ash Shahihah (1368): [Muslim: 45-Kitab Al Birr wash Shilah wal Adab, hal. 142-143. Muslim: 5-Kitab Al Masaajid, hal. 239]
dia tetap akan cuek ??
Apakah orang yang bertakwa akan cuek melihat saudaranya di palestina terbantai sedangkan Nabi bersabda
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun pernah bersabda:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ، مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى.

“Perumpamaan kaum Mukminin dalam cinta-mencintai, sayang-menyayangi dan bahu-membahu, seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuhnya sakit, maka seluruh anggota tubuhnya yang lain ikut merasakan sakit juga, dengan tidak bisa tidur dan demam.” (HR. Bukhari )
Ketakwaan adalah pondasi hidup bersosial, berbelas kasih dan dia mendatangkan rezeki dan pertolongan Allah yang kembalinya kepada dia sendiri kebaikannya.
Inilah janji Allah untuk orang bertakwa
{ وَيَرۡزُقۡهُ مِنۡ حَيۡثُ لَا يَحۡتَسِبُۚ وَمَن يَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسۡبُهُۥٓۚ إِنَّ ٱللَّهَ بَٰلِغُ أَمۡرِهِۦۚ قَدۡ جَعَلَ ٱللَّهُ لِكُلِّ شَيۡءٖ قَدۡرٗا }
[Surat Ath-Thalaq: 3]
Dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu.
Dengan romadhon ini momentum menumbuhkan ketakwaan, memperkuat hubungan antara individu masyarakat, yang diatas menyayangi yang dibawah.

Februari 27, 2026 Posted by | dasar islam, Kultum, Kultum Romadhon | , , | Tinggalkan komentar

Ancaman Bagi Yang Meninggalkan Puasa Ramadhan

HUKUM PUASA RAMADHAN

Hukum Puasa Ramadhân sudah sangat dikenal oleh umat Islam, yaitu wajib, berdasarkan al-Qur’ân, al-Hadits, dan Ijma’. Barangsiapa mengingkari kewajiban puasa Ramadhân, maka dia menjadi kafir. (Lihat al-Wajîz, hlm. 189)

Allâh Azza wa Jalla berfirman.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. [al-Baqarah/2:183]

Adapun hadis terkait orang yang berbuka sebelum waktunya :

عَنْ أَبْي أُمَامَةَ الْبَاهِلِىِّ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : بَيْنَا أَنَا نَائِمٌ إِذْ أَتَانِى رَجُلاَنِ فَأَخَذَا بِضَبْعَىَّ فَأَتَيَا بِى جَبَلاً وَعْرًا فَقَالاَ لِىَ : اصْعَدْ فَقُلْتُ : إِنِّى لاَ أُطِيقُهُ فَقَالاَ : إِنَّا سَنُسَهِّلُهُ لَكَ فَصَعِدْتُ حَتَّى إِذَا كُنْتُ فِى سَوَاءِ الْجَبَلِ إِذَا أَنَا بَأَصْوَاتٍ شَدِيدَةٍ فَقُلْتُ : مَا هَذِهِ الأَصْوَاتُ قَالُوا : هَذَا عُوَاءُ أَهْلِ النَّارِ ، ثُمَّ انْطُلِقَ بِى فَإِذَا أَنَا بِقَوْمٍ مُعَلَّقِينَ بِعَرَاقِيبِهِمْ مُشَقَّقَةٌ أَشْدَاقُهُمْ تَسِيلُ أَشْدَاقُهُمْ دَمًا قَالَ قُلْتُ : مَنْ هَؤُلاَءِ قَالَ : هَؤُلاَءِ الَّذِينَ يُفْطِرُونَ قَبْلَ تَحِلَّةِ صَوْمِهِمْ

Dari Abu Umâmah al-Bâhili, dia berkata: Aku mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ketika aku sedang tidur, tiba-tiba ada dua laki-laki yang mendatangiku, keduanya memegangi kedua lenganku, kemudian membawaku ke sebuah gunung terjal. Keduanya berkata kepadaku, “Naiklah!” Aku menjawab, “Aku tidak mampu”. Keduanya berkata, “Kami akan memudahkannya untukmu”. Maka aku naik. Ketika aku berada di tengah gunung itu, tiba-tiba aku mendengar suara-suara yang keras, maka aku bertanya, “Suara apa itu?” Mereka menjawab, “Itu teriakan penduduk neraka”. Kemudian aku dibawa, tiba-tiba aku melihat sekelompok orang tergantung (terbalik) dengan urat-urat kaki mereka (di sebelah atas), ujung-ujung mulut mereka sobek mengalirkan darah. Aku bertanya, “Mereka itu siapa?” Mereka menjawab, “Meraka adalah orang-orang yang berbuka puasa sebelum waktunya”. [HR. Nasâ’i dalam as-Sunan al-Kubra, no. 3273; Ibnu Hibbân; Ibnu Khuzaimah; al-Baihaqi, 4/216; al-Hâkim, no. 1568; ath-Thabarani dalam Mu’jamul Kabîr. Dishahihkan oleh al-Hâkim, adz-Dzahabi, al-Haitsami. Lihat: al-Jâmi’ li Ahkâmis Shiyâm, 1/60]

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwa ada seorang laki-laki berbuka di bulan Ramadhân dia berkata :

لاَ يُقْبَلُ مِنْهُ صَوْمُ سَنَةٍ

Berpuasa setahun penuh tidak bisa menggantinya. [Riwayat Ibnu Hazm dalam al-Muhalla, 6/184]

Bahkan sahabat Ali bin Abi Thâlib memberikan hukuman dera (pukulan) kepada orang yang berbuka di bulan Ramadhân, sebagaimana disebutkan di dalam riwayat :

عَنْ عَطَاءِ بْنِ أَبِي مَرْوَانَ، عَنْ أَبِيهِ: أَنَّ عَلِيَّ بْنَ أَبِي طَالِبٍ أُتِيَ بِالنَّجَاشِيِّ قَدْ شَرِبَ الْخَمْرَ فِي رَمَضَانَ, فَضَرَبَهُ ثَمَانِينَ, ثُمَّ ضَرَبَهُ مِنْ الْغَدِ عِشْرِينَ, وَقَالَ: ضَرَبْنَاكَ الْعِشْرِينَ لِجُرْأَتِكَ عَلَى اللَّهِ وَإِفْطَارِكَ فِي رَمَضَانَ.

Dari Atha’ bin Abi Maryam, dari bapaknya, bahwa An-Najasyi dihadapkan kepada Ali bin Abi Thâlib, dia telah minum khamr di bulan Ramadhân. Ali memukulnya 80 kali, kemudian esoknya dia memukulnya lagi 20 kali. Ali berkata, “Kami memukulmu 20 kali karena kelancanganmu terhadap Allâh dan karena engkau berbuka di bulan Ramadhân”. [Riwayat Ibnu Hazm di dalam al-Muhalla, 6/184]

Berkata Adz Dzahabi “Siapa saja yang tidak puasa Ramadan karena uzur (seperti sakit) maka dosa yang dilakukannya lebih jelek daripada berzina, meminum minuman keras, bahkan diragukan keislamannya dan dicurigai sebagai orang munafik dan sempalan dalam Islam” (Fiqh Sunnah Sayyid Sabiq 1/434)

Syaikh Abdul ‘Aziz ar-Râjihi -hafizhahullâh- berkata, “Barangsiapa mengingkari kewajiban puasa (Ramadhân), maka dia kafir, murtad dari agama Islam. Karena dia telah mengingkari satu kewajiban besar dan satu rukun dari rukun-rukun Islam, serta satu perkara yang diketahui dengan pasti sebagai ajaran Islam. Barangsiapa mengakui kewajiban puasa Ramadhân dan namun dia berbuka dengan sengaja tanpa udzur, berarti dia telah melakukan dosa besar, dia dihukumi fasik dengan sebab itu, namun tidak dikafirkan menurut pendapat yang paling kuat dari pendapat Ulama. Dia wajib berpuasa, dan Penguasa muslim (harus) menghukumnya dengan penjara atau dera atau kedua-duanya. Sebagian Ulama berkata, “Jika seseorang berbuka puasa Ramadhân dengan sengaja tanpa udzur, dia menjadi kafir”. [Ilmâm bi Syai-in min Ahkâmis Shiyâm, hlm. 1]

Sikap kita jika melihat orang mokel

عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ الخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُوْلُ: «مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَراً فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَستَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَستَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيْمَانِ» رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barangsiapa dari kalian melihat kemungkaran, ubahlah dengan tangannya. Jika tidak bisa, ubahlah dengan lisannya. Jika tidak bisa, ingkarilah dengan hatinya, dan itu merupakan selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 49]

Maka Sesuai dengan kapasitasnya, jika memungkinkan dakwahkan bahwasanya perbuatan tsb dosa besar, yang kadang orang kafir pun ga berani terang-terangan makan ditengah jalan , adapun sebagian orang yang mengaku Islam justru dengan terang-terangan, sombong dihadapan Allah dengan makan di tempat umum tanpa uzur, dan keadaan minimal kita membenci dengan hatinya. Dan doakan semoga mendapat petunjuk.

Ini sebuah tantangan untuk saudara ku yang malas puasa dan

Beranikah menulis wasiat, Ya Allah aku tidak butuh pahala puasa, oleh karena itu hilangkan lah perisai puasa dariku saat nanti aku melihat neraka dan jangan ampuni dosaku. (Karena aku sadar ucapan Nabi bahwa puasa adalah perisai dan penghapus dosa)

Nasihat bagi wanita yang sedang haid/ musafir

Hendaknya ia makan dan minum secara sembunyi. Sehingga ia tidak dituduh sebagai wanita yang meremehkan kewajiban (puasa) atau ia tidak dituduh sebagai laki-laki yang meremehkan perintah Allah.

{ ذَٰلِكَۖ وَمَن يُعَظِّمۡ شَعَٰٓئِرَ ٱللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقۡوَى ٱلۡقُلُوبِ }

[Surat Al-Hajj: 32]

Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah,maka sesungguhnya hal itu timbul dari ketakwaan hati.

Dan puasa adalah syiar agama kita, non muslim wajib menghormati, pemerintah/ pemimpin wajib amar Makruf nahi mungkar terhadap rakyatnya, menjaga syiar romadhon, agar menjadi negeri yang Baldatun Thoyyibatun wa Robbun Ghofur.

Karena bagaimana negeri akan mendapat barokah, jika rakyatnya banyak yang menelantarkan perintah -Nya..

Februari 25, 2026 Posted by | dasar islam, Kultum, Kultum Romadhon, Romadhon | , , | Tinggalkan komentar

Sholat Dan Puasa, Ibadah Yang Saling Menguatkan

Sholat Dan Puasa, Ibadah Yang Saling Menguatkan
Tidak mungkin dipisahkan salah satunya, karena keduanya termasuk rukun Islam.

Mengerjakan rukun, pahalanya amat besar sekali, bahkan merupakan modal paling utama masuk surga dan pengampunan.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ: الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ، وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ، وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ، مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Di antara shalat lima waktu, di antara Jum’at yang satu dan Jum’at berikutnya, diantara Ramadhan dengan Ramadhan berikutnya adalah penghapus dosa di antara semua itu selama tidak dilakukan dosa besar.” ([ HR. Muslim no.16])
Dari ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ صَلَّى العِشَاءَ فِي جَمَاعَةٍ ، فَكَأنَّمَا قَامَ نِصْفَ اللَّيْلِ ، وَمَنْ صَلَّى الصُّبْحَ في جَمَاعَةٍ ، فَكَأنَّمَا صَلَّى اللَّيْلَ كُلَّهُ

‘Barangsiapa yang melaksanakan shalat Isya berjamaah, maka seolah ia telah melaksanakan shalat separuh malam. Dan barangsiapa yang melaksanakan shalat Shubuh berjamaah, maka seolah ia telah melaksanakan shalat semalaman penuh.’” (HR. Muslim, no. 656)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَلَوْ يَعْلَمُوْنَ مَا فِي العَتَمَةِ وَالصُّبْحِ لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوَاً

“Seandainya mereka mengetahui pahala shalat Isya dan Shubuh, pasti mereka akan mendatanginya walaupun dengan merangkak.” (HR. Bukhari, no. 615 dan Muslim, no. 437)

Setiap kita tentunya ingin ditolong oleh Allah dalam setiap urusannya.
Dan ketahuilah, pertolongan Allah ada dalam Solat dan sabar (puasa masuk dalam kesabaran)
Allah ﷻ berfirman,

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلاةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلاَّ عَلَى الْخَاشِعِينَ

“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu.” (QS:Al-Baqarah | Ayat: 45).
Dosa meninggalkan rukun ini amat besar sekali, bahkan bisa menyebabkan seseorang menjadi, batal/hilang amal, kufur dan halal darahnya. Karena rukun adalah pondasi.
Terdapat Ancaman yang keras dari Nabi bagi orang yang tidak mau mengerjakan rukun Islam (sholat )

عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ، وَيُقِيْمُوا الصَّلاَةَ وَيُؤْتُوا الزَّكاَةَ، فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَـهُمْ إِلاَّ بِحَقِّ الإِسْلاَمِ وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللهِ تَعَالىَ

رَوَاهُ البُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ.

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ’anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak untuk diibadahi kecuali Allah, dan Muhammad adalah Rasulullah, mendirikan shalat, menunaikan zakat. Jika mereka telah melakukan hal itu, akan terjagalah darah-darah dan harta-harta mereka dariku, kecuali dengan hak Islam, sedangkan perhitungan mereka diserahkan kepada Allah.”(HR. Bukhari dan Muslim) [HR. Bukhari, no. 25 dan Muslim, no. 21]
Amat rugi
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

مَنْ تَرَكَ صَلَاةَ الْعَصْرِ ، فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ

Siapa yang meninggalkan shalat Ashar maka gugurlah amalannya. (HR. Bukhari no 594)

Juga bersabda Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

مَنْ فَاتَتْهُ صَلاَةُ العَصْرِ فَكَأَنَّماَ وُتِرَ أَهْلَهُ وَمَالَهُ

Siapa yang terlewatkan shalat Ashar maka seakan-akan hilang keluarga dan hartanya. [HR. Al-Bukhâri, no. 1537].
Kalam ulama
Ibnu Qayyim Al Jauziyah –rahimahullah- mengatakan, “ Kaum muslimin bersepakat bahwa meninggalkan shalat lima waktu dengan sengaja adalah dosa besar yang paling besar dan dosanya lebih besar dari dosa membunuh, merampas harta orang lain, berzina , mencuri, dan minum minuman keras. Orang yang meninggalkannya akan mendapat hukuman dan kemurkaan Allah serta mendapatkan kehinaan di dunia dan akhirat. ( Ash Sholah , hal.7)

Dinukil oleh Adz Dzahabi dalam Al Kaba’ir , Ibnu Hazm –rahimahullah- berkata, “Tidak ada dosa setelah kejelekan yang paling besar dari dosa meninggalkan shalat hingga keluar waktunya dan membunuh seorang mukmin tanpa alasan yang bisa dibenarkan.” ( Al Kaba’ir , hal. 25)

Adapun ancaman buat yang tidak puasa
Suatu ketika Nabi pernah diperdengarkan teriakan keras penduduk neraka dan beliau diperlihatkan sekelompok orang tergantung (terbalik) dengan urat-urat kaki mereka (di sebelah atas), ujung-ujung mulut mereka sobek mengalirkan darah. Dan ternyata meraka adalah orang-orang yang berbuka puasa sebelum waktunya/ mokel. (HR. Nasâ’i dalam as-Sunan al-Kubra, no. 3273; Ibnu Hibbân)

Berkata Adz Dzahabi “Siapa saja yang tidak puasa Ramadan karena uzur (seperti sakit) maka dosa yang dilakukannya lebih jelek daripada berzina, meminum minuman keras, bahkan diragukan keislamannya dan dicurigai sebagai orang munafik dan sempalan dalam Islam” (Fiqh Sunnah Sayyid Sabiq 1/434)

Orang yang berpuasa namun tidak sholat
Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Puasa yang dilakukan oleh orang yang meninggalkan shalat tidaklah diterima karena orang yang meninggalkan shalat berarti kafir dan murtad. Berdasarkan QS At-taubah ayat 11, lalu sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , “ Pembatas antara seorang muslim dengan kesyirikan dan kekafiran adalah meninggalkan shalat .” (HR.Muslim no.82).
Tantangan
Ini sebuah tantangan untuk saudara ku yang masih memisahkan puasa dan shalat atau tidak menjalankan keduanya
Beranikah menulis wasiat, Ya Allah aku tidak butuh pahala puasa, oleh karena itu hilangkan lah perisai puasa dariku saat nanti aku melihat neraka dan jangan ampuni dosaku. (Karena aku sadar ucapan Nabi bahwa puasa adalah perisai dan penghapus dosa)
Dan buat juga wasiat kepada kaum muslimin, tetangga, pak RT
Wahai saudaraku aku malas sekali sholat, dan ke masjid oleh karena itu, malaslah kalian nanti untuk men sholatkan jenazahku, jangan sholatkan aku di masjid, langsung bawa saja ke kuburan..

Februari 24, 2026 Posted by | Adab, dasar islam, Kultum, Kultum Romadhon, Romadhon, sholat | , , | Tinggalkan komentar

Ganjaran Berinfaq Dan Shodaqoh Di Bulan Ramadhan

  1. Mendapat pahala yang besar, karena Kita mengikuti sunnah Nabi dan ini bukti keimanan dan kecintaan kita kepada beliau.

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata,

كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – أَجْوَدَ النَّاسِ ، وَأَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِى رَمَضَانَ ، حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ ، وَكَانَ جِبْرِيلُ – عَلَيْهِ السَّلاَمُ – يَلْقَاهُ فِى كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ ، فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ فَلَرَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling gemar memberi. Semangat beliau dalam memberi lebih membara lagi ketika bulan Ramadhan tatkala itu Jibril menemui beliau. Jibril menemui beliau setiap malamnya di bulan Ramadhan. Jibril mengajarkan Al Qur’an kala itu. Dan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah yang paling semangat dalam melakukan kebaikan bagai angin yang bertiup.”  (HR. Bukhari no. 3554 dan Muslim no. 2307).

{ مَّثَلُ ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمۡوَٰلَهُمۡ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنۢبَتَتۡ سَبۡعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنۢبُلَةٖ مِّاْئَةُ حَبَّةٖۗ وَٱللَّهُ يُضَٰعِفُ لِمَن يَشَآءُۚ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ }

[Surat Al-Baqarah: 261]

Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui.

  1. Sedekah bisa memelihara dari api neraka tameng,

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اتَّقوا النَّارَ ولو بشقِّ تمرةٍ ، فمن لم يجِدْ فبكلمةٍ طيِّبةٍ

“jauhilah api neraka, walau hanya dengan bersedekah sebiji kurma. Jika kamu tidak punya, maka bisa dengan kalimah thayyibah” (HR. Al Bukhari 6539, Muslim 1016)

  1. Terapi untuk yang sakit

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

دَاوُوا مَرضاكُمْ بِالصَّدقةِ

“Obatilah penyakit-penyakit kalian melalui sedekah.” (HR. Abu Dawud -hasan)

  1. Bisa mendapat pahala orang lain  

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا

“Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.” (HR. Tirmidzi no. 807 -hasan shahih)

Sesungguhnya manusia lebih butuh pahala sedekah dibanding orang fakir yang membutuhkan sedekah, karena mereka (penerima sedekah) akan membawa perbekalan-perbekalan kita menuju akhirat tanpa upah sedikitpun hingga mereka meletakkannya di atas timbangan di hadapan Allah.

Tips teknis optimalkan mendapat pahala orang lain dibulan ini , infaklah 100rb, belikan beras dan sembako bagi untuk orang sholeh/ tetangga/ orang miskin yang berpuasa, maka kita bisa mendapat investasi pahala sahur dan buka puasa keluarga orang tsb dalam beberapa hari insya Allah. Sebarkan amalan Investasi ini.

Wasiat ulama

Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah berkata, “Siapa yang tidak bisa menggapai derajat itsar (mengedepankan orang lain dari diri sendiri), maka jangan sampai ia tidak mencapai derajat orang yang rajin membantu orang lain (muwasah).” (Lathoiful Ma’arif, hal. 300).

Imam Syafi’i rahimahullah berkata, “Aku sangat suka jika ada yang bertambah semangat mengulurkan tangan membantu orang lain di bulan Ramadhan karena mencontohi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga karena manusia saat puasa sangat-sangat membutuhkan bantuan kala itu di mana mereka telah tersibukkan dengan puasa dan shalat sehingga sulit untuk mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan mereka.” (Lathoiful Ma’arif, hal. 301).

Penutup

Bersedekah lah mumpung masih hidup

{ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تُلۡهِكُمۡ أَمۡوَٰلُكُمۡ وَلَآ أَوۡلَٰدُكُمۡ عَن ذِكۡرِ ٱللَّهِۚ وَمَن يَفۡعَلۡ ذَٰلِكَ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡخَٰسِرُونَ }

Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah harta bendamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Dan barang siapa berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi.

{ وَأَنفِقُواْ مِن مَّا رَزَقۡنَٰكُم مِّن قَبۡلِ أَن يَأۡتِيَ أَحَدَكُمُ ٱلۡمَوۡتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوۡلَآ أَخَّرۡتَنِيٓ إِلَىٰٓ أَجَلٖ قَرِيبٖ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُن مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ }

Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu; lalu dia berkata (menyesali), “Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh.”

{ وَلَن يُؤَخِّرَ ٱللَّهُ نَفۡسًا إِذَا جَآءَ أَجَلُهَاۚ وَٱللَّهُ خَبِيرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ }

Dan Allah tidak akan menunda (kematian) seseorang apabila waktu kematian telah datang. Dan Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.

[Surat Al-Munafiqun: 9-11]

Februari 21, 2026 Posted by | Adab, dasar islam, Kultum, Kultum Romadhon, Romadhon | , , | Tinggalkan komentar

Keutaaman Memperbanyak Ibadah Di Bulan Ramadhan

Bulan romadhon adalah bulan “olimpiade” nya ahli ibadah, karena dibulan ini pahala dari amalan dilipatgandakan
Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallalm bersabda:
كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعمِائَة ضِعْفٍ ، قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ : إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ

“Semua amal Bani Adam akan dilipat gandakan kebaikan sepuluh kali sampai tujuh ratus kali lipat. Allah Azza Wa Jallah berfirman, ‘Kecuali puasa, maka ia untuk-Ku dan Aku yang akan memberikan pahalanya.”

Diantara alasannya karena puasa identik dengan kesabaran (3 jenis = sabar dalam ketaatan, menghindari maksiat, dan rasa yang tidak enak  dan 3 jenis kesabaran ini ada dalam puasa)
Dan Allah menjanjikan pahala kesabaran dengan ganjaran amat besar / tanpa batas
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” [Az-Zumar/39: 10]
Oleh karena itu jangan sia-siakan momen ini, diantara amalan yang bisa dilakukan dibulan mulia ini adalah
1. Puasa (ganjarannya menghapus dosa yang lalu)
2. Sholat wajib
3. Dll yang akan dibahas pada materi2 hari berikutnya.
Singkatnya, Kerjakanlah ibadah yang kita dimudahkan untuk melakukan nya,
bagi yang punya rezeki bisa umroh
Karena Nabi bersabda
فَإِنَّ عُمْرَةً فِى رَمَضَانَ تَقْضِى حَجَّةً مَعِى

“Sesungguhnya umrah di bulan Ramadhan seperti berhaji bersamaku” (HR. Bukhari no. 1863).
Bagi yang belum dikaruniai rezeki yang utama adalah niat dahulu (jangan pelit niat baik), karena Nabi bersabda
فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا ، كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً ، وَإِنْ هَمَّ بِـهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهُ اللّـهُ عَزَّوَجَلَّ عِنْدَهُ عَشْرَ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ إِلَى أَضْعَافٍ كَثِيْرَةٍ
Barangsiapa berniat melakukan kebaikan namun dia tidak (jadi) melakukannya, Allâh tetap menuliskanya sebagai satu kebaikan sempurna di sisi-Nya. Jika ia berniat berbuat kebaikan kemudian mengerjakannya, maka Allâh menulisnya di sisi-Nya sebagai sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kali lipat sampai kelipatan yang banyak. (HR. Bukhari dan Muslim)
Bagi yang belum cukup rezekinya bisa beramal/ berzikir yang mudah seperti ini, baik di lampu merah, sambil masak dll
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ، ثَقِيلَتَانِ فِى الْمِيزَانِ ، حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ ، سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ

“ Dua kalimat yang ringan di lisan, namun berat ditimbangan, dan disukai Ar Rahman yaitu “Subhanallah wa bi hamdih, subhanallahil ‘azhim” (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya. Maha Suci Allah Yang Maha Agung) . (HR. Bukhari no. 6682 dan Muslim no. 2694)
Diantara Tips agar bisa optimal romadhon
1. Taubat karena dosa adalah pemberat kita beramal.
2. Berdoa dengan tulus, sebelum salam dalam sholat, (karena kita hanya bisa beribadah karena bantuan Allah)
اَللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
ALLOOHUMMA A’INNII ‘ALAA DZIKRIKA WA SYUKRIKA WA HUSNI ‘IBAADATIK.
Artinya: Ya Allah, tolonglah aku dalam berdzikir, bersyukur, dan beribadah yang baik kepada-Mu. (HR. Abu Dawud)

 Catatan penting, selesai beramal jangan melakukan pembatal / penghapus semua amal yaitu syirik / jangan melakukan pembatal keislaman
Allah Ta’ala berfirman:

ذَلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Itulah petunjuk Allah, yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya LENYAPLAH dari mereka amalan yang TELAH mereka kerjakan (QS. An An’am: 88)
Dan diantara yang banyak terjadi akhir-akhir ini dilakukan oleh saudara kita (semoga Allah menunjukkan mereka) yaitu menyandarkan turunnya hujan dengan perayaan Imlek ,

Padahal pada masa Rasulullah ﷺ, pernah hujan turun, maka beliau bersabda, ‘Apakah tadi malam kalian tidak mendengar perkataan Rabb kalian? Dia berfirman, “Tidaklah Aku menganugerahkan suatu nikmat kepada hamba-hamba-Ku melainkan sebagian mereka ada yang kufur dengan nikmat tersebut, mereka berkata, `Kami diberi hujan dengan sebab bintang ini dan itu. Sedangkan orang yang beriman kepada-Ku, ia memuji-Ku karena air yang Aku turunkan, maka itulah orang yang beriman kepada-Ku dan kufur terhadap bintang-bintang. Sedangkan orang yang berkata, ‘Kami diberi hujan dengan sebab bintang ini dan itu’ adalah orang yang kufur kepada-Ku dan beriman kepada bintang-bintang.'” (HR An Nasa’i 1.508 – Shahih)
Dalam riwayat lain
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

هَلْ تَدرُوْنَ مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ؟  قَالُوْا: اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمُ. قَالَ: قَالَ: أَصْبَحَ مِنْ عِبَادِيْ مُؤْمِنٌ بِيْ وَكَافِرٌ، فَأَمَّا مَنْ قَالَ: مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللهِ وَرَحْمَتِهِ، فَذَلِكَ مُؤْمِنٌ بِيْ كَافِرٌ بِالْكَوْكَبِ، وَأَمَّا مَنْ قَالَ: مُطِرْنَا بِنَوْءِ كَذَا وَكَذَا، فَذَلِكَ كَافِرٌ بِيْ مُؤْمِنٌ بِالْكَوْكَبِ

“Tahukah kamu, apakah yang difirmankan oleh Tuhanmu?” Mereka (para sahabat) menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Beliau pun bersabda, “Dia berfirman, ‘Pagi ini di antara hamba-hamba-Ku ada yang beriman dan ada pula yang kafir. Adapun orang yang mengatakan, ‘Hujan turun kepada kita berkat karunia Allah dan rahmat-Nya, maka dia beriman kepada-Ku dan kafir kepada bintang, sedangkan orang-orang yang mengatakan, ‘Hujan turun kepada kita karena bintang ini atau bintang itu, maka dia kafir kepada-Ku dan beriman kepada bintang’.” (HR. Bukhari no. 1038)

Baca lebih lanjut

Februari 20, 2026 Posted by | Uncategorized | , , | Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai